Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Meminta Izin


__ADS_3

Ziva menyesap hot matcha kesukaanya sambil menunggu seseorang di sebuah café cukup nge-hits di kalangan muda mudi. Sudah hampir sepuluh menit wanita itu duduk sendirian di sana, menanti sosok lelaki yang begitu ia cintai.


"Ck! Kebiasaan deh pasti selalu telat. Padahal janjian pukul dua belas siang tapi sampai sekarang belum juga datang," keluh wanita itu. Ziva kembali menyesap minuman hangat warna hijau yang telah dipesan oleh wanita itu sebelumnya.


Tak berselang lama, seorang pria tergopoh-gopoh menghampiri Ziva. Sebelah tangan kanan menenteng tas berisi laptop sedangkan satu map berisi dokumen ia kempit di bagian ketiak.


"Maaf, telah membuatmu menunggu terlalu lama," ucap lelaki itu. Menghirup udara sebanyak-banyaknya mengisi paru-paru yang terasa sesak akibat kekurangan oksigen.


Mendengar suara asing membuat sang model mendongakan kepala. Bola mata wanita itu melebar sempurna tatkala melihat Irhan berdiri di seberang meja. "Loh, kenapa kamu yang datang, Han! Shaka, mana? Aku ada janji bertemu dengannya hari ini membahas kelanjutan kasusku."


Irhan mengacuhkan pertanyaan Ziva, lelaki itu lebih dulu duduk di bangku seberang mantan kekasih Shaka. "Pak Shaka tidak akan menemui kamu lagi, Va. Kemarin malam, Pak Rio melimpahkan kasusmu kepadaku. Jadi, mulai hari ini dan seterusnya sampai persidangan berhasil akulah yang mendampingi kamu, bukan Pak Shaka."


"Apa?" teriak Ziva seraya menggebrak meja.


Model cantik itu menutup mulutnya dengan tangan kanan ketika tersadar semua orang memandang aneh ke arahnya. Perlahan, ia mendudukan kembali bokongnya yang sintal di kursi.


"Bagaimana bisa begitu, Han? Bukankah kita sudah sepakat kalau Shaka-lah yang menjadi pengacaraku, bukan kamu," lirih Ziva. Bola mata wanita itu bergerak memperhatikan keadaan sekeliling, memastikan tidak ada satu orang pun mendengar percakapan mereka.


Irhan meletakkan tas laptop beserta dokumen Ziva di kursi kosong sebelahnya. "Aku tidak bisa menolak perintah Pak Rio. Bagaimanapun dia punya kuasa penuh atas seluruh pekerja di kantor itu. Walaupun Papaku penanam saham di sana, tetap saja dia tak mempunyai wewenang untuk menolak permintaan Pak Rio."


Kedua tangan Ziva terlipat di depan dada, ia cukup kesal atas kenyataan yang dibicarakan oleh Irhan. "Rugi dong aku memberikan tubuhku kepadamu untuk dijamah kalau pada akhirnya bukan Shaka yang jadi pengacaraku."


Irhan menyeringai mendengar perkataan Ziva, tangan kanannya mengusap tengkuk. "Ya, maaf. Aku, 'kan, tidak tahu kalau Pak Rio akan berubah pikiran." Pria itu mencuri pandang ke arah Ziva yang terlihat semakin cantik dan menggoda iman. "Sudahlah, jangan dipikirkan lagi! Terpenting saat ini kasusmu selesai dan mereka memberi ganti rugi atas tuntutanmu. Meskipun aku tidak sehebat Pak Shaka, tapi aku jamin kasusmu bisa dimenangkan."


Aku yakin, ini pasti ada sangkut pautnya dengan Zahira. Gadis itu memang selalu menjadi penghalang di antara aku dan Shaka. Sebelah tangan Ziva mengepal hingga memperlihatkan buku-buku kuku tercetak jelas di sana. Awas kamu, Ra, aku akan buat perhitungan denganmu!


Menghirup napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Aku pegang kata-katamu. Jangan sampai aku kalah di persidangan lanjutan nanti!" Ziva menekankan setiap kalimat yang diucapkan olehnya.


"Tentu saja! Aku pasti berusaha keras membantumu. Apalagi kalau kamu memberikanku servis plus-plus seperti kemarin, maka lebih semangat lagi," kelakar Irhan sembari mengeluarkan berkas kasus, kemudian menaruhnya di atas meja.


"Dasar mesum!" sungut Ziva.

__ADS_1


***


Sementara itu, Zahira sedang berada di ruangan direktur di tempatnya bekerja. Ia sengaja membelokan tubuhnya sebentar untuk menemui sang ayah sebab ada hal yang ingin dibicarakan kepada Rayyan.


"Masuk!" seru Rayyan dari dalam ruangan. Pria itu tengah asyik berbincang hangat bersama istri tercinta. Ia selalu menyempatkan diri mengobrol dengan wanita cantik yang telah memberinya empat orang anak meski setumpuk pekerjaan menghadang di depan mata.


Zahira mendorong daun pintu warna putih hingga memperlihatkan dua sosok pria dan wanita paruh baya menatap penuh tanda tanya ke arahnya.


"Ayah, Bunda, maaf mengganggu kalian berdua," kata Zahira. Masih berdiri di ambang pintu dengan kedua telapak tangan saling meremas satu sama lain.


Melihat anak tercinta datang, tentu saja membuat wajah sumringah. Arumi bergegas bangkit dan menghampiri Zahira. "Kamu tidak mengganggu. Kebetulan Ayah dan Bunda hanya sekadar mengobrol biasa membahas pekerjaan," tutur wanita itu lembut. "Ada apa, hem, kok tumben menemui Ayahmu secara personal?"


"Ehm ... a-anu, Bun ...."


Arumi menyentuh telapak tangan Zahira yang terasa dingin dan berkeringat. "Duduk dulu yuk, nanti kita ngobrolnya jadi lebih santai." Tanpa membuang waktu wanita itu memapah Zahira duduk di sofa. Kini mereka bertiga duduk berhadapan.


Rayyan memperhatikan anak ketiganya dengan seksama. Mengamati setiap jengkal wajah gadis itu dengan sorot mata tajam bagaikan seekor elang. "Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan kepada Ayah?" Pria berwajah oriental memulai percakapan.


Semalam Rayyan mendengar cerita dari Arumi tentang perselisihan antara Zahira dan Shaka, tetapi belum mengetahui jika anak dan menantunya telah berbaikan hari itu juga. Jadi, ia mengira kalau saat ini Zahira hendak membahas soal rencananya berpisah dari Shaka.


"Najma Zahira!" panggil Rayyan dengan sedikit meninggikan nada suara. Ia sedikit penasaran hal penting apa yang ingin disampaikan anak tercintanya itu.


"Mas Rayyan, jangan buat Zahira semakin panik! Kasihan dia!" tegur Arumi saat melihat telapak tangan putri cantiknya saling meremas kencang di atas pangkuan dan tidak berani menatap wajah kedua orang tuanya.


Perlahan Arumi beringsut mendekati Zahira. Dengan lemah lembut ia berkata, "Ada apa, Nak? Apa kamu butuh sesuatu?"


Zahira menggeleng cepat. "Lalu?" Arumi kembali bertanya dengan sedikit cemas. Pertemuannya dengan Rini kembali melintas di benak wanita itu.


Mungkinkah putriku ingin menggugat cerai Shaka lagi? batin Arumi.


"Ayah, Bunda, sebenarnya ... aku ingin meminta cuti berlibur selama lima hari. Ehm ... aku ... berencana pergi bulan madu dengan Shaka ke Australia."

__ADS_1


"Apa katamu? Bulan madu? Bersama Shaka?" Rayyan tercenggang.


Arumi sama terkejutnya dengan sang suami. Jantung wanita itu nyaris saja copot dari tempatnya. Lantas, ia menatap putrinya dengan sorot mata tidak terbaca.


Bulan madu, selama lima hari bersama Shaka. Kalimat itu terus terngiang di telinga Arumi dan Rayyan. Sungguh, mereka tidak menduga jika hubungan rumah tangga Zahira dan Shaka melangkah ke arah lebih baik.


"Benar, Ayah. Aku dan Shaka memutuskan untuk menjalani pernikahan kami layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Shaka meminta waktu untuk mencintaiku dan aku sebagai seorang istri tentu saja memberikan kesempatan itu kepada dia."


"Lalu, semalam Papa Rio datang ke apartemen dan menyarankan kepada kami untuk pergi berlibur. Aku dan Shaka berpikir kenapa tidak dicoba, siapa tahu hubungan di antara kami semakin dekat bukan sebagai sahabat melainkan sebagai pasangan suami istri," tutur Zahira panjang lebar.


Senyuman tipis mengembang di sudut bibir Arumi. Akhirnya apa yang ia takutkan tidak kejadian. "Jadi kalian berencana pergi bulan madu, begitu?" tandas wanita itu memastikan apa yang didengar bukanlah halusinasi belaka.


"Benar, Bunda," jawab Zahira singkat.


Suasana hening tercipta beberapa saat setelah si cantik jelita mengatakan apa tujuan gadis itu menemui Rayyan secara pribadi. Rayyan menatap Arumi, begitu pun sebaliknya. Pasangan suami istri saling berkomunikasi lewat sorotan mata.


Lantas, Arumi mengedipkan mata sambil menundukan kepala lemah sebagai kode bahwa ia menyetujui usulan Rio--suami dari sahabatnya.


"Kapan kamu dan Shaka berangkat?" tanya Rayyan.


"Sekitar satu mingguan lagi, Ayah, menunggu Shaka menyelesaikan semua urusan pekerjaan."


Jawaban itu membuat Rayyan mengembuskan napas kasar. Ada rasa khawatir dalam diri sebab ia akan melepaskan putri tercinta bersama lelaki yang pernah menyakiti hati Zahira. Ia takut bila Shaka melukai perasaan Zahira dan dirinya tak bisa melindungi putrinya di saat mereka berjauhan.


"Mas Rayyan, kamu memberikan izin kepada anak kita, 'kan?" kata Arumi sembari menegaskan setiap kalimat yang terucap di bibirnya yang selama ini selalu menjadi candu bagi sang lelaki.


Rayyan menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan sambil memejamkan mata sejenak. "Baiklah, Ayah akan memberikan izin kepadamu. Segera urus surat cutimu secepatnya maka Ayah akan menandatanganinya saat itu juga."


Zahira mendongakan kepala, menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian. Wajah gadis itu sumringah disertai senyuman lebar terlukis jelas di sudut bibir. "Terima kasih, Ayah, Bunda."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2