
Setelah memakan waktu hampir sepuluh jam lamanya di dalam pesawat, akhirnya pasangan suami istri yang baru saja mereguk nikmatnya surga dunia tiba di bandara internasional Narita, Tokyo. Sepanjang perjalanan, Shaka terus menerus menggenggam erat jemari tangan Zahira seakan ia takut bila wanita itu menghilang dari pandangan. Entahlah, kenapa lelaki itu berubah menjadi sangat posesif dan over protective seperti Rayyan, Ghani dan Zavier.
Turun dari burung besar terbuat dari besi, Shaka menggandeng tangan Zahira erat. Si bintang bersinar karena memang pada dasarnya sangat mencintai Shaka, tentu saja memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Ia bergelayut manja di lengan sang suami sambil sesekali tersimpul malu karena tak tertangkap basah tengah memandangi wajah tampan suaminya.
"Kenapa kamu memperlakukanku dengan sangat lembut, Shaka?" tanya Zahira dengan suara manja. Jika Shaka berubah menjadi suami super posesif dan bersikap over protective, lain halnya dengan Zahira. Wanita itu menunjukan sisi kemanjaannya saat berada di dekat suami tercinta.
Menoleh sebentar, kemudian tersenyum samar dan menjawab, "Karena bagiku kamu adalah sesuatu yang sangat berharga di bandingkan apa pun di dunia ini sehingga aku wajib bersikap baik, lemah lembut dan memperlakukanku layaknya barang yang enggak boleh lecet sedikit pun. Terlebih kamu adalah istriku, calon ibu bagi anak-anakku jadi aku enggak salah dong jika seandainya memanjakanmu dengan kelembutan."
"Selain itu, aku pun ingin membuktikan pada Ayahmu bila menantu yang pernah mengecewakannya kini bisa membahagiakan salah satu putrinya yang cantik jelita ini." Menoel ujung hidung Zahira menggunakan jari telunjuk. "Aku mau beliau berhenti mengkhawatirkanmu sebab kini tanggung jawabnya untuk menjaga dan melindungimu telah berada di pundakku. Aku mau beliau fokus menjalani masa tuanya tanpa memikirkan apa pun."
Hati Zahira semakin meleleh mendengar perkataan Shaka. Meskipun sikap Rayyan sedari dulu dingin dan terkesan tak menyukai Shaka, tetapi lelaki yang sebentar lagi merayakan ulang tahunnya yang ke-25 tahun selalu bersikap hormat dan menghargai Rayyan sebagai sahabat sekaligus ayah mertuanya.
Zahira kembali memandangi wajah Shaka. Tersenyum lebar, hati bahagia karena bisa bersanding dengan sang pujaan hati. Hal serupa dilakukan Shaka, lelaki itu pun membalas tatapan sang istri yang malam ini terlibat begitu cantik. Wajahnya bersinar bagai gemerlap cahaya bintang di atas langit. Membayangkan wajah wanita itu merem melek saat mereka bercinta membuat sesuatu di bawah sana mulai bereaksi.
Shiit! Hanya membayangkan wajahnya saja sudah membuatku terangsang. Bagaimana jika seandainya kami menyatu kembali seperti tadi malam mungkin inti tubuhku meledak saking nikmatnya di dalam sana.
Lalu, pandangan mata Shaka beralih pada sesuatu di bawah sana. Bersabarlah hingga waktunya tiba. Malam ini kita puasa dulu, kasihan istriku bila terus menerus digempur non stop.
__ADS_1
"Ya udah, lebih baik kita ke hotel sekarang. Kamu pasti capek dan ingin rebahan di kasur setelah perjalanan jauh, 'kan?" ucap Shaka mengalihkan perhatiannya sebab jika tidak begitu, ia khawatir simbol kelelakiannya akan terus bereaksi dan malah membuat Zahira ketakutan.
Zahira mengangguk kecil. "Iya, Ka. Badanku capek banget, mana ngantuk lagi."
Shaka melirik Zahira dengan senyuman. Memaklumi kenapa wanitanya bisa kelelahan sebab semalam ia menyerang istrinya berkali-kali hingga tak tahu sudah berapa banyak bibit unggul disemburkan di rahim sang istri.
Lantas, Shaka memanggil taxi yang kebetulan berada di sana. Kemudian keduanya menaiki taxi yang akan mengantarkan menuju hotel tempat mereka berbulan madu. Menuju sebuah hotel yang menawarkan keindahan kota Tokyo di siang dan malam hari.
"Selamat malam. Mau diantarkan ke mana, Nona?"
"Pak, tolong antarkan kami ke The Edelweis Hotel," ucap Zahira menggunakan bahasa Jepang.
Sopir taxi tersebut baru saja hendak menyalakan mesin kendaraan, suara bariton seseorang menghentikan sejenak aktivitasnya. "Pak, kami baru saja menikah jadi tolong berhati-hatilah dalam berkendara. Jangan ngebut karena saya masih ingin menikmati waktu bersama istri," kata Shaka mencoba mengingatkan seseorang yang duduk di balik kemudi.
"Shaka, kenapa bicara begitu? Malu tahu!" tegur Zahira sembari mencubit perut Shaka.
Alih-alih merasa malu, sang pengacara malah menarik pinggang istrinya dengan sekali hentakan. "Aku hanya ingin semua orang tahu kalau kamu adalah milikku, mengerti?" Lalu, ia menatap pria di depannya dari kaca spion. "Jalan sekarang, Pak!"
__ADS_1
Shaka mengeratkan genggamannya di telapak tangan Zahira. Jantung lelaki itu terus bergemuruh setiap kali berada di dekat sang istri.
Tak berselang lama, taxi pun berhenti tepat di depan pintu masuk lobi hotel. Untuk malam ini mereka memutuskan langsung ke hotel dan beristirahat, memulihkan tenaga sehabis kerja keras membuatkan pesanan untuk kedua orang tua mereka. Memberikan oleh-oleh atas jerih payah selama lima hari berbulan madu.
"Lihatlah, pemandangannya sangat indah, bukan?" Shaka membalikan badan Zahira menghadap jendela besar dengan pemandangan menara Tokyo. Hamparan lampu dari kendaraan lalu lalang terlihat kecil di bawah sana.
Zahira mengangguk dan tersenyum, mencoba mengendalikan jantungnya yang rasanya mau meledak karena dipompa sedemikian kencang dengan adrenalin kebahagiaan. "Ehm ... k-kamu benar, Ka." Membiarkan tubuh mereka saling bersentuhan sambil memandangi indahnya lampu-lampu di bawah sana.
Suasana temaram, semerbak harum kelopak mawar merah serta lilin aroma terapi seakan mendukung mereka untuk melakukan hal lain selain hanya berpelukan. Sejujurnya Shaka ingin sekali membawa tubuh itu ke atas ranjang, membuka helai pakaian yang menempel di tubuh mereka dan melakukan salah satu kegiatan yang bernilai ibadah di mata Tuhan. Akan tetapi, ia mencoba menahan keinginan itu sebab saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi mereka untuk saling memberikan kepuasan.
"Aku sudah menghubungi Ghani dan mengajaknya ketemuan. Kebetulan besok siang dia senggang hingga kita dapat berbincang bersama sambil mengerjai Zavier. Rasanya pasti sangat mengasyikan jika kita bertiga kompak membuat kakak keduamu geram karena tak bisa ikut kumpul bersama."
Sudut bibir Shaka tertarik ke atas saat mengingat masa lalu. Sejak dulu ia paling senang menjaili Zavier ketimbang Ghani sebab kakak iparnya itu lebih asyik untuk diajak bercanda hingga sang pengacara sering sekali menggoda kakak kedua Zahira.
Tanpa sadar bibir Zahira menyunggingkan senyum tipis. Kilasan kejadian di masa kecil kembali berputar di ingatan wanita itu. Dulu mereka bisa dengan mudah bertemu di mana pun dan kapan pun mereka mau, tapi sekarang mencari waktu yang tepat untuk berkumpul rasanya susah sekali. Bahkan saat menikah pun, tak ada satu pun kakak kembar Zahira yang datang menyaksikan penyatuan dua manusia dalam sebuah pernikahan.
.
__ADS_1
.
.