Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Haruskah Aku Melepaskannya?


__ADS_3

"Sini peluk!" Shaka merentangkan kedua tangannya meminta agar Zahira mendekat kepadanya yang saat itu tengah menyenderkan punggung di headboard tempat tidur.


Usai merayakan hari kelahiran Shaka, pasangan suami istri itu bergegas pulang ke apartemen. Ada banyak hal yang ingin Shaka lakukan bersama istri tercinta sebagai bentuk ungkapan terima kasih karena Zahira telah memberi sebuah kado terindah sepanjang masa. Sebuah kado yang sangat berharga dan tak bisa diukur dengan rupiah.


Dengan seulas senyuman terlukis di wajah, Zahira menghamburkan diri ke dalam pelukan suaminya itu.


"Terima kasih, ya, Sayang, udah ngasih kado terindah dalam hidup. Sungguh, aku enggak tahu harus membalas dengan apa sebagai bentuk ungkapan terima kasihku karena kamu bersedia mengandung anakku." Shaka berkata sembari mengusap lengan istrinya, sesekali mendaratkan sebuah ciuman penuh cinta di puncak kepala Zahira.


Perasaan yang tak terlukiskan muncul di hati Shaka ketika mendengar berita kehamilan Zahira. Dia sebentar lagi menjadi seorang ayah.


Sebelum menikahi Zahira, Shaka memang pernah bermimpi membangun rumah tangga harmonis dengan istri tercinta. Mempunyai anak-anak lucu dan menggemaskan merupakan impian terbesar dalam hidupnya. Namun, ia tidak menyangka jika perempuan yang akan mewujudkan mimpinya adalah Zahira, bukan Ziva. Kendati begitu, Shaka amat bersyukur karena telah menitipkan benihnya pada perempuan yang tepat.


"Iih, Sayang. Kenapa sejak tadi kamu selalu mengucapkan terima kasih sama aku?" keluh Zahira merasa bosan karena sejak tadi Shaka mengucap kalimat yang sama. Entah sudah berapa banyak kata 'terima kasih' terucap di bibir sang suami.


"Sebagai seorang istri, tentu aja aku bersedia mengandung anakmu." Zahira mendongakan kepala hingga keduanya saling memandang satu sama lain. Posisi mereka sangat dekat hingga sang wanita dapat merasakan embusan hawa panas bersumber dari hidup Shaka. "Jadi aku mohon, jangan bilang terima kasih lagi padaku. Aku ikhlas menjadikan perutku ini sebagai tempat tinggal anak-anak kita selama sembilan bulan."


Meleleh sudah hati Shaka mendengar ucapan Zahira. Ia semakin jatuh cinta pada sosok perempuan cantik yang tak lain adalah sahabat sekaligus istrinya.


Shaka menurunkan sebelah tangannya, kemudian mengusap perut Zahira dengan sangat hati-hati seolah itu adalah barang antik berharga milyaran rupiah.


"Sayang, Papa bahagia sekali karena akhirnya kamu hadir di perut Mama. Papa janji akan menjaga kalian dan Mama dengan baik." Shaka mengajak ngobrol calon anaknya dalam kandungan Zahira. Walaupun ia tahu usia kandungan masih terlalu kecil dan belum ada ruh yang ditiupkan ke janin itu, tapi lelaki tampan berwajah khas Timur Tengah tidak peduli dan akan menjadikan rutinitas tersebut sebagai kegiatan wajib sebelum tidur.


Zahira mengubah posisinya, melepaskan tubuhnya dari pelukan Shaka. Wanita cantik yang wajahnya mirip dengan artis mandarin bernama Zhao Lusi merebahkan dirinya di samping sang suami lalu memiringkan tubuh agar menghadap suaminya.

__ADS_1


"Kenapa ngeliatin wajah aku begitu lekat? Ada yang salah, hem?" tanya Shaka ketika Zahira menatapnya secara intens.


"Enggak ada yang salah, kok. Hanya aja aku masih belum percaya kalau saat ini kita udah menikah bahkan sebentar lagi ada anak di antara kita. Dulu aku pesimis banget, sepertinya enggak yakin bisa hidup berumah tangga denganmu. Jangankan hamil meraih cinta kamu rasanya sulit apalagi ingat bagaimana perlakuan kamu terhadap Ziva dulu. Kamu sampai rela menjadi pusat tontonan semua orang demi mendapatkan wanita itu."


Mendengar perkataan itu, Shaka seakan mendapat sebuah tamparan keras. Dulu ia memang bodoh karena tidak bisa membedakan antara cinta dan obsesi. Akibat egonya, ia sampai harus kehilangan Zahira dan hubungan persahabatan antara mereka merenggang.


Shaka melingkari tangannya memeluk Zahira kembali bahkan lebih erat dari sebelumnya. "Maafkan aku karena dulu aku terlalu dibutakan oleh pesona Ziva hingga tak sadar bahwa sebenarnya perempuan yang kucintai itu adalah kamu. Saat itu aku benar-benar bodoh. Maafkan aku, Sayang."


Zahira terkekeh. "Udah ah, enggak usah bahas masa lalu. Terpenting saat ini kita berdua saling memiliki. Kamu untuk aku, aku untuk kamu."


"Aku mencintaimu, Zahira. Sangat ... sangat mencintaimu." Lengan berotot Shaka memeluk lebih erat. Ia belai kepala Zahira dan mengecupnya pada saat bersamaan. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua. Aku janji, enggak akan pernah meninggalkanmu dan anak-anak kita."


Tangan Zahira terulur ke depan, menangkup wajah Shaka. Lalu mencium bibir suaminya dengan penuh cinta seakan ingin mengatakan bahwa ia pula mencintai lelaki itu.


Sontak Zahira terkikik geli dibuatnya. "Boleh dong. Masa iya, enggak. Sentuhlah aku semaumu. Tapi ingat, pelan-pelan. Aku enggak mau mereka kaget karena merasakan gempa lokal bersumber dari Mama dan Papa-nya."


Mereka tertawa lepas. Kembali saling menatap syahdu dengan helaan napas bahagia. Lantas, Shaka mulai mencumbu Zahira dengan mencium bibir ranum milik sang istri.


***


Di tempat lain, Ziva mengeram kesal lalu melempar semua produk kecantikan yang ada di atas meja rias hingga berhamburan di lantai. Wanita itu sangat geram sebab untuk pertama kalinya ada seseorang yang berani mengancamnya.


"Berengsek! Dasar perempuan tua! Berani-beraninya dia mengancamku! Mentang-mentang orang kaya seenaknya aja menindas orang susah!" sungut Ziva, meluapkan kekesalannya. Tak cukup membuat dada yang diliputi amarah mereda, ia meraih sebuah vas bunga yang ada di atas nakas kemudian membantingnya. Membuat benda berbahan kaca itu pecah berserakan di lantai.

__ADS_1


Asisten pribadi Ziva segera berjalan setengah berlari saat mendengar suara gaduh bersumber dari kamar sahabatnya. "Astaga, Ziva! Apa yang terjadi padamu?" teriak Anya dengan mata melotot. Bola matanya nyaris saja meluncur ketika mendapati kamar sahabatnya berantakan mirip kapal pecah.


Anya melangkah dengan sangat hati-hati, menghindari pecahan kaca yang berserakan di atas lantai. "Va, kamu kenapa? Kenapa kamu marah-marah begini, hem? Katakan padaku apa yang membuatmu jadi seperti ini!" Sepasang mata indah dan jernih memindai ruang kamar yang terlihat sangat berantakan.


Wajah memerah menahan amarah. Dada kembang kempis, deru napas memburu dan gigi gemelutuk. "Ini semua gara-gara Nenek sihir itu! Dia berani mengancamku dan mengatakan akan menghancurkan karirku jika seandainya aku enggak berhenti mengganggu rumah tangga Shaka dan Zahira."


Anya mengernyitkan alis. "Maksudmu, Tante Rini?"


Mendengar nama Rini disebut semakin membuat Ziva emosi. Kaki jenjang itu menendang tempat sampah yang berada di dekatnya hingga terpelanting beberapa meter di depannya. "Jangan sebut nama itu lagi di hadapanku!" pekik wanita itu.


Terdengar helaan napas kasar. "Baiklah, aku enggak akan menyebut namanya lagi." Anya meraih sebelah tangan Ziva dan menuntunnya duduk di tepian ranjang. "Aku enggak tahu pasti apa yang dibicarakan Tante Rini padamu. Namun, saran aku sebaiknya memang kamu hentikan kegilaanmu untuk merebut Shaka kembali. Lelaki itu udah jadi milik perempuan lain. Jadi lebih baik kamu lepaskan dia dan coba mencari lelaki lain. Aku yakin kamu bisa mendapat pengganti Shaka yang jauh lebih segalanya dari dia."


Dengan tatapan nyalang Ziva menatap Anya. "Melepaskan? Mana mungkin aku merelakan Shaka begitu aja. Aku mencintai dia, Anya, kamu tahu itu, 'kan?"


"Aku tahu. Tapi merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain bukanlah tindakan terpuji," cicit Anya. "Coba kamu bayangkan seandainya dirimu adalah Zahira dan ada perempuan lain mencoba merebut suamimu, apa kamu rela melepaskannya begitu aja? Jawabannya pasti enggak, 'kan? Kamu enggak bakalan rela jika apa yang menjadi milikmu direbut perempuan lain. Itulah yang dirasakan Zahira. Jadi sangat wajar jika mantan calon mama mertuamu mengancam dan memintamu mundur, enggak lagi ganggu rumah tangga Shaka karena dia enggak mau melihat rumah tangga anaknya hancur."


Anya duduk di sebelah Ziva, menatap lurus ke depan. "Image-mu udah mulai membaik di mata publik, banyak orang yang ingin menggunakanmu menjadi model mereka. Kalau kamu nekad jadi orang ketiga dalam rumah tangga Shaka dan reputasimu hancur kembali, bagaimana? Kamu rela masa depanmu hancur kembali? Kamu rela mengancurkan mimpimu sendiri demi suami orang? Aku enggak bisa memaksa kamu untuk enggak mencintai Shaka, tapi merampas apa yang sudah menjadi milik orang lain bukanlah sesuatu yang baik. Akan ada karma yang kamu ambil jika merebut sesuatu yang bukan milik kamu. Camkan itu!"


Tanpa memberi kesempatan pada Ziva untuk berkata, Anya bangkit dari tempat duduknya. "Pikirkan baik-baik perkataanku. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari!"


Ziva menatap nanar punggung Anya yang semakin lama menghilang dari pandangan. "Apakah emang ini saatnya aku harus melepaskan Shaka untuk Zahira? Tapi kalau seandainya aku melepaskan dia, akankah ada lelaki sebaik dan setulus Shaka?"


...***...

__ADS_1


__ADS_2