Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Rencana Bulan Madu ke Jepang


__ADS_3

Terbangun dari tidurnya yang panjang saat terdengar suara gemiricik dari dalam kamar mandi. Kelopak mata bergerak secara perlahan, bulu-bulu mata lentik pun ikut bergerak. Tatkala ekor matanya telah terbuka sempurna, Zahira melihat ke samping, ranjang di sisi kanan dalam keadaan kosong. Mendengar suara air di kamar mandi, ia sangat yakin jika saat ini Shaka ada di dalam sana.


Zahira tersenyum sendiri. Ia meraba pembaringan di sebelahnya. Ada rasa haru dan bahagia sebab kejadian semalam bukanlah mimpi indah yang selalu menemani tidurnya. Sempat berpikir jika keindahan di depan mata akan sirna setelah sang mentari kembali bersinar menyinari belahan dunia sebelah selatan.


Teringat bagaimana bibir Shaka terus menyebut namanya setiap kali menghentakkan simbol kelelakiannya membuat hati Zahira berbunga-bunga dan dunia terasa lebih berwarna. Kini wanita itu yakin jika hati dan cinta lelakinya hanya untuk dirinya seorang bukan untuk yang lain.


Perlahan, Zahira bangkit dan duduk bersandar di headboard ranjang, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lilin aroma terapi telah padam dengan sendirinya. Kelopak mawar merah yang tadinya ada di atas ranjang dibentuk menyerupai hati telah berserakan ke mana-mana. Helaian pakaian yang mereka kenakan teronggok begitu saja di sembarang tempat.


Aah ... semalam mereka bergumul hebat hingga tak menyadari jika jam menunjukan pukul tiga dini hari waktu setempat. Zahira pun tak bisa menghitung lagi berapa kali ia terdampar lalu Shaka kembali membawanya menuju puncak kenikmatan yang tak berujung. Namun, satu hal yang pasti, saat Shaka telah benar-benar lelah di saat itulah sang lelaki lemah tak berdaya.


Selagi Shaka masih mandi, sebaiknya aku mengenakan pakaian. Rasanya canggung sekali jika kami bertemu dalam keadaan tubuhku polos tanpa sehelai kain pun, batin Zahira. Lantas, ia mulai beranjak dari pembaringan.


"Aduh, sakit sekali!" pekik Zahira. Inti tubuh terasa agak nyeri dan perih saat dibuat jalan. Spontan, ia merapatkan kedua kakinya.


Be calm, Ra! Bukankah sangat wajar jika seorang wanita mengalami nyeri di **** ********** saat pertama kali melakukan hubungan intim? Jadi, kamu enggak usah khawatir akan hal itu. Zahira mencoba meyakinkan diri sendiri jika semua masih dalam batas normal, tidak ada yang perlu dicemaskan.


Berpegangan pada pinggiran dinding, berjalan tertatih mencoba mengambil dress merah yang tergeletak di atas sofa. Zahira bergegas mengenakan pakaian tersebut sebelum Shaka keluar dari kamar mandi. Namun, netranya menangkap sesuatu di atas sprei putih yang kusut. Bercak berwarna merah berukuran sangat kecil, tapi mampu membuat perasaan Zahira campur aduk.


"Apakah itu ...?" Debaran halus menghampiri Zahira. Suara tercekat dan lidah pun terasa kelu hingga membuat wanita itu tak mampu melanjutkan perkataannya.


Di saat Zahira termangu, memandangi bercak merah di atas sprei, di waktu bersamaan pintu kamar mandi terbuka lebar lalu tak lama kemudian menampakkan sosok pria jangkung keluar hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang hingga memperlihatkan dadanya yang bidang, kotak-kotak seperti roti sobek.

__ADS_1


Lelaki itu berjalan mendekat, kemudian melingkarkan tangan di pinggang sang wanita. "Ada apa, Sayang? Kenapa diam aja?" Mengecup puncak kepala istrinya tanpa rasa jijik ataupun risih meski rambut wanita itu basah dan lepek akibat percintaan semalam.


Alih-alih menjawab pertanyaan Shaka, Zahira masih mematung di tempat memandangi bercak merah di atas sprei. Tersenyum lirih disertai bola mata mulai berkaca-kaca.


Shaka refleks mengikuti arah pandang Zahira. Pria itu pun terhentak sama seperti sang istri saat melihat bercak merah tersebut. Jantung memompa lebih cepat dari biasanya. Ada rasa bangga muncul ke permukaan karena berhasil menjadi lelaki pertama menghisap madu dari bunga nan indah di sebelahnya.


Di saat seperti ini, Shaka teringat akan sosok sang mantan kekasih. Seandainya menikahi Ziva, akankah ia menjadi lelaki pertama dan satu-satunya yang menjamah wanita itu? Jawabannya mungkin saja tidak. Terbukti saat ia datang ke Singapura, sang mantan terindah sedang berduaan dengan lelaki lain.


Tanpa banyak berkata, Shaka segera menghujani puncak kepala Zahira berkali-kali dengan ciuman. "Terima kasih telah menjaga kesucian dirimu hanya untuk aku seorang. Aku merasa beruntung dapat menjadi lelaki pertama bagimu, Ra."


Menetes sudah buliran kristal dari sudut mata Zahira. Kembali teringat kenangan di masa lalu, saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Shaka berlutut di depan semua orang, mengucapkan cinta pada seseorang. Ia tak pernah menduga jika akan ada masa di mana semua mimpi jadi kenyataan, rasa sakit akan kehilangan seseorang dan perasaan cinta terpendam selama hampir sepuluh tahun, terbalaskan! Kini, hanya dialah pemilik hati Shaka Abimana.


"Sudah kuberikan sesuatu yang berharga dalam hidupku hanya untuk kamu seorang. Jadi, please, jangan pernah tinggalkan aku. Aku enggak tahu harus bagaimana jika seandainya kamu pergi setelah mendapatkan apa yang kamu inginkan." Menangis tersedu dalam pelukan Shaka. Buliran air mata itu membasahi dada sang lelaki, bercampur dengan tetesan air di leher meluncur turun melewati otot dada bidang suami Zahira.


Mengurai pelukan memberi jarak di antara mereka. Shaka pandangi iris coklat itu dengan lekat. "Ra, aku bukanlah pria berengsek yang hanya menginginkan kesucianmu kemudian mencampakanmu setelah mendapatkan apa yang kumau. Aku benar-benar tulus mencintaimu, tapi menginginkan sesuatu sebagai imbalan." Lelaki itu menjeda sejenak kalimatnya, menghirup oksigen yang ada di sekitar. "Menjadi kumbang pertama yang menikmati manisnya madu dari sekuntum bunga memang merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagiku, namun bukan berarti aku akan meninggalkanmu begitu saja dan mencari bunga yang lain. Enggak, Ra!"


Kedua tangan semakin erat mencengkeram bahu Zahira. "Dulu, saat kita masih bersahabat, aku selalu bilang enggak akan pernah ninggalin kamu meski kita telah hidup berumah tangga dengan pasangan masing-masing. Dan kini saat status kita berubah jadi pasangan suami istri, ucapan itu tetap berlaku bahkan diperpanjang seumur hidup."


Tangan Shaka terulur ke depan, mengusut sudut mata sang pujaan hati yang berair. Menyaksikan wajah cantik istri tercinta membuat dada lelaki itu terasa sesak bagai dihimpit bongkahan batu yang sangat besar. Merasa jadi lelaki bodoh karena membiarkan wanitanya bersedih. "Dengarkan perkataanku baik-baik! Kita akan selalu bersama-sama. Kamu, aku dan anak-anak kita. Mengerti?"


Zahira mengangguk kepala lemah. Rasanya sangat menyenangkan jika ia, Shaka dan anak-anak mereka hidup bahagia selamanya seperti di kisah dongeng yang selalu Rayyan bacakan sebelum dokter cantik itu terlelap.

__ADS_1


Merapikan rambut panjang hitam tergerai menggunakan sela-sela jari. "Tubuhmu pasti lengket akibat percintaan kita semalam. Sebaiknya kamu mandi agar tubuhmu lebih segar. Setelah itu kita sarapan dan pergi ke bandara."


"Hah, bandara?" pekik Zahira dengan bola mata melebar sempurna. "Mau ngapain kita ke bandara? Apa jangan-jangan kamu ingin menjemput Papa dan Mama yang berniat liburan bersama kita?"


Shaka mengulum senyum dan menjepit hidung Zahira dengan gemas. "Bukan menjemput kedua orang tuaku. Aku semalam berpikir untuk mengajakmu berbulan madu ke negera lain. Ya, selagi kita berdua masih cuti jadi aku ingin mengajakmu berlibur ke tempat-tempat romantis."


Kedua alis mengerut petanda bingung. Ini semua diluar rencana mereka. Awalnya Zahira dan Shaka memutuskan berlibur selama lima hari di Australia, tapi ditengah jalan rupanya lelaki itu berubah pikiran.


"Memangnya kita mau liburan ke mana sih, Ka?"


Shaka membalikkan badan Zahira hingga posisi punggung wanita itu menempel di dada. Memeluk wanitanya dari arah belakang. Napas keduanya memburu dan detak jantung semakin tak beraturan.


"Aku ingin pergi berbulan madu ke Jepang, tempat di mana kamu pernah kuliah dulu. Di sana pasti banyak tempat wisata seru yang bisa dikunjungi pengantin baru seperti kita," ucap Shaka semakin erat memeluk Zahira dari belakang. Dagunya yang lancip diletakkan di pundak sang wanita.


"Selain itu, aku pun ingin tahu bagaimana kabar Kakakmu yang super dingin mirip kutub utara. Sudah lama kami tak bertemu. Rasanya ... aku merindukan lelaki itu. Lelaki yang kini menjadi kakak iparku," terkekeh pelan setengah berkelakar.


Shaka mengecup helaian rambut hitam Zahira. "Bersiaplah, kita pergi hari ini."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2