Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Petuah Bijak


__ADS_3

Shaka tak habis pikir dengan perkataan Zahira tadi. Dalam kasus ini sebenarnya Zahira tidak salah, tetapi juga tidak benar, bagaimanapun Zahira adalah istrinya, persetan dengan istilah istri pengganti. Di mata Shaka, Zahira adalah istrinya dan tak seharusnya gadis itu bersikap seperti itu padanya. Zahira harusnya hormat dan menghargai keputusan Shaka, bukan malah bersikap membangkang.


Berbagai pertanyaan pun muncul di benak Shaka, apakah Zahira terkena hasutan Nizam? Atau Zahira secara diam-diam mendekati Nizam atau malah sebaliknya? Bukankah rasa cinta dalam hati seseorang bisa tumbuh jika terbiasa bertemu dan bagaimana kalau istrinya betulan jatuh cinta kepada Nizam? Bagaimanapun mereka setiap hari bertemu, dibandingkan dengannya, berbagai kemungkinan di pikirkan oleh Shaka.


Sejuta kemungkinan terus menari indah dalam benak Shaka, pria itu menjadi overthingkhing. Dia takut jika Nizam dan Zahira terus bersama, sang istri akan suka pada Nizam dan meninggalkannya. Si bungsu dari tiga bersaudara tidak mau kalau sampai ditinggalkan Zahira. Dia boleh saja kehilangan Ziva atau seluruh harta benda miliknya di dunia ini, tetapi untuk kehilangan Zahira untuk kedua kali, rasanya sang pengacara tidak sanggup.


Shaka langsung menggelengkan kepalanya, pria itu mengusir pikiran negatifnya jauh-jauh. "Zahira adalah istriku, dia milikku. Hanya milik Shaka Abimana seorang. Siapa pun termasuk Nizam enggak bisa mengambil Zahira dariku!" Lelaki itu mengepalkan tangannya kemudian menjambak keras rambutnya. Dia terus melakukan itu guna menyingkirkan berbagai asumsi buruk yang terus datang menghampiri.


“Kak?” ucap Shakeela menepuk pundak Shaka pelan membuat suami Zahira terperanjat. “Kakak kenapa? Dari tadi aku panggil, tapi kok enggak menyahut,” ucapnya.


“Eh? Maaf, Sha, ada apa?” tanya Shaka.


Shakeela mendengus dan memutar bola mata malas. Dia masih belum bisa melupakan kejadian beberapa waktu lalu. Jadi, jangan heran kalau sikap gadis itu terkesan tidak ramah. “Aku mau tanya, Kakak mau makan atau minum? Biar aku minta Mbak Tina siapkan, tadi Ayah bilang kalau mereka akan pulang sedikit lebih lama. Jadi sambil nunggu lebih baik Kakak bisa minum atau makan dahulu,” paparnya panjang lebar.


“Ga usah, ngerepotin kamu Sha,” ucap Shaka tulus.


“Ck! Biasanya juga ngerepotin," celetuk Shakeela dalam hati. "Udah, cepat mau apa nih?” tanya Shakeela tidak sabaran.


Shaka menghela napas kasar. "Kopi saja deh, Sha. Kalau makan, Kakak sudah kenyang,” tolaknya halus. Padahal, para cacing di dalam perut sejak tadi meronta-ronta, tetapi dia tidak napsu makan akibat terlalu memikirkan masalahnya dengan Zahira.


"Ya sudah, aku tinggal ke dapur sebentar," jawab Shakeela singkat dan bergegas meninggalkan ruang tamu.


Setelah beberapa saat Shakeela kembali membawakan segelas kopi untuk Shaka.


"Terima kasih banyak, Sha," ucap Shaka yang hanya dijawab anggukan kepala Shakeela. Lantas, lelaki itu menyesap perlahan kopi yang dibawakan oleh adik iparnya.


Sambil menunggu kedua mertuanya, Shaka memainkan ponselnya. Tak lama kemudian, sahabat sekaligus mertua pengacara tampan tiba di rumah.


Sebagai menantu yang baik, Shaka langsung menyambut keduanya.


"Assalamu a'laikum, Ayah, Bunda," ucap Shaka sambil mencium punggung tangan mereka.


"Wa'alaikum salam. Sudah lama nunggu?" tanya Arumi pada Shaka.


"Enggak kok, Bun," jawab Shaka.


Rayyan yang berdiri di samping Arumi berkata, "Itu sudah menjadi resiko dia kalau mau bertemu kita, Bun. Jadi enggak perlu merasa bersalah."


Arumi mendelik ke samping. "Mas, jangan bicara begitu terhadap menantu kita." Lantas, dia kembali menatap Shaka. "Duduk dulu, Nak Shaka, biar ngobrolnya nyaman."

__ADS_1


"Tumben sekali malam-malam ke sini. Ada apa? Lalu, di mana Zahira, kenapa enggak ikut?" tanya Arumi setelah mereka semua duduk di sofa.


"Rara ada di apartemen. Aku sengaja datang ke sini sebab ada yang mau dibicarakan dengan Ayah dan Bunda,” ucap Shaka.


Arumi memicingkan mata, menatap penuh selidik kepada sang menantu. “Ada hal apa, Nak. Kalian berantem lagi?" tanyanya.


Alih-alih menjawab pertanyaan kedua mertuanya, Shaka terdiam seribu bahasa.


“Sebaiknya kita bersih-bersih dahulu, Bun, supaya lebih enak ngobrolnya. Bagaimana?" saran Rayyan kepada sang istri.


Shaka menganggukan kepala. "Enggak masalah. Ayah dan Bunda bisa ke kamar dulu biar aku tunggu di sini."


Arumi dan Rayyan pun pergi meninggalkan Shaka menuju kamar mereka. Sepasang suami istri itu mandi dan berganti pakaian. Setelah itu mereka pun kembali menemui Shaka.


“Honey, menurutmu ada apa, ya, Shaka datang ke sini malam-malam?” tanya Arumi pada sang suami.


“Aku juga enggak tahu, Babe. Tapi feeling aku sih, karena rencana kepergian ke Cianjur," ucap Rayyan menatap sang istri.


“Memang kenapa?” tanya Arumi. Dibalas gedikan bahu oleh Rayyan. “Ya udah, kita turun aja, kasihan Shaka udah lama nunggu,” ucap Arumi dibalas anggukan oleh Rayyan.


Mereka berdua pun menghampiri Shaka. Arumi menyuruh Shakeela menyiapkan dua gelas teh hangat dan kembali menawarkan minuman pada Shaka, tetapi Shaka menolak. Wanita itu juga menyuruh Shakeela untuk pergi ke kamarnya supaya tidak mendengarkan pembicaraan mereka.


“Ada apa, Nak?” tanya Arumi.


“Kamu ini kayak sama siapa saja,” kata Arumi.


“Maaf, Ayah, Bunda. Soal Zahira mau pergi bersama Dokter Nizam apakah tidak bisa dibatalkan? Kalau boleh jujur, sebenarnya aku enggak setuju jika Rara pergi ke Cianjur,” ucap Shaka.


Rayyan dan Arumi saling tatap, kemudian dokter tampan bermata sipit berkata, “Kenapa tidak setuju? Putriku pergi ke sana bukan hanya dengan Dokter Nizam, tetapi dengan beberapa dokter lainnya yang memang diperlukan di sana.”


“Ya ... aku enggak setuju aja kalau Zahira pergi dan melalaikan tugas serta tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Apalagi kepergiannya ke Cianjur bersama Dokter Nizam," kata Shaka lirih.


Rayyan dan Arumi saling pandang kemudian ibu dari empat orang anak tersenyum tapi dia pura-pura tidak mengerti apa yang tengah melanda menantunya itu. “Loh, memangnya kenapa kalau Zahira ikut? Toh dia ke Cianjur dalam tugas pekerjaan bukan untuk jalan-jalan. Lagipula, Zahira dan Dokter Nizam hanya rekan kerja tidak mempunyai hubungan spesial."


"Namun, aku tetap enggak setuju, Bunda." Shaka menjeda kalimatnya. "Apa enggak ada dokter lain yang bisa gantiin Zahira?” tanya pria itu.


"Enggak ada," sergah Rayyan cepat. "Kalau kamu enggak suka dengan Dokter Nizam seharusnya enggak campurkan adukan urusan pekerjaan dengan rumah tanggamu dengan Zahira."


"Ada kalanya kamu memang harus bersikap seperti suami yang menjaga istrinya, tetapi ada kalanya pula kamu harus bisa memilah dan memilih mana yang terbaik bagi kalian. Terserah kamu mau tersinggung atau enggak dengan perkataanku, tetapi keputusan ini enggak bisa dibatalkan. Kami harus profesional sebagai dokter, selain untuk citra rumah sakit, yang paling utama adalah rasa kemanusiaan,” lanjut Rayyan.

__ADS_1


Shaka terdiam beberapa saat, mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh ayah mertuanya. Akibat ketidaksukaan terhadap Nizam, membuat dia jadi gelap mata dan bertengkar hebat dengan sang istri.


Pengacara muda tersenyum, dia kemudian berkata, “Aku mengerti Ayah. Maaf karena aku terkesan egois dan memaksakan kehendakku sendiri. Dan ... terima kasih udah kasih penjelasan kepadaku.”


Arumi tersenyum manis. “Sudah seharusnya orang tua begitu pada anaknya,” ucap wanita itu. “Bunda punya ide yang mungkin bisa membantu kamu, Nak."


“Apa Bun?” tanya Shaka.


“Kenapa kamu tidak menjadi relawan juga? Membantu para korban bencana di sana, kamu juga bisa bersama Zahira,” tutur Arumi.


“Itu ide yang bagus. Kenapa kamu enggak sekalian ikut.” Rayyan menimpali perkataan sang istri.


“Ini ... aku ragu Ayah, Bunda. Alasan pertama karena tadi aku dan Zahira bertengkar. Kedua, aku ada beberapa persidangan minggu ini. Dan yang paling aku khawatirkan sebenarnya karena di sana baru saja ada bencana, tidak menutup kemungkinan kalau akan ada bencana susulan. Aku takut kalau Zahira ke sana, enggak ada yang bisa jagain dia,” ucap Shaka mengutarakan kekhwatirannya kepada Arumi dan Rayyan.


“Kamu tenang saja, di sana ada banyak orang yang bisa menjaga Zahira. Lagipula, aku tidak akan mungkin membiarkan putriku celaka," ucap Rayyan.


Arumi tersenyum samar mendengar penuturan Rayyan. Pujaan hatinya itu memang tidak pernah membiarkan kaum Hawa di keluarga ini menderita, lelaki itu selalu menjaga serta melindungi agar tak ada satu orang pun yang melukai.


“Oh, iya, Nak Shaka, Bunda saranin kamu dan Zahira jangan membiasakan diri untuk bertengkar selesaikan masalah dengan baik-baik. Dalam rumah tangga pertengkaran itu wajar, tetapi salah satu harus mengalah. Jangan egois dibalas egois, keras dibalas keras, kamu tidak akan mendapatkan jalan keluar!" ucap Arumi lembut.


“Baik, Bunda, aku paham. Kalau gitu aku pamit pulang dulu. Assalamu a'laikum," ucap Shaka. Pria itu pun mencium tangan keduanya


“Wa'alaikum salam. Hati-hati di jalan," ucap Rayyan. Walaupun dia masih agak kesal terhadap sikap Shaka, tetapi pria itu tidak mau hal buruk terjadi kepada sang menantu. Bagaimanapun, Shaka adalah anak dari sahabat karibnya, Rio.


Rayyan dan Arumi mengantarkan menantu mereka hingga ke depan pintu. Shaka melambaikan tangannya dan pergi menuju apartemennya.


Pasangan suami istri saling berpandangan, kemudian Arumi tersenyum melihat tingkah Shaka. "Babe, sepertinya kamu harus mencari nama untuk cucu pertama kita," celetuk wanita itu.


Rayyan melirik sekilas, lalu berkata, "Semoga saja memang rasa cinta dalam hati menantu kesayanganmu tumbuh dan dia bisa mencintai Rara dengan tulus."


Arumi merangkul lengan sang suami. Kepala wanita itu disenderkan di dada bidang Rayyan. "Aku yakin, cepat atau lambat benih cinta di hati anak sahabatmu akan tumbuh dan bersemi seperti bunga bermekaran. Aku pun sangat yakin kelak Shaka akan menjadi sangat posesif dan bucin terharap Zahira, sama seperti kamu kepadaku. Marah-marah tidak jelas cuma gara-gara aku mengenakan pakaian agak ketat ketika berlatih yoga kemudian di waktu yang sama datang room service membawakan makanan." Wanita itu terkekeh pelan kala mengingat kejadian saat mereka menghadiri seminar di Bali puluhan tahun silam.


Rayyan menyentuh ujung dagu istrinya dan menatap lekat iris coklat milik Arumi. "Itu semua aku lakukan karena tidak mau kemolekan tubuhmu dinikmati lelaki lain. Mengerti?"


Sang dokter cantik mengalungkan tangan di leher Rayyan. "Aku mengerti, Honey. Terima kasih sudah mencintaiku dengan caramu. I love you."


"Love you too, Babe." Rayyan memberikan ciuman penuh cinta di bibir ranum milik Arumi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2