Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Meminta Maaf dan Berbaikan


__ADS_3

Shaka ingin kembali ke apartemen, tetapi dia ragu. Lantas, lelaki itu pun membelokkan mobilnya menuju rumah orang tuanya.


Beberapa menit perjalanan dia tiba di rumah kedua orang tuanya. Jemari tangan menekan bel pintu dan tak lama kemudian, Rini berdiri di ambang pintu. "Loh, Shaka, tumben malam-malam datang ke sini tanpa memberitahu terlebih dulu? Ada apa, Nak?"


Shaka menjawab "Aku ada perlu dengan Papa. Apa Papa ada di dalam?" tanya pria itu lemas.


Rini peka dengan gerak-gerik putranya itu, tetapi ia hanya tersenyum saja. "Ada. Ayo masuk dulu. Nanti Mama panggilkan Papa."


Tak lama berselang, Rio datang. Shaka mencium punggung tangan sang papa kemudian mereka duduk bersama, sementara Rini ke dapur menyiapkan teh hangat untuk suami dan anaknya.


"Ada apa, Ka, kamu mencari Papa?" Rio memulai percakapan mereka.


Shaka menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Begini, Pa. Aku dan istriku habis bertengkar karena Rara keukeh ingin pergi ke Cianjur, menolong para korban yang membutuhkan pertolongan sementara diriku tak setuju kalau dia pergi ke sana. Terlebih dia akan pergi bersama Dokter Nizam."


"Lalu?"


"Ehm ... kalau Papa tidak keberatan, bisa tidak tolong gantikan aku saat di persidangan nanti. Aku ingin menemani Rara, Pa," tutur pengacara tampan.


Rio menghela napas kasar. "Shaka, bukannya Papa tidak mau membantumu, tapi sejak awal menerima kasus seharusnya kamu sudah tahu konsekuensi yang harus dihadapi. Terlebih sudah terjadi kesepakatan antara kamu dengan klien. Kamu ataupun teman-teman lain tidak bisa dengan seenaknya mengundurkan diri dan mengganti dengan pengacara lain."


"Tapi, Pa, aku--"


Rio menepuk pundak Shaka pelan. "Papa mengerti kenapa kamu begitu mengkhawatirkan Zahira. Namun, tindakanmu melarang istrimu pergi menurut Papa terlalu egois toh dia ke sana bukan dalam rangka tour melainkan bekerja. Jadi, kenapa tidak kamu izinkan saja dia pergi."


"Lalu, untuk masalah tukar menukar pengacara, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabmu. Kamu yang lebih dulu menerima kasus tersebut maka kamu pulalah yang harus menyelesaikannya. Bersikap bijak dan profesional merupakan kunci utama untuk menjadi pengacara hebat," sambung Rio.


"Apa yang dikatakan Papamu benar, Nak. Mama tidak membela siapa pun dalam kasus ini karena sikap kalian yang sama-sama keras kepala membuat kamu dan Zahira tidak ada yang mau mengalah," tutur Rini sembari membawa dua cangkir teh, kemudian menaruhnya di meja.


"Sebagai dokter, tentu saja Zahira harus siap menjalankan tugas dan kewajibannya untuk menolong orang yang membutuhkan begitu pun denganmu. Kalian berdua bekerja di bidang berbeda tetapi mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing. Jadi, bersikap profesional-lah, Ka. Jangan kekanak-kanakan!"


"Tapi Rara udah meninggikan nada suaranya di depanku, Ma. Dia bukan lagi seperti Zahira yang dulu, lugu, penurut dan lemah lembut. Dia berubah, Ma."


Rini tersenyum manis, kemudian duduk di sebelah Shaka. "Rara memang bersalah karena tidak mematuhi ucapanmu dan dia juga bersikap tidak hormat kepadamu. Bahkan bisa dikatakan dia berdosa karena menjadi istri pembangkang. Seharusnya kamu nasihati dia dengan baik, sampaikan keluh kesahmu kepadanya bukan malah kabur ke rumah orang tuamu."


"Mama sebagai seorang istri cukup kecewa mendengar bahwa Rara yang manis dan imut bersikap berbeda dari biasanya. Namun, Mama tidak dapat berbuat apa-apa sebab menegur dan menasihatinya merupakan tugasmu sebagai seorang suami."


"Lantas, apa yang harus kulakukan, Pa, Ma?" tanya Shaka sembari menatap wajah kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Pulanglah ke apartemen dan selesaikan masalah kalian dengan kepala dingin. Papa yakin, kalau saat ini Rara sedang menunggumu di rumah." Rio mendekatkan wajahnya di telinga Shaka, lalu berbisik, "Semarah apa pun seorang istri, dia tidak akan pernah bisa tenang bila sang suami pergi dalam keadaan marah."


Shaka kembali menatap iris coklat Rio. Pria paruh baya berhidung mancung hanya tersenyum sembari menganggukan kepala.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Pa, Ma, terima kasih atas saran dan nasihat kalian," kata Shaka.


Rini mengusap puncak kepala sang putera. Walaupun tidak mendengar apa yang disampaikan oleh sang suami, tetapi dia yakin kalimat tersebut bagaikan mantra sihir yang mampu menghipnotis Shaka dalam sekejap. "Hati-hati di jalan dan ingat, selesaikan semua masalahmu dengan kepala dingin."


***


Shaka kembali ke apartemen dengan suasana hati yang cukup lebih baik dari sebelumnya. Sepanjang jalan dia terus memikirkan semua perkataan mertua serta kedua orang tuanya. Dia sadar akibat rasa tidak suka terhadap Nizam malah membuat rumah tangganya diterpa badai yang cukup menggoyahkan mereka.


Pengacara itu memutuskan untuk mengalah dan kalau perlu meminta maaf pada Zahira agar semua urusan selesai. Tidak ada salahnya jika dia meminta maaf terlebih dulu demi kebaikan bersama.


Shaka masuk ke apartemen, terlihat suasana di unit apartemen tesebut sudah sunyi. Dia bisa pastikan jika Zahira sudah tertidur sebab lampu di ruangan itu padam semua.


Baru saja hendak melangkah ke kamar, Shaka dikagetkan dengan suara Zahira yang memanggilnya. “Shaka,” panggil Zahira.


“Eh? Kamu belum tidur?” ujar Shaka menghampiri Zahira.


Zahira merubah posisinya dari rebahan menjadi duduk, kemudian mengucek matanya menggunakan telapak tangan. Lantas, gadis itu bangkit, lalu mencium punggung tangan sang suami. "Aku cuma tiduran doang barusan."


“Bagaimana aku bisa tidur nyenyak sedangkan kamu saja pergi dan belum kembali,” ucap Zahira.


Ya, memang tadi Zahira hendak tidur, tetapi selama beberapa menit menutup mata, dia tak kunjung tertidur. Hati gadia itu gelisah, khawatir akan keadaan Shaka. Dia takut jika terjadi sesuatu pada suaminya di jalan. Akan merasa sangat menyesal kalau sampai Shaka pergi dari rumah dan tak kembali lagi untuk selamanya.


“Maaf udah buat kamu nunggu dan khawatir,” ucap Shaka.


Zahira menggelengkan kepala cepat. "Kamu enggak salah, Ka. Aku yang seharusnya minta maaf padamu karena tadi sempat meninggikan nada suaraku di hadapanmu. Tapi sungguh, tadi aku enggak ada niatan sama sekali untuk durhaka kepadamu. Aku cuma lepas kendali hingga tanpa sadar melakukan suatu hal yang enggak diajarkan oleh agama kita. Maafin aku, Ka.” Bibir Zahira gemetar saat mengucapkan kata maaf. Dada gadis itu terasa sesak seperti kekurangan pasokan oksigen. Seumur hidup baru kali ini berkata kasar dan meninggikan nada bicara di hadapan orang lain terlebih itu adalah sang suami.


Tanpa sadar, butiran kristal telah meluncur membasahi pipi. Zahira amat menyesali perbuatannya beberapa waktu lalu terhadap Shaka.


Dalam keadaan temaram yang hanya disoroti sinar rembulan dan cahaya dari gedung pencakar langit sebelah, Shaka dapat melihat jelas penyesalan mendalam dari sosok gadis di hadapannya. “Aku bisa maklum kenapa kamu sampai hilang kendali. Itu semua terjadi karena sikapku yang terkesan egois. Aku marah-marah enggak jelas hanya karena dengar kamu pergi ke Cianjur bersama Dokter Nizam. Padahal banyak tenaga medis lainnya yang turut serta ke lokasi bencana."


“Jadi ... apa sekarang kita udah baikan?” ucap Zahira dengan suara gemetar. Sisa buliran air masih masih menggenang di sudut matanya.


Shaka mengulurkan tangan ke depan, lalu mengusut sisa air mata sang istri. Lelaki itu tersenyum kemudian menjawab, “Tidak ada alasan bagiku untuk terus menerus marah kepadamu, Ra."

__ADS_1


Pengacara berhidung mancung dan pemilik senyum manis menyentuh ujung dagu Zahira. Bola mata bergerak menatap manik coklat indah dalam keadaan temaram. "Lain kali, jangan lakukan kesalahan yang sama seperti tadi. Kamu tahu, 'kan, kalau perbuatanmu bisa dikecam oleh para reader dalam kisah kita ini, Ra. Kasihan otor remahan jadi bulan-bulanan mereka. Terlebih, tindakanmu barusan bukan merupakan cerminan seorang istri yang taat agama. Mengerti?"


“Mengerti. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi," ucap Zahira bersungguh-sungguh. Menguatkan tekad dalam hati untuk tidak melakukan kesalahan sama. "Jadi apa aku boleh pergi?”


Suasana berubah hening dalam seketika. Tidak ada satu orang pun bersuara. Hanya terdengar bunyi detak jarum jam dinding di ruang keluarga.


Zahira menarik napas dalam. Sebelah tangan mengepal sempurna, mencoba memberanikan diri untuk mengambil keputusan. "Kalau kamu enggak ngasih izin, aku enggak akan pergi, Ka. Aku enggak mau jadi istri durhaka yang pergi dari rumah tanpa ridho dari suami. Lebih baik aku semua orang lain mengecam tindakanku daripada dosaku bertambah di mata Tuhan."


Shaka tersenyum samar mendengar perkataan Zahira. "Tentu saja, Sayang. Aku memberimu izin pergi ke sana," ucap Shaka seraya mencubit pipi Zahira dengan gemas.


"Shaka!" seru Zahira sembari mengusap hidungnya yang terasa sakit. Rona merah muda terpancar di wajah Zahira.


Shaka terkekeh-kekeh melihatnya. Terbesit sebuah ide mengerjai istrinya. “Cie, ada yang bullshling nih.”


Zahira langsung memukul tangan Shaka. “Apaan, sih,” ucap Zahira malu-malu.


“Dih, itu pipinya kenapa merah? Salting, ya dipanggil sayang?” goda Shaka.


Reflek, Zahira menyentuh wajahnya dengan kedua tangan. Merasai apakah saat ini wajahnya terasa panas akibat digoda Shaka. “E–ngga! Apaan sih! Udah ah, aku mau tidur,” ucap gadis itu hendak pergi, tetapi tangannya ditahan oleh Shaka.


“Mau ke mana, Sayang, hm? Aku belum selesai bicara loh,” ucap Shaka masih terus menggoda Zahira.


“Apaan, sih, Ka. Mau ngomong apa?” tanya Zahira sambil berusaha mendengalikan debaran jantung tak beraturan yang sedari tadi dia rasakan.


“Kamu itu istri aku, jangan pernah bilang lagi kalau kamu itu istri pengganti, paham? Oh, ya, aku enggak bisa ikut kamu karena minggu ini ada beberapa sidang yang harus aku hadiri. Kamu baik-baik di sana, cepet pulang. Jangan terlalu deket sama Dokter Nizam atau cowok lain di sana,” ucap Shaka seraya menyelipkan anak rambut Zahira ke telinga yang mana tindakan lelaki itu semakin membuat gemuruh kecil di hati sang dokter cantik.


“I–iya, Ka. Lagian aku ke sana urusan pekerjaan, bukan hal lain,” kata Zahira dengan menundukan wajah.


“Aku berbicara seperti ini sebagai suamimu, Ra. Jadi, please, jangan melanggar apa yang aku sampaikan kepadamu."


Zahira menganggukan kepala. "Iya, aku mengerti. Terima kasih udah ngasih izin kepadaku."


Tanpa diduga-duga, Shaka membawa tubuh mungil Zahira dalam dekapan. "Jangan merasa sungkan, Ra. Aku ingin suamimu bukan lagi sahabat apalagi orang lain."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2