Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Semangkok Bubur Sop untuk Zahira


__ADS_3

Hari ini adalah hari di mana Zahira diperbolehkan pulang ke rumah, setelah dirawat selama tiga hari lamanya di rumah sakit. Kabar ini membuat Zahira merasa sangat senang karena ia tidak akan berada di dalam kamar yang membosankan dengan bau karbol di mana-mana.


Shaka meminta sopir pribadi yang bekerja di rumah kedua orang tuanya untuk datang menjemput. Sang sopir mengendarai mobil dengan kecepatan sedang, sedangkan Shaka duduk manis di kursi belakang bersama Zahira.


"Kalau kamu ngantuk, tidur saja. Nanti aku bangunkan saat kita sudah tiba di apartemen," ucap Shaka ketika ia melihat Zahira menguap beberapa kali. "Sandarkan kepalamu di sini agar tidak bergeser saat melewati polisi tidur atau jalanan berlubang." Menepuk pundaknya dengan pelan.


"T-tapi, Ka--"


Belum selesai Zahira berbicara, Shaka sudah lebih dulu membawa kepala sang istri untuk bersandar di pundaknya.


"Sst! Tidak ada bantahan!" sergah Shaka cepat. "Sudah, cepat pejamkan matamu selagi kita masih dalam perjalanan."


Mau membantah, tetapi teringat akan nasihat sang bunda untuk selalu menuruti perintah suami. Pada akhirnya Zahira mengalah dan memejamkan mata tanpa banyak berkata.


Saat Zahira sudah mulai tertidur, Shaka mencuri pandang ke arah samping. Beberapa detik pengacara muda memandangi wajah sahabat sekaligus istrinya. Ada rasa iba dalam hati karena telah menjerumuskan Zahira dalam masalah yang diciptakan oleh mantan calon istrinya bernama Ziva hingga sang sahabat harus menanggung semua konsekuensi atas kejadian yang terjadi beberapa hari lalu.


Gadis sebaik dan secantik kamu seharusnya bersanding dengan pria yang baik pula. Bukan malah menikah dan menghabiskan waktu bersama pria berengsek sepertiku. Maafkan aku, Zahira. Maafkan suamimu yang bodoh ini karena tidak bisa memberikan cinta layaknya pasangan suami istri pada umumnya, batin Shaka sembari mengusap pipi Zahira.


Tanpa terasa, tiga puluh menit berlalu dan saat ini sepasang suami istri itu telah tiba di apartemen. Melihat Zahira tertidur sangat nyenyak, Shaka tidak sampai hati membangunkan gadis itu. Lantas, secara perlahan menggendong istrinya ala bridal style.


Merasa tubuhnya melayang di udara, kelopak mata Zahira terbuka lebar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Shaka! Hei! Apa yang sedang kamu lakukan?" pekik gadis itu saat sepatu mahal terbuat dari kulit menjejak di lantai lobi apartemen. Secara refleks, ia melingkarkan tangan di leher sang suami. "Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri."

__ADS_1


Beberapa penghuni apartemen serta pegawai apartemen tempat Zahira dan Shaka tinggal, memandang takjub ke arah pasangan suami istri itu. Berdecak kagum atas keromantisan yang ditunjukan oleh mereka berdua. Namun, ada juga sebagian orang yang bersikap biasa aja meski melihat suatu adegan mirip seperti drama-drama luar negeri.


"Badanmu masih terasa lemah, aku takut kamu terjatuh." Shaka masih enggan menurunkan Zahira dalam pelukan. "Lingkarkan tanganmu dengan erat agar kita tidak terjatuh."


Tanpa ingin dibantah, Shaka terus membopong istrinya berjalan melalui lorong-lorong menuju lift yang akan membawa tubuh mereka naik ke atas. Sementara sopir pribadi Rini mengekori dari belakang sambil menarik koper milik Zahira.


Saat tiba di dalam kamar, Shaka menurunkan Zahira tepat di sisi pembaringan. Pria itu membantu istrinya duduk di atas ranjang. Menarik selimut hingga sebatas pinggang, lalu menyusun bantal di punggung agar gadis itu duduk dengan nyaman.


"Istirahatlah di sini. Aku akan menyiapkan makan siang untukmu," titah Shaka kepada istrinya.


"Loh, memangnya kamu bisa masak, Ka? Setahuku, dulu saat kita kelas 3 SMA, kamu masak telur ceplok saja hampir gosong. Lalu, kenapa sekarang kamu ingin membuatkan makanan untukku. Kalau gosong atau malah dapurmu kebakaran, bagaimana? Sudah, sebaiknya aku yang masak dan kamu tunggu saja di sini."


Zahira hendak bangun, tetapi dicekal oleh Shaka. "Mau apa kamu?"


Shaka mendengkus kesal karena Zahira bersikeras turun dari tempat tidur. "Ck! Kamu meragukan kemampuanku, hem?" Mendelik, memberikan tatapan tajam ke arah istrinya. Tatapan mata pria itu saat sedang kesal menyerupai tatapan mata yang sering Rayyan tunjukan. Mungkin karena dulu Rini sempat meminta suami dari sahabatnya mengusap perut saat Shaka masih berada dalam kandungan membuat sang pengacara sedikit banyak meniru sikap Rayyan ketika sedang kesal.


"B-bukan ... begitu. Hanya saja ... memasak atau mengurusi pekerjaan rumah merupakan tugas dan tanggung jawab istri. Rasanya tidak elok kalau kamu berada di dapur, menyiapkan makanan sementara aku malah bermalas-malasan di sini." Zahira menjawab pertanyaan Shaka dengan terbata. Tatapan pria itu cukup membuatnya merinding.


"Iya, aku tahu. Namun, kamu baru saja keluar dari rumah sakit, Ra. Tubuhmu masih lemah dan tensi darahmu pun masih belum stabil." Shaka mengembuskan napas panjang, lalu kembali berkata, "Kamu tenang saja, aku tidak akan membuat makanan gosong dan membuat dapur kita kebakaran. Sudah ya, aku ke dapur sebentar."


Zahira mengembuskan napas kasar saat melihat punggung Shaka mulai menghilang bersamaan dengan daun pintu yang tertutup setengahnya. "Aku berharap semoga setelah makanan matang tidak ada drama masakan gosong ataupun dapur unit apartemen ini terbakar," bergumam lirih seraya menarik kembali selimut yang sempat disibakkan olehnya.

__ADS_1


Kini, Shaka telah berada di dapur. Ia melihat isi lemari es yang isinya sudah hampir habis. Di dalam sana hanya ada bahan makanan untuk membuat sayur sop.


"Sebaiknya aku membuat bubur kemudian mencampur wortel, toge dan kubis ke dalamnya sehingga Zahira tidak hanya mengkonsumsi karbohidrat tetapi juga sayuran dalam waktu bersamaan." Shaka memutuskan membuat bubur sop khas makanan Labuan, Banten.


Sang pengacara mulai mencuci beras sampai bersih, lalu menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bubur sop. Bermodalkan informasi dari teman kuliahnya dulu serta resep masakan dari google, ia meracik semua bahan menjadi satu. Pria itu terlihat serius saat sedang memasak, meski tidak begitu lincah saat menggunakan peralatan memasak namun ia mencoba yang tetap fokus dan memberikan hasil masakan terbaik untuk Zahira.


Hampir satu jam lamanya Shaka berkutat di dapur, akhirnya bubur sop khas Labuan buatan Shaka Abimana telah siap untuk dinikmati. Ia membawa nampan berisikan semangkok bubur sop dan segelas air putih untuk Zahira minum obat.


"Ra, ayo makan dulu! Aku sudah buatkan kamu bubur sop," ajak Shaka seraya menaruh nampan di atas nakas.


Zahira yang sempat tertidur dengan posisi masih duduk di sandaran tempat tidur mengerjapkan mata secara perlahan hingga bola matanya yang indah terbuka sempurna. "Kamu membuatnya sendiri?" Alis gadis itu mengerut ketika melihat semangkok bubur sop lengkap dengan taburan toge di atasnya menguarkan aroma lezat. Kepulan asap putih menandakan makanan itu baru saja matang.


Shaka mencibir dan berkata, "Ck! Kamu meremehkan kemampuanku? Meskipun aku jarang sekali masuk dapur, membuatkan sarapan untukku sendiri maupun orang lain, tapi jangan pernah meragukan kemampuanku. Segala sesuatu bisa kukerjakan kalau sudah kepepet."


"Sudah, cepat buka mulutmu. Setelah itu baru minum obat," perintah Shaka kepada Zahira, yang diikuti anggukan kepada sang dokter cantik.


.


.


.

__ADS_1


Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇



__ADS_2