
Nizam menatap nanar kepergian Zahira, dia mengepalkan tangannya lalu pergi entah ke mana. Sementara itu Shaka membawa Zahira ke ruangan istrinya, sikap pria itu yang tadinya ramah menjadi dingin, hal itu membuat Zahira bingung. Apakah Shaka dirasuki setan? Namun, setan mana yang berani merasuki Shaka?
“Shaka? Kok diem aja?” tanya Zahira.
Shaka tak menjawab, dia terus menarik sang istri hingga masuk ke ruangan Zahira. Shaka langsung duduk di sofa, sementara Zahira masih berdiri dengan kebingungan. Ada apa sebenarnya dengan Shaka?
“Ka, kenapa sih? Aku salah apa?” tanya Zahira.
“Kamu ini enggak tahu atau emang pura-pura enggak tahu, hah?” ucap Shaka kesal.
“Loh?” ujar Zahira kebingungan. “Salah aku apa?” batinnya bertanya-tanya.
“Kan aku udah bilang tadi pagi, enggak usah ngomong sama cowok!” ucap Shaka merajuk.
"Loh? Nizam 'kan partner aku jadi wajar dong kalau aku ngobrol sama dia, ya kali partner diem-dieman,” ucap Zahira.
“Kamu emang bener-bener enggak peka ya?” ujar Shaka seraya memicingkan mata.
“Peka bagaimana? Shaka, aku sama Nizam hanya sebatas partner kerja doang loh, enggak lebih." Zahira mencoba memberi penjelasan kepada Shaka. Entah dengan cara apa lagi dia menjelaskan kalau Nizam hanya sebatas rekan kerja. Lagi pula di hati gadis itu hanya ada satu nama dan itu adalah Shaka, bukan Nizam apalagi lelaki lain.
Kepala Zahira berkedut kencang, tidak mengerti kenapa sikap Shaka akhir-akhir ini berubah menjadi over protective dan sangat posesif seperti kedua kakak kembarnya dan sang ayah. Mungkinkah Shaka jatuh cinta kepadanya?
Membayangkan itu semua, sudut bibir Zahira tertarik ke atas. Rasanya dia masih bisa menahan kemarahan Shaka kalau memang sang suami cemburu kepada Nizam. Akan tetapi, sebuah kesadaran menghantam kesadarannya saat kepingan kejadian enam tahun lalu menari indah di pelupuk mata.
Come on, Ra! Jangan terlalu percaya diri! Shaka itu cuma cintanya sama Ziva, bukan kamu. Jadi, buang jauh perasaan itu sebelum hatimu semakin terluka.
“Iya, tapi kamu sadar enggak sih, kalau tatapan Nizam ke kamu itu beda. Dia itu ... suka sama kamu!” sentak Shaka frustasi sembari mengusap wajahnya secara kasar.
Zahira melongo mendengar perkataan Shaka. “Shaka, kami hanya sebatas partner kerja. Lagi pula kalau dia suka sama aku memang kenapa? Toh, dia yang suka bukan aku,” ucap Zahira tidak mau disalahkan.
"Ya enggak bolehlah, Ra! Enggak boleh ada satu lelaki pun yang jatuh cinta sama kamu. Ngerti?” jawab Shaka.
“Memang kenapa, sih, kalau dia suka sama aku?" tanya Zahira penuh selidik. "Bukannya malah bagus kalau Dokter Nizam cinta sama aku jadi kamu ada peluang untuk kembali kepada Ziva?
Zahira menghela napas berat. Dada terasa sesak bagai ada sebongkah batu besar menghimpit. Mata gadis itu terpejam, lalu berkata, "Kalau kamu bersikap begini, orang lain akan berpikir kalau dirimu sedang cemburu. Sementara kita tahu kalau aku enggak berarti apa-apa di matamu. Aku ... cuma istri pengganti,” ucap Zahira begitu menohok Shaka. Bibir gadis itu bergetar saat mengucapkan kalimat terakhir.
“Memang kenapa kalau istri pengganti? Tetap saja kamu itu istri saya, paham kamu?” ucap Shaka dengan penuh penekanan.
Zahira menghembuskan napasnya pelan, kemudian duduk di samping Shaka. Gadis itu menutup matanya, lelah. Dia tidak akan mendebat Shaka, badannya sudah sangat lelah sekarang. Sang pengacara menyadari kesalahannya karena telah memperdebatkan hal tidak penting, padahal istrinya sedang lelah, tetapi pria itu malah mendebat wanitanya. Sungguh kekanak-kanakan.
“Maafin aku Ra,” ucap Shaka lirih.
Zahira membuka matanya dan menoleh pada Shaka, lalu mengangkat alisnya seolah bertanya, “Kenapa?”
“Seharusnya tadi aku enggak mencurigaimu,” kata Shaka. “Ehm ... kamu mau makan sama minum apa? Biar aku pesenin. Shaka mencoba mengalihkan percakapan antara mereka.
"Enggak masalah, Ka. Untuk masalah makanan terserah kamu saja, aku ngikut,” sahut Zahira.
__ADS_1
“Wancan, kimukatsu, roma osteriabar, manje, say sheese to the eheel feel, good food, lawless burgerbar, bruule?” tanya Shaka dibalas gelengan kepala oleh Zahira. “Apa dong?” tanya Shaka.
“Terserah,” ucap Zahira.
“Salad?”
“Enggak mau. Aku, 'kan, enggak lagi diet,” jawab Zahira.
“Pizza?”
“Junkfood.”
“Sushi?”
“Enggak!"
“Terus apa?” tanya Shaka hampir frustasi.
“Terserah,” jawab Zahira acuh tanpa ingin menatap wajah Shaka.
Shaka menghembuskan napas pelan kemudian membuka ponselnya, memencet logo G berwarna merah, kuning, hijau, dan biru itu. Dia kemudian mengetik, ‘Apa makanan kesukaan perempuan saat ditanya jawabannya terserah.’ Ada beberapa banyak artikel yang isinya sudah pernah Shaka tanyakan.
“Ahaa!” Shaka menjentikan jarinya saat mendapat sebuah ide brilian.
“Budhe tanya nih, menu masakan yang enak apa nih?” tanya Shaka.
“Yang enak ya? Salad ayam sama bento teriyaki enak,” ucap Zahira tanpa menaruh curiga.
“Terserah,” ucap Zahira membuat senyum yang tadinya tercipta di bibir Shaka hilang begitu saja.
Sampai kapan perdebatan si terserah ini? batin Shaka kesal. “Lebih baik aku tanya Mama sama Bunda,” lanjutnya.
Shaka membuka percakapan antara dia dengan mama dan mertuanya, kemudian bertanya kepada keduanya tentang makan siang yang cocok untuk Zahira. Beberapa menit menunggu balasan, akhirnya Shaka memutuskan untuk membeli semua makanan yang direkomendasikan oleh Rini dan Arumi.
Setelah beberapa menit menunggu, Shaka kemudian mendapatkan telepon, dia keluar dan beberapa saat kemudian kembali membawa beberapa keresek berisi makanan dan minuman.
Zahira terkejut, dia menatap kaget Shaka. “Banyak sekali, Ka. Kamu mau buka warung?” tanya Zahira.
“Ini makan siang untuk kamu, eh kita,” ucap Shaka tersenyum kemudian menaruh makanan itu di meja kemudian duduk di samping Zahira.
“Sebanyak ini?” tanya Zahira tanpa mengedipkan mata. Banyak aneka ragam menu lezat tersedia di atas meja.
“Supaya kamu bisa pilih sendiri,” ucap Shaka santai.
“Astaga!” ucap Zahira menepuk pelan jidatnya.
“Yuk makan,” ajak Shaka. “Kamu pasti suka deh,” sambung pria itu.
__ADS_1
“Kalau enggak habis, bagaimana?” tanya Zahira.
“Bagi ke yang lainlah,” ucap Shaka.
Zahira hanya bisa menghembuskan napas pelan kemudian memilih makanannya dan makan bersama Shaka dengan tenang.
Dalam batin Zahira sebenarnya bingung dengan sikap Shaka terutama ucapan Shaka beberapa menit yang lalu. Kamu tetap istriku, itu yang terus terngiang-ngiang di benak Zahira.
Setelah selesai makan, Shaka kemudian berpamitan pada Zahira untuk kembali ke kantornya, Zahira mengantarkan sang suami hingga ke depan pintu ruangannya. Usai kepergian Shaka, Zahira kembali duduk di kursi kebesarannya dan mengecek beberapa file milik rumah sakit yang harus dia periksa.
Beberapa belas menit kemudian Shaka sampai di kantornya, dia langsung didatangi oleh rekan satu tim yang berkata jika ada seorang klien yang meminta bantuan Shaka.
"Pak Shaka, bagaimana? Apa Bapak bersedia menerima kasus ini? Wanita itu memohon kepada saya agar kasus ini ditangani sendiri oleh Pak Shaka. Saya sudah menawarkan pengacara lain, tetapi beliau bersikukuh menjadikan Bapak sebagai pengacaranya," tutur rekan satu tim Shaka panjang lebar.
"Memangnya kasus apa?" tanya Shaka.
Irhan menjawab, "Kasus penipuan dan sidangnya akan dilakukan minggu depan."
Shaka menghela napas kasar. "Aduh, bagaimana ya? Sebulan terakhir ini, saya banyak menerima kasus, Han, dan rasanya tidak mampu jika harus menerima kasus baru dalam waktu dekat ini."
"Ayolah, Pak Shaka. Terima saja kasus ini. Klien kita ini merupakan seorang perempuan, dia sudah ditipu habis-habisan. Selain itu, dia juga menangis memohon bantuan Shaka." Irhan masih bersikeras memohon agar putera dari sang atasan bersedia menerima kasus ini.
Tampak Shaka berpikir keras. Jemari tangan mengetuk-ngetuk meja kerja. Setelah menimbang akhirnya dia menjawab, "Ya sudah. Saya siap menerima kasus ini. Minta dia menunggu di ruang meeting. Saya sebentar lagi menyusul."
Wajah Irhan langsung sumringah setelah mendengar jawaban Shaka. "Baik Pak Shaka. Saya akan segera menemuinya. Kalau begitu, saya permisi dulu."
***
Malam telah tiba, pekerjaan Shaka hari ini telah selesai, waktunya menjemput sang istri dan mereka bisa bersama-sama pulang ke rumah. Shaka segera melajukan mobilnya ke rumah sakit dan hanya butuh beberapa menit pria itu telah sampai di tempat kerja Zahira.
Berjalan riang menuju ruangan sang istri. Saat berpapasan dengan staf rumah sakit mereka menyapa dan dia pun hanya mengangguk singkat membalasnya.
Saat di lorong rumah sakit, Shaka bertemu dengan Arumi dan Rayyan. Keduanya menyapa hangat sang menantu, Shaka pun melakukan hal serupa. Dia mencium tangan kedua mereka.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Rayyan dingin.
“Kedatanganku ke sini tentu saja mau menjemput Rara pulang," sahut Shaka hangat. Mencoba bersikap ramah meski sikap Rayyan dingin.
Rayyan mencibir. "Sok perhatian! Biasanya juga bersikap acuh tak acuh."
Arumi yang berdiri di sebelah Rayyan menyenggol lengan sang suami dan berbisik, "Jangan bersikap begitu terhadap menantu kita, Mas! Nanti dia betulan acuh terhadap Rara, bagaimana?"
"Langsung temui saja Rara di ruangannya. Bunda yakin dia sedang nungguin kamu di sana," ucap Arumi lembut. Tidak lupa senyuman manis dia berikan kepada sang menantu.
“Baik, Ayah, Bunda. Shaka duluan,” ucap Shaka kemudian pergi.
.
__ADS_1
.
.