Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
"Selamat Malam, Ra."


__ADS_3

"Sayang, kok melamun sih. Itu loh, Aunty Rini sejak tadi bertanya kepadamu tapi malah didiamkan saja." Jemari tangan mengusap lembut pundak anak tercinta. Detik itu juga kesadaran Zahira kembali kala sentuhan lembut permukaan tangan ibunda menyentuh dress tanpa lengan yang dia kenakan.


Bola mata sipit mengerjap berkali-kali. Zahira tampak linglung mendengar suara lembut bersumber dari wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke bumi ini.


"Ehm ... maaf." Susah payah Zahira membuka mulut tetapi hanya kalimat itu yang mampu meluncur dari bibirnya yang ranum. Pikiran gadis itu kosong melompong sebab tak menduga kalau takdir akan mempertemukannya dengan Shaka secepat ini.


Semua orang yang ada di sana terkekeh pelan menyaksikan dokter cantik berwajah campuran oriental Belanda tampak tidak fokus dengan pertanyaan yang diucapkan Rini. Namun, tidak bagi Shaka. Pria itu masih setia, membungkam mulutnya rapat tanpa mengucap sepatah kata.


Di sebelah Zahira, Shakeela mencibir dan memutar bola matanya dengan malas. "Payah! Begitu saja tidak dengar," gumam gadis belia berusia sembilan belas tahun.


Rini terkekeh pelan. Dia mengusap punggung tangan keponakan tercinta dengan lembut seraya berkata, "Aunty cuma bertanya, bagaimana kabarmu. Sudah lama sekali kita tidak jumpa."


Zahira memaksakan diri untuk tersenyum meski dalam hati ingin sekali dia berlari meninggalkan restoran itu dan menyembunyikan wajah di bawah bantal. Sungguh, dia belum sanggup bila harus bertemu kembali Shaka. Terlebih setelah mengetahui kabar bahwa pria pujaan hati hendak melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat semakin membuat gadis itu enggan menemui sahabat masa kecilnya.


"Kabarku sehat, Aunty. Benar, sudah lama sekali tidak berjumpa. Maafkan aku bila tak pernah menanyakan kabar Aunty beserta keluarga lainnya."


"Saat pertama kali tiba di Jepang, aku langsung disibukan dengan berbagai kegiatan di kampus hingga lupa mengisi pulsa. Lalu, nomor teleponku ke-blokir dan semua nomor di phone book hilang sebab aku tak sempat mem-back up-nya," tutur Zahira menjelaskan alasannya kenapa dia tak bisa menghubungi Rini. Walaupun sebenarnya gadis itu bisa saja meminta nomor telepon Rini ke Ghani namun dia memang enggan berkomunikasi lagi keluarga Shaka demi kebaikan bersama.


"Tidak masalah, Sayang. Aunty bisa memaklumi kenapa kamu tidak pernah menghubungi kami." Rini tersenyum lebar.

__ADS_1


Setelah puas bertegur sapa dengan Rini, Arumi mengajak Zahira menemui Rio yang sedang berdiri menghadap ke arah mereka. "Ra, kamu masih ingat dengan Uncle Rio--sahabat Ayahmu?" Pertanyaan itu direspon anggukan kepala Zahira. "Sapalah beliau!"


Dengan langkah gontai, Zahira mendekati posisi Rio berdiri. Jantung gadis itu berdetak seribu kali lipat lebih kencang dari sebelumnya. Begitu pula dengan dada yang terasa sesak akibat pasokan oksigen semakin menipis.


Berjarak tiga meter, netra Zahira menangkap sosok pria sedang duduk membelakanginya. Meskipun tak dapat melihat jelas wajah dari lelaki itu, namun naluri gadis itu mengatakan bahwa pria di depan sana adalah seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Semakin lama langkah kaki semakin gontai kala high heels miliknya mendekati sebuah meja panjang lengkap dengan tujuh buah kursi di samping kanan kiri. Seketika tubuh terasa lemah, tungkai tak sanggup menopang bobot tubuh gadis itu. Namun, dia harus tetap berdiri kokoh demi menjalankan perintah sang bunda.


"Halo, Uncle Rio, apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu," sapa Zahira dengan sangat sopan. Walaupun jantung gadis itu terus memompa dengan sangat cepat tapi dia berhasil menyembunyikan debaran tersebut dari semua orang.


"Kabar Uncle, baik sekali. Setelah sekian lama tidak bertemu, kamu semakin cantik dan terlihat dewasa. Sayang sekali, Uncle tidak punya anak laki-laki lagi untuk dijodohkan denganmu. Coba kalau ada, sudah Uncle minta menikahimu saat ini juga," ucap Rio terkekeh setengah berkelakar. Entah apa maksud perkataan pria paruh baya itu namun ucapan sahabat dari Rayyan sukses membuat jantung Zahira nyaris copot dari tempatnya.


Sebelah tangan Rio merangkul pundak sahabat terbaik dalam hidupnya. Walaupun sikap Rayyan dingin dan terkesan acuh tetapi hanya pria itulah satu-satunya orang yang mengerti dirinya selain Rini. Terbukti hingga sekarang tali persahabatan mereka tetap terjaga meskipun usia kedua pria itu sudah tak lagi muda.


"Ya, kamu benar sekali, Ray. Kelak, generasi kitalah yang akan meneruskan tali persaudaraan ini." Pandangan Rio teralihkan pada anak bungsunya yang masih duduk manis di kursi. "Shaka, kamu tidak mau menyapa Zahira? Bukankah kalian sudah lama sekali tidak bertemu."


Seketika Zahira merasa lemah. Tanah tempatnya berpijak tidak lagi solid melainkan bergetar secara perlahan. Membuat kakinya tak bisa berdiri kokoh. Beruntungnya di sebelahnya ada Shakeela hingga dia bisa menyentuh ujung dress yang dikenakan adik tercinta sebagai pegangan.


Merasa bagian samping dress-nya diremas dengan sangat kencang, kepala Shakeela menoleh ke samping dan mendapati wajah kakak perempuannya berubah pucat seketika. Mata memicing, mencoba mencari tahu kenapa air muka kakak tercinta berubah seketika. Akan tetapi, dia sama sekali tak bisa menebak sebenarnya apa yang terjadi menimpa Zahira.

__ADS_1


Pria jangkung pemilik hidung mancung berwajah blasteran Timur Tengah Asia bangkit secara perlahan. Menarik napas panjang dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan guna mengurai rasa gugup yang sempat bersemayan beberapa saat di dalam dada.


Setelah dirasa tenang, barulah Shaka membalikan badan lalu tersenyum hangat sambil menatap ke arah Zahira. "Selamat malam, Ra. Senang bertemu denganmu lagi," sapa pria itu dengan suara berat yang selalu terasa lembut.


Zahira yakin kalau saat ini jantung gadis itu copot dari tempatnya. Seandainya saja organ dalam manusia bukan merupakan ciptaan Tuhan mungkin saja saat ini salah satu organ terpenting bagi manusia telah tergeletak begitu saja di atas tanah. Mata terbelalak. Bibir tertutup, terkunci rapat. Tenggorokan terasa kering dan dia mengalami kesulitan saat hendak menelan salivanya sendiri.


Shaka menggeser kursi tersebut kemudian dia melangkah pelan menghampiri Zahira hingga kini posisi keduanya saling berhadapan. Tersenyum kecil yang selalu sukses menghadirkan keteduhan. Membuat Zahira selalu merasa tenang saat melihat sudut bibir pria itu tertarik ke atas.


Iris coklat kembali menatap manik terang dan jernih milik Zahira. Sorot mata yang menghadirkan kedamaian, bisa Shaka lihat kembali setelah enam tahun tak bertemu. Terselip kerinduan akan sosok sahabat masa kecilnya.


"Halo, Ra. Apa kabarmu?" ulang Shaka memecah kesunyian. Akan tetapi, Zahira tetap bergeming. Lidah gadis itu kelu, tak mampu berkata.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2