Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Makan Siang Bersama


__ADS_3

"Saya enggak nyangka bakal ketemu Dokter di sini." Zahira berkata sambil memperhatikan satu per satu menu yang disediakan di kedai tersebut. Saat ini dia dan rekan sejawatnya sedang berada di kantin. Rasa lapar dan dahaga membuat mereka memutuskan makan siang di kantin rumah sakit bersama rekan yang lain.


Lelaki tampan bernama Nizam terkekeh pelan. "Kenapa? Kaget ya kenapa aku ada di rumah sakit ini?" Satu buah buku menu ada di tangan tetapi pandangan pria itu malah fokus pada sosok wanita cantik yang duduk di seberangnya.


Zahira mendongakan kepala. "Sedikit terkejut sih. Namun, karena saya sadar di bangsal Teratai banyak membutuhkan dokter jaga jadi setelah tahu kalau Dokter Nizam pun bekerja di sini jadi saya bersikap biasa saja." Gadis itu menuliskan pesanannya di buku kecil yang sebelumnya diberikan oleh sang pemilik kedai. "Ngomong-ngomong, apa Dokter Nizam masih bekerja di rumah sakit kemarin?"


Nizam yang kembali sibuk memilih makanan di buku menu menggelengkan kepala. "Tidak. Saya sudah resign di sana dan memutuskan bekerja full time di rumah sakit ini. Capek kalau harus pindah-pindah tempat dalam waktu yang hampir berdekatan. Apalagi dengan kondisi lalu lintas kota Jakarta, sering macet di mana-mana. Kadang kalau lagi buru-buru dan terjebak macet malah membuat stres dan mood berantakan."


"Lagi pula, penghasilan yang ditawarkan di rumah sakit ini sangat besar bagi anak rantau sepertiku bahkan bisa dikatakan lebih dari cukup. Jadi, tidak ada salahnya kalau aku lebih fokus bekerja di sini," sambung Nizam menjelaskan alasannya kenapa menjadikan Rumah Sakit Persada International sebagai satu-satunya tempat mengais rezeki.


"Selain itu, ada tujuan lain kenapa aku resign dari rumah sakit sebelumnya."


Sontak, perkataan Nizam membuat Zahira mengalihkan pandangan dari kertas putih di depannya. Alis mengerut petanda bingung. "Tujuan lain? Apa itu?" tanyanya penasaran sebab setahu gadis itu rumah sakit tempatnya dirawat kemarin tidak kalah bagus dibandingkan dengan rumah sakit peninggalan sang nenek. Meskipun bukan taraf internasional tapi dari segi fasilitas, kebersihan serta pelayanan bisa dikategorikan sebanding dengan Rumah Sakit Persada International.


Dengan santai sang dokter berhidung mancung dan berkulit sawo matang menjawab, "Mau tahu tujuanku apa pindah ke sini?" berbicara dengan nada dibuat-buat seakan tengah menggoda Zahira.


Antusiasme Zahira berkurang setelah melihat sikap Nizam yang seolah sedang mempermainkannya. "Tidak penting!" dengkus gadis itu kesal. Kemudian menulis kembali minuman apa yang hendak dia minum untuk melepas dahaga bersarang di tenggorokan.


Bibir mengerucut ke depan hingga nyaris menyusul hidung mancung terlihat begitu menggemaskan. Ingin rasanya Nizam menarik hidung itu karena saking gemasnya. Namun, dia sadar bahwa saat ini mereka sedang ada di tempat umum, banyak mata memandang tertuju kepada mereka. Andai saja berada di tempat sepi, sudah pasti dia menarik hidung itu dengan kencang hingga membuat sang empunya meringis kesakitan.

__ADS_1


Nizam berdecak lirih. "Begitu saja marah! Jangan menampilkan wajah seperti itu nanti semakin menambah kadar keimutanmu loh," ucapnya tanpa tahu malu.


"Dokter Nizam!" seru Zahira. Wajah gadis itu seketika merah merona mendengar sebutan yang keluar dari bibir Nizam. Susah payah dia menyembunyikan semburat merah muda itu namun tampaknya sulit menghilang dari wajahnya yang cantik jelita. Dia perempuan normal yang akan merasa tersanjung saat dipuji oleh lawan jenis. Terlebih seumur hidup tak pernah ada lelaki lain yang berani memuji di hadapannya secara langsung.


Nizam membalasnya dengan tawa renyah. "Baiklah. Baiklah. Aku akan mengatakan tujuan utamaku datang ke sini adalah--"


Belum selesai Nizam menyelesaikan ucapannya, suara gebrakan meja menginterupsi percakapan mereka. "Hayo, kalian ngobrolin apaan sih kok serius sekali." Dokter wanita muda berusia dua puluh lima tahun segera duduk di sebelah Nizam tanpa dipersilakan terlebih dulu. "Dokter Nizam, apa yang kamu dan Dokter Rara bicarakan? Kok aku perhatikan sejak tadi kalian begitu khusyu sekali hingga tak menyadari kalau sedari tadi semua orang menatap aneh ke arah kalian."


Refleks, Zahira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Bola mata sipit bergerak ke sana kemari, memperhatikan keadaan sekitar. Memang benar apa yang dikatakan Hanna, kalau saat ini dia dan Nizam menjadi pusat perhatian. Mungkin karena dirinya merupakan anak dari pemilik rumah sakit, setiap gerak gerik tak luput dari pandangan mereka.


"Udah, jangan dilihatin lagi! Nanti malah membuatmu jadi enggak leluasa bergerak," kata Nizam. Dia berkata begitu karena tidak mau kalau Zahira merasa tertekan dan tidak bebas dalam bergerak sebab semua orang terus mengawasi gadis itu.


Nizam meraih buku kecil yang ada di hadapan Zahira, kemudian menuliskan pesanannya. "Aku dan Dokter Zahira hanya ngobrol biasa saja, tidak ada yang istimewa."


Hanna memajukan tubuh hingga tak ada jarak antara dia dengan Nizam. "Enggak ada yang istimewa tapi kenapa kelihatannya kalian begitu akrab sekali. Memangnya sebelum ini kalian pernah bertemu sebelumnya?"


Tidak ingin rekan sejawatnya berpikiran macam-macam, Zahira segera menjawab, "Dokter Hanna ingat beberapa hari lalu aku izin tidak berangkat kerja karena sakit? Malam itu aku dilarikan ke Rumah Sakit Hasana Indah dan kebetulan dokter yang merawatku saat itu adalah Dokter Nizam."


Hanna mengangguk saja sebagai balasan. Sebetulnya dia masih sedikit penasaran kenapa kedua rekan sejawatnya itu bisa terlihat akrab. Walaupun pernah bertemu sebelumnya namun kenapa sikap mereka seperti orang yang sudah lama kenal. Terlebih perlakuan dokter Nizam terhadap Zahira begitu perhatian hingga membuat wanita itu sedikit iri akan kedekatan mereka.

__ADS_1


***


Sementara itu, di kantor firma milik Rio yang sebentar lagi diwariskan kepada anak bungsunya bernama Shaka Abimana, tampak seorang pria tampan nan gagah berani sedang duduk di kursi kebesarannya. Sedari tadi pandangan mata menatap ke layar monitor akan tetapi pikiran pria itu menerawang jauh ke atas awang. Entah apa yang dipikirkannya hanya dia dan Tuhan sajalah yang tahu.


Suara ketukan terdengar, membuat kesadarannya kembali. Mengerjapkan mata beberapa kali kemudian berseru dengan meninggikan satu oktaf nada suaranya. "Masuk!" titah pria itu yang tak lain adalah Shaka.


Pintu terbuka lebar, tak lama kemudian sosok pria muda berdiri di ambang pintu sambil membawa tumpukan map yang dikempit di ketiaknya. "Maaf mengganggu. Pak Shaka sudah ditunggu oleh Pak Rio dan klien kita di ruang rapat," kata Imran, asisten yang dipercaya membantu Shaka selama menjalankan tugas sebagai wakil pemimpin dari Rio.


Mengembuskan napas kasar, seolah baru saja menyingkirkan beban berat di dada. "Baiklah. Aku segera ke sana. Kamu duluan saja, nanti aku menyusul."


Imran mengangguk, lalu meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan. Hanya melihat raut wajah, dia sudah tahu jika suasana hati Shaka sedang tidak karuan. Oleh sebab itu, dia lebih baik pergi daripada kena damprat anak dari sang bos.


"Aargh! Kenapa pikiranku jadi tidak tenang dan hatiku gelisah. Sebenarnya apa yang sedang terjadi menimpaku?" Kesal karena Shaka tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Tiba-tiba perasaan tidak tenang. Pikiran pria itu selalu tertuju kepada Zahira.


"Sebaiknya aku jemput saja Zahira di rumah sakit setelah pulang kerja nanti. Persetan dengan mobilnya yang ditinggal di parkiran. Yang penting aku bisa berdekatan dengan istriku." Usai mengucapkan kalimat itu, Shaka bangkit dari kursi kebanggannya, melangkah maju menuju pintu dan bergabung dengan sang papa yang akan membahas kasus perceraian salah satu pemilik perusahaan terkenal di tanah air.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2