
Suasana romantis dengan taburan bunga sakura bermekaran ditambah suara air kolam ikan koi begitu menenangkan membuat sepasang suami istri larut dalam suasana. Saling berpelukan, merasakan detak jantung masing-masing ah ... rasanya dunia seperti milik mereka berdua sedangkan yang lainnya ... ngontrak.
"Ke depannya, jangan pernah memendam perasaan apa pun! Seandainya sikapku dirasa kurang berkenan di hatimu, segera katakan agar aku dapat merubahnya." Shaka mengurai pelukan dan menghapus sisa air mata menggunakan ibu jarinya. "Kamu masih ingat, 'kan akan kesepakatan kita sebelum memutuskan memulai hubungan ini dari nol? Harus saling jujur, saling terbuka satu sama lain meski kejujuran itu sangat menyakitkan kita tetap memegang komitmen tersebut."
Dengan suara gemetar Zahira menjawab, "Aku pun berharap kamu mau menegurku jika seandainya sikapku enggak sesuai dengan apa yang diperintahkan agama kita. Tegurlah aku dengan lemah lembut tanpa menggunakan kekerasan."
"Tenang aja, aku mana mungkin tega menyakiti wanita yang kucintai," kekeh Shaka mencubit hidung Zahira dengan mesra.
"Masa sih? Kamu pasti bohong?" rajuk Zahira pura-pura tidak yakin.
"Mana mungkin aku berbohong. Aishiteimasu, Najma Zahira," bisik Shaka dalam menggunakan bahasa Jepang. Ia mendekatkan wajah hingga keningnya menempel di kening Zahira.
Kedua hidang mancung saling bersentuhan. Deru napas memburu seiring dengan pikiran-pikiran mesum bermunculan dalam benak sang lelaki. Shaka lelaki normal terlebih ia telah merasakan begitu nikmatnya saat menyatu dengan Zahira jadi jangan heran tatkala mereka bersama timbul keinginan untuk melakukan penyatuan dengan kekasih halalnya.
Zahira bergemuruh di dalam hati. Jantung wanita itu berdebar dan seluruh aliran darahnya berdesir cepat. Keraguan yang pernah bersemayam dalam diri wanita itu seketika hilang tatkala bersama dengan lelaki yang ia kasihi.
Sepasang suami istri memejamkan mata. Sama-sama memajukan wajah masing-masing, saling mengikis jarak di antara mereka. Shaka merasakan embusan napas sang istri menerpa wajahnya. Akan tetapi, suara batuk yang terdengar jelas dibuat-buat menarik perhatian.
"Ehem! Jika kalian mau berciuman sebaiknya mencari tempat sepi atau kalau perlu mencari penginapan agar lebih leluasa," ujar seorang lelaki di sela batuknya yang mulai terdengar tidak normal.
Ingin rasanya Zahira menghilang saat ini juga, menenggelamkan ke dasar bumi yang paling dalam dan berharap tak akan pernah muncul ke permukaan lagi. Wanita itu tampak kikuk saat tertangkap basah hendak berciuman di tempat umum padahal saat itu suasana sekitar cukup ramai.
Oh astaga, Ra, apa yang kamu lakukan? Bisa-bisanya kamu terbuai dan hendak berciuman dengan Shaka di depan orang banyak. Dasar bodoh! maki Zahira dalam hati. Semburat rona merah muda muncul di pipi Zahira yang mana membuat wanita itu semakin terlihat menggemaskan di mata Shaka.
Jika wajah Zahira memerah akibat rasa malu yang mendera, lain halnya dengan Shaka. Lelaki itu sama sekali tak merasa bersalah sedikit pun, ia malah mendengkus kesal karena aksinya terhentikan akan kehadiran sosok lelaki yang sedang mereka tunggu.
"Ck, mengganggu saja! Kenapa kamu harus datang di saat yang enggak tepat?" cibir Shaka seraya mengerucutkan bibir. Keinginan mencicipi manisnya madu di bibir sang pujaan hati sirna begitu saja.
Lelaki tampan bermata sipit mencibir dan memutar bola mata malas. "Seharusnya kamu bersyukur sudah aku selamatkan dari bujuk rayu setan. Coba kamu bayangkan, jika seandainya tadi aku enggak datang mungkin kalian akan berciuman tanpa ada rasa malu sedikit pun. Walaupun di negera ini semua orang bersikap masa bodo dan kalian pun bebas melakukan apa saja karena sudah halal, tetap saja enggak elok dilihat."
__ADS_1
Ghani, kakak pertama Zahira menghujamkan tatapan tajam ke arah Shaka. "Kalau mau, cari penginapan terdekat dan kamu bebas melakukan apa saja dengan adikku. Jadi lelaki kok enggak modal sih!"
Mendengar perkataan Ghani, sepasang mata Zahira terbelalak sempurna. Rona merah muda semakin bermunculan di wajahnya yang mulus bahkan kini kedua telinga pun ikut berwarna merah.
"Kakak!" seru Zahira melotot, tak percaya kalau Ghani akan berkata vulgar begitu.
Lagi dan lagi Shaka mendengkus kasar. "Kalau aku enggak modal, mana mungkin mengajak istriku tercinta menemui Kakaknya yang super duper dingin dan menyebalkan."
"Dasar adik ipar durhaka. Aku pecat jadi adik ipar, tahu rasa!" ancam Ghani dengan sorot mata tajam.
"Kamu?"
Zahira menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah tak asing lagi melihat pertengkaran kecil terjadi antara suami dan kakak tercinta. "Sudah ... sudah .... Kenapa kalian malah bertengkar sih? Enggak malu jadi bahan tontonan semua orang?" ujarnya bijak, mencoba melerai kedua lelaki tampan.
Lantas dua lelaki berparas rupawan mengedarkan pandangan ke sekitar secara hampir bersamaan. Memang benar jika kini semua orang sedang memandang aneh ke arah mereka.
Setelah terjadi pertengkaran kecil antara dua lelaki yang begitu berarti dalam hidup Zahira, mereka memutuskan duduk di sebuah café yang ada di taman tersebut. Zahira duduk di sebelah Shaka, sedangkan Ghani duduk di hadapan adik serta sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Lain kali, aku enggak mau kamu berbuat tindakan asusila di depan umum sekalipun sudah sah bukan berarti kamu bebas melakukan apa saja dengan adikku. Mengerti?" Ghani memulai percakapan sesaat setelah mereka duduk bersama.
"Dasar bawel! Iya, aku enggak akan mengulanginya lagi," decak Shaka kesal.
Kali ini giliran Ghani, menasihati Zahira. "Dan kamu, Dek, jangan pernah melakukan hal sama seperti tadi. Ini pertama dan terakhir kalinya Kakak melihatmu melakukan perbuatan yang enggak elok dilihat orang lain. Kamu itu perempuan harus bisa menjaga kehormatan dan nama baik keluarga. Jangan karena hawa napsu malah terbuai bujuk rayu suamiku ini."
Tatkala Ghani mengucapkan kalimat terakhir, ia sengaja melirik tajam ke arah Shaka. Sementara Shaka pura-pura tidak mendengar. Sang pengacara mengalihkan pandangan ke sekitar, memperhatikan para pengunjung café yang sedang menikmati hidangan sambil berbincang hangat dengan orang terdekat.
Zahira mengangguk lemah. Wajah tertunduk malu tak berani menatap iris coklat milik sang kakak. "Baik, Kak. Aku janji enggak akan melakukan kesalahan yang sama."
Melihat betapa tidak berdayanya Zahira di depan Ghani, membuat naluri Shaka sebagai seorang suami tergerak untuk membela sang istri. Ia menyentuh telapak tangan Zahira yang berada di pangkuan, kemudian mengusapnya lembut. "Jangan dipikirkan perkataan Ghani, anggap aja angin lalu! Bukankah dia memang selalu begitu setiap kali kita bertemu?" bisiknya lirih di telinga istrinya.
__ADS_1
Seorang pelayan pria berseragam hitam dengan celemek putih melingkar di pinggang mengantarkan minuman pesanan ketiga pengunjung yang duduk di dekat jendela besar menghadap jembatan kolam ikan koi. Shaka dan Ghani sepakat memilih tempat itu sebab mereka dapat melihat langsung keindahan bunga sakura meski berada di dalam ruangan.
"Jadi, sampai kapan kalian berada di Jepang?" tanya Ghani sembari menyesap es cappucino kesukaannya.
"Sampai besok lusa. Sebetulnya aku enggak ada niatan sama sekali untuk datang ke Jepang, tapi mengingat kamu masih ada di sini dan Zahira pun sudah lama enggak ketemu kamu, kenapa aku enggak ajak dia aja berlibur ke Jepang. Toh aku pun udah lama sekali enggak ketemu kamu jadi hitung-hitung ketemu kawan lama sambil liburan," balas Shaka mulai menyesap minuman hangat kesukaannya.
Tampak Ghani manggut-manggut. Dalam hati cukup terkesan akan sikap Shaka yang rela menyempatkan diri menemuinya di sela kegiatan mereka berbulan madu. "Ehm ... baguslah kalau kamu ingat untuk menemui Kakak iparmu ini. Kupikir kamu akan diam saja dan pura-pura tak mengenaliku."
Shaka meletakkan gelas kopi ke atas meja. Tawa lelaki itu semakin lebar. "Ghani ... Ghani ... hubungan kita emang terkadang enggak pernah akur, tapi bukan berarti aku enggak menghormatimu sebagai kakak iparku. Se-killer-killer-nya kamu, kenyataannya adalah kamu itu kakak kembar istriku. Jadi, enggak ada alasan bagiku untuk enggak menghormatimu."
"Oh ya, satu lagi. Ke depannya ... enggak boleh menegur istriku seperti tadi, aku enggak suka, Ghan. Sekarang status Rara adalah istriku dan hanya aku yang berhak menegur dia maupun menasihatinya. Jadi, please, jangan melakukan kejadian tadi. Mengerti?"
Zahira terpana mendengar ucapan suaminya. Ia melirik ke samping dan menatap pria itu dengan sorot penuh kekaguman dan memuja. Merasa dilindungi seperti tadi membuat dunia ini terasa berada dalam genggaman tangannya.
Ghani mendengkus kesal. "Oke ... oke ... aku minta maaf karena udah lepas kendali. Maklum, kebiasaan menegur adikku jadi terbawa-bawa sampai sekarang."
Zahira tersenyum dan menatap Ghani serta Shaka bergantian. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasa tenang dan bahagia karena suami serta kakaknya bisa akur meski sempat terjadi pertengkaran kecil di antara mereka.
Terima kasih Tuhan, atas nikmat yang Kau berikan kepadaku. Aku merasa beruntung berada di antara kedua lelaki yang begitu menyayangiku.
.
.
.
Visual Muhammad Ghani Hanan
__ADS_1