
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, tak lama kemudian daun pintu berwarna coklat terbuka lebar lalu sosok David berdiri di ambang pintu. "Permisi, Pak. Di luar ada Nona Ziva. Katanya ingin bertemu dengan Bapak."
Tanpa menoleh ke arah David, Shaka menjawab, "Usir saja! Bilang, kalau aku sedang tidak mau diganggu siapa pun."
"Aku sudah memintanya pergi, tapi dia bersikeras ingin bertemu Bapak. Penting!" David mengulang kembali setiap kata yang diucapkan Ziva.
Shaka menghentikan sejenak kegiatannya. Pandangan matanya yang sedari tadi menatap layar monitor, ia alihkan pada sosok di depan sana. "Emang sepenting apa sih hingga dia ingin bertemu secara langsung denganku?"
Kedua bahu David bergerak ke atas. "Mana aku tahu, Pak. Dia enggak ngasih tahu ada keperluan apa. Jadi, gimana, Pak? Disuruh masuk atau minta satpam mengusirnya?"
Tampak Shaka berpikir sejenak, menimbang apakah dia harus memberikan izin pada Ziva atau tidak.
Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Suruh dia masuk lalu kamu temani kami. Aku enggak mau tersebar berita yang tidak sedap di kalangan para pekerja, bisa bahaya kalau sampai mereka bergosip dan mengatakan bahwa diriku punya hubungan spesial dengan perempuan lain."
David mengerti betul bagaimana kondisi rumah tangga Shaka saat ini. Sedikit saja melakukan kesalahan maka akan berimbas pada hubungan rumah tangga Shaka dan istrinya.
"Baik, Pak!"
David menghampiri Ziva yang tengah menunggu di sofa tunggu khusus para tamu. "Nona Ziva, silakan. Pak Shaka sudah menunggu di dalam. Namun, perlu saya beritahu sebelumnya bahwa nanti tidak hanya ada kalian saja di ruangan, tapi juga saya akan menemani Nona dan Pak Shaka. Ini adalah syarat yang diajukan Pak Shaka."
David pikir Ziva akan menunjukan ekspresi ketidaksukaannya karena waktu mereka terganggu oleh kehadiran orang ketiga. Namun, wanita itu justru menyunggingkan seulas senyuman manis yang belum pernah David lihat sebelumnya.
"Enggak masalah," jawab Ziva singkat. Lantas, dia bangkit dari sofa kemudian meraih sling bag yang ada di sebelahnya dan menyampirkannya di antara bahu dan ketiak.
Setelah semuanya duduk, barulah Shaka membuka percakapan. "Ada perlu apa menemui saya? Bukankah sudah jelas bahwa saya tidak punya cukup waktu untuk membahas hal yang tidak penting. Waktu saya terlalu berharga hanya sekadar untuk mendengarkan perkataan unfaedah dari bibirmu."
__ADS_1
Hati Ziva sakit bagai ditikam sebilah pisau tajam yang melesak tepat hingga menembus ulu hati. Shaka yang sekarang berbeda dari Shaka yang dulu. Tidak ada lagi tatapan penuh cinta tersirat di sepasang matanya yang indah. Tutur katanya pun begitu jutek dan terkesan sangat menjaga jarak.
Udahlah, Va, jangan dimasukan ke dalam hati semua perkataan Shaka! Sikapnya berubah begitu karena salahmu sendiri. Ziva bermonolog sambil mengatur napasnya.
"Iya, saya tahu bagaimana sibuknya Pak Shaka. Sedetik saja waktu yang Bapak punya begitu berharga," ucap Ziva formal. "Oleh karena itu, sebelumnya saya minta maaf jika kehadiran saya mengganggu pekerjaan Bapak. Kedatangan saya ke sini hanya ingin meminta maaf atas semua kekacauan yang pernah saya perbuat. Saya menyesal karena pernah berniat merebut Pak Shaka dari Bu Zahira. Sekali lagi saya minta maaf."
"Hah?"
Refleks, kalimat itu terucap begitu saja. Shakat terkejut mendengar ucapan Ziva. Dia sangat tidak menyangka jika mantan calon istrinya itu mau meminta maaf di hadapan orang lain. Padahal dulu Ziva tidak pernah sekalipun bersedia meminta maaf walau terbukti bersalah, tapi wanita itu bersikap acuh seakan tak merasa bersalah.
"Saya tahu Pak Shaka pasti terkejut mendengarnya." Ziva menjeda kalimatnya, memberanikan diri menatap manik coklat milik lelaki yang pernah ia kecewakan. "Mungkin Bapak tidak menyangka jika perempuan egois, jahat dan licik seperti saya bersedia meminta maaf di hadapan orang lain padahal dulu saya tidak pernah mau meminta maaf pada orang lain meski terbukti bersalah. Namun, asal Pak Shaka tahu, saya benar-benar tulus meminta maaf padamu, perkataan ini bersumber dari lubuk hati yang terdalam."
"Saya sadar merebut apa yang sudah menjadi milik orang bukanlah perbuatan terpuji bahkan bisa mendatangkan bencana besar jika tidak segera dihentikan. Karma mungkin bagi sebagian orang tak mempercayainya, tapi bagi saya segala sesuatu yang kita perbuat akan berimbas pada diri kita sendiri di kemudian hari. Untuk itulah saya datang ke sini, menemui Pak Shaka berharap Bapak bersedia memaafkan semua kesalahan saya di masa lalu. Saya ... benar-benar menyesal." Tanpa sadar setetes buliran kristal meluncur di sudut mata Ziva. Wanita itu menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Nyaris saja merampas suami orang, membuat citranya sebagai model hancur karena nekad menjadi seorang pelakor.
"Kamu tidak sedang menyusun stategi untuk menghancurkan rumah tangga saya dengan Zahira, 'kan?" Shaka masih belum percaya 100% dengan ucapan Ziva. Bisa saja ini hanya trik untuk menarik simpati. Kita tidak pernah tahu apa yang dipikirkan orang lain, bukan? Oleh karena itu, Shaka tidak mau terkecoh dan malah menimbulkan masalah baru yang justru merugikannya.
Dengan kepala masih tertunduk dan kedua genggaman tangan saling mencengkeram satu sama lain, Ziva menjawab, "Tidak! Saya sama sekali tidak sedang menyusun rencana apa pun. Permintaan maaf ini tulus dari hati yang terdalam."
Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada satu orang pun yang berkata-kata, baik Shaka, Ziva dan David, larut dalam pikiran masing-masing.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah bertemu dan meminta maaf pada saya?" Suara bariton Shaka memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa saat.
Ziva menggigit bibir bawahnya, menahan suara isak tangis yang hampir meledak. Dada terasa sesak seakan pasokan oksigen di ruangan itu tidak mampu menyuplai udara dalam paru-parunya.
"Saya akan fokus dengan karir sambil mencoba memperbaiki diri agar menjadi insan manusia yang lebih baik lagi. Hidup di dunia ini singkat, kita tidak pernah tahu kapan ajal menjemput. Oleh sebab itu, sebelum nyawa ini terlepas dari raganya, saya ingin membenahi diri dengan memperbanyak kebaikan di dunia agar kelak punya bekal di akhirat nanti. Saya tidak mau menyesal di kemudian hari."
__ADS_1
Shaka menatap lekat perempuan itu yang tampak menunjukan kesungguhan di wajahnya. Ia tahu betul bahwa saat ini Ziva bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
Melihat kesungguhan Ziva, Shaka menganggukan kepala. "Baiklah, saya maafkan kamu. Tapi ingat, jangan pernah mencoba mengganggu rumah tangga saya dan Zahira lagi. Jangan pula mencari cara agar saya mau balikan lagi sama kamu sebab sampai kapan pun, perempuan yang saya cintai hanya Zahira."
Ziva mengangguk, lalu dia menyeka air matanya secara perlahan. "Pak Shaka jangan khawatira, saya janji ini pertemuan kita yang terakhir kali. Di kemudian hari kalaupun kita tanpa sengaja bertemu saya tidak akan mengganggu Bapak dengan Bu Zahira."
Shaka hanya membalasnya dengan deheman.
Ziva bangkit dari kursinya. "Pak Shaka, sebelum pergi bolehkah saya minta sesuatu?"
"Minta apa?" tanya Shaka dengan kedua alis saling tertaut.
"Bolehkah saya memelukmu untuk terakhir kalinya? Anggap saja sebagai kenangan-kenangan sebelum akhirnya saya benar-benar menutup lembaran kisah masa lalu kita."
Shaka menghela napas panjang. Ia memasukan tangan kanan ke dalam saku celana dan menatap Ziva dengan wajah serius tampak menimbang cermat sebelum membuat keputusan. Biar bagaimanapun, mereka pernah bersama berbagi suka dan duka saat statusnya masih menjadi sepasang kekasih.
"Saya janji ini yang terakhir kali," ucap Ziva ketika melihat Shaka bergeming.
"Baiklah. Saya bersedia memelukmu sebagai ucapan perpisahan bukan karena alasan lain." Shaka merentangkan kedua tangan ke samping kanan dan kiri.
"Terima kasih, Shaka. Kamu emang lelaki baik dan idaman semua perempuan. Zahira pasti beruntung memilikimu," ucap Ziva sesaat setelah kedua tangannya melingkar di pinggang mantan kekasihnya.
Shaka tak menjawab, lelaki itu hanya menatap lurus ke depan tanpa ada niatan membalas pelukan Ziva. Kedua tangannya membeku di tempat.
...***...
__ADS_1