Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
The Twins


__ADS_3

Zahira tersenyum sembari mengusap sudut matanya yang tiba-tiba saja meneteskan air mata tatkala melihat indikator pada lempengan sepanjang sepuluh sentimeter di tangannya. Dua garis merah cerah tampak begitu mencolok mata.


"Ya Tuhan. Jadi, aku betulan hamil? Di dalam perutku ada buah cintaku bersama Shaka?" ucap Zahira lirih. Tanpa sadar sebelah tangan kirinya mengusap pelan perutnya yang masih datar sementara sebelah lagi memegang alat tes pack pemberian dokter Vivian--dokter kandungan senior di rumah sakit tersebut.


Perasaan haru berkecamuk di dalam dada hingga membuat tubuh Zahira terasa lemas seketika. Tungkai wanita itu seakan tak mampu menopang tubuhnya. Namun, beruntung dokter cantik berkulit indah segera berpegangan pada dinding kamar mandi hingga ia tak terjatuh ke lantai.


Hanna yang sedari tampak mencemaskan Zahira, memutuskan bangkit dari kursi tunggu di ruangan periksa dokter Vivian. "Dok, saya izin menemui Dokter Zahira dulu. Saya khawatir dia pingsan di kamar mandi." Tanpa menunggu jawaban dokter Vivian, Hanna berjalan mendekati pintu kamar mandi.


Dokter Vivian menggeleng. "Dasar anak muda, selalu tergesa-gesa." Tersenyum geli melihat sikap Hanna yang terkesan begitu mencemaskan Zahira. Padahal Zahira baru lima menit meninggalkan ruang pemeriksaan.


Hanna kini berada tepat di depan pintu kamar mandi. Tidak mau membuang waktu terlalu lama, wanita itu segera mengulurkan tangan ke depan hendak mengetuk pintu. Namun, di saat bersamaan rupanya daun pintu berwarna putih telah dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Zahira.


"Dokter, kamu baik-baik aja? Kenapa lama sekali sih! Kamu ini membuatku cemas aja," cecar Hanna seraya menatap Zahira dengan raut kecemasan.


Sebagai rekan kerja sekaligus teman dekatnya Zahira, jika hal buruk menimpa dokter cantik bermata sipit, Hanna pasti ikut bertanggung jawab sebab orang tua Zahira dan Shaka tahu kalau Hanna sangat dekat dengan Zahira. Dan ... tidak menutup kemungkinan dirinya akan disalahkan karena tidak becus menjaga Zahira.


Alih-alih menjawab pertanyaan Hanna, Zahira malah memeluk tubuh rekan sejawatnya. "Dokter Hanna, aku hamil!" ucapnya lirih bagai desau angin di musim gugur.


Hanna tampak syok beberapa saat mendengar perkataan Zahira. Ia mengurai pelukan dan menatap lekat manik coklat wanita di hadapannya. "Jadi, Dokter Zahira betulan hamil?" Pertanyaan Hanna dijawab anggukan kepala Zahira. "Alhamdulillah. Aku ikut bahagia mendengarnya." Hanna membalas pelukan Zahira.


Sebagai seorang teman, tentu saja Hanna turut bahagia mendengar berita kehamilan Zahira. Walaupun dulu ia sempat marah karena lelaki yang disukai ternyata menaruh hati pada Zahira, tapi saat ini ia sama sekali tidak menyimpan dendam ataupun membenci sosok perempuan dalam pelukannya. Hanna malah mengagumi kepribadian Zahira yang begitu setia pada pasangannya walau ada lelaki lain yang menjanjikan kebahagiaan, tapi wanita itu tetap memilih Shaka Abimana sebagai pendamping hidup.

__ADS_1


Dokter Vivian tersenyum melihat indikator pada lempengan di tangannya. "Kalau dilihat dari tes pack sih, Dokter Zahira positif hamil. Namun, kita coba pastikan dengan pemeriksaan USG. Sekalian kita periksa kondisi si Dedek bayi dalam perut Mama-nya." Wanita paruh baya menoleh ke samping. "Sus, tolong dibantu."


Zahira menuruti perintah dokter Vivian. Penasaran bagaimana kondisi calon anaknya dengan suami tercinta. Apakah dia baik-baik saja di dalam sana?


Ingatan Zahira berputar pada kejadian satu bulan terakhir. Hampir setiap malam wanita itu melayani Shaka di atas ranjang. Ya, Shaka tak pernah sekalipun melewatkan kesempatan untuk menjamahnya bahkan saat mereka bercinta, pengacara muda itu tak jarang menggempurnya dengan tempo yang sangat cepat hingga membuat anak ketiga pasangan Rayyan dan Arumi kewalahan. Karena itulah dia khawatir janin dalam kandungannya bermasalah sebab sering mengalami gempa lokal bersumber dari kedua orang tuanya.


Dengan dibantu seorang wanita berseragam perawat, Zahira berbaring di atas ranjang pasien. Sementara Hanna masih terpaku di kursinya saat ini. Ia belum percaya bahwa sebentar lagi akan mempunyai keponakan berasal dari rahim Zahira.


Dokter Vivian duduk di kursi sebelah pembaringan Zahira. Tangannya menuangkan gel pada area perut yang sebelumnya pakaian Zahira telah lebih dulu disingkap hingga batas dada. Sebuah selimut menutupi bagian paha hingga batas kaki.


Tangan dokter Vivian ditempelkan dan digerakan pada area sekitar perut. Pandangan mata wanita paruh baya itu fokus pada layar USG di depannya.


Lagi dan lagi dokter Vivian tersenyum tatkala menyaksikan sendiri penampakan di depan sana. Terdapat dua buah embiro sebesar biji kacang hijau, berukuran sekitar dua mililiter bersemayam di perut Zahira.


"Kendati begitu, Dokter Zahira harus tetap menjaga kandungan jangan sampai kecapekan. Banyak minum vitamin dan enggak boleh stres. Karena trimester pertama sangat rawan terjadi keguguran," sambung Dokter Vivian. "Nanti saya resepkan vitamin dan obat anti mual. Baru boleh dikonsumsi jika seandainya memang benar-benar sudah tak tertahankan lagi."


"Namun, bila masih bisa disiasati dengan cara mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang dapat menghilangkan mual dan muntah. Walaupun obat-obatan ini aman bagi ibu hamil, selagi bisa dihindari, kenapa tidak."


Zahira memandangi layar monitor di sebelahnya. Tanpa sadar, cairan bening mengenang di sudut matanya. Wanita itu tak sanggup berkata-kata. Begitu takjub akan kekuasaan Sang Maha Pencipta.


Bagaimana bisa benda sekecil itu tumbuh dan berkembang selama sembilan bulan di dalam perut seorang perempuan? Jika dipikir secara logika, itu mustahil sekali terjadi. Namun, semua itu terjadi atas kekuasaan-Nya.

__ADS_1


***


"Terima kasih, udah nganterin aku ketemu Dokter Vivian. Kamu adalah teman terbaik yang pernah aku miliki." Zahira berjalan bersisian dengan Hanna menyusuri lorong rumah sakit yang cukup ramai.


Hanna melirik sekilas, kemudian tersenyum lebar. "Enggak perlu memujiku sedemikian tinggi, Dok. Nanti aku besar kepala loh karena sering dipuji kamu." Terkekeh pelan sambil terus berjalan. "Aku hanya menjalankan tugasku sebagaimana mestinya, kok. Kebetulan aku senggang, jadi enggak ada salahnya menemanimu bertemu Dokter Vivian. Siapa tahu kehadiranku bisa sedikit membantumu menenangkan perasaanmu yang sedang gugup."


Zahira hanya menjawab dengan anggukan kepala diiringi senyuman tipis.


Terjadi keheningan beberapa saat. Baik Zahira ataupun Hanna, tak ada satu pun yang berkata-kata. Mereka larut dengan pikiran masing-masing.


Langkah suara lembut Hanna memecah kesunyian. "Lalu, apa yang akan Dokter Zahira lakukan setelah ini? Apa akan memberitahu Pak Shaka secara langsung tentang berita kehamilanmu?"


Zahira menggeleng. "Kalau aku langsung memberitahunya enggak bakal ada yang spesial dong."


"Lalu?"


Seulas senyuman manis mengembang di sudut bibir Zahira. "Aku akan membuat sebuah kejutan untuk Suamiku. Kebetulan dua hari lagi dia ulang tahun dan aku ingin memberikan kado spesial untuknya."


Wanita cantik dengan tinggi badan kurang dari 180 cm menaikan kedua sudut bibirnya ke atas. "Ide yang bagus. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan menghubungiku!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2