
Jadwal pemberangkatan Zahira dan Nizam ditunda selama beberapa saat terkain kendala ban mobil yang akan ditumpangi bocor dan membutuhkan waktu cukup lama memperbaiki itu semua. Seluruh tim medis yang bersedia membantu korban pengungsian gempa Cianjur hanya bisa menunggu hingga bus rumah sakit tiba di lokasi tujuan. Banyak dari mereka yang merasa kesal sebab agenda kepulangan ke Jakarta harus tertunda.
"Sampai di sana, aku tidak akan berbicara dengan Shaka," ucap Zahira. Ia cukup kesal sebab Shaka tak menghubunginya sama sekali. Jangankah menelepon, mengirimkan pesan saja tidak. Hal itu semakin membuat hati Zahira gundah gulana karena memendam rasa rindu yang telah mencapai ubun-ubun. Saat ini rasanya Zahira seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.
Zahira menoleh pada Nizam yang tengah duduk bersebelahan dengan Hanna. Rekan sejawatnya itu mulai melancarkan aksinya setelah mendapat lampu hijau dari istri Shaka. Akan tetapi, saat Hanna mendekati Nizam, lelaki itu hanya tersenyum tanpa mau berkata banyak. Sikap dokter tampan itu tidak seperti pagi tadi, dia lebih banyak diam dan tak berkata apa-apa hingga membuat Zahira penasaran.
"Ada apa?" Zavira langsung bertanya setelah Hanna meminta izin ke kamar kecil. Ia tidak bisa menahan penasarannya lebih lama. Namun, pria itu hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.
"Aneh sekali, kenapa Dokter Nizam jadi pendiam gitu sih. Apa aku melakukan kesalahan padanya?" gumam Zahira. Ia berlalu begitu saja, memilih untuk menyendiri sambil berselancar di dunia maya sampai bus yang mengantarkan mereka ke Jakarta tiba di lokasi.
Sementara itu, Shaka kembali disibukan dengan kegiatannya di kantor. Pria itu banyak menangani klien yang terjerat tuduhan palsu. Seorang pria dengan perawakan menjulang tinggi berhasil memenangkan pengadilan padahal sebelumnya Shaka yakin kalau pihak dialah yang menang, tapi dugaannya salah. Entah ada campur tangan pihak lain atau bagaimana, Shaka pun tidak tahu. Karena hal inilah membuat Shaka sibuk dari hari sebelumnya.
"Apa semuanya sudah lengkap?" tanya Shaka dengan wajah kusut.
"Kita masih harus memeriksa beberapa data, Pak Shaka. Ada juga yang mencurigakan tentang Bapak ini, bagaimana jika--"
"Ah, begini saja, kita akan selidiki itu diam-diam. Cari tahu semua tentang klien dan dari mana dia bisa mendapatkan uang pesagon sebanyak itu," tegas Shaka kepada David.
Shaka mengembuskan napas kasar. Kepalanya mendongak ke langit-langit ruangan. Sesekali bergumam dan memijat kepalanya yang terasa semakin pening.
"Pak, ada yang meminta bertemu dengan anda, dia menunggu di luar," ujar David pada Shaka.
"Siapa?" tanya Shaka tanpa menatap ke arah David.
"Eh, klien yang kemarin, Pak. Nona Ziva." Usai mengucapkan kalimat itu, David segera menundukan kepala. Sangat yakin kalau pesan yang baru disampaikan akan membuat atasannya semakin geram.
Shaka berdecak. Suasana hatinya semakin tak karuan saat mendengar nama itu. Ziva selalu menjadi masalah bagi hidupnya akhir-akhir ini. "Suruh dia pulang! Sampaikan padanya kalau aku sangat sibuk dan tidak bisa menemui siapa pun."
"Baik, Pak." David tak banyak membantah, ia bergegas meninggalkan ruangan Shaka menuju ruang tunggu.
Shaka kembali fokus mengerjakan pekerjaannya. Ia hampir lupa dengan jadwal penting hari ini apalagi kalau bukan ... menjemput sang istri. Meskipun ia belum mencintai Zahira, tapi saat ini lelaki itu sudah mulai ketergantungan dan selalu merindukan moment kebersamaan mereka. Shaka pun sudah tak malu lagi memanggil Zahira dengan sebutan 'sayang' dan memeluk tubuh mungil istrinya dengan begitu erat.
"Nona, Pak Shaka sedang sibuk, jadi sebaiknya Anda pulang saja atau kalau mau bisa datang lain waktu lagi." David menyampaikan pesan yang disampaikan Shaka kepada Ziva.
Ziva menghela napas kesal. "Ya sudah. Aku akan pergi dari sini. Permisi." Lantas, wanita itu bangkit dari sofa dan keluar dari ruang tunggu khusus bagi para tamu. "Apa sekarang kamu menghindari aku, Shaka?" tutur Ziva sambil menatap nanar ke arah gedung pencakar langit di depan sana.
"Aku akan menunggu kamu keluar, Shaka." Hari ini Ziva bertekad menemui Shaka meski harus menunggu lama.
__ADS_1
***
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya rombongan tenaga medis Rumah Sakit Persada International Hospital telah sampai dengan selamat di Jakarta. Zahira menghirup kuat aroma khas kota kelahirannya, kota Jakarta. Walaupun kota Jakarta terkenal akan padatnya penduduk serta terjadi kemacetan di mana-mana, si cantik jelita tetap menyukai tinggal di kota tersebut sebab di sanalah ia dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya.
Ketika Zahira sedang sibuk menikmati udara segar kota Jakarta, Nizam tiba-tiba datang menghampiri dan berkata, "Aku akan mengantarmu pulang."
Zahira yang sedang asyik termenung refleks menoleh ke samping. "Eh? Tapi aku--"
"Dia pasti tidak datang. Kamu bilang dia memang selalu sibuk, kan?" sergah Nizam cepat.
Terjadi keheningan beberapa saat. Baik Zahira maupun Nizam tak ada yang berani berucap. Dokter cantik mengedarkan pandangan ke sekitar berharap melihat sosok lelaki berjalan ke arahnya, namun pria itu tak juga menampakkan batang hidungnya.
"Bagaimana? Ikut saja denganku. Aku janji akam segera mengantarkanmu pulang," tawar Nizham sekali lagi. Zahira mengangguk. Ia benar-benar salah jika beranggapan Shaka akan menjemputnya di rumah sakit.
"Ehm ... tapi bagaimana dengan pekerjaanmu, Dok? Bukankah kamu shift malam hari ini?" ucap Zahira ragu.
"Masih banyak waktu untuk mengantarkanmu pulang. Setelah itu baru kembali ke rumah sakit," jawab dokter Nizam sambil melajukan kendaraannya.
"Dia betulan enggak datang ya?" gumam Zahira dengan perasaan kecewa.
Nizam menoleh pada Zahira yang duduk di samping kemudi. Netra pria itu melihat jelas sorot mata penuh kekecewaan terpancar jelas di bola mata indah nan jernih itu. Hati pria itu bagai diremas tangan tak kasat mata saat awan kelabu menghiasi wajah Zahira.
Zahira memejamkan mata. Rasanya sedikit sakit saat sebuah kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Ia berharap Shaka datang dan membawanya pulang ke rumah mereka kemudian dapat melepas rindu dengan bersenda gurau bersama sambil menikmati perjalanan menuju apartemen.
"Dokter Nizam, bisakah kamu membawaku ke suatu tempat?" pinta Zahira sedikit ragu.
Nizam tersenyum tipis. Ia bisa mendengar panggilan 'kamu' dari Zahira dengan nada yang nyaman. "Kemana?"
"Aku akan memberitahu nanti."
Sementara itu, Shaka masih sibuk mencari telepon genggam miliknya yang belum ia temukan sejak pagi. "Sial, aku menaruh ponsel itu di mana sih!" keluh Shaka sambil memasukan berkas ke dalam tas. "Aku akan coba mencarinya di mobil, siapa tahu memang tertinggal di sana." Dengan langkah seribu, pria itu berjalan setengah berlari keluar dari kantor.
"Shaka!" Seorang wanita berdiri di depan mobil yang melaju dengan kecepatan sedang dengan kedua tangan direntangkan ke samping kanan kiri.
"Shiit! umpat Shaka kasar sembari menginjak pedal rem dalam-dalam. Beruntungnya lelaki itu dengan cepat menginjak pedal rem kalau tidak, sudah pasti menabrak Ziva di depan sana.
"Bukankah dia sudah kusuruh pergi? Lalu kenapa dia masih ada di sini. Sial!" Kembali mengumpat kesal. Dua telapak tangan mencengkeram erat stir mobil hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan.
__ADS_1
"Ada apa lagi?" seru Shaka sambil menurunkan kaca mobil.
Ziva memasang raut wajah memelas. "Shaka, aku ingin bicara denganmu. Please, cuma sebentar aja kok!" Kedua tangan menangkup ke depan dada.
"Ziva, aku sudah tidak punya urusan denganmu, kamu hanya klienku. Jadi minggir atau aku benar-benar akan menabrakmu!" ancam Shaka. Akan tetapi, Ziva tidak menyerah begitu saja. Wanita itu masih berpegang teguh dengan tindakannya. Shaka benar-benar dibuat pusing atas tingkah Ziva yang tiba-tiba seperti ini.
Shaka akhirnya turun dari mobil, kemudian berjalan menghampiri Ziva. "Apa yang ingin kamu bicarakan?" semburnya dengan kedua tangan mengepal sempurna di samping badan. Ingin rasanya menarik tubuh wanita itu agar tak menghalangi jalannya lagi.
Seketika tubuh Ziva merinding saat melihat sorot mata tajam bagaika seekor elang. "A-aku hanya mau tahu, apa kamu--"
"Kamu ingin membicarakan tentang pernikahanku dengan Zahira lagi?" Shaka maju mendekati Ziva. Tangan kekar Shaka mencengkeram kuat bahu mantan tunangannya tanpa takut melukai wanita itu. "Sadarlah, Ziva Siapa yang meninggalkan aku saat hari pernikahan kita? Siapa! Katakan padaku, siapa!"
Ziva menggeleng. "Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, Shaka. Kamu tahu aku--"
"Diam! Aku tidak butuh penjelasanmu!" bentak Shaka dengan suara lantang. Saking lantangnya membuat beberapa orang yang hilir mudik menatap aneh ke arah mereka.
Napas Shaka terengah-engah. Tangannya mulai terlepas dari bahu Ziva. Wanita itu juga menatap tak percaya pada Shaka. Ada banyak hal yang ingin ia beritahu pada Shaka. Namun, sikap Shaka hari ini menjelaskan semuanya.
"Apa sahabatmu itu lebih baik dariku?" tanya Ziva dengan mata berkaca-kaca.
Shaka terdiam. "Aku tidak berhak menjawab pertanyaanmu, Ziva. Sebaiknya kamu pulang sekarang!"
"Antar aku pulang. Ini untuk terakhir kalinya," minta Ziva dengan tubuh yang mulai gemetar hebat. Sudut mata wanita itu mulai meneteskan air mata. Hidung pun terasa masam.
Melihat pemandangan di depan mata, hati Shaka luluh. Lelaki itu menarik napas panjang. "Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Namun, berjanjilah, tidak akan menanyakan soal pernikahanku dengan Zahira."
"Iya," jawab Ziva singkat. Lantas, ia masuk begitu saja ke dalam mobil Shaka tanpa dipersilakan terlebih dulu oleh sang empunya kendaraan.
Dasar tidak sopan! gerutu Shaka dalam hati.
Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Shaka pun menyusul Ziva masuk ke dalam mobil. Ia ingin segera mengantarkan wanita itu ke kediamannya agar bisa segera menjemput sang istri di rumah sakit.
Saat Ziva dan Shaka masuk ke dalam mobil, tanpa disadari oleh keduanya sebuah mobil masuk dari arah berlawanan. Sepasang mata sipit menatap nanar pada sosok di depan sana. Dada terasa sesak bagai dihimpit bongkahan batu besar.
Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku? Kamu benar-benar jahat! batin gadis itu sambil memalingkan wajah ke arah lain.
.
__ADS_1
.
.