
Dua orang wanita beda generasi tengah berjalan di antara lautan pertokoan mall termegah di kota Jakarta. Mempunyai uang banyak, suami berprofesi sebagai pengacara terkenal di tanah air, pekerjaan cukup menjanjikan dengan gaji yang cukup besar membuat Rini dan Zahira bebas keluar masuk toko mana saja yang mereka mau. Segala barang branded dengan aneka ragam merk dapat dengan mudah mereka dapatkan tanpa perlu khawatir kantong akan jebol.
Siang ini Rini sengaja mengajak Zahira pergi berbelanja ke mall guna membeli sesuatu yang sangat spesial bagi sang menantu tercinta. Dokter cantik itu hanya mengikuti ke mana langkah kaki Rini melangkah sebab Shaka telah berpesan untuk tetap berada di sebelah mama mertuanya itu.
Saat tiba di depan sebuah toko pakaian dalam atau lingerie bola mata si cantik jelita terbelalak sempurna. Ekor mata gadis itu melirik kepada mama mertuanya. Dengan ragu ia berkata, "Mama ... mau apa kita ke sini?" Netra gadis itu memindai patung di depan etalase dengan sorot mata tak terbaca.
"Nanti kamu juga tahu mau ngapain kita ke sini." Tanpa membuang waktu, Rini segera menarik tangan Zahira masuk ke dalam toko pakaian.
"Selamat siang, Nyonya Rio. Apa ada yang bisa kami bantu?" Manager toko Angel Baby menyapa ramah kedatangan sahabat Arumi. Ia berlari tergopoh-gopoh saat mendengar dari salah satu pelayan bahwa Rini sedang berada di toko tersebut. Bagi manager toko Angel Baby, kehadiran Rini patut disambut hangat sebab wanita itu merupakan salah satu customer VIP di toko tersebut.
"Clara, aku sedang mencari koleksi lingerie terbaru ukuran M. Tolong keluarkan semua koleksi kalian ke hadapanku. Oh ya satu lagi, yang seksi juga ya!" kata Rini sembari mengerlingkan sebelah mata.
Clara tersenyum manis. "Baik, Nyonya. Mohon tunggu sebentar." Tanpa ingin membuat Rini terlalu lama, ia ditemani dua orang pelayan toko bergegas mencarikan pesanan dari customer penting di toko mereka.
"Ma, sebenarnya kita mau cari apa sih di toko ini? Kok semua pakaian yang dijual kurang bahan," keluh Zahira merasa ngeri mendatangi Rini yang berdiri di antara lautan pakaian transparan dengan banyaknya ventilasi di mana-mana.
"Loh tempat ini memang menjual aneka ragam gaun malam, lingerie dan cosplay bagi seorang wanita yang telah berumah tangga."
Rini membawa Zahira duduk di sofa tunggu depan kasir. "Nak, sebentar lagi kamu dan Shaka, 'kan pergi bulan madu. Hubungan kalian pun mengarah ke arah yang lebih baik, kamu dan Shaka mau mencoba menjalani rumah tangga ini layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Oleh karena itu, Mama ingin memberikan hadiah spesial kepada kalian berdua."
"Hadiah apa, Ma?" tanya Zahira semakin penasaran.
"Hadiah berupa gaun malam yang seksi untuk kamu kenakan sebelum kalian memulai ritual malam pertama. Mama ingin kamu tampil seksi di hadapan Shaka." Rini terkekeh pelan, menoel ujung hidung Zahira yang mancung. "Mama yakin, Shaka akan tergila-gila saat melihatmu mengenakan lingerie seksi ini."
__ADS_1
Kedua pipi Zahira sontak memerah seperti buah tomat ranum. Wajah tertunduk malu mendengar kata-kata yang meluncur di bibir mama mertuanya. Sungguh, ia malu sekali membahas soal privasi seperti ini di hadapan Rini meski sedari kecil gadis itu sudah diberikan s*x education oleh Arumi dengan bahasa yang mudah dipahami anak, tetap saja terasa aneh bila harus berhadapan dengan wanita yang telah melahirkan Shaka ke bumi ini.
Rini mendekati telinga Zahira yang mulai memerah akibat menahan rasa malu. "Mama, Papa serta kedua orang tuamu sudah tidak sabar ingin segera menimang cucu yang lucu nan menggemaskan dari kalian berdua. Itulah oleh-oleh yang kami minta dari kalian berdua."
Mama kandung Shaka meraih lingerie warna hitam dengan bagian dada rendah dan berenda. Warna itu sangat kontras sekali dengan kulit Zahira dan pasti sangat cocok bila digunakan oleh menantu kesayangan. "Aku suka yang ini. Tolong dipisah, ya."
Belum usai keterkejutan Zahira akan permintaan yang disampaikan Rini kepadanya, ia dikejutkan kembali akan sehelai gaun malam tipis yang sangat menerawang bila terkena pantulan cahaya lampu. "Mama ... i-itu untukku?"
"Ini sangat cocok sekali denganmu, Nak. Lihat, bahannya terbuat dari kain sutera halus, modelnya pun oke. Mama yakin, Shaka akan terbelalak saat melihatmu mengenakan lingerie ini," ucap Rini mantap.
"Maaf, Nyonya. Semua lingerie yang Anda minta, apakah untuk Nona cantik ini?" sergah Clara. Sedari tadi ia ingin menanyakan hal itu, tapi baru mendapat kesempatan sekarang untuk bertanya kepada customer setia toko Angel Baby.
Senyuman termanis yang dimiliki Rini, ia berikan kepada orang kepercayaan dari mantan kliennya. "Benar. Gadis ini adalah menantu bungsuku, lima hari lagi ia hendak pergi bulan madu dengan puteraku, Shaka. Karena itulah aku mengajaknya ke sini, membeli baju tempur sebelum mereka berperang."
Tampak Clara manggut-manggut. "Kalau boleh memberikan saran, lingerie ini memang cocok untuk Nona cantik. Belahan dada rendah membuat siapa saja yang melihat akan penasaran benda apa yang ada di balik sana."
"Lalu, warna merah terang ini terlihat begitu menantang. Selain itu, push br* yang ada di area dada akan membuat bagian depan Nona cantik semakim terdesak ke atas. Membuatnya terlihat lebih berisi dan sintal." Manager wanita itu tampak begitu piawai memberikan masukan demi masukan kepada salah satu customer VIP di toko tersebut.
Pendar bahagia terpancar jelas di sepasang matang Rini. Ia cukup puas atas penjelasan yang disampaikan oleh Clara. "Ya ... aku setuju dengan penjelasanmu barusan Clara. Kamu memang selalu bisa diandalkan. Pantas saja Kanaya menjadikanmu manager di toko ini. Selain pintar berbicara, menghandle segala urusan pekerjaan, kamu juga penilai sejati, pilihanmu selalu tepat sasaran."
Mata Zahira memincing, memperhatikan beberapa gaun malam di tangan empat orang pelayan toko. Aneka ragam warna dengan model terpajang di depan mata hingga membuat pelipis gadis itu pening seketika. Oh Tuhan, kenapa Mama Rini bisa seantusias ini sih? Bagaimana kalau ternyata aku dan Shaka tak melakukan apa pun di sana? Mama dan Papa akan kecewa.
Setelah drama memalukan yang terjadi di toko Angel Baby, Rini dan Zahira mengayunkan kaki menuju salah satu salon khusus wanita, berada di gedung yang sama. Selain membelikan baju tempur untuk ritual malam penyatuan kedua insan manusia, mertua Zahira pun ingin memberikan kejutan lain guna menyempurnakan penampilan menantu kesayangannya saat berada di hadapan putera tercinta.
__ADS_1
"Ayo, Nak!" ucap Rini seraya mengampit tangan kanan Zahira.
Zahira mengamati setiap sudut ruangan tersebut. Terdapat empat meja penerima tamu, sofa panjang di sudut ruangan serta dua buah pot bunga besar diletakkan di depan pintu masuk.
"Ma, kita mau apa ke sini? Mama berniat aku memotong rambut?" bisik Zahira. Ia edarkan pandangan pada para petugas salon di ruangan itu, mereka terlihat cantik dan berpenampilan menarik.
"Tidak, Ra. Mama enggak akan memintamu memotong rambut. Mau kamu memanjangkan rambut ataupun tidak, itu urusanmu. Mama cuma mau kamu melakukan berbagai macam perawatan khusus bagi seorang perempuan."
Rini dan Zahira duduk di kursi tunggu, menunggu giliran untuk daftar di bagian pendaftaran. "Kamu tahu, 'kan, zaman sekarang itu banyak sekali pelakor merajalela. Menggunakan kecantikan ataupun hal lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Mama enggak mau hal itu terjadi menimpamu. Cukup Bundamu saja yang pernah mengalami kegagalan berumah tangga karena disebabkan oleh kehadiran orang ketiga."
"Untuk itu, Mama mengajakmu ke sini, melakukan perawatan seluruh tubuh biar penampilanmu semakin cantik, segar dan tentunya harum. Kita sebagai seorang istri wajib memanjakan suami agar mereka makin betah di rumah, enggak keluyuran di luar rumah hingga akhirnya lupa jalan pulang," tutur Rini memberikan nasihat kepada Zahira. "Walaupun Mama yakin Shaka enggak mungkin selingkuh setelah tahu Ziva bukanlah wanita baik-baik, tapi enggak ada salahnya kita mencegah daripada menyesal seumur hidup."
"Kita perlu waspada, menjaga baik-baik suami kita agar tidak mudah tergoda oleh bujur rayu seorang pelakor. Mengerti?"
Zahira hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Meresapi setiap kalimat yang diucapakn oleh Rini. Semua perkataan wanita di sebelahnya ada benarnya juga. Dulu, rumah tangga sang bunda kandas oleh kehadiran orang ketiga dan ia tidak mau nasib buruk yang pernah menimpa bunda tercinta menimpa dirinya. Meskipun dulu ia sempat ingin bercerai dari Shaka, tapi kini ia tidak mau jika harus berpisah dengan lelaki pujaan hati.
Tak berselang lama, nomor urut mereka pun dipanggil. Kedua wanita itu bangkit dari sofa dan mendekati meja penerima tamu. Ada banyak jenis perawatan yang ditawarkan. Mulai dari potong rambut, spa, manicure, padicure hingga jenis perawatan lain menggunakan bahasa asing yang baru didengar olehnya. Meskipun tegang, tapi Zahira percaya jika Rini pasti memberikan jenis perawatan yang sesuai dengan keinginannya.
.
.
.
__ADS_1