
"Begitulah ceritanya, Dok. Aku enggak tahu apa yang membuat Dokter Nizam bisa semarah itu padahal hubungan antara kami bisa dikatakan cukup dekat walau enggak dekat-dekat banget sih," tutur Hanna setelah dia menjelaskan semua kejadian saat Zahira masih berada di luar negeri. Tak ada satu kejadian pun yang tidak diceritakan oleh wanita itu.
"Aku emang salah karena masuk begitu aja tanpa menunggu pemilik ruangan mempersilakan masuk, tapi apakah sikap Dokter Nizam harus begitu kepadaku? Berkata dengan meninggikan suara dan setiap kalimat yang terucap bagaikan ujung mata pisau yang sangat tajam hingga membuat hatiku terluka?" ujar Hanna masih dengan sisa isak tangisnya. Tetesan air mata masih membasahi wajahnya yang cantik meski tidak sebanyak beberapa waktu lalu. "Kalaupun dia marah karena kehadiranku udah merusak suasana, tinggal menegurku saja tanpa harus meninggikan suara di hadapanku. Aku itu enggak tuli, pendengaranku masih berfungsi dengan baik."
Hanna kembali terisak tatkala mengingat kejadian beberapa waktu lalu. Seumur hidup baru kali ini ia mendapat perlakuan yang kurang mengenakan dari seseorang terlebih orang itu adalah lelaki yang ia cintai.
Zahira yang duduk di sebelah Hanna mengusap lembut pundak rekan sejawatnya, mencoba menenangkan wanita itu agar tangisnya berhenti. "Sudah ... sudah ... jangan menangis lagi! Kalau kamu menangis terus yang ada matamu sembab dan semua orang akan semakin curiga padamu."
Tak berselang lama, tangisan Hanna pun terhenti. Jari tangan wanita itu menerima selembar tisu yang diberikan Zahira.
Istri cantik Shaka memperhatikan gerak gerik Hanna dari jarak yang tidak terlalu jauh. "Lantas, apakah Dokter Nizam meminta maaf padaku atas kejadian tempo hari?" Hanna menggeleng kepala sebagai jawaban. "Jadi, dia enggak menemuimu sama sekali setelah kejadian itu?" tanyanya dengan mata melotot.
"Bukan. Bukan begitu maksudku." Hanna menggoyang tangan kanannya di udara. Dia melirik Zahira yang tampak terkejut dengan jawabannya barusan. Wanita cantik berusia dua puluh lima tahun tampak berusaha keras mengumpulkan keberanian setiap kali mencoba mengingat kejadian yang membuat dadanya terasa sesak. Namun, di saat dia tengah mempersiapkan diri, Zahira kembali bersuara.
"Loh, maksudmu bagaimana, Dokter Hanna? Aku benar-benar enggak mengerti." Kedua alis Zahira mengerut petanda bingung.
Hanna mendesaah pelan. "Semenjak kejadian itu, aku lebih memilih menjauhi Dokter Nizam dan tak mau berdekatan lagi dengannya. Memang sih ada saat di mana dia sepertinya hendak mengatakan sesuatu padaku, tapi aku tak mau terlalu berpikiran macam-macam hingga akhirnya meninggalkan lelaki itu sebelum air mataku berjatuhan."
Zahira tampak manggut-manggut. "Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanyanya sembari menatap lekat iris coklat milik Hanna. Bola mata itu memerah akibat terlalu lama menangis.
Masih dengan bibir gemetar, Hanna menjawab, "Aku akan menjauhi Dokter Nizam. Toh selama ini di antara kami memang enggak pernah ada hubungan apa-apa. Meskipun sulit menghilangkan rasa cinta dalam hatiku, tapi aku enggak mau dianggap perempuan murahan yang enggak punya harga diri sama sekali."
"Selama ini aku mencoba mendekati Dokter Nizam, memberikan semua perhatianku kepadanya dengan harapan suatu hari nanti dia akan luluh dan bisa mencintaiku. Namun, ternyata usaha serta kerjakerasku tak membuahkan hasil. Tampaknya dia masih menyukaimu, Dokter Zahira." Tatkala mengucapkan kalimat terakhir, Hanna memandangi paras cantik jelita di sebelahnya. "Jadi, daripada aku semakin terluka lebih baik mundur sebelum terlambat."
__ADS_1
***
"Dokter Zahira, bisa bicara sebentar?" tanya Nizam ketika Zahira sedang menunggu di depan pintu lift yang hendak membawa wanita itu menuju lantai satu. Zahira berencana menunggu suami tercinta untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang tak jauh dari rumah sakit.
Kehadiran Nizam yang muncul secara tiba-tiba membuat Zahira terlonjak kaget, tanpa sadar wanita itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Ingat, jangan pernah berdekatan lagi dengan Nizam kalau enggak mau aku menggunakan hakku sebagai suamimu untuk meminta Ayah Rayyan memindahkan lelaki itu ke bangsal lain! Kalimat bernada ancaman kembali terngiang di telinga Zahira detik itu juga.
Walaupun hanya sebuah ancaman, tidak menutup kemungkinan akan menjadi kenyataan. Bukankah seseorang yang diliputi rasa cemburu akan kehilangan akal sehat hingga melakukan suatu perbuatan di luar nalar? Oleh karena itu, demi kebaikan bersama ia lebih baik menuruti apa yang diperintahkan suami tercinta.
"Maaf, Dokter Nizam, saya ada janji makan siang dengan suami." Perkataan itu akhirnya meluncur di bibir ranum Zahira.
Anak ketiga dari pasangan Rayyan dan Arumi hendak masuk ke dalam lift yang saat itu pintunya sudah terbuka. Namun, tangan kekar seorang pria mencekal lengannya.
"Please, kasih aku waktu sebentar aja untuk berbicara denganmu secara empat mata. Aku janji, enggak akan lama," ujar Nizam dengan wajah memelas dan sorot mata penuh pengharapan.
Refleks, Nizam segera melepaskan tangannya di lengan wanita itu. "Maaf, aku enggak bermaksud lancang. Tadi cuma refleks aja pegang lengan kamu."
Wanita cantik dalam balutan snelli putih menghunuskan tatapan tajam. Agak sedikit risih atas sikap Nizam yang terkesan kurang ajar.
"Baiklah. Kita ngobrol di cofféshop lobi rumah sakit aja," kata Zahira.
Senyuman merekah di sudut bibir Nizam. "Oke, enggak masalah." Lantas, keduanya masuk ke dalam lift.
__ADS_1
Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, Zahira berinisiatif mengirimkan pesan singkat pada suami tercinta. [Sayang, aku akan pergi dengan Dokter Nizam sebentar. Kalau kamu udah sampai di rumah sakit, segera temuin aku di cofféshop lobi rumah sakit.]
Semoga Shaka enggak marah karena tahu aku pergi berduaan dengan Dokter Nizam, batin Zahira dalam hati.
Tak berselang lama, akhirnya Zahira dan Nizam telah sampai di tempat tujuan. Nyonya Shaka memilih meja yang berada tepat di dekat pintu masuk agar sesekali melihat apakah sang suami sudah tiba di lokasi atau belum.
"Mau pesan makan apa?" tanya Nizam sembari membaca buku menu yang diberikan pelayan wanita kepadanya.
"Saya mau pesan minuman aja karena setelah dari sini akan makan siang bersama suami." Lalu, Zahira mendongakan kepala ke atas dan berkata, "Buatkan saya jus alpukat, tapi gulanya sedikit aja."
"Yakin, enggak mau nyobain makanan yang dijual di cofféshop ini? Katanya makanan di sini enak, loh."
Zahira menggeleng kepala cepat. "Seenak apa pun makanan yang dijual kalau enggak makan bareng suami rasanya tetap aja enggak enak. Jadi lebih baik saya pesan minuman aja daripada makanan itu terbuang sia-sia."
Nizam menghela napas panjang, rasanya percuma saja memaksa Zahira untuk memasan makanan sebab wanita itu akan teguh dengan pendiriannya meski dibujuk dan diiming-imingi sesuatu, dokter cantik berkulit putih bagaikan susu tetap teguh dengan pendiriannya.
"Jadi ... Dokter Nizam ada perlu apa sampai meminta waktu saya untuk berbicara secara empat mata?" tanya Zahira sambil menunggu pesanan tiba.
Nizam mengusap tengkuknya dengan lembut. "Ehm ... anu ... aku ingin--"
.
.
__ADS_1
.