Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Sebuah Penegasan


__ADS_3

Nizam mendekati Zahira sambil membawa dua gelas kopi. "Aku kira akan menyenangkan jika minum kopi bersama di tempat seperti ini."


Zahira paham maksud Nizam yang ingin memberikan salah satu kopi padanya. Namun, Zavira langsung meneguk minuman kopi kemasannya. "Maaf, aku juga punya kopi sendiri, Dok."


Nizam tidak tersinggung dengan sikap Zahira. Sikap yang menunjukkan seolah gadis itu tengah menjaga jarak darinya. Kendati begitu, dokter lelaki berparas rupawan semakin semangat mendekati rekan kerjanya setelah mengetahui kalau pernikahan antara Zahira dan Shaka terjadi hanya demi menghindari aib yang disebabkan oleh Ziva.


"Baiklah, sepertinya pagi ini aku akan minum kopi dua gelas. Kafein memang secandu itu, ya." Nizam berbicara dengan Zahira tidak mengenakan bahasa formal, tetapi berbanding terbalik dengan Zahira. Gadis itu selalu berbincang mrngebakan bahasa formal bila bersama orang asing.


Zavira hanya bisa diam dan memperhatikan gerak gerik Nizam saat menegak kopi kemasan dalam genggaman lelaki itu.


Apa langsung ngomong aja ya kalau aku minta dia jangan terus mengikuti? Tapi bagaimana kalau dia tersinggung? batin Zahira mulai frustasi. Tidak tahu harus dengan cara apa untuk menghindari pria itu.


"Besok acara seminar, bukan?" Zahira mengangguk pelan. Ia hampir saja lupa kalau besok akan ada seminar di rumah sakit tempatnya bekerja.


Nizam menyentuh pagar pembatas rooftop rumah sakit. Pandangan menatap lurus ke depan, kepada deretan gedung pencakar langit di depan sana. Langit cerah berpayung awan putih disertai semilir angin di sore hari menambah ketenangan bagi pria jangkung tersebut.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Nizam tanpa mengalihkan pandangan.


"Ahh, bolehkah kujawab tidak?" Zahira mulai terbawa suasana percakapan. Ia mulai berbicara non-formal pada Nizam.


Nizam terkekeh pelan. "Ternyata kamu bisa bercanda juga."


"Siapa yang bercanda?" dengkus Zavira. Sayangnya, Nizam masih bisa mendengarnya. Kekehan Nizam membuat Zavira menoleh padanya. "Apa ada yang lucu? Kenapa Dokter Nizam tertawa?"


"Kamu lucu!" sahut Nizam singkat.


"Ha?" Bola mata Zahira terbelalak sempurna mendengar jawaban rekan kerjanya itu. Lucu kepalamu!


Nizam menghadap Zahira sambil memiringkan wajahnya. "Kamu mungkin tidak sadar, tapi aku sebenarnya sudah lama mengenalmu. Mungkin terdengar aneh tapi itulah kenyataannya."


Zahira memicingkan mata menatap tajam pada lelaki di sebelahnya. "Benarkah? Kenal saya darimana?"


Nizam menghela napas kasar. Lagi dan lagi Zahira mengenakan kata 'saya' setiap kali mereka berbincang. "Bisakah kamu pakai bahasa biasa saja? Aku seperti orang asing sekali."


Zahira menghela napas, meneguk tegukan terakhir minuman kopinya. "Maaf, saya cuma tidak mau orang lain menganggap kita punya hubungan spesial. Terlebih saat ini kita berada di lingkungan pekerjaan jadi saya harus menjaga sopan santun saat bersama rekan sejawat," jawabnya tegas. "Oh ya, tadi Anda bilang kita pernah bertemu sebelumnya, tapi maaf kalau saya tidak ingat pernah di mana kita bertemu."


"Ehm ... wajar saja sih. Kejadian itu sudah puluhan tahun berlalu dan kamu pasti enggak ingat." Nizam kembali meneguk kopi kemasan miliknya. "Kita lupakan saja itu dulu."


Nizam menggaruk tengkuknya setelah membuang sampah kopi kemasan ke dalam tempat sampah. "Dokter Zahira, bisakah aku mengajakmu untuk makan malam bersama setelah acara seminar selesai?"


Zahira menggeleng. "Maaf, saya tidak bisa menerima ajakan Dokter Nizam. Status saya sudah menikah dan terkesan tidak elok apabila kita jalan berduaan. Saya takut tersebar berita yang tak mengenakan bagi kita berdua," tolaknya halus.


Nizam terlihat menahan napasnya. Seolah ada hal lain lagi yang ia ingin katakan setelah ditolak mentah-mentah.


"Apa ada hal lain yang ingin disampaikan Dokter Nizam? Jika tidak, saya mau ke bawah sekarang." Zahira merasa sudah terlalu lama mereka berdua dan kini saatnya ia kembali bekerja.

__ADS_1


Akan tetapi, Nizam tak merespon sama sekali ucapannya. "Tampaknya memang tidak ada lagi yang ingin disampaikan. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Saat Zahira melewati Nizam, tangan lelaki itu mencegat lengan sang gadis. "Ada apa?" tanya istri Shaka sambil menatap pria di sebelahnya dengan tatapan penuh selidik.


"Apa kamu bahagia menikah dengab suamimu?"


Zahira melepaskan cekalan tangan Nizam di lengannya. "Tentu saja saya bahagia. Shaka adalah cinta pertama dan satu-satunya lelaki yang saya cintai," jawab gadis itu mantap. Ia sama sekali tidak malu untuk mengungkapkan yang sejujurnya di hadapan orang lain. Dengan begitu, ia harap Nizam berhenti mendekatinya kalau memang berniat mendekatinya.


"Walaupun kamu tahu dia tidak mencintaimu?" Nizam kembali mengajukan pertanyaan kepada Zahira.


Zavira tersenyum lebar. "Ya, meskipun Shaka tidak mencintaiku tapi aku akan tetap mencintainya dengan segenap jiwa dan ragaku."


Merasa waktunya terbuang dengan berbicara hal tidak penting dengan Nizham. "Saya tidak tahu apa tujuan Dokter Nizam berkata seperti itu. Namun, saya ingin menegaskan kalau hubungan antara kita berdua hanya sebatas rekan kerja saja, tidak lebih. Jadi semisal Dokter Nizam punya niatan lain, sebaiknya hentikan sebab di hati dan cinta saya sudah dimiliki orang lain."


Zahira meninggalkan dokter Nizam yang masih bergeming di tempat. Dokter muda itu sebelumnya tidak tahu jika Zahira merupakan wanita pertama yang menarik perhatiannya ternyata benar-benar mencintai Shaka. Harapannya pupus setelah mendengar bahwa hati dan cinta gadis itu telah dimiliki Shaka Abimana.


"Dokter Zahira!" seruan itu membuat Zahira spontan menoleh. Seorang Dokter muda mendekatinya.


"Loh, Dokter Hanna, sedang apa di sini?" tanya Zahira memperhatikan wajah rekan sejawatnya yang tampak sumringah.


Hanna menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. "Aku dipindah tugaskan berjaga di bangsal Teratai dan mulai sekarang akan bekerja dengan Dokter Zahira dan juga Dokter Nizham."


Seulas senyuman terlukis di sudut bibir Zahira. "Sungguh? Wah, akhirnya aku punya teman juga di sini."


Hanna memicingkan mata tajam ke arah Zahira. Perkataan putri pemilik rumah sakit terdengar ambigu. "Loh, memangnya selama ini Dokter Zahira enggak punya teman?" tanyanya penasaran.


Zahira merangkul pundak Hanna, rekan kerjanya sewaktu masih di IGD dulu. "Sebaiknya kita ke ruangan sekarang. Aku akan mengenalkanmu kepada perawat dan tim medis yang bertugas sore ini."


***


Beralih ke keadaan Shaka saat ini masih diperbincangkan dengan David dan kehadiran Ziva menjadi topik hangat untuk beberapa hari ke depan.


"Kenapa kalian seperti orang yang saling tidak mengenal tadi?" tanya David.


"Aku cuma mau bersikap profesional. Lagipula dia hanya mantan."


David mengulum bibir tatkala melihat wajah Shaka terlihat begitu kesal saat bertemu lagi dengan Ziva.


"Apa istri Pak Shaka tahu tentang ini?" David secara mendadak berubah jadi paparazi yang tengah memburu cerita.


Shaka menoleh dengan tatapan tajam yang seakan mengatakan untuk tidak usah ikut campur.


"Eh, maaf, Pak. Saya hanya sedikit kaget karena mantan tunangannya seorang model, cantik sekali." Buru-buru David meralat ucapannya karena tidak mau didepak dari kantor itu.


"Zahira tidak kalah cantik dengannya. Malah kecantikan istriku lebih alami tanpa dibuat-buat," ujar Shaka spontan. Sadar dengan apa yang ia katakan, rasanya Shaka ingin menampar mulutnya sendiri. David lagi-lagi mengulum senyum mendengar balasan dari Shaka.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu Pak Shaka. Sudah waktunya makan siang nih. Pak Shaka mau makan bersama?" tawar David setelah melihat jam yang sudah menunjukkan bahwa sekarang sudah masuk jam istirahat untuk makan siang dan beribadah sekaligus bagi yang muslim.


"Tidak, saya akan bertemu dengan seseorang di luar."


"Baik, saya permisi kalau begitu."


Shaka lekas bangkit juga saat David sudah keluar. Pria itu bercermin dan memperbaiki pakaiannya yang sempat ia kacaukan sendiri.


Berjalan ke sebuah kedai kecil yang tak jauh dari kantornya. Seseorang yang ingin tahu kejadian hari ini memerintahkan sang pengacara untuk bertemu dengannya.


"Shaka! Di sini!" seru seseorang seraya melambaikan tangan.


Shaka memincingkan matanya. Kedai ini terlalu ramai saat ini, sulit memastikan keberadaan orang yang berjanji bertemu dengannya.


"Akhirnya kamu datang juga, Nak."


Shaka duduk berhadapan dengan Rio. Papanya itu meminta Shaka untuk menjelaskan kasus dan sekalian untuk bisa makan siang bersama di sini.


"Papa sudah tahu kasus Ziva seperti apa. David sudah memberitahu semuanya lewat sambungan telepon tadi. Katanya bahkan kamu gugup, ya?"


"David bilang seperti itu?"


Rio menyodorkan pesanan makanan. "Pesanlah sesuatu, Papa jadi rindu makan di tempat seperti ini saat lelah berada di lingkungan kantor terus."


"Pasti Papa tidak pernah punya kasus menangani kasus mantan sepertiku, kan?" Rio mengedikkan bahu. Ia sendiri tidak mau terlalu membahas lebih lagi tentang Ziva.


"Sudah cukup, Papa hanya mau tahu apa yang kamu lakukan tadi tidak membuat klien tersinggung atau hal lain juga, misalnya menolak kasus Ziva untuk kamu tangani."


"Tidak, aku tetap mengambilnya. Hari ini juga aku punya tim dari junioor yang baru saja diterima."


"Baguslah, lalu bagaimana dengan Zahira? Apa kamu sudah memberitahu istrimu perihal Ziva yang kembali ke Singapura dan memintamu menjadi pengacaranya?"


Shaka menggaruk tengkuknya. Terlalu banyak pekerjaan membuat ia dan Zahira tak mempunyai waktu luang untuk sekadar saling menceritakan hal apa saja yang terjadi di tempat kerja.


"Shaka ... Shaka. Kamu cari penyakit sendiri. Bagaimana kalau Zahira tahu sebelum kamu memberitahunya? Apa kamu mau jadi duda di usiamu yang baru akan menginjak dua puluh lima tahun, heh?"


"Papa, jangan menyumpahi anak sendiri dong!" rengek Shaka.


Rio meneguk kopi yang sudah ia pesan. "Bukannya nyumpahin, tapi Papa hanya mengatakan kemungkinan buruk yang akan terjadi apabila hubungan rumah tangga kalian minim komunikasi. Dasar dari langgengnya rumah tangga sampai usia senja salah satunya adalah komunikasi. Apa pun harus dibicarakan agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kalian berdua."


Shaka menaikkan sebelah alisnya. "Apa Papa pernah ribut gara-gara salah paham?"


Rio tertawa begitu mendengar pertanyaan Shaka. "Bukan pernah lagi, tapi sering. Namanya juga rumah tangga pasti ada cekcok. Namun, Papa dan Mama mencoba bersikap dewasa dan menyelesaikan permasalahan kami tanpa ingin diketahui orang lain terutama anak-anak."


"Saat mendiang nenekmu masih hidup, setiap kali Papa dan Mama ribut kami menyembunyikan itu semua dari beliau sebab tak mau melibatkan orang lain," tutur Rio panjang lebar.

__ADS_1


Rio kembali meletakkan cangkir kopi di atas piring kecil. "Bicarakan hal ini dengan Zahira karena bagaimanapun, dia berhak tahu apa yang tengah suaminya kerjakan di luar rumah."


Shaka mengangguk. "Baik, Pa!"


__ADS_2