Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Khairan Delvin Arsalan & Mayumi Keina


__ADS_3

Setelah menempuh perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya si kembar lahir ke dunia dengan selamat tanpa kekurangan apa pun. Pun begitu dengan sang mama, Zahira. Perempuan cantik jelita bagaikan Bidadari dalam keadaan baik-baik saja meski energinya terkuras habis demi melahirkan kedua bayi kembar, buah cintanya bersama sang suami.


Si sulung berjenis kelamin laki-laki diberi nama Khairan Delvin Arsalan, yang mempunyai arti anak laki-laki pemberani yang selalu berbuat baik dengan dipenuhi kebijaksanaan. Sementara si bungsu, diberi nama Mayumi Keina. Zahira dan Shaka berharap semoga putri bungsu mereka kelak menjadi seseorang yang mempunyai kecantikan sejati dan hidupnya selalu dipenuhi dengan kemakmuran. Bahkan mungkin bisa membawa kemakmuran bagi orang di sekitarnya.


"Halo, anak Papa. Kamu ganteng sekali sih." Shaka mengusap pipi anak pertamanya yang lembut bagaikan kapas. Tanpa sadar, Shaka meneteskan air mata haru sebab masih tak menyangka jika saat ini dirinya telah menjadi seorang ayah dari bayi mungil nan menggemaskan.


Rayyan yang berdiri di sebelah menantu sekaligus anak dari sahabatnya menjawab, "Tentu saja ganteng. Kamu tidak lihat bagaimana paras putri saya? Hanya orang bodoh yang beranggapan jika Rara tidak cantik. Buktinya kamu sampai tega menghajar salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Kalau bukan karena Rara cantik, kamu tidak mungkin melakukan perbuatan itu, 'kan?" ujar pria itu sembari memicingkan mata.


Shaka menyeringai karena teringat kejadian beberapa bulan lalu. Saat itu ia tengah dibakar api cemburu hingga api itu membakar tubuhnya sendiri.


"Iya, Yah. Aku bucin banget soalnya, sampai tidak rela ada satu pria pun memiliki Rara." Pasrah, itulah yang dilakukan Shaka saat ini. Toh semua yang dikatakan Rayyan adalah benar. Najma Zahira, perempuan itu memang cantik alami meski tanpa polesan tebal.


"Makanya, jangan pernah menyia-nyiakan putri saya jika tidak mau direbut pria lain. Putri saya itu nyaris mendekati kata sempurna, jadi sekalipun kamu menduakannya akan banyak pria lain yang mau menerima putri saya dengan segala kekurangannya."


"Ayah tenang aja, aku enggak mungkin menyia-nyiakan Rara lagi. Terlebih saat ini udah ada Allan dan Mayumi jadi aku enggak akan pernah meninggalkan istri dan anak-anakku." Shaka berjanji pada dirinya sendiri tidak akan melakukan kebodohan yang sama seperti dulu. Ia tetap mencintai, menyayangi dan melindungi Zahira sampai kapan pun.


Sementara para lelaki sedang berbincang di sofa, sepasang ibu dan anak sedang bercengkraman di ranjang pasien. Tampak keduanya terlibat obrolan seru. Arumi berkali-kali mengucap syukur karena putri tercinta berhasil melahirkan kedua cucu-cucunya dengan selamat.


"Alhamdulillah, Ra, Bunda sempat khawatir loh sewaktu Shaka ngirim pesan dan memberitahu bahwa kamu mau lahiran. Bunda dan Ayah langsung ke sini setelah selesai operasi." Arumi menemani putri tercinta yang saat itu sedang memberi ASI kepada putri kecilnya yang berjenis kelamin perempuan.

__ADS_1


Seorang bayi mungil berada di dekapan sang mama. Mayumi, panggilan bayi itu tampak begitu lahap menyusuu dengan kedua mata terpejam. Jemarinya yang mungil sesekali dikecup oleh Zahira sebagai bukti cintanya kepada bayi itu.


"Maaf sudah membuat Bunda dan Ayah jadi mengkhawatirkanku. Aku enggak tahu kalau Shaka memberitahu kalian di saat diriku masih berada di ruang tindakan. Kupikir Shaka akan memberitahu kalian setelah aku melahirkan si Kembar."


Arumi memijat pelan kaki Zahira yang saat ini sedang sibuk memberi ASI. "Sudah, jangan dipikirkan lagi. Terpenting saat ini kamu fokus pada Allan dan Mayumi. Kalau butuh bantuan, jangan sungkan minta bantuan Bunda dan Mama mertuamu. Kami siap memberi bantuan kapan pun kamu membutuhkan."


"Oh ya omong-omong, apa kamu sudah memberi kabar pada Mama dan Papa mertuamu? Jangan sampai Mama mertuamu protes karena telat mendapat berita baik ini. Bunda enggak mau kalau sampai Mama mertuamu merajuk seperti dulu, saat Bunda dan Ayah lupa memberitahunya soal acara 4 bulanan. Tapi untungnya Mama mertuamu hanya meminta Ayah mengusap perutnya yang saat itu tengah mengandung Shaka."


Detik itu juga Arumi terkikik geli kala mengingat kejadian di masa lalu. Sungguh tidak menduga akan ada momen lucu yang bisa dikenang seumur hidupnya. Kejadian itu pun menjadi cerita bersejarah bagi mereka semua.


Zahira ikut terkikih saking gelinya. Sedikit guncangan itu sukses membuat Mayumi menggeliat dalam dekapan sang mama.


Arumi memandangi wajah putrinya yang tampak kelelahan, tapi juga memancarkan kebahagiaan dalam waktu bersamaan. "Rini bukan hanya mertua terbaik melainkan juga sahabat terbaik. Dia selalu ada di saat Bunda membutuhkan. Menjadi pendengar setia dan selalu mendukung apa pun keputusan Bunda jika memang itu terbaik bagiku."


Sebelah tangan Zahira menyentuh punggung tangan Arumi, kemudian mengusapnya dengan lembut. "Bunda benar. Mama Rini memang is the best."


"Aku sudah meminta Shaka menghubungi Mama dan Papa. Mereka segera memesan tiket tercepat untuk kembali ke Indonesia. Mungkin saat ini sedang dalam perjalanan."


***

__ADS_1


"Ma, tenang. Jangan panik begitu sih! Sebentar lagi kita sampai Jakarta," tegur Rio ketika melihat Rini beberapa kali menggetuk-getuk jendela pesawat menggunakan punggung tangan jari telunjuk.


Rio dan Rini saat ini sedang berada dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Pasangan suami istri itu sudah lima hari berada di Singapura, mengambil cuti selama satu minggu untuk menghabiskan waktu bersama guna merayakan wedding anniversary yang ke 32 tahun. Akan tetapi, baru lima hari berada di negeri yang terkenal akan Patung Merlion, mereka mendapat kabar bahwa menantu kesayangan baru saja melahirkan si Kembar. Mendengar kabar itu, keduanya sepakat kembali ke Indonesia walau masa liburan masih tersisa dua hari.


Rini berdecak kesal seraya menyenderkan punggungnya di sandaran kursi pesawat dengan kasar. "Bagaimana bisa tenang sih, Pa. Mama udah enggak sabar ingin segera melihat kedua cucuku, tapi justru pesawat ini lambat sekali. Pilotnya lelet layak siput."


"Mama heran deh, kenapa mereka enggak menambah kecepatan agar kita datang di Jakarta secepatnya. Kan kalau cepat sampai, mereka juga bisa istirahat lebih lama," sambung Rini memasang wajah cemberut.


Rio menghela napas kasar. Kepala menggeleng mendengar ucapan Rini yang terdengar tidak masuk akal.


"Ma, pilot dan co pilot udah menyesuaikan kecepatan pesawat dengan jadwal penerbangan seluruh pesawat yang mengudara. Enggak bisa seenaknya aja dong mereka menaikan kecepatan pesawat. Bagaimana jika terjadi kecelakaan akibat jadwal mendarat yang tidak sesuai dengan agenda yang ditentukan? Bisa bahaya loh."


Rio menyentuh bahu Rini. "Papa tahu kamu pasti ingin secepatnya melihat Allan dan Mayumi. Namun, mengatakan para pilot dan co pilot yang bertugas dengan sebutan 'lelet', bukan perbuatan terpuji. Kalau mereka dengar, bagaimana? Mereka pasti tersinggung dan merasa usahanya tidak dihargai. Boleh mengeluh, tapi jangan sampai menyakiti perasaan orang lain. Ingat, mereka membawa puluhan nyawa penumpang di pesawat ini. Jika gegabah maka berakibat fatal."


"Sebaiknya kamu tidur atau membaca majalah, Papa yakin waktu tak terasa berputar dan tanpa disadari kita tiba di tujuan dengan selamat."


"Iya juga, ya. Kenapa enggak terpikirkan olehku sebelumnya," gumam Rini. "Ya udah deh aku mau baca majalah aja jalau gitu." Tanpa membuang waktu, Rini mengeluarkan majalah dari dalam hand bag miliknya berharap pikirannya yang terus tertuju pada Zahira serta kedua cucunya dapat teralihkan sementara waktu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2