Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Menjemputmu Pulang


__ADS_3

"Shaka, kamu mau ke mana? Jam segini tumben sekali udah beres-beres." Rio yang baru saja masuk ke ruang kerja sang putera cukup terkejut melihat anak bungsunya tengah merapikan meja, kemudian memasukan beberapa berkas ke dalam tas kerja.


Tanpa menatap wajah Rio, Shaka menjawab, "Seharian ini hatiku gelisah dan kepikiran Rara terus, Pa. Maka dari itu, aku memutuskan jemput dia di rumah sakit."


Shaka mendekati sang papa dan kembali berkata, "Berkas kasus baru yang hendak kutangani sudah ada di dalam tas. Saat aku tiba di rumah, akan kupelajari lagi." Tangan pria itu terulur ke depan. "Kalau enggak ada yang mau dibahas lagi, aku pergi dulu. Assalamu a'laiakum."


"Wa'alaikum salam," jawab Rio sambil menatap cengo ke arah Shaka yang mulai menghilang dari pandangan mata. "Baru sehari berpisah udah kepikiran terus. Bagaimana kalau kemarin menantuku keukeh menggugat cerai, bisa jadi dia nangis klenger karena ditinggal pergi Zahira."


Perlahan garis bibir Rio melengkung, membentuk senyuman samar yang tampak menawan saat membayangkan suatu hal indah menanti di depan sana. "Sepertinya aku harus mulai mencari nama bayi laki-laki dan perempuan di internet nih." Bersenandung bahagia sambil meninggalkan ruang kerja Shaka.


Sementara itu, Shaka baru saja tiba di parkiran basemen. Dia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil, kemudian duduk seraya mengirimkan pesan singkat kepada sang istri.


["Aku akan menjemputku sekarang. Jadi, sebelum aku sampai sana jangan pulang dulu!"]


Setelah memastikan pesan singkat terkirim, barulah Shaka menginjak pedal gas hingga mobil itu melesat membelah jalanan kota Jakarta yang tampak lenggang di siang hari.


Sepanjang perjalanan, Shaka tak henti-hentinya menyalakan lampu sein saat menyalip beberapa kendaraan di sisi kanan dan kirinya. Dia tidak peduli dengan suara klakson dan teriakan penuh kemarahan dari balik jendela kaca mobil yang dibuat terkejut oleh pria itu.


Tiga puluh menit berlalu, kini si bungsu dari tiga bersaudara telah tiba di tempat istrinya bekerja. Dia bergegas turun dari mobil seperti orang kesetanan. "Sus, apa Dokter Zahira ada di dalam?" tanya Shaka kepada salah satu wanita berseragam perawat.

__ADS_1


Perawat wanita berkacamata memicingkan mata tajam, memperhatikan penampilan Shaka dengan seksama mulai dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, tak ada satu inci pun yang terlewatkan.


Merasa kalau saat ini sang pengacara tengah diperhatikan, lantas dia kembali berkata, "Saya Shaka, suaminya Dokter Zahira." Ada rasa bangga saat mengatakan bahwa dia adalah lelaki yang telah menghalalkan si cantik jelita.


Senyuman manis tercipta di sudut bibir perawat berkacamata. "Oh ... Bapak suaminya Dokter Zahira, toh! Saya kirain siapa." Sikap wanita itu jadi salah tingkah seperti anak kecil yang kedapatan melakukan suatu kesalahan.


Kedua tangan Shaka mengepal di samping badan hingga memperlihatkan urat-urat halus di punggung tangan. Menahan kesal karena merasa waktunya telah terbuang sia-sia.


Dengan nada dingin disertai tatapan tajam bagaikan seekor elang, Shaka kembali bertanya, "Di mana istriku? Apa dia ada di dalam ruangan?"


Hawa dingin seketika tercipta, menyentuh permukaan kulit perawat wanita. Melihat tatapan tajam yang ditujukan kepadanya, dia segera menjawab, "Dokter Zahira sudah tidak lagi bertugas di IGD. Dia pindah ke bangsal Teratai," jawabnya. "Bapak naik ke lantai tiga, lalu belok ke kanan. Di situlah Dokter Zahira bertugas saat ini."


Saat melihat lift yang masih bergerak ke atas, pria itu merogoh saku celana memastikan apakah ada balasan atau tidak dari sang istri. "Sial! Kenapa tidak ada pesan balasan dari istriku? Apa dia benar-benar sibuk hingga tak membalas pesanku?" dengkusnya kesal.


Ketika lift berdenting dan terbuka, Shaka langsung masuk kemudian menekan tombol nomor tiga, menuju bangsal tempat istrinya bekerja. Selama berada di dalam lift, perasaan pria itu semakin gelisah seakan dirinya tengah duduk di atas bara api, sangat tidak nyaman.


Saat pintu lift telah terbuka, Shaka langsung melompat keluar dan berderap menuju meja perawat. "Permisi, apa Dokter Zahira ada?" tanya Shaka kepada salah satu perawat yang berjaga di balik meja.


"Ada, Pak. Namun, beliau masih ada tindakan hingga belum bisa menemui siapa pun," jawab perawat tersebut. "Kalau boleh tahu, Bapak ada keperluan apa mencari Dokter Zahira?"

__ADS_1


"Saya suaminya Dokter Zahira," jawab Shaka, membuat perawat wanita di seberang sana melongo. Bola mata melebar sempurna, rahang pun terbuka lebar bahkan nyaris copot saat mendengar jawaban Shaka.


Sikap perawat wanita itu sangat bisa dimaklumi sebab kabar pernikahan Zahira dengan Shaka tidak banyak yang tahu.


"Ehm ... maaf, Pak. Saya tidak kalau tahu kalau Bapak adalah suami Dokter Zahira. Seperti yang saya katakan tadi, Dokter Zahira masih tindakan mungkin sebentar lagi selesai. Kalau Bapak mau, boleh tunggu di sana." Perawat itu menunjuk deretan kursi panjang terbuat dari stainless.


Shaka mengembuskan napas lega sebab dia datang di sang istri masih ada di rumah sakit. "Baik, kalau begitu saya tunggu saja sampai dia selesai tindakan."


Untuk mengusir rasa jenuh akibat menunggu kehadiran Zahira, Shaka memainkan telepon genggam miliknya. Dia berselancar di dunia maya, melihat akun media sosial dan berita hot yang sedang beredar di tanah air.


Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Di saat Shaka mulai jenuh akhirnya sosok perempuan yang dinanti hadir di hadapannya. Akan tetapi, dia cukup terkejut saat melihat seseorang yang tak asing tengah berjalan di sebelah sang istri.


"Berengsek!" umpat Shaka kasar. Lantas, dia bangkit dan menghampiri Zahira dan sosok tersebut. "Sedang apa kamu di sini?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2