
"Sayang, kok kamu diam aja sih? Kamu sedih karena aku hajar si Berengsek itu hingga babak belur?" ujar Shaka saat ia dan sang istri sudah berada di dalam mobil.
Zahira melirik sinis pada sosok lelaki di sebelahnya. "Ish ... jangan ngomong sembarangan, deh! Mana ada aku sedih. Aku cuma lagi berpikir kok kamu nekad memukul Dokter Nizam di tempat umum. Emang enggak takut dia ngelaporin kamu ke polisi, lalu karirmu sebagai pengacara hancur akibat kejadian tadi siang? Lalu, bagaimana kamu menjelaskan pada Papa Rio dan Mama Rini jika seandainya ada orang yang memvideokan kegiatanmu saat menghajar Dokter Nizam?"
"Ooh ... kirain, kamu sedih karena fans fanatikmu jadi bahan samsak aku," sahut Shaka sambari melirik sekilas pada kaca spion di sebelah kanan. Lelaki itu memutar stir kendaraan, kemudian membelokan kemudi menuju sebuah restoran yang sejak kecil mereka datangi bersama. Sebuah restoran mahal dan mewah.
"Aku melakukan itu semua demi kamu, Sayang. Masa iya, aku diam aja saat ada lelaki lain secara terang-terangan mengibarkan bendera peperangan padaku untuk berlomba mendapatkanmu. Suami mana pun di dunia ini, pasti akan melakukan hal sama denganku. Tatkala para suami sedang emosi, fokus mereka hanya satu, bagaimana caranya menyingkirkan hama pengganggu yang bisa aja merebut sesuatu berharga dalam hidup kita. Mereka enggak akan memikirkan apa yang terjadi ke depannya setelah keinginannya terpenuhi," sambung Shaka.
"Iya, sih. Tapi bagaimana kalau ternyata malah merugikan diri sendiri?"
Shaka terkekeh pelan. Ia mengusap punggung tangan Zahira dengan lembut seraya berkata, "Aku enggak peduli kalau emang pada akhirnya perkelahian itu merugikan diriku sendiri. Yang penting aku udah memberi pelajaran pada Nizam dan menegaskan padanya bahwa kamu cuma milik aku seorang. Dia enggak bisa merebut kamu begitu aja. Selama jantung ini masih berdetak dan napasku masih berembus, kamu hanya milik Shaka Abimana."
Hati Zahira semakin meleleh mendengar kata-kata manis dari suami tercinta. Semenjak Shaka mengutarakan isi hatinya, lelaki itu semakin pandai merayu, menggoda dan memuji Zahira hingga tak jarang membuat wajah wanita itu merah merona bagaikan kepiting rebus. Hatinya pun berbunga-bunga seakan ribuan kupu-kupu berterbangan dari perutnya. Dunia pun serasa berada dalam genggaman.
Secara perlahan Zahira menyenderkan kepalanya di bahu sang suami. "Terima kasih udah mencintai aku dengan caramu, Sayang.
Di sebelahnya, Shaka tersenyum semakin lebar karena Zahira tidak lagi mengungkit kejadian beberapa saat lalu.
***
Sementara itu, tampak Nizam tengah duduk dengan harap-harap cemas di seberang kursi kebangaan Rayyan. Nyali lelaki itu menciut saat mendapati tatapan tajam bagaikan mata pisau yang sangat tajam seolah menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Jika tadi dia bisa bersikap jumawa, kali ini lelaki itu hanya tertunduk lemah sembari meremas telapak tangan di atas pangkuan.
Semua orang tahu bagaimana karakter dari seorang Muhammad Rayyan Firdaus. Sosok pemimpin yang terkenal dingin, cuek, tapi juga tegas dalam bertindak. Tak ada satu orang pun yang berani berurusan dengan pria berdarah Tionghoa sebab Rayyan punya seribu macam cara untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang dianggapnya bermasalah.
__ADS_1
Saat lelaki itu sedang emosi karena ada satu hal yang bertentangan dengan visi misi rumah sakit, seluruh pegawai rumah sakit hanya terdiam sambil menundukan wajah. Tidak ada satu orang pun yang berani menengadahkan wajah di hadapan lelaki itu kecuali ... Arumi Salsabila. Sosok perempuan yang telah memberinya empat orang anak dan menemaninya selama hampir dua puluh lima tahun menjadi satu-satunya penawar di saat emosi dalam diri lelaki itu mengebu-ngebu.
"Apa semua yang dikatakan Shaka adalah benar? Bahwa kamu berniat merebut Zahira dari sisi Menantu saya?" tanya Rayyan to the point.
Ya, lelaki itu tidak pernah ingin basa basi saat ada seseorang yang membuat masalah di lingkungan rumah sakit. Ia berusaha menjaga nama baik rumah sakit, peninggalan Mei Ling agar citranya tidak buruk di mata orang lain sebab rumah sakit itu banyak menyimpan kenangan manis dan juga kenangan pahit dalam waktu bersamaan. Terlebih itu menyangkut rumah tangga putri tercinta maka ia akan menjadi garda terdepan apabila ada badai datang menghadang, menerpa kapal yang dinahkodai Shaka.
Suara bariton itu membuat Nizam menelan saliva susah payah. Kedua telapak tangan semakin erat meremas satu sama lain, jantung berhenti berdetak dan keringat dingin muncul di dahi. Sambil menarik napas dalam, lelaki berusia dua puluh lima tahun mencoba memberanikan diri bahwa semua akan baik-baik saja.
Lalu, Nizam dongakan kepala dengan sangat perlahan. Sedikit demi sedikit wajah tampannya menghadap ke seberang. "Benar, Dok. Saya memang berniat merebut Dokter Zahira dari sisi Pak Shaka sebab tidak tega bila melihat putri Anda hidup dalam penderitaan. Dokter Zahira terlalu berharga bila harus disakiti. Daripada hidup menderita karena cintanya tak terbalaskan, lebih baik saya merebutnya, kemudian memberikan cinta yang tulus dan memperlakukannya seperti seorang Ratu."
Tampak Rayyan menggelengkan kepala. Tak menduga jika Nizam kepikiran untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Zahira dan Shaka.
"Kamu tidak takut reputasimu sebagai seorang dokter dengan segudang prestasi membanggakan hancur akibat menjadi pebinor? Tidak takut jika kamu dikeluarkan dari pesatuan dokter se-Indonesia karena telah mencemarkan nama baik persatuan? Seluruh dunia mengecammu karena tega merusak rumah tangga orang lain?" Rayyan bertanda dengan nada mengintimidasi.
Rayyan menyeringai licik menatap sinis kepada Nizam. Ia bangkit dari kursi kebanggaannya, kemudian menyingkap vitrase jendela. Memandangi pemandangan indah di luar sana dari lantai tertinggi gedung mewah tersebut.
"Ehm ... begitu rupanya. Kamu rela melakukan apa pun demi Putri saya," ucap Rayyan lirih. Lalu, lelaki itu membalikan badan dan kembali menghunuskan tatapan tajam pada dokter muda di seberang sana. "Kamu bisa saja menerima cibiran dan hinaan dari semua orang. Namun, apakah keluargamu sanggup menerima cemoohan dari orang lain? Apa kamu juga sanggup bila masa depan adik perempuanmu yang kini duduk di bangku SMA hancur karena mempunyai kakak yang tak lain adalah seorang pebinor?" ucapnya dengan menekankan kalimat terakhir.
"Ingat Dokter Nizam, segala sesuatu yang kamu lakukan di dunia ini akan berbalik pada diri kita sendiri. Terlebih kamu punya adik perempuan. Jangan sampai dia mengalami apa yang dirasakan oleh Dokter Zahira, putri saya. Dipisahkan dari seseorang yang teramat dicintai, rasanya tidak enak. Dunia terasa hampa bila belahan jiwa kita pergi meninggalkan kita seorang diri."
Rayyan kembali duduk di kursi kebanggaannya, lalu menopang dagu menggunakan kedua tangan. "Saya hargai niat baikmu karena ingin membahagiakan Zahira, tapi kebahagiaan putri saya ada pada Shaka--suaminya." Lelaki paruh baya itu menjeda sejenak kalimatnya. Menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Shaka memang pernah melakukan kesalahan, tapi saya tidak bisa memaksa Zahira untuk meninggalkan suaminya."
"Sebagai seorang ayah, yang telah membesarkannya dengan cinta dan kasih sayang, tentu saja saya tidak rela apabila ada seseorang yang menyakiti Dokter Zahira. Namun, bukan berarti saya punya wewenang untuk memaksakan kehendak saya pada Dokter Zahira. Dokter Zahira sudah dewasa dan dia bisa menentukan mana yang baik dan tidak baik baginya. Jadi, saya hanya bisa mendukung dan terua mendo'akan yang terbaik baginya."
__ADS_1
"Lalu ... untuk masalah Shaka. Yang katanya dia tidak mencintai Zahira, itu salah besar. Buktinya hubungan anak dan menantu saya semakin lengket kayak perangko, setelah kepulangan mereka dari berbulan madu. Sikap Shaka pun semakin lembut dan perhatian layaknya seorang suami di luaran sana. Hanya melihatnya saja, saya sudah yakin bahwa cinta Dokter Zahira telah berbalaskan."
"Tapi bisa saja itu hanya kamuflase belaka, Dokter Rayyan. Bukankah Pak Shaka itu seorang pengacara? Dia pasti pandai berbicara dan berpura-pura baik di depan semua orang," sergah Nizam cepat.
Rayyan terkekeh pelan mendengar perkataan Nizam. "Dokter Nizam, saya sudah lama hidup di dunia ini. Telah banyak orang dengan berbagai karakteristik dan watak berbeda saya temui, jadi mana mungkin saya salah menilai seseorang."
Nizam kalah telak. Ia tak lagi mampu berkata. Mulut lelaki itu terkunci rapat seolah ada tangan tak kasat mata memaksanya untuk menutup mulut.
Ayah empat orang anak menurunkan kedua tangannya yang ia gunakan untuk menopang dagu, lalu menatap lekat manik coklat lelaki di seberang sana. "Saya tahu bagaimana perjuanganmu untuk bisa berada di posisi sekarang ini. Telah banyak yang dikorbankan olehmu dan juga kedua orang tuamu. Rasanya sangat disayangkan apabila prestasi yang kamu miliki serta pengorbananmu untuk menjadi orang sukses kandas hanya karena niatan burukmu untuk menjadi orang ketiga dalam rumah tangga putriku."
"Kalau boleh jujur, sebenarnya saya kagum akan keuletan dan kegigihanmu dalam bekerja. Namun, saya juga kecewa atas sikapmu barusan," ujar Rayyan. "Di dunia ini ada banyak perempuan cantik yang bisa kamu jadikan istri, tapi kenapa kamu menginginkan perempuan yang jelas-jelas sudah jadi milik oran lain."
"Dokter Nizam. Kamu itu tampan, gagah, pintar dan karirmu pun di dunia medis cemerlang. Saya yakin akan banyak perempuan di luaran sana memimpikanmu menjadi pendamping hidup. Sayang sekali jika itu semua hancur hanya karena ambisimu untuk mendapatkan Dokter Zahira."
"Saran saya, sebaiknya kamu kubur dalam rasa cintamu atau ambisimu terhadap Dokter Zahira karena jika kamu tetap memaksa merebutnya dari tangan Shaka maka kamu akan berhadapan langsung dengan saya. Kamu tahu bagaimana kekuasaan saya?" tanya Rayyan dengan tersenyum smirk. "Dengan kekayaan, kekuasaan dan jabatan yang saya miliki bisa membuat kamu dan keluargamu hidup menderita seumur hidup. Saya tidak pernah main-main. Jadi, sebelum semua terlambat sebaiknya kamu hentikan sekarang juga."
Rayyan memajukan tubuhnya ke depan hingga posisi lelaki itu dengan Nizam hanya berjarak dua jengkal saja. "Ingin tetap melanjutkan niatanmu dengan resiko semua keluargamu menjadi korban keegoisanmu atau menghentikannya detik ini juga, semua ada di tanganmu. Namun, satu hal yang harus kamu tahu, kalau cinta tidak selamanya harus memiliki. Ada kalanya kita merelakan seseorang demi kebahagiaannya sendiri."
.
.
.
__ADS_1