Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
First Kiss


__ADS_3

Zahira berdiri di antara rimbun pepohonan, ia berjalan-jalan sebentar sambil menikmati keindahan taman kota. "Ehm ... segarnya," ucapnya sembari menghirup udara segar. Kedua tangan berada di samping kanan dan kiri. Pandangan mata gadis itu menatap sebuah kolam air mancur di depan sana. Suara gemericik air, embusan angin di sore hari setidaknya membuat gadis itu dapat melupakan sejenak problematikan rumah tangga yang tengah datang menghampiri.


Zahira kembali menikmati semilir angin yang menggoyangkan dedaunan serta bunga-bunga dengan aneka ragam warna di taman tersebut. Sejenak, ia mencoba lupakan kepingan kejadian yang disuguhkan oleh suami serta mantan tunangan dari sang suami.


Apa nasib rumah tanggaku akan berakhir dengan kata perpisahan? Apa selamanya aku tidak akan pernah merasakan namanya dicintai dengan tulus oleh seseorang yang kucintai? tanyanya dalam hati merasa iri dengan kebahagiaan sepasang muda mudi yang sedang duduk bermesraan di depan sana.


Sedemikian sulitkah bagiku untuk menggapai cintamu, Shaka? Apa memang selamanya aku tidak akan pernah menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupmu? isak Zahira dalam hati.


Wajah tampan Shaka Abimana melintas di garis khayalnya. Tersenyum hangat, mendekap tubuh sang gadis. Bersama lelaki itu, ia merasakan kebahagiaan yang teramat sangat luar biasa.


"Ra ...." Suara Shaka memanggilnya. Suara yang begitu ia rindukan selama sepuluh hari ni begitu jelas terdengar di telinga.


Zahira tersenyum, bahkan dalam khayalnya pun ia mampu mendengar suara sang suami.


"Zahira," panggilan itu kembali terdengar di telinga Zahira. Kali ini dengan sebuah sentuhan di pinggangnya.


Sontak, Zahira membuka mata dan terbelalak saat menyadari ada seseorang yang tengah memeluknya dari belakang. Napas gadis itu memburu, disertai debaran jantung berdegup tak beratura.


"Finally, I found you!" ucap Shaka sambil mengeratkan pelukan seakan ia takut kehilangan gadis itu. Dagunya yang lancip ia letakkan di dagu istrinya yang masih belum percaya jika dirinya ada di sini.


Keduanya saling terdiam, tetapi tubuh mereka sedemikian dekat dan kulit saling bersentuhan. Pandangan mata sama-sama memandang pada kolam air mancur di depan sana.


"Kenapa kamu pergi lagi dari apartemen tanpa menungguku pulang? Apa kamu sengaja membuatku khawatir?" Shaka mengecup helaian rambut Zahira yang sebaginya terbang terbawa angin.


"Untuk apa menunggumu, toh kamu saja sedang bersama Ziva," jawab Zahira dengan bibir gemetar. Sekilas bayangan Ziva dan Shaka masuk ke dalam mobil yang sama membuat dada gadis itu sesak dan ingin rasanya menangis.


"Tadi kamu ke kantorku?" tanya Shaka tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Zahira.


Si cantik jelita hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Tak sanggup memperlihatkan bola matanya yang sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


Menarik napas panjang, menahannya sebentar, kemudian baru berkata, "Jadi karena itu kamu pergi dari rumah begitu saja tanpa memberitahuku terlebih dulu." Kini Shaka mengerti kenapa istrinya bergegas pergi setelah menaruh koper serta barang bawaan lainnya.


Shaka melepaskan pelukan, kemudian membalikan badan Zahira hingga kini mereka berhadapan. "Sampai di mana kamu melihatku dengan Ziva di kantor?"


"Hanya saat Ziva masuk ke mobil dan kamu menyusul dia ke dalam mobil," jawab Zahira jujur. Walaupun posisi mereka berhadapan tetap kepala gadis itu masih menunduk ke bawah.


Shaka terdiam, ia menghela napas berat. "Tapi apa yang kamu lihat tidak semuanya benar, Ra. Kami memang pergi bersama, tapi aku hanya mengantarkannya sampai pintu masuk lobi apartemen."


Tubuh Zahira bergerak, ia hendak membalikan badan lagi, tapi dengan cepat Shaka mencegah sang istri. "Hei, dengarkan dulu penjelasanku," sergah lelaki itu.


"Tadi siang Ziva datang ke kantor, katanya dia ingin bertemu denganku. Namun, karena aku sedang enggak mood bertemu dengan siapa pun, aku minta David mengusir wanita itu eh dia malah menungguku. Kami sempat beradu mulut dan hingga pada akhirnya dia memintaku mengantarkannya ke apartemen."


"Rupanya kamu masih perhatian kepada mantan tunaganmu itu, Ka. Kupikir, kamu--" Kalimat itu tak sanggup Zahira selesaikan sebab air mata sudah lebih dulu meluncur di antara kedua pipi.


"Najma Zahira, Bintangku yang bersinar," panggil Shaka menggunakan nama lengkap sang istri berikut arti dari nama yang diberikan Rayyan dan Arumi kepada gadis itu. "Mana mungkin aku memberikan perhatian kepada wanita lain, sedangkan statusku saat ini telah menjadi suamimu. Aku melakukan itu semua karena terpaksa bukan dari hati nuraniku yang terdalam. Sungguh."


Shaka menyelipkan anak rambut Zahira yang tertiup angin. "Ra, meski rasa cinta untukmu di hatiku belum tumbuh, tapi aku bukan lelaki berengsek yang tega mengkhianati kesucian pernikahan kita. Aku menghormatimu sebagai istriku, menghormati ikrar suci pernikahan yang kuucapkan satu bulan lalu. Jadi, mana mungkin aku selingkuh di belakangmu."


"Kan sudah aku jelaskan bahwa diriku terpaksa melakukan itu semua." Shaka menarik pinggang ramping sang isti hingga tak ada jarak yang memisahkan mereka. "Maaf atas semua yang kamu lihat. Aku mengakui kesalahanku karena tidak tegas terhadap Ziva. Aku bodoh karena mudah tertipu oleh wanita itu."


"Ya, kamu memang bodoh. Untung saja aku enggak melaporkan tindakanmu kepada Ayah, kalau tidak bisa babak belur kamu," sungguh Zahira dengan mengerucutkan bibir ke depan.


"Aku sempat berpikir, mungkin kita memang tidak seharusnya bersama. Begitu banyak cobaan datang menghadang biduk rumah tangga kita. Baru satu bulan menikah, tapi badai terus menerpa kapal yang sedang kamu nahkodai."


Suara Zahira gemetar saat mengucapkan kalimat terakhir di hadapan sang pujaan hati. Embusan angin sore hari semakin mencekam jiwa terluka berbalut kekhawatiran dan penyesalan dalam waktu hampir bersamaan.


Shaka tahu kata maaf dan memberi penjelasan saja tidak cukup meyakinkan Zahira. Jujur, ia pun sebetulnya sudah lelah dengan ujian pernikahan yang datang silih berganti. Ia ingin hidup tenang dan damai tanpa harus berurusan dengan Ziva ataupun Nizam, sosok lelaki yang terkadang membuat pria itu terbakar api ... cemburu.


"Apa kamu ingin berpisah denganku?" Pertanyaan itu membuat Zahira mendongakan kepala hingga sang lelaki dapat melihat jelas buliran kristal meluncur di sudut matanya.

__ADS_1


Alih-alih menjawab pertanyaan Shaka, Zahira melontarkan kalimat yang sama kepada sang suami. "Kamu sendiri, bagaimana?"


Shaka tersenyum lebar, sebuah senyuman yang selama berada di Jepang sangat Zahira rindukan. "Sampai kapan pun, aku tidak mau berpisah darimu, Ra. Aku hanya ingin kamu yang jadi istri dan ibu bagi anak-anakku."


Air mata semakin deras mengalir di pelupuk mata. Hati Zahira menghangat saat mendengar penuturan Shaka. Kalimat terakhir yang diucapkan lelaki itu melambungkan angan gadis itu akan sebuah pernikahan yang akan berakhir bahagia.


"Kamu ... mau, 'kan, terus hidup bersamaku hingga kita menua bersama? Menemaniku menjalani sisa hidup ini hingga maut memisahkan?"


Zahira menatap Shaka dengan sorot yang tak terbaca. Menelisik adakah setitik kebohongan di iris coklat milik sang pengacara. Akan tetapi, ia tak menemukan kebohongan itu, yang hanya ada sebuah kejujuran dari sepasang mata indah nan jernih.


Dokter cantik bermata sipit menganggukan kepala. Ia mengalungkan kedua tangan di leher Shaka hingga keduanya dapat merasakan terpaan embusan napas bersumber dari masing-masing.


"Shaka? Aku--"


"Sst! Jangan bicara lagi!" sergah Shaka sebelum istrinya melanjutkan ucapannya.


Shaka melepaskan tangan yang melingkar di pinggang Zahira, kemudian merangkum wajah cantik itu, lalu ia mendekatkan bibirnya ke bibir ranum nan menggoda. Ia menciumi bibir sang istri dengan sepenuh hati.


Zahira terpaku, tidak tahu harus merespon apa ketika benda kenyal itu mendarat di bibirnya yang tipis. Akan tetapi, saat melihat kelopak mata Shaka terpejam seolah tengah menikmati ciuman mereka, ia pun turut memejamkan mata. Bibir sang suami terasa hangat sekaligus lembut menyentuh permukaan bibirnya. Tubuh gadis itu menegang, seperti ada tegangan listrik tak kasat mata menjalar ke seluruh permukaan kulit. Sentuhan itu menimbulkan sensai dan gelenyar aneh yang membuat sang gadis ingin menyesap bibir suaminya kuat-kuat.


"Eugh!" Shaka mengerang saat dengan suara serak ketika Zahira membalas ciumannya dengan lembut. Ia benar-benar menikmati saat lidah mereka saling membelit satu sama lain.


Shaka menekan tengkuk Zahira untuk memperdalam ciuman mereka. Suara decapan bibir bersumber dari keduanya terdengar begitu nyaring. Beruntungnya suasana sekitar sepi sehingga tak ada satu orang pun yang mengganggu kegiatan panas mereka.


Setelah puas mereguk manisnya madu di bibir sang istri, Shaka melepaskan pangutan bibir mereka. Ia mengusap sudut bibir gadis itu dengan lembut. "Di saat kamu meragukan kesungguhan hatiku, ingatlah hari di mana kita berciuman di bawah pohon ini. Di saat itulah kamu akan tahu bahwa aku akan mencoba mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku."


Zahira tersenyum dan tanpa sungkan ia melingkarkan jemari tangan di pinggang, kemudian memeluk tubuh suaminya dengan erat. "Terima kasih karena kamu bersedia membuka hatimu untukku."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2