
Tidak menjawab, Zahira hanya memandangi Shaka sebentar dan kembali menatap lurus ke depan. Entahlah kenapa ia jadi ragu mengatakan yang sejujurnya kepada sang suami. Padahal ini merupakan kesempatan baik baginya untuk mengungkapkan sebuah kebenaran yang disimpan selama hampir sepuluh tahun lamanya. Namun, bibir wanita itu seakan terkunci rapat dan lidah pun terasa kelu tak mampu berkata.
Tak mendapat jawaban apa pun, Shaka memutuskan beringsut mendekati Zahira hingga posisi berada di belakang tubuh sang istri. Menyentuh erat kedua bahu dan membalikan badan wanita itu. "Sayang, kenapa diam saja? Katakan padaku alasan apa yang membuatmu tiba-tiba saja pergi ke Jepang tanpa memberitahu terlebih dulu?"
Kepala yang tadinya tertunduk, mendongak hingga membuat kedua netra saling beradu pandang. "Kamu ingin tahu alasannya apa sampai aku pergi begitu saja tanpa mengucap kata perpisahan?"
Shaka mengangguk. "Benar! Katakan padaku yang sebenarnya, Ra. Apa yang kamu sembunyikan dariku selama ini?"
Wanita cantik yang kini menjadi milik Shaka seutuhnya menghela napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Itu semua kulakukan untuk menghindari kamu, Ka, aku enggak sanggup kalau harus bertemu denganmu dan rasa sakit hatiku kembali terkoyak."
Tampak ekspresi terkejut dari Shaka. "Sakit hati? Memangnya aku pernah salah apa sama kamu?" ucap lelaki itu sedikit penasaran. Ia merasa selama bersahabat, tak sekalipun menyinggung perasaan Zahira apalagi menyakiti hati sahabat yang kini berstatuskan sebagai istrinya.
Zahira tersenyum getir. "Kamu enggak melakukan kesalahan apa pun. Hanya saja, hatiku yang terlalu lancang mencintai dan mengharapkan kamu untuk menjadi kekasihku."
Kening Shaka berkerut. "Wait, cinta? Apa kamu mau bilang kalau sebenarnya kamu udah cinta sama aku sejak dulu?" Pandangan mata lelaki itu masih setia menatap lekat iris coklat teduh di depannya.
"Ya! Aku telah jatuh cinta padamu, Shaka, jauh sebelum kamu dan Ziva jadian." Zahira mengangguk dan buliran kristal mulai berjatuhan membasahi pipinya yang mulus. Ia tak sanggup lagi memendam rasa yang disimpan selama hampir sepuluh tahun. Selama ini ia tersiksa dan kini saatnya melepaskan beban itu.
Sebuah pengakuan lugas akhirnya meluncur dari bibir seorang Najma Zahira. Hari ini akhirnya ia mengutarakan isi hatinya yang terpendam di hadapan sosok lelaki yang merupakan cinta kedua baginya.
Kenapa cinta kedua? Bukankah Zahira belum pernah bercinta sebelumnya, lalu kenapa Shaka merupakan cinta kedua bagi dokter cantik itu? Alasannya mudah sebab bagi setiap anak perempuan, cinta pertama bagi mereka adalah ayah dan itu pun yang dialami Zahira. Bagi wanita kelahiran dua puluh empat tahun silam, Rayyan merupakan cinta pertama dalam hidupnya.
__ADS_1
"Katakan padaku, sejak kapan kamu mencintaiku, Ra?" Suara itu terdengar gemetaran, berbalut rasa penasaran.
"Sejak kita sama-sama duduk di bangku kelas 3 SMP. Saat itu aku pikir perasaanku terhadapmu hanya sebatas teman masa kecil karena kita tumbuh besar bersama. Namun, seiring berjalannya waktu dan semakin bertambah usia, aku menyadari bahwa perasaanku kepadamu lebih dari seorang sahabat. Aku sayang sama kamu bukan sebagai seorang sahabat melainkan rasa sayang terhadap seorang lelaki."
Shaka tercengang mendengar penuturan Zahira. Pantas saja wanita itu tak pernah menggubris perasaan para kaum Adam yang mencoba mendekatinya saat mereka masih sekolah dulu. Padahal wanita itu bisa saja memacari salah satu dari mereka, kemudian mengenalkannya kepada Rayyan dan meminta izin untuk berpacaran meski kelak akan ada orang ketiga, keempat atau bahkan kelima yang menemani jika seandainya mereka sedang berpacaran.
Memang benar kata orang, tak ada yang murni dalam persahabatan antara kedua orang lawan jenis. Pasti ada salah satu di antara mereka yang memiliki rasa. Selama ini Shaka tidak peka dengan perasaan Zahira. Ia malah sibuk mencari cara bagaimana menaklukan hati Ziva, sementara ada seseorang yang telah lebih dulu jatuh cinta kepadanya. Kenapa ia tidak menyadari itu semua? Apakah mungkin mata dan hatinya tertutup karena terlalu berambisi untuk mendapatkan cinta Ziva?
"Kenapa kamu enggak bilang sama aku? Kenapa kamu memendam perasaan itu sendirian?" Shaka memandang dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Zahira tersenyum getir dan tertawa kecil mendengar pertanyaan Shaka. Ia membalikan badan hingga posisinya membelakangi sang suami. "Bagaimana aku bisa mengatakan perasaanku yang sebenarnya kepadamu, sedangkan aku saja tak punya keberanian sama sekali untuk mengungkapkan cinta padamu. Di saat keberanian itu hadir, aku malah mendapati sebuah kenyataan pahit yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Harapan dan impian untuk bisa bersamamu pupus saat di depan mata dan kepalaku sendiri melihat kamu mengatakan cinta di hadapan semua orang. Wajahmu sumringah dan pendar bahagia terpancar jelas di sorot matamu jadi bagaimana mungkin aku tega merusak moment bersejarah kalian berdua?"
Menarik napas panjang, menahannya sebentar, baru kembali berkata, "Shaka, aku dididik dan dibesarkan untuk menjadi wanita terhormat. Ada beban yang kupikul di pundak karena terlahir dari orang tua hebat seperti Ayah dan Bunda. Ayahku merupakan direktur sekaligus pemilik rumah sakit terkenal jadi aku enggak mungkin melakukan perbuatan hina, mengungkapkan perasaanku kepada kekasih orang sementara saat itu kamu baru saja jadian dengan Ziva. Apa yang akan dipikirkan orang lain terhadapku?"
Pundak Zahira bergerak turun naik. Tubuhnya pun gemetar disusul suara isak tangis tertahan. Wajahnya yang mulus semakin dibanjiri linangan air mata yang terus berjatuhan. Dada terasa sesak seolah udara di sekitar tak mampu memasok oksigen ke dalam paru-paru.
Hati Shaka seakan diremat tangan tak kasat mata. Ia teramat bodoh karena tidak menyadari perasaan Zahira selama ini. Merasa menjadi orang terbodoh sedunia sebab menyia-nyiakan seseorang yang tulus mencintainya. Ia malah mengorbankan perasaan Zahira demi sebuah ambisi.
Dengan gerakan cepat, tangan Shaka melingkar di pinggang istrinya kemudian menarik wanita itu hingga tubuh keduanya bersentuhan. Ia peluk Zahira dari belakang. "I'm so sorry, Sayang. Aku benar-benar enggak tahu kalau selama ini kamu mencintaiku. Aku enggak tahu kalau ada hati yang terluka di saat kebahagiaan tengah menghampiriku dan Ziva."
"Maaf karena perbuatanku, kamu menderita selama ini. Demi Tuhan, aku enggak bermaksud melukai hatimu, Ra."
__ADS_1
Shaka tahu, kata maaf saja tidak mampu mengembalikan waktu yang terbuang. Telah banyak air mata Zahira yang berjatuhan hanya karena kebodohannya.
"Seandainya saja saat itu aku lebih dulu mengatakan perasaanku kepadamu, apakah kamu akan menerimaku?" Pertanyaan itu tiba-tiba meluncur begitu saja. Ada dorongan yang tak bisa dikendalikan Zahira, hingga ia berani menanyakan pertanyaan tersebut.
Dengan gerakan pelan, Shaka membalikan badan Zahira. Jemari tangan kanan mengusap air mata yang tak berhenti menetes. "Tentu saja akan menerimamu, Ra, sebab sebenarnya aku pun telah lama jatuh hati kepadamu. Keinginanku memacari Ziva hanya karena ambisiku saja. Aku ingin terlihat hebat di mata semua orang karena berhasil mendapatkan Ziva."
Terkejutlah Zahira. "Bohong! Kamu pasti bercanda, 'kan? Bagaimana mungkin kamu menerimaku?"
Shaka terkekeh pelan. Jemari tangan menyelipkan helaian rambut di telinga yang terbang ditiup angin. "Mana mungkin aku berbohong tentang perasaanku sendiri. Aku itu cinta sama kamu, Ra. Benar-benar mencintaimu," jawabnya serius. "Hanya saja aku yang terlambat mengakui perasaanku kepadamu."
Pengacara itu kembali membawa tubuh ringkih Zahira dalam pelukan. "Aku tahu waktu yang terbuang enggak bisa mengembalikan rasa sakit yang kutorehkan di hatimu, tapi kuharap kamu masih mau berada di sisiku, menemaniku untuk selamanya." Shaka menatap manik coklat milik istrinya yang dipenuhi buliran air mata. "Kamu masih mau 'kan hidup bersamaku?"
Zahira tak menjawab perkataan Shaka. Tanpa aba-aba, ia melemparkan diri ke dalam pelukan suaminya.
"Aku anggap jawabanmu adalah iya." Shaka menahan tubuh wanitanya yang hampir terjungkal. Ia terkekeh bahagia melihat respon Zahira, walau wanita itu tak mengatakan sepatah kata pun, tapi lelaki itu yakin jika seandainya dokter cantik bersedia mendampinginya selamanya.
Tanpa sadar disadari oleh Shaka dan Zahira, ada sepasang mata tengah memperhatikan mereka dari jarak yang tak begitu jauh. Sudut bibir tertarik ke atas membentuk lengkungan bagaikan busur panah.
.
.
__ADS_1
.