Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Asam Lambung atau ....


__ADS_3

Selang tiga minggu kemudian, pasca insiden di rumah sakit, Nizam resmi dipindahtugaskan ke Instalasi Gawat Darurat atau biasa disebut IGD. Rayyan terpaksa menggunakan kekuasaannya untuk memberi efek jera pada salah satu karyawan yang menurutnya cukup berpotensi menjadi dokter hebat di kemudian hari. Semua itu ia lakukan demi menjaga keutuhan rumah tangga anak ketiganya. Ia tidak mau jika Zahira bersedih karena harus berpisah untuk kedua kali dengan lelaki yang teramat dicintainya.


Kehidupan Zahira pun kembali tenang seperti sedia kala. Tidak ada lagi sosok Nizam berkeliaran di sekitarnya. Kini wanita itu leluasa melakukan apa pun tanpa harus takut kena tegur Shaka sebab kehadiran Nizam di sekitarnya.


"Dokter Zahira, kok mukanya pucat banget. Dokter sedang sakit?" tanya Hanna, rekan sejawat Zahira. Wanita itu berhambur mendekati putri dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


Tangannya yang lentik terulur ke depan, kemudian menempelkan punggung tangannya di kening Zahira. "Enggak panas, ko. Tapi kenapa wajahmu pucat begitu," gumamnya lirih. Tampak jelas raut kecemasan di wajahnya yang cantik jelita, tidak kalah cantik dari Zahira.


Dengan lembut Zahira menurunkan tangan Hanna. "Aku enggak demam, Dokter Hanna. Hanya saja tadi pagi aku sempat muntah-muntah. Sepertinya asam lambungku naik, deh," tutur wanita cantik dalam balutan dress warna peach.


Hanna mengernyitkan alis, menatap tajam pada perempuan di sebelahnya. "Muntah-muntah di pagi hari? Sejak kapan?" tanyanya penasaran.


Tampak Zahira berpikir sejenak. "Ehm ... kalau enggak salah sekitar dua harian ini, Dok. Tiap pagi selalu mual. Namun, saat aku memuntahkannya hanya ada cairan bening yang keluar dari perutku." Wanita bermata sipit meringis saat membayangkan kejadian yang ia alami selama dua hari belakangan ini. Amat sangat menyiksanya.


Hanna menarik lengan Zahira menuju kursi tunggu pasien yang ada di lorong bangsal Teratai. "Yakin karena asam lambung naik? Atau karena ada alasan lain hingga membuatmu mual di pagi hari," ucap Hanna setelah mereka berdua duduk bersebalahan.


Suasana sekitar cukup sepi, tidak ada tenaga media ataupun pengunjung rumah sakit yang lalu lalang di lorong sehingga mereka bisa leluasa mengobrol tanpa takut ada orang lain menguping percakapan dua wanita cantik itu.


Zahira semakin dibuat kebingungan. "Alasan lain? Apa?"


Hanna berdecak kesal. Ia merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. "Dokter Zahira betulan enggak tahu, atau cuma ingin mempermainkanku?"

__ADS_1


"Hah? Mempermainkan bagaimana? Aku benar-benar enggak tahu maksudmu, Dokter Hanna." Zahira membulatkan matanya yang sipit hingga terbelalak sempurna.


Rekan sejawat Zahira yang tampaknya sebentar lagi jadi sahabat karib istri Shaka menyampingkan tubuhnya hingga posisi mereka saling berhadapan. "Begini loh, Dokter Najma Zahira Abimana, maksudku apa Dokter yakin muntah di pagi hari karena disebabkan asam lambung tinggi bukan karena ....Dokter Zahira sedang hamil?"


"Dokter Zahira, 'kan, udah lama menikah dan pastinya udah sering berhubungan intim dengan suami. Ya kali setiap malam digempur enggak ada satu pun bibit Pak Shaka berhasil membuahi sel telurmu." Hanna menuturkan kecurigaannya pada Zahira.


Entah kenapa Hanna seakan punya keyakinan bahwa mual dan muntah yang dialami Zahira bukan disebabkan oleh asam lambungnya yang tinggi melainkan salah satu gejala kehamilan di trimester pertama. Walaupun belum pernah mengalami gejala morning sickness, tapi sedikit banyak tahu tentang tanda dan gejala kehamilan pada seseorang.


Seketika tubuh Zahira membeku. Degup jantungnya pun seakan berhenti berdetak. Tubuhnya meremang tatkala mendengar ucapan Hanna barusan. Hamil? Satu kalimat yang simple, tapi mengandung makna tersendiri bagi Zahira.


Bagaimana tidak, sejak memutuskan menerima Shaka kembali dan memberikan izin pada lelaki itu untuk menjadi pemilik tubuhnya satu-satunya, Zahira memang berharap dari sekian banyaknya bibit unggul yang disemburkan di rahim akan tumbuh calon anak-anak mereka. Buah cintanya dengan suami yang kelak menjadi lentera, penerang hidup mereka di hari tua. Dan ... kalau memang di dalam perutnya kini bersemayam calon anak mereka, apakah Shaka akan bahagia mendengar kabar baik ini? Atau malah sebaliknya.


Jujur, Zahira masih agak ragu dengan ketulusan cinta Shaka. Ia khawatir suaminya berpaling dan pergi meninggalkannya begitu saja setelah tahu jika kini Shaka Junior atau Zahira Junior ada di perutnya.


Punggung bersandar di kursi terbuat dari stainless dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Sedang diajak diskusi malah ngelamun. Huu ... menyebalkan sekali." Hanna menggerutu sembari menghentak-hentakan sepatu mahalnya di atas lantai.


Zahira mengerjap beberapa kali ketika bunyi sepatu beradu dengan lantai. Suara itu cukup nyaring, mampu membuat kesadaran wanita itu kembali.


"Maafkan, aku, Dokter Hanna. Aku hanya terkejut mendengar perkataanmu." Zahira berkata dengan penuh penyesalan. Tak ada maksud sedikit pun untuk membuat Hanna marah.


Zahira beringsut mendekati Hanna. "Lalu, aku harus bagaimana kalau ternyata mual dan muntah yang kualami selama dua hari ini bukan disebabkan oleh asam lambung?"

__ADS_1


Hanna memelototi Zahira dengan kesal. Merasa gemas akan sikap rekan sejawatnya yang terkesan polos. Kadang ia berpikir bagaimana bisa Rayyan dan Arumi melahirkan anak sepolos Zahira. Hufh ... ada-ada saja.


Menarik napas dalam, kemudian menahannya sebentar. Setelah itu mengembuskan secara perlahan. "Tentu saja harus bahagia dong, Dok. Namanya juga diberi rezeki oleh Tuhan. Masa iya Dokter mau menolaknya sih." Hanna melingkarkan sebelah tangannya di pundak Zahira. "Di luaran sana banyak loh yang menanti kehadiran seorang bayi dalam rumah tangga mereka. Tak jarang dari mereka mencoba berbagai macam cara agar si kecil segera hadir ke dunia ini. Sementara Dokter Zahira hanya menikah dua bulan saja udah langsung dikasih. Itu artinya Tuhan sayang banget sama kamu. Jadi, terimalah rezeki ini dengan lapang dada."


"Aku yakin, Pak Shaka pasti bahagia mendengar kabar ini sebab dia sangat mencintaimu," imbuh Hanna seakan tahu apa yang tengah Zahira pikirkan saat ini.


Zahira mengangguk. "Baiklah. Aku akan coba memeriksanya terlebih dulu untuk memastikan apakah aku betulan hamil atau hanya asam lambung aja."


Hanna tersenyum tipis bahkan nyaris tak terlihat. "Kalau mau, nanti aku menemanimu bertemu Dokter Vivian. Siapa tahu kamu membutuhkan bahu untuk bersandar setelah tahu jika dirimu memang positif hamil."


Zahira bangkit dari kursinya. Membenarkan pakaian yang sedikit kusut hingga rapih sedia kala. "Ayo, temani aku sekarang."


"Hah? Sekarang?" seru Hanna dengan kedua mata melebar sempurna.


Dengan antusias Zahira menjawab, "Iya. Lebih cepat lebih baik. Aku udah enggak sabar ingin segera tahu hasilnya."


Menggeleng kepala sambil terkekeh pelan. Rekan sejawatku ini emang limited edition. Tadi aja tampak ragu. Eh sekarang malah begitu antusias.


Tanpa membuang waktu, Hanna segera bangkit dan menepati janjinya untuk menemani Zahira. Kebetulan jam kerja mereka masih tiga puluh menit jadi punya banyak waktu untuk konsultasi dengan dokter kandungan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2