Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Mati Aku!


__ADS_3

Malam harinya, Shaka terpaksa pulang terlambat sebab dia diminta Rio menemaninya bertemu dengan salah satu klien yang tinggal di kota Bandung. Katanya sambil mengunjungi sanak saudara dari pihak sang kakek yang masih ada hubungannya dengan keluarga Adiguna.


"Terima kasih, Ka, kamu udah mau nemenin Papa pergi ke Bandung." Rio dan Shaka baru saja tiba di Jakarta tepat pukul tujuh malam waktu setempat. Diantar supir keduanya menuju lokasi yang ditentukan sebelumnya.


Shaka meraih dua kantong plastik warna putih yang diletakkan di bagasi mobil. "Jangan sungkan, Pa. Next time, kalau Papa mau ketemuan dengan klien di luar kota minta aku aja untuk nemenin agar Mama enggak cemburu. Kalau ditemenin Bu Cecil, yang ada malah bertengkar." Lelaki berusia dua puluh lima tahun menutup kembali bagasi mobil Rio. "Aku enggak mau Mama berubah jadi macam betina yang menyeramkan."


Rio terkekeh pelan melihat ekspresi anak bungsunya itu. "Kalau cemburu, itu artinya Mamamu cinta banget sama Papa, Nak. Maklum, cowok ganteng seperti Papa hanya ada satu di dunia ini. Limited edition."


Lelaki tampan berperawakan tinggi berdecak kesal dan memutar bola mata malas. "Narsis!" ucapnya. Hubungan antara ayah dan anak terjalin baik jadi jangan heran jika mereka terlihat begitu dekat bagaikan seorang teman. "Udah ah, aku mau naik dulu. Kangen banget nih sama Rara dan si Dedek bayi."


Rio menepuk lembut pundak Shaka saat buah hatinya bersama istri tercinta mencium punggung tangannya. "Salam untuk Rara. Sampaikan permintaan maaf Papa karena enggak bisa mampir."


Ibu jari dan jari telunjuk Shaka membentuk huruf O. "Siap, nanti aku sampaikan. Kalau gitu, aku naik dulu, Pa. Assalamu a'laikum."


"Wa'alaikum salam." Lantas, Rio segera menutup jendela mobil. "Jalan, Pak!"


Dengan langkah panjang sembari menenteng dua kantong plastik di tangan kanan dan kiri, Shaka memasuki unit apartemen yang ia tinggali bersama istri tercinta. Sebenarnya unit apartemen itu adalah hunian yang dipilih Shaka dan Ziva untuk mereka tinggali bersama setelah menikah nanti. Semua furniture, perabotan dapur dan segala macam hiasan di sana merupakan pilihan Ziva. Namun sayang, impian untuk membina rumah tangga kandas saat salah satu dari mereka berkhianat.


Shaka berniat membeli hunian baru yang akan ditempatinya bersama Zahira dan anak-anak mereka kelak, tapi ia sedang menanti moment yang tepat untuk memberi kejutan kepada istri tercinta. Ehm ... mungkin saat Zahira berulang tahun yang ke-25 tahun, sebuah kunci hunian baru untuk mereka akan diberikan Shaka.

__ADS_1


Tanpa perlu menekan bel, Shaka bisa langsung masuk ke dalam unit apartemen miliknya. Berjalan mengendap-endap berniat memberi kejutan kecil untuk sang istri.


"Kejutan!" seru Shaka sembari mengangkat dua kantong plastik ke udara. Wajahnya semringah saat melihat perempuan yang telah mencuri hatinya tengah bergulat dengan peralatan masak. Walaupun tampak kelelahan, tetapi wajah itu selalu memancarkan pesonanya dan itu membuat Shaka semakin tergila-gila.


Zahira menerbitkan senyum ramah. Tangannya yang tadi memegang spatula kini dalam keadaan kosong. "Budhe, tolong lanjutkan. Aku mau menemani Shaka dulu. Jika semua makanan udah matang, segera tata di meja makan dan sisihkan untuk Budhe sendiri." Lantas, wanita itu menghampiri suaminya. "Kamu dari mana aja sih, Sayang, kok jam segini baru pulang?"


Jemari tangan Zahira meraih tas kerja suaminya, kemudian mencium punggung tangan Shaka. Rutinitas wajib yang ia lakukan saat sebelum dan sesudah Shaka bekerja.


"Maafkan aku, Sayang. Tadi siang, tiba-tiba aja Papa ngajak aku menemui klien di Bandung. Biasanya sih Bu Cecil yang selalu siaga menemani, tapi berhubung lokasinya di luar kota dan Papa enggak mau Mama cemburu akhirnya aku ikut. Kamu tahu sendiri bagaimana Mamaku kalau sedang kesal, bisa-bisa Papa disuruh tidur di kamar tamu dan puasa selama seminggu. Bisa berabe urusannya kalau sampai puasa. Yang ada urusan pekerjaan terbengkalai." Shaka menjelaskan alasannya kenapa dia pulang terlambat.


Shaka memang tidak memberi kabar sama sekali pada Zahira sebab sepanjang perjalanan ia disibukan oleh segudang pekerjaan yang mengharuskannya fokus agar konsentrasinya tidak buyar.


Kini sepasang suami istri itu telah berada di kamar, meninggalkan Budhe Erna seorang diri.


Shaka melepas kancing kemeja yang melekat di tubuhnya yang kekar nan atletis ke keranjang pakaian kotor. Tatkala helaian kain berwarna putih terlepas dan tergeletak di bawah sana, Zahira dapat melihat jelas bagaimana menggodanya tubuh lelaki itu. Enam otot di perut suaminya tampak begitu menggiurkan, belum lagi otot bisep di lengan meliuk-liuk sempurna dengan urat-urat menegang di sana seolah melambaikan tangan padanya untuk segera disentuh.


Dalam hati Zahira mengagumi betapa macho-nya Shaka ketika lelaki itu bertelanjaang dada. Bulu-bulu halus di sekitar dada, rahang dan lengan menambah kesan maskulin.


Akan tetapi, kekaguman itu harus terhenti tatkala ekor mata Zahira melihat seongok pakaian kotor di keranjang bukanlah kemeja yang dikenakan Shaka sebelum lelaki itu berangkat kerja.

__ADS_1


"Tunggu!" sergah Zahira sebelum kaki kiri Shaka masuk ke kamar mandi. Sontak gerakan Shaka terhenti mendengar suara lantang sang istri.


Membalikan badan hingga posisi mereka saling berhadapan. "Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menghentikanku?" tanya Shaka. Sepasang matanya yang indah memicing tajam.


Melihat semburat rona merah muda tertinggal di wajah Zahira, otaknya seketika traveling. Mungkinkah Zahira menginginkan mereka bercumbu di bawah rintiknya air shower? Atau bercinta di bathtub seperti saat mereka berbulan madu di Jepang dulu?


Sudut bibir Shaka tertarik ke atas membayangkan adegan yang akan terjadi bila mereka berada di kamar mandi. "Kamu mau ikut mandi denganku, hem?" godanya seraya menaik turunkan kedua alis.


"Dasar mesum!" Zahira mencubit perut Shaka hingga lelaki itu meringis kesakitan. Memang tidak terasa begitu sakit, tapi cukup membuat bulu kudunya merinding seketika. Aliran darah berdesir saat jemari lembut nan halus menyentuh permukaan kulit.


"Kalau emang enggak mau ikut mandi, lalu kenapa kamu menghentikanku? Kamu butuh sesuatu? Jika iya, tunggu aku membersihkan tubuhku sebentar." Harapan dan angan bercinta di bawah gemiricik air sirna begitu saja.


Zahira mengitari tubuh Shaka, menatap suaminya lekat-lekat. "Seingatku, tadi saat kamu pergi ke kantor mengenakan kemeja warna biru navy lalu kenapa sekarang berubah putih? Apa pakaianmu terkena noda saat makan siang?"


Mati aku!


Shaka tersenyum kaku. Sebelah tangannya mengusap tengkuk. Haruskah ia menceritakan kejadian tadi pagi kepada Zahira? Biasanya wanita hamil lebih sensitif, takutnya jika berkata jujur entah apa yang akan terjadi mereka berdua.


...***...

__ADS_1


__ADS_2