Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Aku Bersedia


__ADS_3

"Permisi, Mbak. Apa saya bisa bertemu dengan Pak Irhan?" tanya Ziva pada seorang wanita yang bekerja di bagian resepsionis. Dulu, saat masih tersandung kasus penipuan, ia memang sering keluar masuk kantor firma milik Rio. Akan tetapi, setelah semua selesai dan ia mendapat kompensasi atas kasus tersebut, wanita cantik yang bekerja di bidang modeling sudah tak lagi datang ke kantor tersebut. Oleh karena itu, ia melapor terlebih dulu sebelum bertemu Irhan.


Petugas resepsionis memindai Ziva dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Terlalu banyak klien yang datang dan pergi membuat ia tak mengenali siapa perempuan yang ada di depannya.


"Maaf, apa Nona sudah membuat janji temu dengan Pak Irhan sebelumnya? Saya tidak berani mengganggu Pak Irhan jika Nona belum membuat janji terlebih dulu."


Ziva menarik napas dalam. Ia memang salah karena tak memberitahu Irhan terlebih dulu perihal kedatangannya ke sana. Kedatangannya ke kantor itu memang secara tiba-tiba, tidak ada niat sebelumnya bertemu dengan Irhan. Awalnya ia hanya ingin membesuk Zahira, setelah itu pulang ke rumah. Namun, di tengah jalan berubah pikiran dan ia memutuskan menemui Irhan di kantor.


"Saya belum membuat janji dengannya," jawab Ziva lesu. Dalam benaknya berpikir, haruskah ia mengirimkan pesan pada Irhan dan mengajaknya ketemuan di luar kantor?


"Kalau begitu maaf, Nona tidak bisa bertemu dengan Pak Irhan. Nona bisa datang lagi ke sini jika sudah membuat janji." Lantas, wanita cantik itu tersenyum ramah kepada Ziva.


Duduk di kursi tunggu sambil sesekali memandangi layar ponselnya. Ziva tengah kebingungan, apakah dia harus mengirimkan pesan lalu memberitahu pria itu jika dia ada di kantor dan ingin bertemu dengannya?


"Aah ... udah ah, mendingan aku ngirim pesan aja ke dia daripada nunggu di sini sampai jam istrirahat. Gila aja kalau aku mesti nunggu dua jam di sini, bisa lumutan." Akhirnya Ziva memutuskan mengirimkan pesan pada pria yang selama beberapa bulan ini sedang dekat dengannya.


[Han, aku di lobi. Bisa kamu datang ke sini? Aku enggak bisa masuk karena belum buat janji temu sama kamu.]


Pesan itu telah selesai diketik dan hendak dikirimkan, tetapi suara berat seorang pria menghentikan gerakannya.


"Ziva? Kamu sedang apa di sini?" ujar pria itu yang tak lain adalah Irhan.


Sontak Ziva mendongakan wajah dan memandangi pria itu. Seseorang yang sedari tadi wajahnya menari indah di pelupuk mata.


"Aku nungguin kamu. Tapi kata bagian resepsionis, mereka enggak bisa ngehubungin kamu karena takut ganggu terlebih belum buat janji temu."


Irhan mengalihkan perhatian dari perempuan di sebelahnya dan memandang kesal pada salah satu petugas resepsionis. "Ck, kenapa mereka mempersulitmu sih! Apa mereka enggak tahu kalau wanita cantik di sebelahku ini adalah calon istriku. Dasar!"

__ADS_1


Ziva tersentak beberapa saat ketika mendengar ucapan Irhan. Ada rasa bahagia menelusup ke relung hati yang terdalam. Kini ia merasa hatinya tengah berbunga-bunga dan ribuan kupu-kupu terbang dari dalam perutnya saat ini.


Wanita cantik dengan tinggi semampai menyenggol bahu Irhan pelan. Ia tersipu malu disertai wajah bersemu merah bagai buah tomat segar yang siap dipetik. "Iih, kamu apaan sih. Ngomong sembarangan. Gimana kalau ada gosip tersebar di sini? Kamu enggak takut jadi bahan gunjingan semua orang?"


Irhan tersenyum sambil melirik dengan tatapan penuh cinta. Pertemuan mereka memang tak seromantis seperti drama Korea yang sering ditonton para kawula muda. Mereka bertemu karena sebuah kasus yang menjerat seorang model cantik bernama Ziva hingga akhirnya hubungan keduanya semakin dekat. Saking dekatnya mereka bahkan pernah berbagi peluh di atas ranjang yang sama, saling memuaskan dan bekerjasama untuk meregup nikmatnya surga dunia.


Namun, siapa sangka sejak kejadian itu Irhan jadi tergila-gila. Bukan karena goyangan Ziva yang menurutnya begitu memabukan, tetapi karena sesuatu dalam diri wanita itu yang membuat pria itu begitu yakin menjadikan mantan kliennya sebagai pendamping hidup.


"Bodo amat! Terserah mereka mau ngomongi keburukanku atau enggak, itu bukan urusanku." Irhan merengkuh bahu Ziva. "Ya udah, kamu ikut ke ruanganku aja. Di sana kita bisa ngobrol leluasa. Kebetulan aku sedang tidak banyak kerjaan jadi bisa temanin kamu."


Tanpa membantah sedikit pun, Ziva menuruti perintah Irhan. Keduanya berjalan bersisian menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai lima, tempat Irhan bekerja.


"Selamat datang di ruanganku, Nona Ziva. Silakan masuk!" Irhan membukakan pintu dan mempersilakan Ziva duduk di sofa.


Setelah memastikan Ziva duduk nyaman, barulah Irhan menanyakan tujuan wanita itu datang ke kantor. Karena semenjak kasus Ziva berhasil dimenangkan, wanita itu sudah jarang datang ke sini. Kalaupun bertemu mereka pasti janjian ketemu di restoran ataupun café dekat apartemen Ziva.


Irhan yang kebetulan menatap ke arah Ziva jadi kebingungan, kenapa sikap wanita itu jadi aneh begini? Padahal baru tiga hari tak bertemu, tapi sepertinya ada terjadi sesuatu menimpa Ziva.


"Katakanlah padaku, kamu ada masalah apa. Apa kamu terjerat kasus lagi hingga membuatmu kembali ke sini?" tebak Irhan. Hanya itu yang ada di pikirannya.


Ziva menggeleng kepala cepat. Sedikit kesal karena Irhan menganggap jika dirinya datang ke kantor hanya untuk meminta pengacara membantunya terbebas dari sebuah kasus.


"Lalu?" sambung Irhan. Ia masih penasaran karena sejak tadi Ziva seakan enggan menyampaikan tujuannya datang ke sana.


Ziva mengumpulkan keberanian di dalam dada. Meskipun sebenarnya malu untuk mengatakan, tapi ia merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan apa isi hatinya. Ia mendongakan kepala secara perlahan. Sedikit demi sedikit wajahnya yang cantik jelit menghadap ke sebelah.


"Ehm ... kedatanganku ke sini cuma mau bilang kalau ... aku ... bersedia menjadi pendamping hidupmu, Han. Aku mau jadi istri kamu."

__ADS_1


"Walaupun aku bukan perempuan baik-baik, tapi aku mau berubah menjadi calon istri yang baik buatmu. Aku bersedia menutup lembaran masa laluku, merubah penampilanku dan kalau kamu mau, aku bersedia berhenti dari dunia modeling yang telah membesarkan namaku selama ini asalkan dapat hidup bersama kamu."


Suasana tiba-tiba hening. Tidak ada tanggapan apa pun dari lelaki yang duduk di sebelahnya. Ziva menanti Irhan membuka suara.


Sementara itu, Irhan tampak terkejut akan apa yang baru saja disampaikan Ziva. Ia merasa semua ini seperti mimpi, tak menyangka jika wanita yang pernah menghangatkan ranjangnya ternyata bersedia membina rumah tangga bersamanya.


"Han, kenapa diam aja? Apa kamu enggak senang dengan jawabanku? Apa tawaran itu udah enggak berlaku lagi untukku?" cecar Ziva saat menyadari Irhan tak memberi respon apa pun.


Terdengar helaan napas kasar berasal dari Ziva. "Enggak perlu kamu jawab, aku udah tahu jawabanmu apa." Lantas, ia bangkit dari sofa dan menyampirkan sling bag di pundaknya. "Wanita hina yang menjajakan tubuhnya kepada banyak pria memang tidak pantas untuk dicintai. Kamu pasti malu berdampingan dengan Jal*ng macam aku. Oleh karena itu, demi kebaikan bersama, jangan pernah lagi temui aku. Hubungan kita cukup sampai di sini. Selamat siang!"


Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Ziva berlalu begitu saja. Ia melewati Irhan yang masih membeku di sofa. Namun, saat Ziva hendak meraih handle pintu, tangan kekar Irhan mencekal pergelangan tangan sang model dan dengan sekali gerakan tubuh sintal wanita itu telah berada dalam pelukan.


"Bodoh! Bagaimana berpikiran sempit, hem? Aku diam bukan karena tak mencintaimu atau kedua orang tuaku menolakmu, hanya saja aku masih belum percaya dengan apa yang kudengar barusan. Semua ini seperti mimpi dan aku tak menduga jika cintaku terbalaskan." Irhan membalikan tubuh Ziva hingga mereka saling berhadapan. " Kamu tahu bagaimana perasaanku saat tadi?" Ziva menggelengkan kepala. "Aku tuh seperti merasa sedang terbang ke angkasa, menari bersama burung-burung di atas langit."


"Aku sempat berpikir memilikimu seutuhnya hanyalah angan belaka, tapi siapa sangka justru jadi kenyataan." Irhan menyelipkan anak rambut di daun telinga Ziva. Ia pandangi iris coklat milik wanita itu dengan lekat. "Ziva, aku enggak peduli dengan masa lalumu seperti apa sebab diriku pun bukanlah pria baik-baik. Selama ini diriku sering tidur dengan perempuan berbeda-beda dan rajin keluar masuk club malam. Namun, bukankah seseorang bisa berubah menjadi manusia lebih baik lagi?"


"Aku sungguh mencintaimu, Ziva. Aku ingin kita berdua sama-sama memperbaiki diri dan kembali ke jalan yang benar. Kamu dan aku, kita bersama-sama membina rumah tangga dan membesarkan anak-anak kita dengan penuh cinta."


"Aku-"


Belum selesai Irhan berbicara, bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir ranum Ziva. Wanita itu melumaat dan menyesap bibir sang lelaki dengan perlahan.


"Jangan banyak bicara! Tunjukan kesungguhanmu kepadaku. Temui om dan tanteku, katakan kapan kamu mau menikahiku."


Masih dalam posisi berhadapan, Irhan mengusap pipi Ziva menggunakan kedua ibu jari. "Baiklah. Aku akan minta Papa dan Mama datang menemuimu. Akan kulamar kamu secepatnya, Sweetheart, biar kita bisa leluasa bermain di atas ranjang tanpa takut dosa." Kerlingan sebelah mata pria itu berikan untuk menggoda calon istrinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2