
"K-kenapa kamu tidak marah padaku? Apa kamu tidak cemburu menddngar bahwa suamimu begitu mencintai wanita lain?" kata Ziva tergagap. Sungguh ia tak percaya akan respon yang ditunjukan Zahira kepadanya hari ini. Ia pikir gadis di seberang sana akan terpancing emosi dan masuk dalam perangkapnya.
Mendengar pertanyaan Ziva, membuat Zahira tersenyum manis hingga sepasang mata sipit semakin tak menyipit. "Sebagai seorang istri tentu saja aku cemburu mendengar bahwa lelaki yang menikahiku satu bulan lalu begitu mencintai wanita lain. Bukan cuma cemburu, tapi aku pun ingin sekali meluapkan kekesalanku kepadamu dan juga Shaka. Namun, apa dengan cara seperti itu dapat menyesaikan semua masalah? Apa dengan cara itu dapat mengembalikan semua waktu yang telah berlalu? Tentu jawabanya adalah, tidak."
"Semua yang terjadi di antara kalian, tidak bisa dirubah. Kenangan itu akan terus ada dan tercatat di lembaran kisah asmara antara kamu dan suamiku. Lagi pula, itu semua hanyalah masa lalu pun begitu denganmu, kamu merupakan salah satu dari masa lalu suamiku. Jadi, untuk apa aku marah dan cemburu toh kisah di antara kalian tak akan terulang lagi," imbuh Zahira. "Masa depan Shaka saat ini adalah bersamaku, bukan kamu."
Ziva mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ucapan yang diucapkan oleh bibirnya malah menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Sungguh menyebalkan!
Akan tetapi, Ziva berusaha mengendalikan diri yang hampir meledak. Ia salah sangka jika Zahira bukanlah wanita lemah, mudah terprovokasi dan mudah tersinggung. Mantan teman seangkatannya adalah sosok perempuan tegas, tenang dan dapat berpikir jernih meski di hadapkan pada sebuah masalah besar yang nyaris mengancam rumah tangganya.
"Kamu benar, masa lalu Shaka ada bersamamu, tapi apa kamu yakin jika cinta dan hatinya hanya untukmu? Secara kita semua tahu pria itu menikahimu atas kemauanmu sendiri bukan atas nama cinta," skak Ziva yang mana perkataan itu kembali mengingatkan Zahira akan kebodohannya di masa lalu.
Akibat rasa cinta yang begitu besar membuat Zahira menjadi tidak waras hingga dengan suka rela menawarkan diri menjadi pengantin pengganti untuk sahabatnya sendiri. Bersedia mengambil resiko apa pun asalkan dapat merasakan bagaimana rasanya berdampingan dengan sosok lelaki yang ia cintai.
Bibir bungkam seketika. Lidah pun terasa kelu tak mampu berkata apa-apa. Perkataan Ziva barusan berhasil meruntuhkan keberanian yang dibangun Zahira beberapa saat lalu.
Menarik napas dalam, kemudian memejamkan mata sejenak. Zahira mencoba mengendalikan diri agar tak terjebak dalam permainan Ziva. Ia tahu bahwa wanita licik itu punya seribu satu satu macam cara mencapai tujuan yang diinginkan.
Ra, jangan terpancing oleh omongan Ziva. Ingat, tujuan wanita itu menemuimu adalah untuk merusak rumah tanggamu. Jadikan pengalaman Bundamu untuk mempertahankan sesuatu yang telah menjadi hakmu, batin Zahira mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak goyah meski badai datang menghadang. Lantas, ia kembali teringat akan nasihat yang disampaikan Arumi agar memberantas para pelakor yang hendak merebut suami kita.
Lagi dan lagi Zahira tersenyum manis di hadapan Ziva. "Kamu benar, Shaka menikahiku atas keinginanku dan tentunya atas desakan Mama Rini yang nyaris saja menanggung malu akibat kelakukan calon pengantin wanita yang kabur saat akad nikah hendak diikrarkan. Coba kamu bayangkan bagaimana pandangan orang banyak bila saat itu pernikahan tersebut batal? Bukankah secara tidak langsung kamu telah melemparkan kotoran ke muka keluarga Shaka serta Om dan Tantemu sendiri, Va?"
"Berdalih ingin mengejar cita-cita menjadi model internasional, kamu tega meninggalkan pria yang benar-benar tulus mencintai dan menyayangimu. Kamu tega menyakiti perasaan Shaka demi egomu sendiri. Benar-benar tega kamu!" ucap Zahira dengan bibir gemetar. Ia tak terima akan sikap Ziva yang dengan sengaja melukai hati sahabat masa kecilnya.
Terlahir dari dua orang wanita bersahabat dan jarak waktu tak terlalu jauh membuat Zahira seakan mempunyai ikatan tersendiri dengan Shaka. Mereka tumbuh bersama, bermain bersama dan pernah makan dalam wadah yang sama pula. Ia pun tahu betul bagaimana bobroknya Shaka, kebiasaan buruk apa yang dimiliki oleh lelaki itu. Jadi, saat ada seseorang yang dengan sengaja menyakiti hati Shaka, tentu saja ia tidak terima. Terlebih lelaki itu adalah sang pujaan hati.
__ADS_1
"Setelah kelakuanmu itu, kamu datang kembali ke Indonesia dan dengan tidak malunya kamu memintaku menjauhi Shaka dan mengembalikan dia kepadamu, disitu waras, Mbak?" cibir Zahira sambari menatap sinis ke arah Ziva. "Setidaknya aku lebih terhormat karena menawarkan diri untuk dinikahi orang lain daripada kabur setelah keluar negeri dengan dalih mengejar cita-cita, tapi malah bercumbu dengan lelaki lain. Cih, benar-benar menjijikan!"
"Zahira, tutup mulutmu!" bentak Ziva sambil menggebrak meja. Suasana yang semula ricuh tiba-tiba hening seketika saat mendengar keributan dari meja nomor dua puluh, dekat jendela besar menghadap taman. "Jangan pernah kamu menghinaku seperti itu!"
Zahira tersenyum bahagia karena berhasil membalikan suasana. Bahkan menjadikan Ziva pusat perhatian semua orang.
"Kenapa marah? Bukankah memang kenyataannya begitu? Kamu menolak dihalalkan oleh seorang lelaki, tapi kamu malah memberikan tubuhmu kepada lelaki yang bukan suamimu. Kamu lebih memilih berzina daripada berhubungan intim dengan lelaki yang sebentar lagi sah menjadi suamimu. Kamu adalah wanita egois dan murahan yang pernah aku temui!" ujar Zahira dengan menekankan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya yang ranum dan kini menjadi candu bagi Shaka.
Habis sudah kesabaran Ziva. Harga diri merasa diinjak-injak sebab ia dipermalukan di hadapan semua orang. Ia tidak terima diperlakukan seperti itu.
Dengan gerakan cepat Ziva mengarahkan telapak tangan ke depan, menuju wajah mulus istri dari sang mantan tunangan. Akan tetapi, tangan kekar seseorang mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan pernah menyentuh istriku jika tidak ingin kupatahkan tanganmu itu!" seru lelaki itu dengan nada tinggi.
Suasana semakin tegang tatkala kehadiran seseorang di tengah perdebatan antara kedua wanita yang hadir dalam hidup Shaka. Satu wanita di masa lalu dan satu lagi merupakan masa depan sang pengacara.
"Tentu saja menghentikan kegilaanmu, Ziva!" ucap Shaka dingin seraya menghempaskan tangan mantan tunangannya itu dengan kasar. "Kamu pikir aku mau apa ke sini, heh? Menemuimu, begitu? Jangan mimpi!"
"Kedatanganku ke sini hanya ingin menjemput istriku yang nyaris saja kamu rusak pipinya. Andai saja aku tidak bertindak cepat mungkin saat ini bekas tamparanmu membekas di pipi mulus istriku," desis Shaka lirih. "Apabila hal itu terjadi maka aku tidak akan pernah segan mematahkan tanganmu ini agar karirmu benar-benar hancur sebagai seorang model."
Napas Shaka memburu, masih dengan emosi tak terbendung. Ia nyaris saja mematahkan pergelangan tangan wanita itu jika tak melihat sorot mata teduh bersumber dari sang istri.
"Shaka ... kamu tega melakukan itu padaku? Pada wanita yang kamu cintai?" ucap Ziva sesumbar mungkin.
Seringai menakutkan Shaka tunjukan di hadapan Ziva, dan hal itu membuat sang model merinding seketika. Seumur hidup, tak pernah ia melihat sisi menakutkan dari seorang Shaka Abimana.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Bukankah aku pernah bilang jika kita sudah tak mempunyai hubungan apa pun, lalu kenapa aku tidak tega melukaimu?" jawab Shaka masih dengan mata memerah. "Jangan mentang-mentang kita mempunyai kenangan manis di masa lalu, kamu beranggapan aku akan lemah di hadapanmu, kamu salah, Ziva!"
"Aku memang tidak pernah berbuat kasar kepadamu. Sekalipun tingkahmu tak jarang membuat kepalaku sakit, tapi aku tetap mencoba bersadar dan mengendalikan diri untuk tidak berbuat kasar. Namun, kali ini berbeda. Aku ... Shaka Abiman tidak segan berbuat kasar apabila kamu berani menyentuh Zahira seujung rambut pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Zahira yang sedari diam hanya dapat mengerjapkan mata saat melihat Shaka berdiri dengan gagah berani di hadapannya. Tangan kekar itu memperlihatkan otot maskulin yang menonjol ke permukaan membuat dokter cantik terkesiap beberapa saat.
Dibela sedemikian besar oleh Shaka sudah membuat Zahira merasa bahwa dirinya memang merasa dimiliki oleh seseorang. Rasanya, ia masih sanggup berperang ratusan kali dengan Ziva jika Shaka membelanya di hadapan semua orang.
"Shaka ... a-aku--"
"Sudah cukup Ziva! Aku tidak perlu mendengar apa pun lagi dari mulutmu itu. Ini pertama dan terakhir kalinya aku melihatmu hendak menyakiti Zahira. Bila di kemudian hari aku mendapatimu melakukan hal yang sama maka bersiaplah menerima nasib burukmu. Meskipun karir dan nama baikku taruhannya, aku tidak peduli asalkan aku berhasil membalas perbuatanmu terhadap istriku," ucap Shaka tegas.
Shaka mengalihkan perhatian pada sosok gadis cantik di sebelahnya. Bila saat berhadapan dengan Ziva wajah Shaka memerah dan memancarkan sorot mata penuh kemarahan, beda halnya saat lelaki itu memandangi sang istri. Senyuman merekah di sudut bibirnya yang begitu menggoda.
"Ra, kita tinggalkan tempat ini segera. Aku enggak mau kamu disakiti lagi oleh Ziva." Shaka mengulurkan tangan ke hadapan Zahira, mencoba membantu gadis itu bangkit dari sofa. "Pertemuan kali ini cukup berakhir di sini saja. Mau urusan kali sudah selesai ataupun tidak, aku minta akhiri saja sampai di sini. Ke depannya jangan pernah temui dia lagi."
Saat Shaka mengucapkan kalimat terakhir, ia sengaja menatap sinis kepada sosok perempuan yang menemaninya selama enam tahun. Menjadi tempatnya berbagi suka cita dan tempat bersandar di saat ia merasa lelah akan rutinitas pekerjaan yang tak pernah usai.
"Ayo, kita pulang sekarang!" imbuh Shaka sambil menggenggam jemari lentik milik Zahira. Tanpa menunggu waktu lama, mereka berlenggang begitu saja meninggalkan café tersebut.
Sementara Ziva hanya dapat memendam kemarahan dalam diri. Tangan wanita itu mengepal di samping tubuh berusaha mengendalikan diri. "Kalian berdua benar-benar keterlaluan!" ucapnya lirih.
Merasa dirinya menjadi pusat perhatian, Ziva memutuskan meninggalkan tempat itu. Namun, sebelum melajukan kendaraan roda empatnya, ia lebih dulu melakukan pembayaran di kasir.
.
__ADS_1
.
.