
Hari ini Shaka memutuskan untuk tidak pergi bekerja. Ia sengaja mengambil cuti selama beberapa hari untuk menjaga serta merawat Zahira meski sudah ada perawat yang bersedia menjaga selama 24 jam, tetapi suami dokter cantik tidak mau melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang suami begitu saja. Tadi pagi saat meminta izin kepada Rio, ia turut memberitahu kabar Zahira yang sedang dirawat di rumah sakit kepada kedua orang tuanya berikut sang mertua. Secepat mungkin mereka pergi ke rumah sakit karena ingin mengetahui kabar terbaru dari Zahira.
"Daripada aku berjalan tidak tentu arah, sebaiknya pergi ke café. Di sana aku bisa duduk santai, menikmati secangkir kopi hangat sembari mencari tahu berita terbaru keberadaan Ziva di Singapura," gumam Shaka saat ia menyusuri lorong rumah sakit yang cukup sepi. Maklum saja, lantai tempat Zahira dirawat diperuntukan khusus bagi pasien VVIP yang kebanyakan dari mereka merupakan golongan orang berada jadi tidak heran hanya segelintir orang saja yang menempati lantai tersebut.
Shaka sudah bersiap masuk ke dalam lift, namun saat telapak tangan menyentuh saku celana, ia merasakan ada sesuatu benda yang hilang. Menepuk kening pelan sambil berkata, "Bodoh! Bagaimana aku bisa melupakan benda penting seperti itu sih! Tanpa adanya telepon genggam itu, aku tidak dapat menghubungi orang kepercayaanku." Tanpa berpikir dua kali, ia memutuskan kembali ke ruang perawatan mengambil ponsel miliknya.
Akan tetapi, saat Shaka sudah tiba di ruangan ia melihat Nizam tengah menaruh stetoskop di bagian dada Zahira. Tidak terima jika ada lelaki lain menyentuh tubuh istrinya, ia bergerak cepat dan mencekal tangan sang dokter.
"Apa yang ingin Dokter lakukan?" ujar Shaka dengan nada emosi. Sontak, suara lantang pria itu membuat semua orang menatap ke arahnya. Nizam menatap pria itu bingung, begitu pula dengan Zahira dan perawat.
Rasa panas menjalar ke seluruh tubuh saat melihat secara langsung bagaimana tangan lelaki lain menyentuh tubuh sang istri. Meskipun terhalangi sebuah benda bundar terbuat dari logam, tetap saja ia tidak terima seorang wanita berstatuskan sebagai istrinya dijamah pria lain sekalipun itu adalah dokter.
Setelah melewati perdebatan yang cukup alot di mana Nizam tak dapat menandingi kepiawaian Shaka dalam berdebat karena pria itu memang begitu mahir berbicara di hadapan banyak orang saat menangani sebuah kasus di persiadangan, mau tidak mau Nizam mengalah dan tak memperpanjang masalah.
Menghela napas panjang seraya mengangkat kembali stetoskop tersebut. "Suster, tolong kamu bantu saya menaruh stetoskop ini di depan dada Dokter Zahira. Ikuti instruksi saya kapan harus berpindah tempat," titahnya kepada seorang perawat wanita di sebelahnya. Mengambil jalan tengah untuk mengatasi masalah yang sedang terjadi.
Membiarkan Zahira tanpa melakukan pemeriksaan fisik, tentu saja tidak mungkin sebab pemeriksaan tersebut merupakan rangkaian penting yang harus dilakukan seorang dokter untuk mengetahui adakah kesehatan fisik dari sang pasien.
Selama melakukan pemeriksaan, gerak gerik Nizam tidak luput dari pandangan. Ekor mata tajam memperhatikan ke mana gerakan tangan lelaki itu bergerak. Apabila sedikit saja menyentuh tubuh Zahira, ia tidak segan memberikan teguran kepada Nizam.
"Alhamdulillah, hasil pemeriksaan fisik serta tanda-tanda vital Dokter Zahira dalam keadaan normal semua. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya butuh istirahat dan obat penambah darah agar kondisi tubuh segera pula." Nizam melepaskan bagian ujung stetoskop dari telinga, kemudian menggantungkannya kembali di leher.
__ADS_1
Nizam mengeluarkan sebuah pulpen berikut buku catatan kecil dari saku snelli, kemudian tangannya sibuk mencatat resep obat yang harus ditebus oleh keluarga pasien. Setelah selesai barulah menyodorkan secarik kertas tersebut kepada Shaka. "Pak Shaka, ini resep obat penambah darah untuk Dokter Zahira. Bapak bisa menebusnya di apotik."
Shaka menerima kertas tersebut. "Terima kasih," jawabnya singkat dengan nada dingin dan sorot mata tajam.
***
Satu kantong plastik warna putih dengan bagian depannya terdapat nama rumah sakit serta logo rumah sakit berada dalam genggaman tangan Shaka. Ia baru saja menebus resep obat yang diberikan Nizam kepadanya.
Saat Shaka masuk ke ruang perawatan, ternyata di sana sudah ada orang tua serta mertuanya. "Kalian sudah datang rupanya." Pria itu melangkah masuk dan menyalami keempat orang tua tersebut.
"Iya, kami baru saja sampai," jawab Arumi lembut.
"Sayang, sebetulnya kamu sakit apa sih, Nak, kok bisa sampai dirawat segala." Rini--mertua Zahira begitu mencemaskan anak dari sahabatnya.
"Bukan hanya kecapekan, kurang darah tetapi juga stress akibat kamu mencari penyakit sendiri dengan menggantikan Ziva sebagai pengantin. Andai saja waktu itu kamu tidak menawarkan diri mungkin saat ini jarum infus sialan itu tidak melukai punggung tanganmu!" sembur Rayyan dengan nada dingin yang mana membuat semua orang bungkam seketika.
Suasana hening tercipta tatkala seorang pria paruh baya yang dikenal mempunyai sifat dingin di luar tetapi sangat hangat di dalam ikut mengutarakan isi hatinya di hadapan semua orang. Sebagai dokter senior serta mempunyai jaringan cukup luas membuat ia tak begitu kesulitan mendapatkan informasi mengenai kesehatan sang anak. Tanpa susah payah bertanya sudah ada orang yang memberikan informasi kepadanya.
Arumi duduk di sebelah Rayyan. "Jangan membahas sesuatu yang sudah terjadi, Mas, tidak baik. Lagipula, kejadian itu telah berlangsung beberap hari yang lalu. Sudah ya, jangan diungkit lagi." bisiknya lembut melingkarkan tangan di lengan suaminya. Ia usap dada bidang nan datar yang biasa dijadikan bantalan saat sedang rebahan dengan lembut. "Nasi sudah menjadi bubur, tak perlu disesali lagi."
Dada kembang kempis ketika ucapan Arumi mulai masuk ke telinganya. Apu berkobar di dalam dada perlahan tersiram dengan bujukan sang istri.
__ADS_1
"Jangan membuat Zahira semakin kepikiran, Mas. Kasihan dia," ucap Arumi kembali menenangkan. Membelai wajah dan dada Rayyan.
Rayyan menarik napas dalam, kemudian mengembuskan secara perlahan. Melihat amarah dalam diri pria paruh bayah berwajah oriental mulai sirna membuat semua orang dalam ruangan itu dapat menghena napas lega.
"Untung saja sahabatmu dapat menjinakkan naga jantan di depan sana. Kalau tidak, kita semua pasti mendapatkan semburan yang mematikan," bisik Rio di telinga Rini.
Rini mendelik ke arah sang suami. "Bukan saatnya berkelakar, Pa." Wanita itu menegur suaminya untuk tidak berbicara omong kosong.
Besan Arumi mengalihkan pandangan ke arah Zahira. "Selain banyak pikiran dan kurang darah, apakah ada diagnosa lain yang disampaikan dokter?" sambung Rini.
"Tidak ada, Ma. Dokter hanya memintaku banyak istirahat selama dua hari ke depan," jawab Zahira cepat.
Rio bangkit dari kursi, kemudian menepuk bahu Shaka yang sedari tadi bungkam setelah mendengar ucapan Rayyan. "Sementara waktu kamu rawat Zahira dengan baik, Nak. Urusan pekerjaan serahkan saja kepada Papa dan tim. Kami percayakan Zahira kepadamu."
Shaka menganggukan kepala. "Baik, Pa" katanya lirih. Ia masih cukup terkejut atas kejadian beberapa saat lalu. Perkataan Rayyan bagaikan cambuk besar, menghantam tubuhnya.
.
.
.
__ADS_1
Halo semua yuk mampir ke karya teman author. Kisahnya dijamin seru nih. Judul karya dan nama pena ada di bawah sini. 👇