
"Mbak, apa Bu Arumi dan Pak Rayyan ada di dalam?" tanya Rini kepada salah satu asisten rumah tangga kediaman Wijaya Kusuma.
"Ada, Bu. Mereka sedang ada di ruang keluarga," jawab Tina ramah. Lantas, dia menggeser tubuhnya demi mempersilakan sahabat dari sang majikan untuk masuk ke dalam rumah.
Setelah dipersilakan masuk, barulah Rini melangkah maju ke depan menuju ruang keluarga. Dia berjalan setengah berlari menemui sahabat sekaligus besannya itu. Tak sulit bagi wanita itu menemukan di mana letak ruang keluarga sebab sudah bertahun-tahun dia keluar masuk rumah peninggalan mertua Arumi.
Kurang dari lima menit, Rini telah sampai di ruang keluarga. Di sana ada Arumi dan Rayyan tengah duduk dengan gelisah seolah baru saja terjadi sesuatu. Firasatnya semakin kuat saat sayup terdengar pasangan di depan sana mengatakan kata 'cerai'.
"Bagaimana ini, Yah, kalau Zahira betulan mau cerai dari Shaka?" kata Arumi. Sedari tadi, kedua tangan wanita itu saling mencengkeram satu sama lain. Tubuhnya bergerak gelisah tanpa bisa dihentikan. Sungguh, dia sangat mencemaskan nasib rumah tangga anak tercinta.
Rayyan memijat pelipisnya secara perlahan. Mendadak kepala pria itu terasa pening usai mendengar niatan Zahira yang ingin berpisah dengan Shaka. "Entahlah, Babe, aku pun tidak tahu. Pikiranku saat ini tak bisa berpikir jernih. Semuanya begitu tiba-tiba."
"Bahaya! Benar-benar bahaya ini!" gumam Rini lirih setelah mendengar percakapan antara Arumi dan Rayyan. Tanpa membuang waktu dia kembali mengayunkan kaki.
"Rumi!" seru Rini. Tampak jelas gurat kecemasan di wajahnya yang cantik jelita. Napas terengah-engah, sepertinya efek berjalan setengah berlari membuat wanita itu kelelahan. Maklum, usia sudah kepala lima jadi stamina semakin menurun.
"Loh, Rini, kamu kok ada di sini?" tanya Arumi. Dia bangkit menyambut sang sahabat. Alis wanita itu masih mengerut sebab tidak tahu kenapa besannya itu kebetulan sekali ada di sana.
"Iya, tadi aku di telepon Shaka dan dia memintaku segera datang ke sini. Katanya Rara mau minta pisah dari Shaka," sahut Rini. Saat ini dia sedang duduk bersama Arumi dan Rayyan.
Arumi menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan. "Benar, Rin. Rara tadi menyampaikan niatannya untuk pisah dari Shaka. Aku dan Mas Rayyan sudah membujuknya dengan segala macam cara. Namun, dia bersikeras mengambil perceraian sebagai jalan terakhir."
"Astaga, kenapa bisa runyam begini sih masalahnya. Kupikir semua akan baik-baik saja setelah Shaka meminta maaf, tapi ternyata ...."
"Mama!" seruan lantang menghentikan percakapan Rini dengan sahabatnya. Wanita paruh baya itu mendongakan kepala dan mendapati Shaka berdiri dengan wajah pucat pasi di depan sana.
Rini bangkit dari sofa, kemudian berkata, "Rumi, Rayyan, aku permisi sebentar. Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan dengan Shaka." Tanpa memberikan kesempatan kepada Arumi ataupun Rayyan berbicara, dia sudah lebih dulu menghampiri sang putra.
"Ma ... Rara ... a-aku tidak mau cerai dari dia," ucap Shaka terbata. Suara pria itu gemetar kala mengucapkan kalimat tersebut.
__ADS_1
Rini menarik tangan Shaka, menjauhi ruang keluarga. Dia membawa pergi anaknya menuju taman belakang agar percakapan mereka nanti tidak didengar oleh siapa pun. Dia ingin mengintrogasi anaknya itu.
"Katakan pada Mama, kenapa ini bisa terjadi? Kesalahan apa lagi yang kamu perbuat hingga Rara betulan ingin cerai dari kamu!" bentak Rini sembari menghempaskan tangan anaknya begitu saja. Kemarahan dalam diri wanita itu tak bisa terbendung lagi. Kelakukan Shaka benar-benar menguji kesabarannya. Dibandingkan dengan kedua kakak Shaka, hanya si bungsulah yang membuat wanita itu naik pitam.
Shaka menggelengkan kepala cepat. Dengan suara tercekat dia berkata, "Aku tidak melakukan apa pun lagi, Ma. Semalam aku cuma minta maaf dan mengakui kesalahanku karena telah berbohong. Namun, tanpa diduga Rara malah membicarakan soal perceraian."
"Jangan bohong kamu! Mana mungkin ada asap kalau tidak ada api!" sembur Rini dengan kilatan emosi tercipta di bola matanya yang jernih.
"Demi Tuhan, aku tidak bohong!" Jari telunjuk dan jari tengah Shaka terangkat ke udara membentuk huruf V. "Aku berkata jujur pada Mama. Sungguh."
Rini menghela napas dalam. Tidak ada alasan bagi wanita itu untuk tidak mempercayai Shaka kalau anaknya sudah bersumpah atas nama Tuhan. Ya, sebagai umat beragama tentu saja kita tidak boleh sembarangan bersumpah apalagi membawa nama-nama Tuhan. Terlebih wanita paruh baya itu melihat dari sorot mata Shaka tak ada sedikit pun kebohongan di sana.
"Apa saja yang kalian bicarakan semalam, Mama ingin dengar." Rini sedikit penasaran dengan percakapan antara anak dan menantunya semalam. Siapa tahu dari keterangan Shaka, dia dapat mengambil solusi atas kejadian ini.
Mendengar pertanyaan Rini, tentu saja dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Shaka. Dia mulai menceritakan kejadian semalam tanpa ada satu hal pun terlewatkan. Berharap dengan begini sang mama bisa membantunya, mempertahankan rumah tangga bersama Zahira.
"Begitulah, Ma, kejadiannya. Aku cukup terkejut saat mendengar niatan Zahira. Kupikir, dengan meminta maaf hubungan kami bisa berlanjut dan memulai semuanya dari nol. Namun, ternyata dugaanku salah. Rara malah minta cerai kalau dia mau memaafkanku." Tampak jelas gurat kesedihan di wajahnya yang rupawan. Sungguh, dia tak pernah berpikir rumah tangganya yang baru berjalan satu bulan kurang akan berakhir di meja sidang.
"Mama tidak tahu harus membujuk Rara bagaimana, Ka. Tampaknya keputusan istrimu tak bisa diganggu gugat. Mertuamu saja tidak bisa membujuknya apalagi Mama." Rini berkata dengan sangat lirih. Tak menyangka jika ucapannya semalam benar-benar menjadi kenyataan. Kalimat yang mengatakan seandainya dia ada di posisi Zahira maka akan meninggalkan Shaka sebab tidak tahan bila hidup bersama dengan suami pembohong.
Rupanya alam semesta mengabulkan perkataan Rini. Tadi malam Zahira meminta Shaka menceraikannya. Sebagai seorang ibu tentu saja dia menyesal karena telah berkata sembarangan. Mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan oleh seorang ibu.
Shaka menghampiri mama-nya. "Mama, kumohon bujuk Rara untuk tidak menggugat cerai aku. Aku tidak mau pisah dari dia," pintanya bersungguh-sungguh.
Saat mendengar Zahira meminta pernikahan mereka diakhir, detik itu juga dia merasa seakan isi bumi ini runtuh menimpanya. Dia bisa merelakan Ziva pergi namun tidak dengan Zahira. Bagi Shaka, Zahira bukan hanya sahabat, istri tetapi juga penyemangat hidupnya.
Shaka bersimpuh di hadapan Rini, menggenggam tangan wanita itu dengan begitu erat. "Seumur hidup, aku tidak pernah meminta apa pun kepadamu, Ma. Namun, untuk kali ini aku mohon bujuk Rara untuk membatalkan perceraian kami." Bola mata pria itu mulai berkaca-kaca. Membayangkan dia hidup sendirian tanpa ditemani Zahira membuat wajahnya semakin murung, tak ada lagi sinar cerah saat bersama Zahira.
Rini menatap lekat dan dalam iris coklat milik anak tercinta. Setiap kalimat yang terucap benar-benar tulus dari lubuk hatinya yang terdalam. "Jawab pertanyaan Mama dengan jujur, Nak. Apa kamu cinta sama Zahira?"
__ADS_1
Shaka terdiam. Rasanya mustahil sekali bila dia mencintai sahabatnya sendiri. Pria itu memang menyayangi Zahira dan selalu ingin berada di dekat gadis itu. Namun, untuk mencintai?
"Shaka ... kalau kamu memang tidak cinta sama Zahira, lepaskan dia. Jangan paksakan dirimu untuk terus bertahan. Yang ada, kalian akan saling menyakiti satu sama lain. Jadi, Mama pikir perpisahan merupakan jalan terbaik bagi kalian," kata Rini saat Shaka terus bergeming di tempat.
Shaka tertunduk, menatap bayangan dirinya di lantai. Jujur, dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya terhadap Zahira. Akan tetapi, saat membayangkan mereka bercerai dan hidup masing-masing hati pria itu sakit bagai tusuk oleh sebilah pisau tajam. Membayangkan Zahira menikah, melahirkan dan hidup bersama lelaki lain pasca mereka bercerai semakin membuat perasaan pria itu tak karuan.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaanku terhadap Zahira, Ma. Tapi kalau aku diberi kesempatan sekali lagi maka aku akan mencoba belajar mencintai dia dan melupakan Ziva. Aku janji tidak mengulangi kesalahan yang sama," kata Shaka lirih.
Seulas senyuman tipis terlukis di sudut bibir Rini kala mendengar penuturan Shaka. Shaka ... Shaka. Tanpa kamu sadari sebenarnya dirimu itu cinta sama Zahira, tapi kamu tidak menyadarinya. Kamu hanya mengira kalau perasaanmu terhadap Zahira hanya sebatas sahabat. Tapi rupanya ....
Menggelengkan kepala cepat. Berpikir kini bukan saatnya Rini bermonolog. "Baiklah, Mama coba bantu kamu untuk meyakinkan Zahira. Tapi ingat, jangan bohongi dia lagi!" tutur Rini yang mana perkataan wanita itu membuat senyuman di wajah Shaka terbit.
Dengan antusian Shaka menjawab, "Aku janji, Ma!"
"Awas saja kalau kamu ingkar! Mama minta Papa dan Ayah mertuamu menggantungmu di pohon toge."
Shaka bangkit, kemudian duduk di sebelah Rini. Tangan pria itu merangkul lengan sang mama. "Iih ... Mama. Kok tega sih sama anak sendiri. Memangnya Mama tidak sayang kepadaku?" Menggerakan badannya ke bahu Rini seperti anak kucing yang sedang ngusel-ngusel majikannya.
Rini mencibir dan memutar bola mata malas. "Mama tidak menyayangi anak nakal sepertimu!" Sengaja meninggikan nada bicara seolah-olah sedang marah. Namun, jauh di lubuk hati yang terdalam dia menyukai sikap anaknya yang terkesan manja.
Shaka meletakkan kepalanya di pundak Rini. Dengan lemah lembut berkata, "Terima kasih karena Mama bersedia membantuku. I love you, Mama." Perkataan itu diakhiri dengan sebuah ciuman penuh cinta di pipi sang mama.
.
.
.
Halo semua, author mau mempromosikan karya punya teman nih. Yuk dikepoin.
__ADS_1