
Tiba di depan pintu kamar yang terbuka sedikit, Rini memberanikan diri mengetuk daun pintu. Dia bertekad membantu kemelut rumah tangga yang membelenggu anak serta menantunya. "Ra, ini Mama. Apa Mama boleh masuk?" tanya wanita itu.
"Masuk saja, Ma! Pintu kamarnya tidak aku kunci," sahut Zahira mempersilakan mama mertuanya masuk ke dalam kamar Shakeela.
"Sayang, Mama mau bicara empat mata denganmu, boleh?" Sebelum memulai percakapan, Rini terlebih dulu meminta izin pada Zahira sebagi pemanasan sebelum masuk ke inti permasalahan.
Zahira melirik ke arah Shakeela yang sedang duduk di kursi belajar. "Sha, tolong tinggalkan Kakak dan Mama Rini berdua. Kamu lanjut ngerjain tugas kuliahmu di gazebo taman belakang saja," katanya.
Shakeela mengerti akan situasi panas yang terjadi di rumah itu. Lantas, dia memasukan laptop serta alat tulis dan buku paket ke dalam tas kemudian beranjak dari kursi. "Ya sudah, kalau begitu aku keluar dulu."
Setelah mendengar langkah kaki menjauh, Rini mendekati tempat tidur. Di sana sang menantu sedang duduk sambil memandangi pemandangan taman belakang dari dalam kamar. Pepohonan hijau, tanaman aneka ragam warna serta birunya langit menjadi pemandangan indah tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.
"Mama sudah dengar berita yang mengatakan kalau kamu ingin pisah dari Shaka. Namun, Mama belum percaya 100% kalau tidak berasal dari bibirmu sendiri. Sayang, apa kamu benar-benar ingin bercerai dari anak Mama?" ucap Rini lemah lembut, membelai rambut harum. Dia menggunkan sedikit ilmu yang didapat saat masih kuliah dulu. Melakukan pendekatan kepada pasiennya sebelum akhirnya dia bisa mengorek masalah apa yang tengah di hadapai oleh sang pasien.
Menarik napas, berpikir sejenak, kemudian Zahira berkata, "Benar, Ma. Aku sudah putuskan bercerai dari Shaka. Kupikir inilah satu-satunya jalan bagi kami keluar dari masalah ini sebab jika terus bertahan hanya akan saling menyakiti satu sama lain."
"Meskipun pada akhirnya kamu terluka karena melepaskan cintamu?" tebak Rini.
Rini bukanlah gadis remaja berusia belasan tahun, dia sudah lama hidup di dunia mengecap asam manisnya kehidupan. Terlebih dia berprofesi sebagai psiakter sedikit banyak tahu sifat, watak dan apa yang dirasakan oleh seseorang walau hanya lewat gerak gerik saja. Oleh karena itu, saat Zahira menawarkan diri menggantikan Ziva, firasatnya mengatakan kalau keponakan tercinta melakukan itu bukan sekadar ingin menutupi aib keluarga melainkan juga ada sebab lain yang hanya diketahui oleh Arumi dan Zahira saja.
Mana ada sih zaman sekarang ada seseorang yang menawarkan diri tanpa ada tujuan lain. Rini bukannya tidak suka, dia malah bahagia sekali mendengar keponakan tersayang berniat menggantikan Ziva. Di tengah kesedihan mendera, hati wanita itu berbunga-bunga sebab do'a yang dipanjatkan kepada Tuhan untuk menjodohkan Shaka dan Zahira akhirnya terkabul. Maka dari itu, dia menyambut niat baik Zahira dengan antusias.
__ADS_1
Seketika tubuh Zahira menegang saat isi hatinya diketahui orang lain. Selama ini dia pikir hanya Arumi saja yang mengetahui isi hatinya terhadap Shaka, tapi rupanya Rini pun tahu apa yang dirasakan olehnya selama ini.
"Mama tahu bagaimana sakitnya dibohongi. Ya ... walaupun Papa Rio belum pernah berbohong tapi Mama bisa merasakannya sendiri saat Bundamu dikhianati oleh mantan suaminya yang pertama." Rini menjeda kalimatnya, menghirup napas panjang dan dalam. Setiap kali ingat kejadian itu, dia pun merasa sesak bagai ada sebongkah batu besar menghimpit dada. "Kamu pasti tahu cerita masa lalu Bundamu sebelum menikah dengan Ayahmu, 'kan?"
Rini duduk di sebelah Zahira, memberi jarak sekitar satu jengkal dari posisi menantunya berada sekarang. "Kami bersahabat sejak kecil. Bahagia, sedih, tawa dan menangis sudah kami lalui bersama dan itu semua membuat kami seperti memiliki ikatan batin. Jadi saat ada orang lain menyakiti Mama maupun Bundamu maka kami akan merasakannya juga. Pun begitu saat Bundamu dikianati, Mama bisa merasakan penderitaan sahabatku itu."
"Lalu dalam kasusmu ini, Mama bisa mengerti kenapa kamu bisa marah besar karena merasa dibodohi oleh Shaka. Perbuatan anak Mama yang pergi ke Singapura dengan mengatasnamakan pekerjaan memang bukan suatu perbuatan baik, dia telah membohongimu dan Mama pun kalau berada di posisimu pasti akan marah besar. Namun, tidakkah kamu bisa memberikan kesempatan kepada Shaka untuk memperbaiki kesalahannya, Nak? Segala sesuatu, 'kan, bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus menyelesaikannya dengan cara perceraian."
Tangan kembali membelai rambut hitam nan harum itu dengan lembut. Rini sangat menyayanyi semua anak-anak Arumi, bahkan dia menganggap Triplet dan Shakeela seperti anaknya sendiri. Meskipun tidak melahirkan mereka tapi rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka tulus tanpa dibuat-buat.
"Bukannya Mama ingin membela Shaka, tapi apa kamu tidak mau hidup bersama dengan lelaki yang kamu cintai? Kamu rela bila nanti setelah bercerai Shaka betulan menikah dengan wanita lain? Kamu rela seandainya hubungan kalian selamanya hanya sebatas sahabat saja, tidak berubah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya?"
Zahira membeku dengan pertanyaan ini. Sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya setelah meminta pisah dari Shaka. Mungkinkah dia benar-benar rela melepaskan Shaka setelah menunggu selama sembilan tahun lamanya? Kini, Tuhan telah mengabulkan semua itu tapi kenapa dia malah melepaskannya begitu saja.
"Kata siapa? Memangnya kamu tahu bagaimana perasaan Shaka saat ini? Kamu pernah bertanya kepadanya apakah dia akan bahagia jika berpisah denganmu?" cecar Rini, kembali menyerang di saat target mulai lengah.
Zahira menggelengkan kepala lemah. Semua yang dikatakan memang hanya asumsinya sendiri. Dia beranggapan Shaka akan bahagia jika mereka berpisah. Namun, tanpa disadari olehnya, pria berhidung mancung sama sekali tidak merasa bahagia saat mendengar mereka akan berpisah. Lelaki itu merasa sumber kebahagiaannya selama ini adalah Zahira meski ada Ziva namun tetap saja hidupnya terasa hampa bagaikan langit bila tak ada gemerlap bintang di malam hari. Akan merasa ada yang kurang.
"Nah, 'kan, kamu sendiri saja belum tahu isi hati Shaka tapi sudah berasumsi sendiri. Kecuali kalau kamu bertanya kepadanya dan pendapatmu merupakan jawaban dari Shaka, baru kamu boleh berkata begitu."
Rini membawa kepala Zahira mendekati pundaknya, kemudian dia mengecup dan mengusap puncak kepala gadis itu dengan sangat lembut. "Kamu tahu tidak, kalau tadi Shaka sempat menitikan air mata saat berbicara empat mata dengan Mama?"
__ADS_1
Kepala Zahira mendongak, mata coklat indah mengerjap tak percaya. "Mama tidak bohong? T-tadi ... Shaka nangis saat membicarakan niatanku ingin pisah darinya?"
"Tidak dong! Mama bukan pembohong seperti anak nakal itu. Mama dan Papa, kami berdua tidak pernah berbohong. Hanya dia saja yang tukang bohong. Entahlah dia meniru dari siapa. Mungkin karena sudah tersihir oleh Nenek Sihir Ziva jadinya dia terpaksa berbohong," cerocos Rini tanpa henti.
"Ma ... Ziva itu seorang model bukan Nenek Sihir," tegur Zahira. Walaupun sang model adalah wanita beruntung yang berhasil merebut hati Shaka, tapi dia tidak mau membenci wanita itu. Malah seharusnya dia bersyukur karena wanita itu namanyalah yang diucapkan oleh bibir Shaka saat akad nikah dulu. Dialah wanita pertama yang tidur satu kamar dengan sang pengacara setelah resepsi pernikahan digelar.
Meskipun kenyataanya pasangan pengantin baru itu tidak melakukan hubungan intim tapi setidaknya sang mempelai wanita merasa bahagia sebab dapat masuk ke kamar si pria dengan status sebagai istri bukan lagi sebagai sahabat.
Rini terkeleh pelan mendengar perkataan Zahira. Dia menangkup wajah sang menantu, kemudian menatap lekat bola mata indah itu. "Jadi, apa kamu akan mengurungkan niatanmu untuk berpisah dari Shaka?"
Sang dokter cantik menganggukan kepala, lalu tersenyum lebar hingga matanya yang sipit semakin tidak tampak. "Iya, aku tidak jadi menggugat cerai Shaka. Namun, aku ingin dia berusaha keras meluluhkan hatiku. Luka yang ditorehkan di hatiku cukup dalam, Ma. Aku--"
"Sst! Jangan diteruskan lagi! Mama sudah tahu mau kamu apa," sergah Rini telah lebih dulu meletakkan jari telunjuk di depan bibir Zahira. "Mama setuju dengan rencanamu. Biar dia mendapat pelajaran karena sudah berani membohongi menantu kesayanganku."
"Kamu tetaplah bersikap dingin dan acuh kepadanya. Mama ingin tahu sekeras apa usaha dia untuk meluluhkan hati yang sudah terlanjur disakiti. Kalau dia memang sayang maka akan ada banyak cara membuatmu memaafkannya."
"Maaf, karena sudah membuat Mama sampai turun tangan," ucap Zahira tersenyum lirih.
"Sudah sepatutnya Mama turun tangan. Namun, kamu juga harus minta maaf kepada Ayah dan Bunda karena mereka nyaris jantungan melihat sikapmu ini."
.
__ADS_1
.
.