Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Hormon Ibu Hamil


__ADS_3

"Shaka, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Zahira menatap lekat suaminya. Sikap Shaka terlihat sedikit aneh dan membuat wanita itu curiga.


"Ehm ... sebenarnya ...." Shaka masih mengusap tengkuknya dengan setia. Bibirnya terbuka, mengatup dan terbuka beberapa kali, tapi sayang tidak ada sepatah kata pun terucap.


"Shaka?" desak Zahira yang semakin dibuat penasaran. "Katakan padaku, apa yang kamu sembunyikan?"


"Sayang ... sebenarnya ... tadi pagi Ziva datang ke kantor dan ingin bertemu denganku. Awalnya aku menolak, tapi kata David ada hal penting yang ingin dia sampaikan. Terpaksa aku mempersilakannya masuk ke ruangan."


"Apa? Jadi kamu bertemu dengan perempuan itu lagi?" Shaka menganggukan kepala sebagai jawaban. "Kalian hanya berdua di dalam ruangan?"


Dengan gerakan cepat Shaka melambaikan tangan ke hadapan Zahira. "Enggak, Sayang! Demi Tuhan, aku enggak berduaan dengan Ziva." Lelaki berkulit sawo matang merasakan hawa dingin menyentuh permukaan kulit saat ekor matanya beradu pandang dengan istri tercinta. "Aku emang bersedia menemui Ziva di ruanganku, tapi kami enggak cuma berdua ada David yang menemani."


Zahira menghela napas panjang. Merasa bersyukur karena suaminya tidak berduaan dengan Ziva. Akan tetapi, tetap ia merasa kesal. "Mau ngapain dia nemuin kamu, hem? Kamu janjian makan siang bareng dia?" cecarnya dengan penuh selidik.


"Sayang, kamu tenang dulu." Shaka berusaha menyentuh bahu Zahira, akan tetapi ditepis oleh sang istri. Tidak mau disentuh dalam keadaan sedang marah.


"Bagaimana aku bisa tenang. Jelas-jelas Ziva masih mengharapkanmu kembali dan kamu malah memberi celah kepadanya. Kamu itu lupa atau pura-pura lupa sih!" Kaki jenjang Zahira menghentak di atas lantai. Wanita itu berjalan, kemudian menghempaskannya di tepian tempat tidur. Sikap wanita itu seperti anak kecil yang tidak dibelikan permen oleh mamanya.


"Kamu tega sama aku, Ka! Aku ini sedang hamil, tapi kamu malah selingkuh dengan perempuan lain. Kamu jahat!" Zahira tak bisa menahan luapan kekesalannya. Tangan kanannya mengepal sempurna kemudian ia pukulkan di atas kasur.


Shaka berhambur mendekati ranjang. "Tidak! Aku ... enggak selingkuh sama Ziva, Sayang! Suer!" Tangannya terangkat ke udara membentuk huruf V. "Lagi pula, aku enggak mungkinlah selingkuh sama Ziva sementara udah ada kamu dalam hidupku. Kamu itu jauh lebih baik daripada mantanku itu. Jadi enggak ada alasan aku untuk menduakanmu."


Berjongkok di hadapan Zahira, merengkuh jemari tangan lentik dan berkata, "Tadi Ziva memang menemuiku, tapi dia hanya ingin minta maaf atas semua kesalahannya di masa lalu. Minta maaf karena pernah membuatku kecewa, kabur di menit terakhir sebelum akad nikah digelar." Mengusap punggung tangan dengan sangat lembut. "Ziva datang menemuiku untuk mengakhiri hubungan kami. Ya ... walaupun aku pernah mutusin dia sewaktu ke Singapura beberapa waktu lalu, tapi saat itu mungkin dia belum menerima keputusanku dan berniat merebutku dari kamu. Namun, kali ini dia datang dan rela melepasku untuk hidup bahagia bersamamu."


"Sayang, kalau kamu marah-marah terus nanti bayinya kaget loh. Kasihan Dedek bayi kalau lihat Mama dan Papanya bertengkar." Shaka membujuk Zahira agar emosinya meredam. Sangat tidak nyaman bertengkar dalam kondisi istrinya tengah berbadan dua.


"Lalu apa lagi yang kalian bicarakan?" desis Zahira dengan mata melotot. Meskipun kesal, tapi jauh di lubuk hati yang terdalam sejujurnya dia penasaran dengan apa yang terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Hanya itu aja, sih," jawab Shaka. Akan tetapi, air muka pria itu seakan tengah menyembunyikan sesuatu.


Zahira kembali berkata, "Lalu, di mana pakaian yang kamu kenakan tadi pagi?"


"Sudah aku buang." Shaka menjawab jujur.


"Kenapa?" Semakin penasaranlah Zahira dibuatnya. Wanita itu masih menerka-nerka apa yang terjadi selanjutnya antara Shaka dan Ziva. Lalu kenapa Shaka bisa sampai mengganti pakaiannya? Memikirkan segala kemungkinan membuat kepalanya menjadi pening.


Tangan Zahira memijat pelipisnya. Kepala wanita itu rasanya mau meledak.


Dengan sangat hati-hati, Shaka memandangi wajah ibu bagi calon anak-anaknya. "Itu semua karena Ziva memintaku untuk memeluknya."


"Apa? J-jadi ... kalian berpelukan, begitu?"


Zahira tidak bisa lagi menahan emosi yang terus mendidih di kepalanya. Andai saja Budhe Erna meletakkan panci dan memasukan beberapa butir telur makan telur itu segera matang.


Tumpah sudah air mata Zahira. Buliran kristal itu meluncur di antara kedua pipi. Napasnya memburu seperti tengah dikejar orang gila. Sementara Shaka hanya diam, membiarkan istri tercinta meluapkan kekesalannya dengan harapan setelah ini uneg-uneg dalam diri wanita itu sirna tertiup angin.


Di saat Zahira sudah mulai lelah, ia melangkah dengan gontai dan duduk di tepian ranjang. Matanya dipenuhi buliran air mata dan dadanya pun terasa sesak. Suara tangisan masih terdengar meski lirih.


"Sayang?" panggil Shaka lembut. Ia menghampiri istrinya dan duduk di sebelah Zahira. "Aku tahu kamu pasti marah setelah mendengar berita ini. Kamu pasti marah karena ada perempuan lain yang memelukku, tapi demi Tuhan aku enggak ada perasaan apa pun sama Ziva. Pelukan itu murni sebagai pelukan perpisahan sebelum kami benar-benar menutup lembaran kisah masa lalu."


"Najma Zahira, bintangku yang bersinar, dengarkan aku. Kami memulai hubungan dengan baik dan aku ingin mengakhirnya dengan baik-baik pula. Aku berpikir, enggak ada salahnya jika memberi pelukan terakhir sebagai perpisahan sebelum kami melangkah bersama, tapi berbeda tujuan. Toh setelah itu aku maupun Ziva enggak akan pernah bertemu lagi."


Pundak Zahira bergerak turun dan naik. Isak tangis pun masih terdengar di telinga Shaka. Dengan bibir gemetar wanita itu berkata, "Bagaimana jika itu hanya triknya aja untuk menjeratmu? Ziva itu perempuan licik, menghalalkan segala macam cara mendapatkan apa yang diinginkan."


"Percayalah padaku, kali ini Ziva benar-benar akan menepati ucapannya. Dia enggak mengusik lagi rumah tangga kita." Shaka mendekap erat istrinya, mencium kening bertubi-tubi. Paham kalau Zahira ketakutan jika seandainya dirinya pergi meninggalkan wanita itu dan kembali pada Ziva.

__ADS_1


Tidak menjawab, Zahira terus terisak. Tangan tergenggam dan diletakan di dada bidang tanpa helai kain yang menutup.


"Walaupun Ziva licik, tapi aku percaya bahwa dia enggak akan nekad merusak pernikahan kita, Sayang. Dari sorot matanya aku dapat melihat penyesalan itu. Dari situ aku yakin jika Ziva telah insyaf dan enggak akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kita."


"Aku cuma takut kamu meninggalkanku di saat diriku tengah hamil muda. Aku sangat takut kamu merajut kembali tali kasih yang pernah terjalin antara kamu dan dia." Zahira menceritakan apa yang sedang dia rasa sambil terus menangis.


"Mana mungkin aku meninggalkanmu sedangkan sumber kebahagiaanku adalah kamu? Terlebih saat ini ada dua anakku dalam perutmu. Bodoh sekali jika aku pergi dan menelantarkanmu juga Dedek bayi demi perempuan macam Ziva. Kamu itu ibaratkan sumber kekuatanku, Ra, penyemangat di saat gundah datang melanda. Tatkala melihat indahnya bola matamu energiku langsung full bagaikan ponsel yang terisi daya 100%. Jadi enggak mungkinlah aku pergi meninggalkanmu. Udah, ya, jangan nangis lagi! Please?" bujuk Shaka.


"Sungguh? Kamu enggak akan meninggalkanku meski nanti tubuhku enggak ramping lagi karena banyak makan dan ngemil?"


"Enggak dong. Aku enggak akan ernah meninggalkanmu, apa pun yang terjadi kita selalu bersama selamanya. Untuk masalah berat badan, aku enggak keberatan jika berat badanmu naik. Beberapa area tertentu berisi, enggak masalah kok. Justru kamu semakin terlihat seksi kalau semakin ndut. Apalagi bagian depanmu semakin padat dan berisi. Aku ... semakin menyukainya."


Seketika semburat rona merah muda terlukis di wajah Zahira. Perkataan itu terlalu vulgar menurutnya.


"Ke depannya, berhentilah berpikir negatif. Percayalah, hati dan cintaku cuma untuk kamu seorang." Shaka mengusut ujung mata Zahira menggunakan punggung tangan kanan. "Kita berdua ditakdirkan bersama ... selamanya."


Shaka dibuat melongo dengan Zahira yang berinisiatif mencium bibirnya terlebih dulu.


"Duh, Mama Dedek kembar udah berani main nyosor duluan nih. Enggak takut diterkam Papa?" ucap Shaka sembari menaik turunkan kedua alis.


Alih-alih menjawab, jemari lentik Shaka menyentuh permukaan dada bidang suaminya. Dengan malu-malu dia berkata, "Sayang, kayaknya Dedek bayi ingin ditengokin lagi nih sama Papanya. Papa Dedek bayi, mau enggak nenggokin mereka?"


Shaka mencubit hidung mancung Zahira dengan gemas. "Mau banget! Kebetulan Papa juga ingin main kuda-kudaan sama Mama."


Tanpa menunggu lama, Shaka segera membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Mencumbu Zahira dan kembali memadu kasih, terbang bersama nirwana.


...***...

__ADS_1


__ADS_2