
Empat bulan kemudian ....
"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Zahira sedikit keheranan ketika menyadari jika mobil yang dilajukan Shaka bukanlah jalanan menuju apartemen mereka.
"Nanti juga kamu akan tahu. Udah, duduk aja yang manis dan jangan banyak bergerak! Kasihan kedua anakku, mereka akan stress karena sedari tadi Mamanya enggak mau diam."
Zahira mengerucutnya bibir, kemudian memalingkah wajah ke luar jendela. "Menyebalkan!" ucapnya lirih. Ia kesal sebab Shaka tengah menyembunyikan sesuatu darinya padahal mereka sepakat untuk selalu terbuka dalam hal apa pun walau kenyataan itu pahit, tapi mereka harus jujur terhadap pasangan.
Shaka menoleh untuk membalas tatapan Zahira seraya tersenyum tipis. Ekspresi wajah istrinya tampak begitu menggemaskan hingga membuat pria itu ingin sekali menghisap manisnya madu di bibir sang istri.
"Jangan memasang wajah begitu, jika tidak mau detik ini juga aku terkam kamu, Sayang."
Si cantik jelita segera menoleh ke sebelah dengan mata melotot. "Dasar mesum! Tidak tahu malu!" Andai saja Shaka tidak sedang mengemudi, sudah dipastikan jemari lentik Zahira mendarat sempurna di perut pria itu. Zahira akan mencubit perut sixpack Shaka dan memukul suaminya menggunakan bantal ataupun guling jika dirinya dijaili pria itu.
Shaka hanya terkekeh pelan melihat wajah Zahira yang mulai merah merona bagaikan tomat segar yang siap dipetik. Bagi pria itu tidak ada hal lebih menggemaskan selain melihat Zahira merajuk seperti anak kecil.
Mobil yang dikendarai Shaka melaju tenang di jalanan kota Jakarta. Ketika hendak memasuki sebuah kawasan perumahan elite yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah sakit, Shaka menghentikan kendaraan itu di bahu jalan. Melihat itu semua, Zahira yang sedang asyik penikmati keindahan pemandangan di luar sana langsung menoleh ke arah suaminya.
"Loh, Sayang, kenapa berhenti? Apa mobilmu mogok?" Lagi dan Lagi Zahira memandangi suaminya dengan sorot mata penuh tanda tanya.
Shaka menggelengkan kepala. "Enggak, semua dalam keadaan baik-baik aja. Namun, aku ingin kamu memakai ini sebelum kita melanjutkan perjalanan."
__ADS_1
Pria itu mengeluarkan satu helai kain berwarna hitam dari saku celana. Zahira semakin keherananlah melihat itu semua.
"Benda itu untuk apa?" Ekor mata Zahira memicing tajam. "Kamu sebenarnya mau membawaku ke mana sih? Atau ... jangan-jangan kamu mau menjual aku karena tubuhku sudah tak sedap lagi dipandang? Karena aku banyak makan hingga menyebabkan pengeluaranmu membengkak, iya? Katakan saja sejujurnya padaku, Shaka, jangan main petak umpat begini dong!" sungutnya berapi-api.
"Kamu tega sama aku. Kamu--"
Belum sempat Zahira menyelesaikan ucapannya, Shaka telah lebih dulu menyentuhkan kedua bibir mereka. Mengecup ranumnya bibir sang istri yang terasa manis bernuansa strawberry segar. Memangut sangat pelan bersamaan dengan kedua tangan kekar Shaka menekan tengkuk Zahira agar ciuman semakin dalam.
Shaka menghentikan ciuman mereka di saat Zahira hampir kehabisan oksigen. Menyampirkan anak rambut istrinya ke daun telinga. "Aku tidak akan mungkin menjual permata berharga nan langka sepertimu, Sayang, apalagi di perutmu saat ini ada Shaka Junior dan Zahira Junior. Jadi, mana mungkin aku tega melepaskanmu."
Zahira menatap suaminya dengan lekat. Ia melihat kejujuran di bola mata indah milik Shaka. Di sana tidak ada satu pun kebohongan dan ia yakin jika suaminya itu memang tidak berniat menjualnya. Hanya pikiran bodoh Zahira saja yang melanglang buana, ke sana kemari.
***
Shaka melepaskan kain warna hitam yang menutupi bola mata Zahira. "Sayang, aku akan menghitung mundur dan dalam hitungan ketiga, bukalah bolamu."
"Aku hitung mundur. Tiga ... dua ... satu ...." Zahira pun membuka bola matanya secara perlahan, bulu mata lentik itu bergerak perlahan. Ketika terbuka sempurna alangkah terkejutnya Zahira saat mendapati satu unit rumah berlantai dua berdiri kokoh di depan sana.
Rumah minimalis dua lantai bergaya Jepang modern Shaka pilih untuk menjadi hunian masa depan bersama istri dan anak-anaknya. Pria yang menjabat sebagai wakil pemimpim firma hukum terkenal di kota Jakarta, secara khusus meminta desainer terkenal untuk merancang rumah masa depannya.
"Sayang, i-ini rumah siapa? Kenapa kamu bawa aku ke sini?" Zahira tergagap bahkan suaranya tercekat hingga sulit berkata-kata. Penampakan rumah itu begitu indah sesuai dengan rumah impian Zahira.
__ADS_1
Tangan kekar Shaka merangkul bahu istrinya dan secara bersamaan ia mencium puncak kepala Zahira dengan penuh cinta. "Rumah ini milikmu. Aku memberikannya sebagai kado ulang tahun. Sebenarnya aku ingin memberi kejutan ini bertepatan dengan ulang tahunmu tiga bulan lalu, tapi berhubung masih belum selesai tahan renovasi akhirnya aku urungkan. Maaf, ya, kalau aku baru sempat memberi kado spesial untukmu." Rasa penyesalan itu menyeruak ke relung hati yang terdalam.
Beberapa bulan belakangan rasa bersalah datang menghampiri Shaka, membuat pria itu jadi kepikiran. Niat hati memberi kejutan spesial untuk istri tercinta di ulang tahun Zahira yang ke 25 tahun, tapi rupanya itu semua tak dapat terealisasikan.
Zahira mengulurkan tangan kanan ke atas kemudian membekap mulutnya dengan tangan tersebut. "Jadi, kamu memberikan rumah ini sebagai kado ulang tahunku? Seriusan, Sayang?"
Shaka memutar tubuh Zahira hingga kini posisi mereka saling berhadapan. "Seratus rius malah. Rumah ini lengkap dengan segala isinya atas nama kamu. Kamu berhak atas semua yang ada di dalamnya. Terserah kamu mau apakan rumah ini, aku enggak akan protes. Mau kamu huni sebagai tempat tinggal kita atau mau dijual lagi, aku enggak akan ikut campur. Kamu pemilik rumah ini yang sah."
Detik itu juga air mata Zahira jatuh membasahi pipi. Wanita itu menangis haru di hadapan suami tercinta. Ini benar-benar kejutan paling indah selama hidupnya. Dulu ia pikir mempunyai rumah bergaya Jepang modern hanyalah mimpi belaka, tak akan jadi kenyataan. Akan tetapi, mimpi itu terwujud tatkala ia menikah Shaka Abimana, sosok lelaki yang tak lain sahabat sekaligus suaminya.
"Rumah ini adalah kado terindah yang pernah kumiliki. Jadi, mana mungkin aku tega menjualnya. Aku akan merawat rumah ini dengan sepenuh hati sama seperti aku merawat buah cinta kita di dalam sini. Kelak di rumah ini kita akan hidup bahagia bersama anak-anak kita."
Perlahan Shaka menyeka sudut mata Zahira menggunakan ibu jari. "Terima kasih sudah bersedia menerima hadiah ala kadarnya ini. Aku beruntung memiliki istri yang mau menerima pemberian suami walau pemerian itu masih jauh dari kata sempurna."
"Aku lebih beruntung memilikimu, Sayang. Seperti mimpi loh bisa bersanding dengan pria tampan kayak kamu."
"Tentu saja aku tampan. Toh aku tercipta dari bibit unggul kedua orang tuaku." Shaka menepuk dada dengan bangga. "Aku pun yakin jika anak-anak kita terlahir dengan paras cantik jelita seperti Mamanya dan rupawan seperti Papanya. Perpaduan yang epik, bukan?" ucap Shaka kemudian mengecup kening Zahira dan memeluknya kembali dengan sangat erat.
"Ya udah, kita home tour dulu, yuk! Setelah yakin enggak ada yang mau diubah, barulah kita memutuskan untuk pindah ke sini dan mengadakan acara kecil-kecilan guna membagikan sedikit kebahagiaan dengan orang terdekat. Bagaimana?"
"Terserah kamu aja, deh. Aku turuti apa katamu."
__ADS_1
...***...