Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Saling Menjaga Perasaan Pasangan


__ADS_3

Shaka memutuskan mengambil kasus Ziva, mantan tunangannya. Sejujurnya ia cukup dilema setelah memutuskan untuk menangani kasus klien yang merupakan bagian dari masa lalunya. Sebenarnya hal yang dilakukan oleh Shaka ini hanya sebatas sikap profesional, tetapi tetap saja pria itu masih merasa ada yang berbeda dengan dirinya tatkala menangani kasus klien lainnya.


Selama menjalankan tugas sebagai pengacara Ziva, Shaka akan bersikap biasa saja dan tetap menjalankan pekerjaannya sesuai dengan kode etik yang berlaku. Ziva, klien kali ini adalah mantan tunangan sedangkan dirinya telah menikah meski pernikahan itu tak dilandasi cinta tetap saja dia ingin menghormati kesucian pernikahan itu dan menjaga keutuhan rumah tangga bersama Zahira.


Tepat hari ini, Shaka akan bertemu lagi dengan Ziva setelah lama waktu berjalan, takdir kembali mempertemukan mereka. Sepanjang perjalanan menuju kantornya, pria itu tak henti memikirkan Zahira. Sejak wanita itu pergi, rasanya ada dari bagian dirinya yang ingin tetap bersama sang istri.


"Baiklah, ayo kita mulai seperti biasa, Shaka," ujar Shaka pada dirinya sendiri di depan cermin yang ada di dalam toilet. Ia menyempatkan diri berbelok ke toilet sebentar sebelum benar-benar masuk dan bertemu Ziva di sana.


Shaka menarik napas panjang dan membuangnya cepat, langkahnya maju dan membuka pintu kantor pribadinya. Di sana sudah ada seorang wanita yang duduk membelakanginya, Shaka sendiri sudah bisa mengenali punggung wanita itu adalah milik Ziva. Asisten barunya juga ada di dalam bersama Ziva.


"Pagi, Pak," sapa Asisten Shaka, Irhan namanya.


"Pagi." Ziva menoleh saat mendengar suara Shaka. Tatapan keduanya bertemu sebentar sebelum Shaka memalingkan wajah lebih dulu. Dalam hatinya Shaka kembali merasa canggung bertemu dengan Ziva dalam keadaan seperti ini. Shaka lekas mengambil posisi duduk berhadapan dengan Ziva. Wanita itu melepaskan jaket tebal panjang berwarna hitam dan juga topi yang mungkin berguna agar menutupi sedikit wajahnya dari seseorang yang bisa mengekspos Ziva karena seorang model.


"Baik, bisa kita langsung ke poin kasus ini, Nona Ziva?" Shaka berusaha bersikap formal dan mengesampingkan beberapa rasa canggungnya.


Ziva menatap Shaka sebentar, lalu mengambil ponselnya. "Sebentar, Anda datang sendiri?"


Ziva mengangguk. Wanita itu lebih terlihat tenang seolah baru pertama kali bertemu dengan Shaka. Harga diri Shaka sedikit terluka dengan sikap Ziva yang benar-benar sudah masuk ke dunia profesional dalam pekerjaan.


"Asisten pribadiku sedang sakit hari ini, jadi saya sendiri. Emm... kasus yang ingin saya laporkan di sini adalah tentang penipuan dan pencemaran nama baik," tutur Ziva memulai percakapan.


"Bisa jelaskan apa yang terjadi lebih dulu, Nona Ziva."


Ziva menghela napas. "Saya ditipu oleh seseorang yang menawarkan untuk pemotretan majalah, pengakuan orang tersebut berasal dari salah satu agensi besar sebuah majalah, tapi setelah pemotretan itu selesai, saya tidak tahu jika itu semua hanya penipuan belaka. Saya merasa bodoh karena tidak mengonfirmasi ini pada asistenku lebih dulu dan akhirnya saya mendapatkan berita jika foto itu mulai tersebar di majalah dewasa. Saya benar-benar merasa dibodohi karena apa yang mereka beritakan sangat menyakinkan. Saya tidak ingin karena satu masalah ini akan berdampak besar pada karirku."


Shaka mulai terbawa arus dalam pekerjaannya. Ia mulai memahami kasus Ziva. "Lalu, bagaimana dengan kekasih Anda bernama Andrew? Kenapa dia tidak membantumu?"


Bodoh, kenapa pertanyaan itu harus kamu ucapkan! sesal Shaka saat menyadari bahwa lelaki itu telah membawa urusan pribadi Ziva ke dalam urusan pekerjaan.


Mendapat pertanyaan tersebut, tentu saja membuat Ziva sedikit malu. Pasalnya wanita itu kembali teringat betapa bodohnya dia karena dengan mudah terbujuk rayu lelaki lain hingga kabur sesaat sebelum akad nikah berlangsung.


"Ehm ... kami sudah putus setelah tahu foto saya tersebar di majalah dewasa. Dari pihak keluarga dia tidak setuju jika kami menjalin kasih sebab bagi mereka tersebarnya foto di majalah dewasa merupakan aib bagi keluarga," tutur Ziva panjang lebar. Kepala menunduk, genggaman tangan sambil meremas satu sama lain. Ia teramat malu mengatakan itu semua di hadapan Shaka.


Shaka cukup terkejut akan penjelasan Ziva. Bola mata pria itu terbelalak sempurna dan rahang pun terbuka lebar bahkan nyaris saja copot dari tempatnya. Pengacara itu tidak menduga kalau keharmonisan yang ditunjukan kepadanya beberapa waktu lalu hanya kamuflase belaka. Buktinya hubungan mereka kandas padahal dua manusia itu telah mereguk yang namanya surga dunia bersama-sama.

__ADS_1


Berdehem guna menyingkirkan bongkahan kaktus besar di tenggorokan. "Baiklah, saya akan memanggil timku untuk mendata informasi apa saja yang bisa Anda berikan pada kami, seperti bukti chat dan majalah itu juga," kata Shaka.


Ziva menghela napas lega. "Aku benar-benar berharap kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, Shaka." David menoleh saat bahasa Ziva pada Shaka menjadi informal tiba-tiba. Ia juga menatap Shaka dengan mengerjapkan mata beberapa kali.


Oh astaga, kenapa rasanya canggung sekali. Tuhan, kapan penderitaan ini akan berakhir, jerit Shaka dalam hatinya.


Shaka melirik kepada sang asisten yang baru bekerja satu minggu di kantor milik sang papa. "David, kamu bisa panggil yang lain masuk dan mendata informasi dari Nona Ziva sekarang."


"Baik, Pak!" sahut David singkat.


Setelah David keluar dari ruangan, Shaka mengembuskan napas panjang. Ziva sendiri tak berhenti menatap sang mantan kekasih. Pria itu kembali dibuat tidak nyaman dengan lirikan mata Ziva.


"Apa yang ka--"


"Aah ... maaf, tolong Anda jangan berbicara terlalu akrab dengan saya! Kita sekarang adalah partner untuk menyelesaikan masalah Anda, hanya sebatas itu. Jadi, tolong bersikap profesional-lah," sergah Shaka cepat sebelum Ziva menyelesaikan kalimatnya.


Ziva mengernyitkan keningnya. "Apa ada yang salah? Aku hanya ingin berbicara lebih nyaman dan tidak kaku sepertimu saja. Toh lagipula di ruangan ini hanya ada kita berdua, jadi untuk apa berbicara formal di saat tidak ada orang lain."


"Meskipun hanya berdua, tetapi saat ini kamu adalah klienku dan aku adalah pengacaramu. Jangan biarkan orang lain berpikiran macam-macam tentang kita!" tandas Shaka tegas. Dia tidak mau kalau sampai Zahira tahu dan masalah ini menjadi boomerang bagi mereka.


Ziva menutup mulutnya. "Shaka, kenapa kamu bertindak seolah tidak pernah mengenalku?" Bola mata wanita itu berkaca-kaca. "Apa kamu sebenarnya senang jika diriku mendapatkan masalah seperti ini?"


"Baiklah, anda bisa mengatakan bahasa saya kaku, tapi seperti itulah yang dikatakan profesional."


Shaka menekan pada kata 'profesional' dan membuat wanita di depannya terdiam sesaat. Ziva memutar bola matanya, cukup kesal dengan sifat Shaka yang terlalu mengatasnamakan pekerjaan padahal menurutnya kasus ini mungkin akan lebih cepat selesai jika sang mantan kekasih yang menanganinya.


Pintu kembali terbuka dengan David yang membawa dua junioor Shaka yang akan bergabung dalam kasus ini.


"Kalian duduklah, kita akan membahas kasus ini mulai dari informasi apa saja yang bisa kita gunakan untuk menggugat agensi tersebut. Kalian sudah membaca berkas kasus serupa, bukan?" tandas Shaka kepada dua junioornya.


"Sudah, Pak!" sahut mereka hampir bersamaan.


Pembahasan mengenai kasus Ziva cukup menguras waktu karena agensi majalah tersebut mempunyai bukti surat kontrak yang menurut Ziva telah dipalsukan dengan tanda tangannya. Shaka dan timnya akhirnya menyelesaikan permasalahan kali ini dengan mudah.


"Baiklah, cukup untuk hari ini, sidang akan segera dimulai beberapa hari lagi. Untuk berjaga-jaga kami akan menguliti lebih dalam lagi tentang agensi ini karena bisa jadi bukan hanya Nona Ziva korbannya," jelas Shaka sebagai penutup pembahasan hari ini. Ziva tersenyum lega dan bangkit berdiri dari tempatnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Shaka."


Sekarang bukan hanya David, dua junior lain saling melirik satu sama lain. Seorang klien memanggil nama senior mereka tanpa ragu menandakan jika mereka saling mengenal satu sama lain.


Ziva mengulurkan tangan ke depan, ingin menjabat tangan Shaka. Akan tetapi, ....


"Anda bisa langsung pula Nona Ziva. Selamat pagi," kata Shaka tanpa menerima uluran tangan mantan tunangannya yang mana tindakan itu membuat Ziva kesal.


Mengepalkan kedua tangan di samping kanan kiri sambil berkata, "Selamat pagi!" ketus Ziva. Wanita itu berlalu meninggalkan Shaka begitu saja.


Setelah Ziva keluar, Shaka mengusap wajahnya kasar. "Aku berhasil melewatinya dengan baik, 'kan?"


"Eh? Maksud Pak Shaka apa?" Salah satu junioor bernama Dea menyahut.


"Klien tadi adalah mantanku." Wajar saja bila David serta kedua junioor Shaka tak mengenali Ziva sebab mereka baru beberapa hari bergabung di kantor firma hukum tersebut.


Mereka hanya ber-oh ria karena tidak ingin lancang mencampuri urusan atasannya.


Sementara itu keadaan tak jauh berbeda dengan yang Zahira alami. Jika Shaka dengan mantan tunangannya, Zahira malah bersama seorang dokter yang baru saja dikenal. Meskipun dokter Nizam bersikap biasa saja, tetapi Zahira tetap ingin menjaga jarak menuruti perintah yang dikatakan Shaka semalam.


Zahira tidak mau kalau sampai terjadi keributan kecil di tempat tinggalnya bersama Shaka. Oleh karena itu, ia membulatkan tekad untuk tidak terlalu dekat dengan dokter Nizam. Menjaga perasaan pasangan lebih baik daripada harus adu otot di depan suami.


Saat ini sudah jam istirahat, gadis itu buru-buru naik ke rooftop rumah sakit untuk menghindari dokter Nizam sekaligus menghirup udara bebas tanpa diganggu oleh siapa pun. "Ah, leganya."


Zahira bernapas dengan baik di sana. Rasanya sesak jika bersama dengan pria asing, berbeda ketika gadis itu hanya memikirkan Shaka yang hanya bisa membuat ia merasa bahagia. Senyuman terus merekah di sudut bibir membayangkan wajah suami tercinta. Akan tetapi, senyuman itu sirna kala menyadari bahwa sang suami belum mengirimkan kabar sejak mereka berpisah tadi.


"Dia bahkan tidak pernah menghubungiku lagi? Ada apa dengannya, padahal kemarin saja ... ah kenapa jadi aku yang kepikiran?" gumam Zahira.


Zahira menggeleng dan membuka minuman kaleng yang ia bawa sejak tadi.


"Seorang Dokter meminum minuman kemasan?"


Refleks, Zahira menoleh ke sumber suara. "Apa Dokter Nizam mengikuti saya ke sini?"tanya gadis itu dengan sorot mata yang sulit diartikan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2