
Zahira mendesis, saat lidah Shaka terus bergerak liar di dalam rongga mulutnya. Lelaki itu seakan benar-benar ingin menerkamnya hidup-hidup. Telapak tangan Shaka bergerilya ke mana-mana memberi sentuhan di beberapa titik sensitif di tubuh gadis itu itu. Suara desahaan serta erangan halus saling bersahutan memenuhi penjuru ruangan.
"Eugh!" desis Zahira tatkala pria itu menyesap dan mengulum bibirnya dengan rakus. Sesekali mengigit kecil di sela kegiatan panas mereka, hingga membuat gadis itu diliputi kabut gairah.
Shaka melepaskan pangutan bibir mereka saat keduanya hampir kehabisan oksigen. Dipandanginya wajah cantik di depan sana, terlihat begitu seksi dan menggoda. Pandangan mata pria itu beralih pada leher jenjang nan putih, kemudian ia mulai menjelajahi area tersebut dengan lidahnya yang bergerak liar sambil memberikan tanda kepemilikan di sana.
Sayangku, dengan tanda kepemilikan ini tak ada satu laki-laki pun yang berhak memilikimu selain aku. Baik si Berengsek itu ataupun yang lain, tidak boleh mengambilmu dari sisiku, ucap Shaka dalam hati. Tersenyum menyerigai saat mendengar suara erangan Zahira yang terdengar begitu seksi.
"Najma Zahira, Istriku ...," gumam Shaka sambil menurunkan dress warna merah hingga turun ke bawah. Dua bongkahan kenyal yang masih terbungkus kain berenda warna senada tampak begitu menantang.
Shaka menelan saliva susah payah. Sumber kehidupan bagi calon anak-anaknya bergerak turun dan naik seirama deru napas yang memburu. Sungguh, ia tak lagi mampu menahan gelora hasrat yang dipendam selama ini. Lantas, ia mulai menyentuh bongkahan tersebut dengan tangan gemetar. Ia mengusapnya dengan lembut sambil sesekali meremasnya seperti squishy, kenyal-kenyal mengasyikan.
"Shaka, a-aku--" Zahira tak melanjutkan ucapannya. Ini terlalu menyiksa, tapi juga membuatnya mabuk kepayang. Setiap sentuhan itu terasa begitu mendamba.
"Hum?" Shaka mengerang sambil menarik punggung Zahira ke arahnya. Bola mata pria itu terbuka lebar kala gundukan kenyal tersebut berada tepat di depan mata.
Tangan Shaka kembali bergerak ke belakang, mencoba membuka pengait di punggung gadis itu. Walaupun ia kesulitan, tapi usahanya tidak sia-sia. Dua pabrik susu bagi Shaka junior ataupun Zahira junior terpampang jelas di depan sana. Puncak bukit berwarna merah muda seakan melambaikan tangan ke depan Shaka, seolah meminta lelaki itu untuk segera mencicipinya sebelum dicicipi oleh anak-anaknya.
Tanpa membuang waktu, Shaka segera membuka mulutnya dan melahap bulatan seperti buah cherry layaknya seorang bayi kecil yang kehausan.
"Aah ... Shaka," desis Zahira saat merasakan hangatnya lidah Shaka bermain indah di atas sana. Ia meraih rambut Shaka dan mencengkeramnya dengan kuat, menyalurkan sensasi berbeda yang telah menjalar ke seluruh tubuh.
Zahira memberanikan diri menatap wajah rupawan sang pujaan hati. Di bawah sana Shaka tampak sibuk bermain-main dengan mainan baru miliknya. Sesuatu yang mungkin saja akan menjadi salah satu koleksi mainan terbaik sepanjang hidupnya.
"Shaka ... a-aku mohon. I-ini ... aah!" racau Zahira tak jelas. Melihat suaminya seperti seorang bayi membuat gadis itu tidak tahan. Pandangan itu terlihat begitu erootis.
Zahira mengerang dan memejamkan mata saat jari telunjuk dan jari tengahnya menjempit puncak warna merah muda miliknya. Lidah Shaka yang basah dan hangat benar-benar membuat gadis itu hampir gila. Tubuh gadis itu gemetar hebat seperti cacing kepanasan.
__ADS_1
Dokter cantik bermata sipit hampir menangis saat lidah dan tangan Shaka bergerak bersamaan. Ia ingin meminta pria itu untuk menghentikan permainan, tapi otaknya tak dapat bekerjasama. Gadis itu kembali menggigit bibir bawahnya dengan kuat, menahan erangan dan desahaan yang akan keluar dari bibir ranum miliknya.
"Shaka, Sayangku!" Untuk pertama kalinya Zahira memanggil suaminya dengan kata-kata romantis. "Jangan hentikan!"
Bagai mendapat rambu hijau, Shaka kembali melancarkan aksinya. Tanpa ragu, lelaki itu mencecap dan melumaat bibir Zahira. Benda kenyal yang telah menjadi candu bagi Shaka, bahkan ia tak pernah puas bila hanya sekali, dua kali mencecapnya. Lelaki itu ingin terus mengecap manisnya madu di bibir sang kekasih halal.
Shaka mengakhiri permainannya. Napas terengah-engah, menangkup wajah Zahira. "Sayang, mulai malam ini hanya ada aku yang akan kamu ingat." Lelaki itu mencium puncak kepala Zahira dengan penuh cinta.
"Mulai malam ini, hanya ada aku yang akan kamu lihat." Kali ini Shaka mencium kelopak mata Zahira.
Terakhir, Shaka mencium kembali bibir ranum istrinya. "Di bibirmu, hanya namaku saja yang akan kamu sebut."
Zahira hanya terdiam merasakan debaran hebat di dalam dada. Ia menanti apa yang akan terjadi setelah ini.
"Bersiaplah, Sayang, kita akan mulai ke permainan inti," ucap Shaka lembut, begitu mendamba.
Tanpa membuang waktu, Shaka kembali mencumbu Zahira untuk memastikan bahwa gadis itu telah siap bertempur membuat adonan bersama. Jemari tangan lelaki itu bermain di beberapa titik sensitif Zahira hingga membuat gadis di bawah sana mengelinjang, mendesaah, mengerang dan mencengkeram sprei erat-erat.
Ketika Shaka tahu bahwa Zahira siap untuk dimasuki, ia memposisikan tubuh senyaman mungkin. "Untuk pertama kali terasa sakit, tapi setelah itu akan terbiasa dan malah membuatmu ketagihan."
Kedua pipi Zahira merona, mendengar perkataan Shaka yang terdengar begitu vulgar. Lantas, ia bergegas memalingkan wajah menyembunyikan semburat merah muda di wajahnya yang mulai dibanjiri peluh.
Bertumpu pada siku, Shaka menelungkup di atas tubuh Zahira. "Najma Zahira, aku mencintaimu." Perlahan, lelaki itu mulai menekan pinggulnya, menghentak dengan kuat, menyatukan tubuh mereka.
"Aah!" pekik Zahira kala Shaka mulai memasukinya. Sayang, lelaki itu belum juga berhasil.
"Shaka, sakit!" rintih Zahira.
__ADS_1
"Tahan rasa sakitmu demi aku, Ra. Bayangkan sebentar lagi kita akan punya anak-anak lucu dan menggemaskan." Shaka kembali mencumbu Zahira, dengan harapan gadis itu bisa lebih rileks dan usahanya malam ini tidak sia-sia.
Beberapa kali Shaka melakukan percobaan, hingga tiba di mana waktunya ia berhasil membobol gawang yang dijaga selama ini oleh istri tercinta. Dalam hati bersorak kegirangan karena berhasil menjadi lelaki pertama yang menyentuh tubuh Zahira.
Sementara itu, Zahira hanya dapat menahan rasa sakit di bagian inti tubuh. Tubuh gadis itu bagaikan dibelah dua saat benda asing menerobos masuk dan bersemayam di dalam sana. Sudut mata mengeluarkan air mata, tapi Shaka segera menghapus buliran kristal itu.
"Aku janji akan bermain pelan," ucap Shaka sebelum memulai permainan. Shaka merangkum kedua tangan Zahira, kemudian ia mulai bergerak secara perlahan.
Shaka menghujam inti tubuh Zahira dengan gerakan pelan. "Ra, tubuhmu terasa begitu nikmat bagiku. Aku merasa--" Pria itu tak melanjutkan perkataannya. Kehangatan tubuh Zahira membuat lelaki itu tak dapat berpikir logis.
Mata Zahira hanya terpejam, menikmati setiap hentakan pinggul Shaka di inti tubuhnya. Sesekali ia mendesaah menahan gelora hasrat dalam dada. Jantung berdetak begitu cepat, telapak tangan semakin erat mencengkeram saat ia merasakan suatu gelombang yang hampir meledak dalam dirinya.
Suara erangan, desahaan saling bersahutan menjadi alunan merdu bagi kedua insan yang tengah dimabuk kepayang. Dengan begitu lihai, Shaka menghentak, menyeret Zahira menuju nirwana. Berkali-kali gadis itu mendapat puncak kenikmatan atas buah manis dari kesabarannya selama ini.
"Najma Zahira, Sayangku. Cintaku ... a-aku, cinta kamu, Ra!" Dengan suara parau, Shaka meracau tidak karuan.
Desaah napas dan erangan pun kembali saling bersahutan, terbang tinggi mencapai puncak kenikmatan. Intensitas gerakan Shaka semakin lama semakin cepat ... semakin cepat dan semakin cepat hingga rasanya ia sudah tak tahan lagi.
"Ra ... aah!" Shaka pun meledak, menyemburkan bibit unggul miliknya di inti tubuh sang istri.
"Terima kasih, Sayang," bisik Shaka lembut, mengecup kening dan bibir Zahira, lalu menyerukkan wajahnya di leher sang istri. Malam ini ia merasa puas karena berhasil menjadi lelaki pertama dan satu-satunya menjamah tubuh Zahira.
.
.
.
__ADS_1