
Seorang perawat menutupi bagian kaki hingga batas pinggang dengan selimut tipis untuk memudahkan dokter Niken saat melakukan pemeriksaan. Kemudian menyibakkan pakaian yang membalut tubuh Zahira hingga batas bawah dada, menampilkan perut yang semakin membesar.
Shaka terkesiap beberapa saat tatkala melihat perut Zahira. Tanpa sadar, tangan lelaki itu terulur kemudian mengelus perut istrinya dengan perlahan. "Halo, Sayang, hari ini untuk pertama kalinya Papa akan melihat wajah kalian. Jadi, jangan malu untuk menampilkannya pada kami, ya?"
Konon katanya bayi dalam kandungan dapat merubah posisi seiring berjalannya waktu. Terkadang ada janin yang menyembunyikan wajahnya dengan hanya memamerkan bagian belakang saja seperti punggung dan bokong. Karena hal itulah, Shaka berharap saat kandungan Zahira diperiksa kedua calon anaknya dapat memperlihatkan wajah mereka.
Dokter Niken duduk di kursi sebelah brankar pasien, mengulum senyum ketika mendengar perkataan Shaka. "Bisa kita mulai pemeriksaannya?"
Perkataan itu membuat Shaka tersadar lalu menarik kembali tangannya yang sempat berada di perut Zahira. "B-bisa, Dok. Silakan."
Zahira merasakan sensasi dingin ketika dokter Niken mulai menuangkan gel di bagian perut, lalu menggeser alat bernama transducer. Untuk pemeriksaan kali ini, dokter Niken sengaja menggunakan pemeriksaan USG 4D sesuai permintaan pasien, keluarga pasien terutama si pemilik rumah sakit. Semua itu tidak terlepas dari campur tangan Rayyan, yang ingin memberikan segala sesuatu terbaik bagi anak dan calon cucu-cucunya.
Tatapan mata Zahira dan Shaka mulai menatap layar monitor yang ada di ruangan itu. Tangan Shaka semakin erat menggenggam jemari tangan lentik milik istrinya. Terlihat betapa bahagiannya Shaka karena untuk pertama kalinya dapat melihat wajah si kembar. Sesuai permintaan Shaka, baby twins memperlihatkan wajah mereka di hadapan kedua orang tuanya.
"Sayang, lihat, itu anak kita. Mereka lucu-lucu sekali." Shaka tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi berontak ingin segera meluncur di antara kedua pipi. Gelenyar aneh ia rasakan saat si kembar menghisap ibu jari mereka. Tidak menduga jika setetes cairan kenikmatan yang pernah ia semburkan ke inti tubuh Zahira akan tumbuh calon anak mereka yang tampak menggemaskan.
Zahira tersenyum dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Iya, Sayang." Sumpah demi apa pun, tidak ada yang lebih bahagia bagi Zahira di dunia ini selain melihat buah cintanya bersama suami tumbuh sehat tanpa kekurangan apa pun.
"Kondisi si kembar dalam keadaan baik. Detak jantung normal dan berat badan pun normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Dokter Niken menghentikan sejenak ucapannya, lalu mengalihkan pandangannya dari layar monitor kepada sepasang suami istri di depannya. "Untuk jenis kelaminnya sendiri, mereka ... sepasang. Laki-laki dan perempuan. Selamat untuk kalian berdua."
__ADS_1
Lemas sudah tubuh Shaka. Sungguh, tidak menyangka jika Tuhan kembali memberi kebahagiaan kepadanya. Diberi kabar jika ia akan mempunyai bayi kembar sudah membuat pria itu nyaris melompat kegirangan karena tak mampu menahan luapan kebahagiaan apalagi mendengar bahwa kini bayi kembar itu terdiri dari perempuan dan laki-laki. Entah nikmat apa lagi yang harus Shaka dustakan.
"Walaupun ibu dan bayi dalam keadaan sehat, tapi sebagai calon Ayah, Pak Shaka harus tetap siaga menjaga ketiganya dengan baik. Jangan sampai si ibu kecapekan dan mengalami stress sebab akan berdampak buruk terhadap kandungan," tutur Dokter Niken seraya merapihkan alat.
Pemeriksaan telah selesai dilakukan, dokter Niken sudah duduk kembali di kursi sedangkan Zahira masih dibantu Shaka untuk turun dari brankar. Dengan penuh perhatian, Shaka membantu istrinya berjalan menuju kursi. Semua itu tidak terlepas dari pantauan dokter Niken dan perawat yang berjaga.
"Hati-hati, Sayang!" ucap Shaka mengingatkan. Pria itu mendudukan Zahira di kursi. Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman barulah dia mendaratkan bokongnya di sebelah sang istri.
"Hasil pemeriksaan semuanya normal. Namun, saya akan tetap memberikan resep vitamin untuk Dokter Zahira. Lalu obat penambah darah jika seadanya Dokter Zahira merasa pusing dan berkunang-kunang." Dokter Niken menuliskan resep yang dapat diambil di apotek pada secarik kertas putih bertintakan hitam.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka, tak lama kemudian sepasang suami istri muncul dari dalam ruangan tersebut.
"Alhamdulillah, ya, Sayang, Tuhan ngasih kita anak kembar sepasang. Kupikir malah anak pertama kita berjenis kelamin laki-laki." Shaka menggandeng tangan istrinya, melangkah bersama menyusuri lorong rumah sakit.
"Jika seandainya tadi anak kita perempuan, kamu enggak bahagia, gitu?" tanya Zahira. Entah kenapa ia ingin sekali menanyakan hal itu sedari tadi. Walaupun Shaka bilang akan menerima bayi mereka meski jenis kelaminnya perempuan, tetap saja ia penasaran jawaban apa yang diberikan suaminya itu.
Sadar bahwa Zahira acap kali mengalami perubahan suasana hati membuat Shaka lebih waspada. Maka dari itu ia harus lebih selektif dalam memilih jawaban agar tidak menyebabkan pertengkaran kecil di antara mereka.
__ADS_1
Merangkul pundak Zahira, kemudian membawa kepala wanita itu di dadanya yang bidang. "Jangan sembarangan bicara, Sayang! Mana mungkin aku enggak bahagia toh bayi yang kamu kandung itu adalah darah dagingku sendiri. Laki-laki ataupun perempuan, bagiku sama saja."
"Kedua janin dalam kandunganmu adalah amanah yang Tuhan berikan pada kita. Sebagai orang tua, kita patut menjaga, merawat dan mendidik mereka dengan baik. Jadi mana mungkin aku enggak bahagia atas rezeki yang Tuhan beri kepadaku. Udah, jangan terlalu dipikir, nanti kamu malah stress! Ingat pesan Dokter Niken, enggak boleh kecapekan dan stress. Mengerti?"
Setelah menebus resep di apotek rumah sakit, pasangan suami istri itu memutuskan pulang ke apartemen. Namun, saat di tengah perjalanan Zahira ngidam sesuatu yang membuat Shaka terpaksa memutar arah.
"Kamu enggak marah, 'kan, sama aku karena minta anterin ke kantin sekolah?" tanya Zahira dengan ragu-ragu. Kedua telapak tangan saling meremas satu sama lain. Terlihat jelas betapa takutnya Zahira saat itu. Takut jika Shaka diam-diam marah lalu pergi meninggalkannya dengan kedua janin yang masih dalam kandungan.
Shaka melirik ke spion yang ada di sebelah kemudi, berniat menyalip kendaraan di depannya. Setelah mobilnya berhasil menyalip dua kendaraan barulah Shaka menjawab, "Kenapa harus marah, hem? Menurutku, permintaanmu barusan masih dalam batas wajar kok. Hanya memintaku mengantarkanku ke kantin sekolah, membeli batagor bukanlah suatu pekerjaan sulit. Jadi kenapa aku harus marah hanya karena permintaan sepele."
Zahira menundukan wajah, memilin ujung dress dengan perasaan bersalah. Ia tidak berani menoleh pada Shaka karena merasa bersalah telah meminta sang suami memutar arah menuju sekolahan mereka.
Shaka memberhentikan kendaraan mereka di bahu jalan, kemudian merubah posisi duduk hingga posisinya saat itu menghadap Zahira. Tangan kanan pria itu menyentuh ujung dagu istrinya. "Sayang, aku sama sekali enggak keberatan jika harus mengantarkanmu ke sekolah hanya untuk membeli batagor Mang Sarimin. Justru aku bahagia karena bisa memenuhi ngidam kamu. Itu artinya kamu begitu tergantung sama aku dan aku merasa jika diriku memang dibutuhkan kamu. Jadi, please, jangan pernah merasa bersalah jika dirimu memintaku membelikan sesuatu atau mengantarmu pergi ke suatu tempat. Aku ikhlas melakukannya asalkan kamu dan calon anak kita bahagia."
Tubuh Zahira meremang mendengar perkataan Shaka. Setiap kata yang terucap terdengar begitu tulus dan itu semakin membuat Zahira melambung tinggi ke angkasa.
Tanpa banyak kata, Zahira segera meletakkan kepalanya di dada bidang Shaka. "Terima kasih, Sayang, kamu memang suami dan calon Papa terbaik di dunia ini."
...***...
__ADS_1