Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Shinjuku Gyoen, Tokyo


__ADS_3

Destinasi wisata pertama yang akan dikunjungi oleh Zahira dan suami adalah Shinjuku Gyoen, Tokyo. Shinjuku Gyoen sendiri merupakan sebuah taman nasional yang berada di pusat kota, biasanya menjadi tujuan utama para wisatawan untuk menikmati hamparan bunga sakura yang tengah tumbuh di saat musim semi datang.


Berjalan berdua menaiki kereta, Zahira tampak begitu bahagia sebab rasa rindu akan negeri Sakura kini terobati dan keinginannya bertemu kembali dengan Ghani segera terkabul. Walaupun baru satu bulan berpisah, tapi kerinduannya kepada kakak pertamanya membuncah dan tak bisa terbendung lagi terlebih lelaki yang kini sedang menempuh spesialis jarang memberikan kabar hingga membuat keluarga di Indonesia begitu mencemaskan keadaan lelaki itu.


"Kamu sering datang ke sini, Ra?" tanya Shaka saat mereka menyebrangi zebra cross. Tangan kanan terus menggenggam erat jemari tangan sang istri.


"Enggak juga. Selama kuliah baru tiga kali datang ke sini. Itu pun karena aku terpaksa menerima ajakan Akihiro," jawab Zahira.


Langkah kaki terhenti sesaat tatkala bibir ranum sang istri mengucapkan satu nama asing. "Siapa dia? Apa selama enam tahun tinggal di Jepang, kamu menjalin kasih dengan seseorang tanpa sepengetahuan keluargamu?" Tatapan mata Shaka menghujam lebih tajam dari biasanya.


Zahira yang cukup terkejut akan perubahan sikap Shaka yang secara tiba-tiba hanya bergeming di tempat, menatap lekat iris coklat itu tanpa ada niat menjawab pertanyaan sang suami.


Merasa kesal seolah diacuhkan, Shaka kembali bertanya dengan penuh selidik. "Jawab pertanyaanku, Ra. Siapa Akihiro? Apa dia kekasihmu?"


Nada suara meninggi membuat Zahira terlonjak kaget. "Ehm ... Akihiro ... dia adalah teman kuliahku sewaktu kami masih sama-sama menjadi mahasiswa dulu," jawabnya dengan terbata-bata. Zahira belum menyadari kalau saat ini sebenarnya Shaka tengah dihinggapi rasa cemburu sebab ada lelaki lain yang mendekati wanita itu selain si berengsek Nizzam Al Fallah.


"Seberapa dekat kamu sama dia?"


"Ya tentu aja dekat. Dia 'kan teman kuliahku. Kami selalu bersama, mengerjakan tugas kuliah dan tugas kelompok. Selain itu, dia juga orang kepercayaan dosen sama sepertiku. Jadi dia sering membantu menyelesaikan pekerjaanku," tandas Zahira. Shaka semakin geram, telapak tangan mengepal sempurna dengan dada kembang kempis. Lelaki itu sangat yakin jika sebenarnya Akihiro ada maksud lain kenapa bersedia membantu Zahira.


"Jadi, kalian sering pergi bersama, begitu?" Shaka kembali bertanya. Mata memicing tajam seakan ingin menerkam Zahira detik itu juga.


"Enggak sering sih, hanya sesekali aja. Kalau Kak Ghani ada tugas di kampus sedangkan aku mau pulang, Akihiro selalu dimintai tolong mengantarkanku pulang ke asrama," kata Zahira polos. Ia benar-benar tidak mengetahui jika kepulan asap putih mengepul di ubun-ubun Shaka.

__ADS_1


Shaka bergumam lirih dengan nada kesal. "Dasar Kakak tidak bertanggung jawab. Dia malah meminta orang lain mengantarkanmu pulang. Memangnya dia enggak takut terjadi hal buruk menimpa Zahira." Kali ini ia melampiaskan kekesalannya kepada Ghani yang pernah meminta lelaki lain mengantarkan wanita miliknya.


"Lalu, di mana dia sekarang? Apa kamu masih sering berkomunikasi dengannya?"


"Iih, Shaka. Kamu gimana sih. Memangnya kamu enggak bisa menilai seseorang berasal dari negara mana hanya dari namanya saja?" ujar Zahira. "Akihiro. Hanya mendengar namanya saja kita sudah pasti tahu jika dia berasal dari Jepang, tempat kita berbulan madu saat ini. Kalau untuk pertanyaanmu yang kedua, kami masih sering komunikasi kok. Terakhir kali sebelum kita pergi ke Australia."


Shaka terdiam, terlihat sorot mata tajam menghujam dalam pada si pemilik mata teduh. Ingin rasanya mengumpat, melampiaskan kekesalannya, tapi sadar kalau saat ini mereka tengah berbulan madu.


Menghela napas panjang, melirik ke sekitar. Banyak orang memandang dengan tatapan aneh ke arah mereka. "Lain kali kalau dia mengirimkan pesan, enggak usah dibalas. Pura-pura saja kalau kamu enggak tahu kalau ada pesan dari lelaki itu. Atau kalau perlu, blokir saja nomornya agar dia enggak ganggu kamu terus!"


"Hah? Kok gitu sih! Emangnya kenapa aku harus blokir nomor dia, Ka?" Zahira mendongak kepala terkejut.


"Pokoknya aku enggak suka kamu menjalin komunikasi dengan lelaki mana pun. Baik Nizam kutukupret ataupun Aki-aki tua menyebalkan itu, pokoknya jauhi mereka!" tandas Shaka tanpa ingin dibantah sedikit pun.


Perlahan, sebuah senyuman terbit di sudut bibir Zahira. Wanita itu merasa tengah melayang di atas awan hanya membayangkan Shaka cemburu tidak jelas. Bukankah itu manis sekali saat mendapat seseorang yang kita cintai dan juga mencintai kita cemburu, tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya?


"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Shaka ketus. Cemburu membuat seseorang menjadi lebih sensitif dan terkadang tak dapat berpikir dengan logis.


"Gak kenapa-kenapa. Cuma aku lagi ingat hal lucu aja." Zahira terkekeh pelan. Lantas, wanita itu melingkarkan tangannya di lengan Shaka. "Udah ah, jangan membicarakan orang lain di saat kita sedang berbulan madu. Aku enggak mood kita hancur hanya karena orang lain."


***


Pukul sembilan pagi waktu setempat, sepasang suami istri telah tiba di taman yang dimaksud. Shaka masih dalam mode cemburu karena mengingat ada lelaki lain yang pernah mengantarkan istrinya selain dia. Wajah lelaki itu kusut bagaikan pakaian yang tidak disetrika berbulan-bulan. Sementara Zahira tampak begitu bahagia berada di tengah lautan manusia yang sedang menikmati bunga sakura.

__ADS_1


"Sayang, kita ke sana yuk!" ajak Zahira sembari menarik tangan Shaka melewati kerumunan orang banyak yang sedang berdiri memandangi keindahan pemandangan di depan sana.


Zahira berhenti berjalan dan kini mereka berada di atas jembatan dengan bagian bawahnya terdapat kolam ikan koi beraneka ragam warna yang sangat indah. Posisi jembatan itu berada di tengah-tengah hamparan bunga sakura yang sedang bermekaran.


"Indah sekali, bukan?" Menatap dengan binar bahagia pada jejeran pohon di depan sana. Ada banyak bunga sakura dengan berbagai warna yang tengah bermekaran saat ini. Tidak hanya warna merah jambu, tapi ada juga warna putih meski begitu tetap terlihat indah dan sedap dipandang.


"Kamu tahu, Shaka, saat musim semi begini terkadang aku sangat merindukan Papa dan Mama. Kami, para mahasiswa yang menimba ilmu di negera Jepang mendapat waktu libur selama 200 hari dan salah satunya adalah saat liburan musim semi. Namun, setiap kali memasuki musim liburan, aku dan Kakak pertama enggak pernah sekalipun pulang ke Indonesia, kami memutuskan tetap tinggal di sini dan mengisi waktu liburan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat. Bahkan, kami pernah kerja sampingan di saat para mahasiswa sibuk berlibur."


"Sebenarnya aku sering berkata kepada Kak Ghani untuk pulang ke rumah jika memang ingin bertemu Ayah dan Bunda, tapi dia bersikeras untuk terus berada di dekatku meski sebenarnya ada rasa rindu yang terpendam selama ini," lanjutnya bergumam.


"Memangnya kenapa kamu enggak mau pulang ke Indonesia, Ra? Apa kamu enggak rindu suasana kampung halaman? Ya, walaupun Jakarta sering macet dan terjadi banjir di mana-mana, bukankah tinggal di Indonesia lebih membuat kita nyaman dibanding tinggal di luar negeri?" sahut Shaka pelan. Mengikuti ke mana arah pandang Zahira.


Tersenyum getir mendengar perkataan Shaka. Bohong jika Zahira mengatakan tidak merindukan kehangatan dari sebuah keluarga terlebih dia lahir dan dibesarkan dalam keluarga penuh dengan cinta dan kasih sayang. Namun, karena suatu sebab membuat wanita itu terpaksa memendam kerinduan kepada orang tuanya.


"Memang benar apa katamu, se-nyaman-nyamanya suatu negara, tetapi lebih enak tinggal di kampung sendiri. Namun, aku punya alasan sendiri kenapa enggak mau pulang ke rumah meski dilanda rinduan yang memuncak," jawab Zahira dengan mengigit bibir bawah. Kelopak mata mulai berkaca-kaca dan hidung pun terasa masam. Kenangan di masa lalu seakan menjadi momok menakutkan bagi wanita itu.


Shaka mendongakan kepala, menatap lekat wanita di sebelahnya. "Alasan? Alasan apa yang membuatmu selama enam tahun enggak pulang ke Indonesia? Apa ada kaitannya dengan kepergianmu secara tiba-tiba ke Jepang tanpa memberitahuku sebelumnya?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2