
"Bagaimana, Sayang, kamu suka dengan dekorasi rumah ini?" tanya Shaka sesaat setelah mereka selesai home tour. Tujuan Shaka mengajak istri tercinta berkeliling hanya ingin memastikan apakah rumah itu sesuai kriteria Zahira atau tidak.
Zahira yang saat itu sedang merebahkan kepala di pangkuan suami tercinta menjawab, "Suka sekali. Aku enggak menyangka loh, kalau kamu masih ingat dengan rumah impianku. Padahal saat aku bicara ingin punya rumah impian bergaya Jepang, usia kita masih belasan tahun. Namun, kamu justru mengingat semua perkataanku. Itu ... benar-benar berkesan sekali, Sayang. Terima kasih, Suamiku." Wanita itu menyilangkan ibu jari dan jari telunjuk hingga membentuk simbol hati (finger heart).
Shaka mengusap kedua pipi Zahira yang terlihat semakin tembem akibat berat badan meningkat selama kehamilan. "Semua yang kulakukan enggak sebanding dengan pengorbananmu ketika mengandung kedua anak-anak kita. Trimester pertama kamu mengalami morning sickness, berat badan turun drastis bahkan sampai dirawat inap akibat napsu makan menurun. Lalu sempat ngeflek karena kelelahan dan sering buang air kecil serta merasa sakit di daerah punggung akibat bertambahnya usia kandungan. Kurasa memberikan rumah impian beserta isinya tidaklah sebanding dengan yang kamu korbankan demi buah cinta kita, Sayang."
Jemari lentik Zahira menangkup wajah suami tercinta. Dipandanginya wajah rupawan itu dengan lekat. "Sayang, sudah kukatakan berkali-kali, aku sama sekali enggak merasa terbebani dengan apa yang menimpaku selama proses kehamilan. Aku anggap semua ini merupakan serangkaian tahapan yang harus kujalani selama mengandung si kembar. Aku ikhlas kok dengan semua ini."
Sumpah demi apa pun, Shaka tidak dapat lagi menahan gejolak di dalam dada. Bola mata pria itu mulai berkaca-kaca, hidung terasa masam dan suara pun tercekat. Semua untaian kata yang terucap terdengar begitu tulus hingga membuat Shaka tersentuh. Andai saja dulu ia tidak menyetujui saran Rini untuk menikahi Zahira, mungkin saat ini rumah tangganya tidak akan sebahagia ini.
Calon ayah dari dua bayi kembar menundukan wajah untuk mendekati paras jelita sang istri. Ingin sekali mengecup ranumnya bibir Zahira yang telah menjadi candu bagi pria itu. Memangut pelan, tapi penuh perasaan. Kedua bibir mereka saling bertemu seiring ******* lembut bersumber dari bibir Zahira.
"I love you, Najma Zahira, Bintangku yang Bersinar," bisik Shaka lembut mengusap pipi suami tercinta.
Shaka mengakhiri ciuman mereka dengan mengecup kening Zahira satu kali. Tepat di saat itu, Zahira merasa kesakitan yang amat sangat luar biasa. Seketika keringat dingin muncul ke permukaan, membasahi kening wanita itu.
"Shaka," panggil Zahira lirih. Tangan kanannya refleks menyentuh permukaan perut yang terlihat semakin membesar.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa?" Shaka segera membenarkan posisi duduknya menjadi tegak. Air muka pria itu berubah cemas saat melihat wajah Zahira pucat. Butiran keringat sebesar biji jagung mengalir dari kening wanita itu.
"Shaka, perutku sakit sekali." Napas Zahira tercekat ketika merasakan kontraksi hebat berasal dari perutnya.
"Sakit? Yang kamu rasakan kontraksi mau melahirkan atau justru kontraksi palsu?" ujar Shaka memastikan sebab sebelum ini Zahira pernah mengeluhkan perutnya terasa sakit mirip seperti kram saat menstruasi.
Kontraksi Braxton Hicks atau lebih sering dikenal dengan istilah kontraksi palsu merupakan bagian dari proses yang normal selama kehamilan. Kontraksi semacam ini merupakan simulasi melahirkan untuk membiasakan tubuh menghadapi persalinan dengan cara melatih pernapasan.
Kontraksi ini terjadi saat ibu hamil memasuki usia kandungan trimester kedua dan ketiga. Dengan ciri pola tidak teratur dan kerap hilang timbul selama kehamilan. Biasanya tidak begitu sakit dan justru mirip dengan kram menstruasi.
"I-ini bukan kontraksi palsu, Sayang. Sepertinya aku ... aku ... mau melahirkan." Napas Zahira terengah. Susah payah wanita itu menjawab pertanyaan Shaka. Dalam keadaan ini ia mencoba tenang meski rasa sakit yang dideritanya tak bisa dapat dilukiskan dengan kata-kata.
"Tapi usia kandunganmu belum genap 32 minggu, Sayang." Shaka bingung sendiri, tidak tahu harus berbuat apa. Kepintaran dan kehebatan yang dimiliki pria itu sirna saat melihat betapa menderitanya Zahira saat ini.
Zahira mengangkat tangan ke udara, memberi isyarat pada suaminya untuk membantu wanita itu bangkit dari sofa. "Aku juga enggak tahu. Tapi sebaiknya kamu tolong antarkan aku ke rumah sakit. Aku enggak mau melahirkan tanpa dibantu dokter ataupun bidan."
Tanpa pikir panjang Shaka membantu Zahira melangkah keluar meninggalkan rumah masa depan mereka.
__ADS_1
"Sayang, lebih cepat lagi. Aku udah enggak tahan, rasanya sakit sekali." Zahira merintih kesakitan sepanjang perjalanan. Telapak tangan wanita itu meremas pinggiran jok demi mengurai rasa sakit yang dideritanya.
Shaka semakin tidak dapat fokus mendengar rintihan sang istri. Sesekali melirik ke arah Zahira, kemudian melirik ke arah spion di luar, mencoba menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya.
"Sabar, Sayang, sebentar lagi kita sampai." Untuk mengurangi rasa sakit yang diderita Zahira, Shaka mengusap puncak kepala istrinya sembari memberi semangat kepada wanita itu. Walaupun Shaka tidak tahu apakah dengan metode begini dapat membantu Zahira agar lebih tenang atau tidak, tapi setidaknya ia telah berusaha melakukan apa yang menurutnya baik bagi ibu dan calon anak mereka.
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, akhirnya Shaka berhasil tiba di rumah sakit. Perjuangan membawa Zahira ke rumah sakit milik mendiang Mei Ling begitu sulit hingga ia nyaris menabrak kendaraan yang telah lebih dulu menyalip mobil miliknya. Terlalu panik, ia lupa menyalakan lampu sein dan menyalip begitu saja tanpa melihat kendaraan lain yang lebih dulu melaju di bahu kanan jalan. Beruntungnya Shaka dapat menguasai medan jalan sehingga kecelakaan itu berhasil dihindari.
"Suster, tolong, istri saya mau melahirkan." Shaka berteriak dengan kencang memanggil perawat yang tengah berjaga di IGD.
Mendengar suara teriakan seseorang membuat para tenaga medis yang sedang duduk santai sambil menunggu pasien menoleh ke sumber suara. Nizam yang saat itu tengah bertugas segera bangkit saat melihat suami dari wanita yang ia cintai berlari masuk ke ruangan dengan wajah pucat.
"Pak Shaka, apa yang terjadi?" tanya Nizam mencoba bersikap profesional. Meskipun ia masih sedikit kesal karena Shakalah yang beruntung mendapatkan Zahira, tapi sebagai seorang dokter ia berusaha bersikap profesional.
"Nizam, tolong Zahira. Dia ... dia mau melahirkan." Shaka terlihat begitu cepat. Beberapa kali ekor matanya bergerak ke sana kemari tak tentu arah. Terkadang menatap lurus ke depan, lalu beberap detik kemudian menoleh ke samping ke arah mobil yang terparkir tak jauh dari ruang IGD.
Nizam menoleh ke belakang dan memberi instruksi pada kedua perawat yang berjaga untuk membawa Zahira menggunakan kursi roda. Lantas mereka dengan sigap menuruti perintah Nizam. Kedua wanita berseragam perawat membantu Zahira duduk di kursi roda, sementara Nizam menghubungi dokter Niken, memberitahu jika Zahira mau melahirkan.
__ADS_1
Sumber : nutriclub.co.id & alodokter.com
...***...