Pengantin Pengganti Sahabatku

Pengantin Pengganti Sahabatku
Kekacauan


__ADS_3

Detik berganti detik, menit berganti dengan menit, waktu kurang lebih satu jam sebelum janji suci pernikahan Shaka dan Ziva akan segera dilangsungkan. Tampak seorang pria tampan pemilik hidung mancung berwajah khas Timur Tengah sedang bersiap menunggu di kamar seraya menghitung mundur waktu yang kian semakin dekat. Terus meyakinkan diri bahwa hari ini akan berjalan dengan lancar.


Keluarga besar dari kedua belah pihak menunggu di ballroom hotel yang telah disulap menjadi sebuah taman putih dengan mengusung konsep white garden. Dekorasi yang cantik dengan salur-salur dan pot-pot bunga warna senada. Begitu pun dengan kerabat, tetangga serta beberapa kenalan dari kedua keluarga telah menunggu di kursi tunggu ruangan.


Konsep pernikahan kali ini berbeda dari biasanya. Di mana hanya akan ada mempelai pria duduk di depan penghulu serta dua saksi dari kedua belah pihak. Mempelai wanita baru muncul sesaat setelah mempelai pria mengucapkan ikar suci pernikahan yang disahkan oleh seluruh orang yang hadir.


"Ka, bagaimana, kamu sudah siap belum?" kata Rini sambil berdiri di belakang tubuh Shaka. Bola mata berkaca-kaca sebab sebentar lagi dia akan melepas anak bungsunya menuju sebuah gerbang pernikahan yang diharapkan terjadi sekali dalam seumur hidup.


Shaka menyentuh sebelah tangan Rini sambil memandangi wajah cantik sang mama tercinta. Mengulum senyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipi di kedua sudut bibir. "Aku sudah siap. Do'akan ya, Ma, semoga saat akad nikah nanti aku tidak gugup," pinta pria itu tulus, mohon do'a dari wanita yang telah melahirkannya ke dunia.


"Mama selalu mendo'akanmu dan juga kedua kakakmu. Tiada hari tanpa bermunajat kepada Tuhan, semoga kalian semua selalu sehat dan hidup berbahagia bersama orang-orang yang disayangi." Tanpa sadar, butiran kristal meluncur membasahi pipi. Air mata itu bukanlah air mata kesedihan melainkan air mata bahagia sebab sebentar lagi anak tercinta akan berumah tangga, membangun sebuah keluarga bersama orang tercinta.


Melihat Rini menangis, Shaka tidak tahan. Lantas, dia bangkit dari kursi kemudian mengulurkan tangan mengusut air mata itu menggunakan punggung jari telunjuk. "Aku berjanji, meskipun telah menikah tetapi akan tetap mengunjungi Mama dan Papa. Setiap akhir pekan kami menginap di rumah Mama."


Tanpa banyak kata, Rini segera memeluk tubuh Shaka dan mendekapnya dengan erat seakan dia takut anak lelakinya itu pergi dan tak akan kembali lagi.


Pelukan terurai kala terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Mas Shaka, sudah saatnya ke ballroom. Pak penghulu sebentar lagi sampai," ucap Helena, pemilik WO.


"Iya. Sebentar lagi aku keluar!" sahut Shaka.


Terdengar derap langkah kaki dari sang calon mempelai pria dengan balutan beskap warna broken white melangkah dengan gagah berani memasuki ballroom tempat dilangsungkannya akad nikah. Di depan sana sudah ada Rio, Indah beserta keluarganya, Bagus beserta keluarganya, Shakeela, Arumi dan Rayyan tersenyum bahagia saat melihat pengacara muda berjalan dengan ditemani Rini di sebelahnya. Sementara Zahira hanya menundukan wajah sambil meremas jemari tangan yang saling tertaut satu sama lain, mencoba menegarkan hati agar tetes air mata tak membasahi pipi.


Shaka tersenyum bahagia sembari menatap wajah para tamu undangan yang hadir turut menyaksikan pengucapan ikrar suci pernikahan. Dia dengan percaya diri menggenggam erat jemari tangan sang mama seakan meminta kekuatan kepada wanita paruh baya itu. Tak bisa dipungkiri rasa gugup dan gelisah terus hadir silih berganti disertai degup jantung yang berdetak begitu kencang. Namun, dia percaya selama ada Rini di sebelahnya maka segala sesuatu akan baik-baik saja.

__ADS_1


Akan tetapi, saat Shaka nyaris mendekati kursi yang disediakan khusus bagi kedua mempelai asisten penanggung jawab WO berseru dengan suara lantang dan menggema di The Mandarin Suite Hotel. "Gawat! Calon mempelai wanita kabur!" Raut kecemasan terlukis jelas di wajah wanita bergaun putih.


Sontak, suasana yang tadinya hening mendadak ramai. Sebagian orang mulai berbisik-bisik dan sebagian lagi masih tertegun di tempatnya.


Shaka yang berdiri di samping Rini membulatkan mata sempurna, masih tak percaya akan berita yang disampaikan oleh sang asisten. Sungguh, dia seperti mendengar suara gemuruh petir di siang hari kala asisten Helena memberitahu bahwa Ziva tidak ada di ruangannya. Dia seakan terperosok ke dalam jurang yang sangat dalam.


"Shaka?" Rini mengguncang bahu anaknya. "Nak, kamu--"


Belum selesai Rini berbicara, Shaka telah berlari berhambur mendekati asisten Helena. "Maksudmu apa dengan berbicara begitu? Jangan buat acaraku hancur dengan kebohonganmu ini!" semburnya melirik pada wanita bergaun putih.


Asisten Helena yang bernama Santi menggelengkan kepala cepat. "Demi Tuhan, Mas, saya tidak bohong! Calon mempelai wanita memang tidak ada di kamar," ucap wanita itu bersungguh-sungguh. "Tadi, saat saya hendak menjemput Mbak Ziva dan memintanya menunggu di ruangan sebelah, calon istri Mas Shaka memang sudah tidak ada di ruangan make up. Ruangan itu kosong, tidak ada siapa-siapa. Bahkan semua barang milik Mbak Ziva yang ada di loker telah dibawa semua."


"Bagaimana bisa hilang? Bukankah tadi calon menantuku ada bersama kalian?" kata Rini ikut menimpali berkataan Shaka.


Santi menundukan wajah, tak berani menatap sepasang mata sendu yang tampak begitu letih. Bagaimana tidak, satu minggu belakangan Rini dan Arumi begitu sibuk memastikan segala keperluan pernikahan Shaka tak ada yang terlewatkan. Jadwal tidur terganggu, pikiran terkuras dan pola makan tidak teratur hanya demi memberikan pesta pernikahan sempurna untuk anak tercinta. Namun, ternyata saat hari pelaksaan sang mempelai wanita malah kabur entah ke mana.


"Cukup lama menunggu, akhirnya saya meminta Santi menjemput Mbak Ziva tapi ternyata ruangan itu sudah kosong dan asisten saya hanya menemukan ini tergeletak di atas meja." Jemari tangan Helena terulur ke depan, menyodorkan secarik kertas putih kepada Shaka.


Dear Shaka.


Maafkan aku karena harus pergi tanpa mengucap salam perpisahan. Aku terpaksa pergi dari acara pernikahan kita. Bukan karena aku tidak mencintaimu hanya saja saat ini aku benar-benar ingin fokus meraih cita-cita yang kuimpikan. Aku harap kamu mengerti.


Salam hangat dari kekasihmu, Ziva.


"Berengsek! Berani-beraninya dia pergi di saat acara akan segera dimulai!" Dalam sekali remasan, kertas putih itu berubah menjadi kusut. Wajah Shaka memerah, kedua tangan mengepal erat. Deru napas memburu dengan dada kembang kempis. Terselip rasa kecewa karena Ziva lebih memilih karir daripada menikah dengannya.

__ADS_1


Rini melirik tajam kepada sepasang suami istri yang tak lain adalah paman dan bibi Ziva dari pihak sang ayah. Kebetulan, Ziva adalah anak yatim piatu. Kedua orang tuanya sudah meninggal lima tahun lalu setelah sang model menyelesaikan studi di bangku SMA.


"Bu Murni, saya menunggu penjelasan dari Ibu," ujar Rini dengan menekankan setiap kalimat yang diucapkan. Rahang wanita itu mengeras sempurna. Tangan mengepal sempurna hingga memperlihatkan buku-buku kuku. Merasa dipermalukan oleh calon besannya itu.


"Maafkan saya, Bu Rini. Saya pun tidak tahu kalau akhirnya akan begini." Murni, adik ipar dari ayah Ziva menundukan wajah. Dia merasa bersalah karena tidak berhasil mencegah Ziva kabur ke luar negeri demi meraih cita-cita.


Arumi dan Indah mengusap punggung Rini dengan lembut, mencoba menenangkan wanita itu agar tidak emosi.


"Kakak dan Soni akan mencari Ziva di rumahnya. Siapa tahu dia masih ada disana." Bagus mencoba mencari jalan keluar dari masalah yang disebabkan oleh Ziva. Sebagai anak lelaki pertama tentu dia bertanggung jawab menyelesaikan masalah yang ada.


Rio dan Rayyan ikut mencari Ziva di sekitar hotel, berharap gadis itu masih berada di lingkungan hotel. Rini dibantu Arumi dan Indah duduk di kursi tamu undangan, sedangkan Shaka terduduk lemas di tepian panggung pelaminan.


Shaka mengusap wajah kasar. Marah? Tentu saja, dia benar-benar marah karena merasa dicampakkan oleh orang tercinta. Sudah tahu kalau Ziva akan lebih memilih karir tapi pria itu tidak mengetatkan pengawasan hingga kejadian ini terjadi di hari pernikahannya.


"Aargh! Sialan!" Shaka bangkit kemudian menendang kursi tamu undangan hingga terpental beberapa meter ke depan. Benda mati itu menjadi pelampiasan kemarahan Shaka. Perasaan malu, sakit dan kecewa hadir dalam waktu bersamaan.


Melihat Shaka mengamuk sambil berteriak seperti orang kesurupan membuat Zahira tidak tahan lagi. Seharusnya hari ini adalah hari bahagia bagi sahabatnya, semua orang bersuka cita larut dalam suasana. Namun, pernikahan itu harus berubah kelabu manakala sang mempelai wanita pergi meninggalkan acara sakral yang terjadi sekali dalam seumur hidup.


"Kak Zahira mau ke mana?" sergah Shakeela ketika melihat Zahira melangkah ke tengah ballroom hotel.


Berjalan dengan penuh percaya diri melewati beberapa kursi di sebelah kanan kiri. Derap langkah high heels menggema seirama deru napas tenang bersumber dari Zahira. Tatapan mata lurus ke depan, kemudian menjawab, "Melakukan apa yang seharusnya Kakak lakukan, Dek."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2