
Sepasang bola mata bulat melebar sempurna. Degup jantung rasanya berhenti berdetak tatkala mendengar permintaan dari sang istri. Tak pernah berpikir kalau Zahira begitu berani meminta dirinya menceraikan gadis itu. Ia pikir hubungan mereka akan membaik setelah permintaan maaf terucap dari bibirnya.
"Ra, apa maksud perkataanmu barusan?" Shaka menatap lekat gadis cantik di depannya hingga kedua netra saling bertatapan. "K-kamu ... tidak mungkin serius dengan perkataanmu, 'kan?"
Zahira menggelengkan kepala. "Aku serius dengan ucapanku, Shaka." Menarik napas panjang, kemudian mengembuskan secara perlahan setelah itu barulah kembali berkata, "Sejak kemarin malam sampai hari ini aku terus berpikir langkah terbaik apa yang dapat kita ambil demi kebaikan bersama. Dan aku berpikir perpisahan adalah cara satu-satunya untukmu bisa terlepas dari belenggu pernikahan ini. Jika kita bercerai maka kamu bisa dengan leluasan menemui Ziva tanpa harus membohongiku lagi."
Shaka menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Ra. Aku tidak mau cerai denganmu!" Pria itu semakin mengeratkan genggaman tangan seakan benar-benar takut kehilangan gadis itu.
"Aku bisa mengabulkan apa pun tapi tidak berlaku untuk permintaanmu barusan. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menceraikanmu, Ra! Tidak akan pernah!" tegas Shaka.
"Apa yang kamu harapkan dari pernikahan ini, Shaka? Tidak ada, 'kan?" ucap Zahira lirih. "Pernikahan kita tidak akan bisa sama seperti pernikahan orang lain pada umumnya di mana akan ada kasih sayang, kehangatan dan cinta di dalamnya. Ketiga komponen itu tidak kita temukan pada pernikahan yang sedang kita jalani. Kamu menikahiku hanya karena keterpaksaan saja bukan karena cinta. Jadi, untuk apa pernikahan ini dipertahankan bila ternyata kamu tak akan pernah bisa menerimaku sebagai istri."
Zahira menghela napas panjang, lalu kembali berkata, "Dalam kasus ini, aku pun bersalah karena sudah menawarkan diri untuk menjadi pengganti Ziva, duduk bersanding denganmu di pelaminan. Seharusnya dulu aku biarkan saja pernikahanmu batal daripada memaksamu menikah dengan seseorang yang tak pernah kamu cintai. Aku menyesal karena sudah menyeretmu masuk ke dalam sebuah neraka pernikahan."
"Jadi kamu menyesal menikah denganku?" sergah Shaka. Terlukis jelas sorot mata penuh kekecewaan di iris coklatnya itu.
"Tidak, Shaka! Aku sama sekali tidak menyesal telah menikah denganmu. Hanya saja, aku tidak mau egois terus memaksamu berada di sisiku padahal cinta dan hatimu hanya untuk Ziva seorang. Aku sadar diri kok di mana posisiku saat ini. Di matamu, aku cuma sahabat dan juga anak kerabat dari kedua orang tuamu. Selamanya posisiku tidak akan pernah berubah menjadi istri dari seorang Shaka Abimana."
Shaka terdiam mendengar ucapan Zahira. Ingin sekali ia berkata namun lidah terasa kelu tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
"Maaf." Hanya kalimat itu yang mampu Shaka ucapkan. Shaka tahu dengan meminta maaf saja tak dapat mengembalikan hati yang telah terlanjur disakiti.
__ADS_1
Zahira tersenyum lirih mendengar permintaan maaf Shaka. "Shaka, kita memang tidak seharusnya bersama. Aku cuma mau mengembalikan posisi kita ke tempat semula. Tempat di mana seharusnya kamu bersama dengan Ziva bukan diriku. Aku ingin kamu mendapatkan kebahagiaanmu, Ka. Dengan melepaskanmu untuk meraih kebahagiaan sudah membuatku bahagia. Jika kamu berpikir setelah perceraian kita hubungan kekerabatan yang dibina sejak dulu oleh kedua orang tua kita renggang maka aku pastikan itu tidak akan pernah terjadi. Tali persahabatan antara orang tuamu dengan orang tuaku tetap terjaga."
"Kelak setelah hakim resmi mengumumkan bahwa kita telah bercerai dan Tuhan mempertemukan kita kembali dalam pertemuan yang tidak terduga, aku akan tetap menganggapmu sebagai sahabat," sambung Zahira.
"Kejarlah cinta dan impianmu bersama Ziva meski dia telah mengkhianatimu tapi aku yakin jauh di dasar hatimu yang terdalam rasa cinta itu masih ada. Enam tahun bukanlah waktu sebentar bagimu untuk melupakan kenangan bersama wanita itu," ucap Zahira seraya menepiskan genggam tangan Shaka, kemudian bangkit dari sofa.
Shaka membeku mendengar semua perkataan Zahira. Perkataan yang membuat dirinya bagai mendapat tamparan keras di wajah. Sejujurnya, pria itu memang masih mencintai Ziva namun bila harus berpisah dengan Zahira, apakah dia sanggup? Sementara kenangan indah bersama sang sahabat telah lebih dulu dituliskan dalam sebuah buku indah dibandingkan dengan mantan kekasih itu.
"Besok pagi aku akan berbicara dengan kedua orang tuaku mengenai rencana perceraian kita. Setelah itu baru bertemu dengan orang tuamu," ucap Zahira seraya melangkah pergi meninggalkan Shaka.
Akan tetapi, langkah kaki itu harus terhenti saat Shaka kembali bersuara. "Kamu mau ke mana, Ra?" tanya sang pengacara sambil menatap punggung Zahira.
Zahira menghentikan langkahnya sejenak. Menghela napas panjang dan mencoba memendam gemuruh di dalam dada. "Aku akan tidur di kamar Shakeela."
Perlahan, Zahira membalikkan badan hingga kini tatapan mereka saling beradu. "Memang benar pasangan suami istri itu seharusnya tidur di kamar yang sama tapi tidak berlaku bagi kita, Shaka. Lagi pula kamu sudah terlebih dulu membangun benteng tinggi di antara kita saat pertama kali pindah ke apartemen. Saat itu, kamu memintaku memilih kamar mana yang ingin kutinggali selama tinggal di apartemen. Jadi, kalau malam ini kita tidur secara terpisah tidak masalah, bukan?"
Setelah mengatakan itu, Zahira melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Shaka yang masih terdiam di tempatnya. Iris coklat gelap milik Shaka terus memandangi punggung sang istri yang mulai lenyap dari pandangan. Tatapan bersalah terpancar jelas di bola mata lelaki itu. Sang pengacara ingin sekali berlari dan menarik tubuh itu untuk tetap tinggal di kamar, menemaninya tidur hingga Sang Surya kembali menampilkan pesonanya. Namun, ia sadar bahwa tindakan itu akan semakin membuat Zahira merasa kecewa.
***
Aroma lavender langsung menyeruak indera penciuman Zahira tatkala ia memasuki kamar Shakeela. Kamar yang didominasi warna ungu akan menjadi tempat istirahat dokter cantik itu selama Shaka tinggal di rumah kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kak Rara, sedang apa di sini?" tanya Shakeela setelah menyadari kehadiran kakak perempuannya di kamar itu.
Zahira melepaskan jubah tidur berbahan satin di sandaran sofa, kemudian menghempaskan tubuhnya secara kasar di atas kasur. "Aku mau ngungsi di sini selama Shaka menginap."
"Memangnya Kakak tidak takut dimarahin Bunda kalau tahu kalian tidur secara terpisah?" tanya Shakeela penasaran.
Pandangan mata Zahira menatap langit-langit kamar. "I don't care! Biarkan saja Bunda marah toh keputusan untuk tidur satu kamar ataupun tidur secara terpisah adalah keputusanku. Aku sudah setuju Shaka menginap di sini jadi Bunda tidak berhak memaksaku untuk tidur satu kamar dengan lelaki itu."
"Sudahlah, Dek. Kakak ngantuk ingin istirahat. Kamu ... kalau sudah selesai ngerjain tugas langsung tidur jangan nonton drama Cina! Besok kalau kesiangan lagi bisa diomelin Ayah, loh!" Zahira mencoba mengingatkan adiknya sebelum ia berlayar ke pulau kapuk.
Si bungsu Shakeela berdecak kesal. "Iya, bawel! Sudah sana tidur! Jangan ngoceh mulu!"
Tanpa diperintah untuk kedua kali, Zahira menuruti perkataan sang adik. Matanya memang sudah terasa mengantuk dan ingin segera terlelap.
"Good nite, Sha!" ucap Zahira. Perlahan, kelopak mata gadis itu terpejam dan lambat laun dengkuran halus terdengar menandakan dia telah terlelap.
Shakeela memandangi wajah Zahira dengan tatapan yang sulit diartikan. "Have a nice dream, Jiějiě."
.
.
__ADS_1
.