
Shaka meraih handle pintu dan membuka pintu. Lelaki itu terperangah dan terharu, takjub akan kejutan yang disiapkan oleh istri tercinta. Ruangan yang cukup luas, mampu menampung dua puluh orang sudah didekorasi sedemikian rupa. Masih dengan suasana temaram, puluhan lilin dan sinar rembulan di malam hari menjadi penerang bagi mereka. Banyak balon dengan aneka warna digantung di dinding dan bukan hanya itu saja kedua mertuanya pun turut hadir dalam pesta kejutan tersebut.
"Selamat ulang tahun, Sayang!" ucap Zahira sambil membawa kue ulang tahun berbentuk silinder dengan tinggi sekitar 10 cm dan diameter 15 cm. Kue itu dilapisi oleh krim matcha kesukaan Shaka. Angka 25 tertera di atas sana menandakan bahwa lelaki itu memasuki usia ke-25 tahun.
Shaka masih membeku dan membisu di tempat, tanpa mampu berkata-kata. Sungguh, ia tidak menduga akan mendapat kejutan istimewa dari istri tercinta.
Zahira berjalan secara perlahan sambil menyanyikan lagu 'Happy Birthday to You'. Hingga lirik lagu tersebut habis, Shaka masih bergeming.
"Sayang, kok diam aja, sih? Tiup dong lilinnya masa dianggurin aja," tegur Zahira saat wanita itu sudah berada tepat di hadapan sang suami. Rayyan dan Arumi hanya memperhatikan anak serta menantunya dari jarak yang tidak terlalu jauh. Mereka pikir biarlah sepasang suami istri itu mengekspresikan diri tanpa merasa diganggu oleh siapa pun.
Suara lembut nan merdu bagai alunan melodi indah mengembalikan kesadaran Shaka. Dengan suara terbata, lelaki itu menjawab, "Aah ... iya. Ehm ... baiklah, aku akan meniupnya." Lelaki yang pernah menimba ilmu di negeri Kangguru menarik napas dalam siap menitup lilin yang dibawa Zahira.
"Tunggu!" sergah Zahira cepat sebelum Shaka memadamkan kedua lilin yang ada di atas kue ulang tahun. "Sebelum tiup lilin, kamu make a wish dulu, Sayang."
Shaka memandangi wajah Zahira dalam pencahayaan minim. Walaupun hanya lilin menjadi satu-satunya sumber penerangan mereka, tapi ia dapat melihat aura kecantikan wanita itu yang terlihat begitu memesona.
"Oke!" sahut Shaka singkat. Ia memejamkan mata, mengucap do'a di dalam hati.
Tuhan, hadirkanlah segera buah cintaku bersama Zahira. Itulah do'a yang Shaka panjatkan kepada Sang Pencipta. Berharap ada satu tetes cairan kenikmatan yang ia semburkan di rahim istrinya berhasil dibuahi.
Andai saja Shaka tahu jika saat ini telah hadir calon anak pertama mereka di perut istrinya, masihkan dia memanjatkan do'a yang sama kepada Tuhan?
Usai merapalkan do'a, Shaka membuka mata, menemukan Zahira tengah menatapnya dengan lembut. Seulas senyuman manis tersungging di sudut bibir wanita itu.
__ADS_1
"Dalam hitungan mundur, kamu tiup lilinnya, ya, Sayang." Shaka menganggukan kepala sebagai jawaban.
Tiga ... dua ... satu .... Shaka meniup lilin hingga padam. Kepulan asap tipis menguar di udara.
Arumi menghampiri anak dan menantunya, kemudian mengambil alih kue itu dari tangan Zahira. "Ajak suamimu duduk. Dia pasti lelah setelah seharian bekerja," bisiknya di telinga Zahira.
"Terima kasih, Sayang. Kamu repot-repot menyiapkan kejutan ini untukku," ucap Shaka sembari merangkum jemari lentik istrinya menuju meja yang sudah disediakan.
"Jangan sungkan! Ini hanya kejutan kecil yang bisa aku berikan padamu. Maaf, ya, kalau enggak sesuai harapanmu. Aku enggak tahu kamu menginginkan kejutan yang seperti apa."
Shaka melingkarkan sebelah tangannya di pundak Zahira, mengusap lembut dan berkata, "Semua kejutan ini udah lebih dari cukup."
Anak bungsu dari tiga bersaudara menarik sebuah kursi, mempersilakan Zahira duduk. Lelaki itu duduk di hadapan istrinya. Tak lama kemudian Arumi dan Rayyan menyusul mereka dengan membawa pisau kue, piring, sendok dan garpu.
Arumi meletakkan barang-barang tersebut ke atas meja. "Nak Shaka, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan sehat selalu."
Rayyan yang duduk di sebelah Arumi bergumam lirih. "Kalau bukan Rara sendiri yang datang menemuiku mana mungkin aku hadir dalam perayaan ulang tahunmu. Buang-buang waktu aja. Lebih baik aku istirahat di rumah, makan malam bersama istriku tercinta sambil menonton film kesukaan."
"Ayah!" tegur Zahira dengan mata melotot. Ia tidak suka ayahnya berkata begitu di hadapan Shaka.
Begitu pun dengan Arumi. Wanita itu cukup kesal mendengar perkataan sang suami.
Wanita cantik yang baru merayakan ulang tahunnya yang ke-52 tahun menyenggol lengan Rayyan. "Mas, jangan mulai deh! Hari ini adalah hari ulang tahun menantu kita, jangan sampai ucapanmu malah merusak suasana!"
__ADS_1
Diserang oleh dua perempuan yang amat disayangi membuat Rayyan tak berkutik. Daripada dimusuhi istri dan anak perempuannya, lebih baik ia mengunci rapat mulutnya menghindari bencana besar yang mungkin saja terjadi menimpanya. Sementara Shaka hanya terkekeh pelan melihat ayah mertuanya itu.
Shaka tidak merasa tersinggung apalagi marah mendengar perkataan Rayyan. Sudah maklum akan sikap ayah mertuanya yang hingga detik ini masih menyimpan dendam karena dulu ia pernah melukai hati Zahira. Tidak menyalahkan Rayyan sebab sadar dirinya memang bersalah karena sudah menorehkan luka di hati istri tercinta.
Shaka meraih pisau, kemudian memotong kue ulang tahun membentuk segi tiga dan meletakkannya di piring. "Potongan kue pertama aku berikan untuk Ayah sebagai ucapan terima kasih karena bersedia meluangkan sedikit waktunya untuk menghadiri pesta kejutan ini. Terima kasih, Ayah mertuaku tersayang." Sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan bagai busur panah.
Rayyan mencibir dan memutar bola matanya. "Dasar penjilat!" gumamnya lirih. Kendati begitu, aku tetap berdo'a, semoga Tuhan memberi umur panjang dan segala harapan serta impianmu dikabulkan Sang Pencipta.
Setelah memberikan potongan kue untuk kedua mertuanya, barulah Shaka beralih kepada istrinya. Ia mengambil garpu, menusuk potongan kue lalu mengirisnya. Irisan kecil yang tertusuk di garpu, ia arahkan ke mulut Zahira.
Zahira menggeleng. "Enggak perlu, aku bisa memakannya sendiri."
"Ayolah, buka mulutmu. Anggap ini semua sebagai apresiasiku karena kamu udah menyiapkan pesta kejutan untukku."
Pandangan mata Zahira teralihkan pada sosok pria dan wanita paruh baya yang tengah memperhatikan mereka. Ada perasaan malu menyelinap dalam diri perempuan itu. Bagaimana tidak ini kali pertama Shaka menyuapinya di hadapan kedua orang tuanya.
Saat tanpa sengaja pandangannya beradu pandang dengan sang bunda, perempuan yang telah melahirkannya ke dunia menganggukan kepala dan mengedipkan kedua mata seakan memberi isyarat pada Zahira untuk menuruti permintaan Shaka. Toh lagi pula hanya sekadar suap-suapan, tidak masalah bagi wanita paruh baya itu.
Malu-malu Zahira, membuka mulutnya, membiarkan Shaka memasukan potongan kue ke sana. Perpaduan rasa manis cokelat dan matcha terasa lembut dan sangat lezat.
Shaka kembali menyuapkan potongan berikutnya untuknya sendiri. "Oh ya, apa kamu mengundang Mama dan Papaku juga, Ra?"
Zahira mengangguk. "Benar! Kedua orang tuamu ada ...." Wanita cantik bermata sipit mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari keberadaan Rini dan Rio. Ke mana perginya Mama dan Papa? Kenapa mereka enggak ada di sini?
__ADS_1
...***...