
Zahira sudah diperbolehkan pulang ke rumah sakit setelah tujuh hari lamanya dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Shaka tidak pernah sekalipun meninggalkan istrinya walau hanya sedetik saja. Bahkan untuk urusan pekerjaan, pria itu memutuskan mengambil cuti selama satu bulan guna membantu istri tercinta merawat kedua bayi mereka. Walaupun ada Rini dan Arumi bergantian berjaga, tetap saja dia enggan melimpahkan tanggung jawab itu kepada mama serta ibu mertuanya.
"Sini, aku bantuin kamu pakaikan baju Mayumi. Jadi kamu bisa langsung mandiin Allan setelah ini. Kasihan kamu kalau harus ngurusi si kecil satu-satu." Shaka meraih putri bungsunya dari dekapan Zahira lalu membawa bayi mungil itu ke atas tempat tidur. Di sana sudah tersedia pakaian serta skin care si kecil seperti minyak telon, diapers dan perlengkapan lainnya.
Zahira menuruti perintah sang suami. Lantas, ia kembali memandikan Allan menggunakan air dalam baskom yang sebelumnya sudah diisi air hangat oleh budhe Erna. Dengan telaten ia memandikan anak sulungnya itu menggunakan washlap bayi.
Sesekali Shaka mencuri pandang pada istri tercinta. Terkadang ia tersenyum melihat interaksi istri dan anak pertamanya itu.
"Aku bangga sama kamu, Sayang. Baru sepuluh hari usia mereka, tapi kamu udah berani mandiin si kecil. Jarang banget loh ada istri seperti kamu," puji Shaka. Pujian itu bersumber dari lubuk hatinya yang terdalam.
Zahira menoleh ke samping lalu kembali fokus pada bayi mungil berjenis kelamin laki-laki di depannya. "Hu ... gombal! Aku enggak akan tergoda oleh bujuk rayumu, Shaka. Lagi pula, aku masih menjalani masa nifas loh, jadi enggak bisa main kuda-kudaan bareng kamu," celetuknya yang mana perkataan itu sukses membuat Shaka tertawa terbahak. Mayumi yang tengah terpejam sontak tersentak akibat mendengar suara lengkingan tersebut. Beruntungnya dia tidak menangis.
"Shaka, hentikan! Kamu bisa membuat kedua bayiku ketakutan," tegur Zahira sembari menghunuskan tatapan tajam.
Detik itu juga Shaka mengatupkan kedua bibir, mengunci mulut untuk tidak bersuara.
"Lagian kamu aneh sih, siapa juga yang mau ngajakin main kuda-kudaan. Aku hanya ingin memujimu saja, tidak berniat merayumu apalagi meminta jatah. Kamu tuh pikirannya ngeres mulu." Ketika Shaka mengucap kalimat terakhir, ia menatap Zahira. Sengaja begitu karena ingin menggoda istrinya yang terlihat semakin cantik pasca melahirkan.
Zahira mencibir dan berkata, "Loh, emang kenyataannya begitu kok. Setiap kali minta jatah, kamu pasti merayuku dengan segudang gombalan dan kata-kata manis hingga membuatku jatuh dan terbuai. Jadi, jangan salahkan aku jika saat ini pikiranku travelling!"
__ADS_1
Shaka terkikik geli. Memang benar setiap kali meminta haknya sebagai suami, dia mengeluarkan jurus maut guna menaklukan hati Zahira hingga tak jarang sang istri mabuk kepayang akan mulut manisnya itu.
Mayumi sudah terlelap di box bayi dan kini giliran Zahira mengurusi Allan. "Sayang, kamu betulan enggak apa-apa cuti sebulan? Aku kok ngerasa enggak enak hati ya sama Papa, mentang-mentang kantor itu akan diwariskan ke kamu, kamu jadi seenaknya aja cuti dalam jangka waktu cukup lama."
Alih-alih merasa tenang karena Shaka dapat meluangkan waktu banyak pasca ia melahirkan, Zahira justru kepikiran sebab waktu cuti yang diajukan bukanlah waktu sebentar. Walaupun kantor tempat Shaka bekerja milik papa mertuanya, tetap saja rasanya kurang tepat apabila menggunakan jabatan demi kepentingan pribadi.
Berjalan mendekati Zahira, kemudian memijat pundak istrinya perlahan. "Ya enggak masalah dong, Sayang. Sebelum mengajukan cuti, aku udh konsultasi dengan Papa dan aku pun enggak begitu aja lepas tanggung jawab. Buktinya saat malam hari aku selalu pantau pekerjaan rekan satu timku dan memberi arahan pada mereka jika sedang menghadapi sebuah kasus. Meskipun diriku tidak pergi ke kantor, tapi aku selalu berkomunikasi dengan mereka."
"Udah ya, jangan dipikirkan lagi. Aku enggak mau kamu jatuh sakit karena memikirkan sesuatu yang tidak penting. Ingat Sayang, saat ini udah ada Allan dan Ayumi yang butuh perhatianmu. Lebih baik kamu fokus sama mereka daripada mikirin hal lain." Shaka membalikan badan istrinya hingga posisi mereka berhadapan. "Kalaupun nanti ada omongan yang kurang mengenakan di kantor, aku enggak peduli. Lebih baik aku mendengar goncang ganjing sana sini ketimbang melihat anak-anakku enggak terurus karena istriku terlalu lelah mengurusi mereka."
Suara Shaka terdengar mendayu di relung hati yang terdalam. Sedikit banyak menghibur jiwanya yang resah.
Shaka memeluk istrinya itu dengan sangat erat. Membiarkan kedua tubuh mereka saling menempel satu sama lain. "Itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabku sebagai seorang suami, membantumu membesarkan dan mendidik anak-anak adalah tugas kita bersama bukan cuma tugasmu seorang. Terlebih aku ikut andil membuat mereka hingga terlahir ke dunia ini. Rasanya tidak adil jika aku hanya ingin enaknya saja tanpa berniat membantumu di saat kesusahan."
"Jadi, jangan pernah bilang terima kasih lagi, ya? Aku enggak suka mendengar kalimat itu," ujar Shaka seraya mengusap puncak kepala sang istri.
"Ya, Shaka. Lain kali aku tak akan mengucapkan kalimat yang sama." Zahira mengangguk. Ia membalas pelukan Shaka dengan merentangkan kedua tangan di pinggang suaminya.
Keduanya saling berpelukan, merasakan detak jantung dan keharuman tubuh masing-masing, pasangan suami istri itu membiarkan mereka larut dalam pelukan. Beruntungnya Mayumi dan Allan terlelap di dalam box bayi, seakan tahu jika saat ini orang tua mereka membutuhkan waktu untuk berduaan.
__ADS_1
Masih dalam posisi saling berpelukan, Shaka membelai pipi berisi istrinya. Matanya memandang pada bibir ranum nan manis yang kini menjadi candu bagi pria itu. Shaka memajukan wajah ingin sekali menyesap manisnya madu di bibir itu. Zahira memejamkan mata saat instingnya mengatakan jika Shaka ingin mencium bibirnya.
Semakin lama wajah keduanya berdekatan hingga tak ada jarak memisahkan mereka. Ketika Shaka hendak menempelkan bibir mereka, suara ketukan terdengar dan secara refleks mereka berhenti lalu menoleh ke arah pintu bersamaan.
"Shiit! Padahal sebentar lagi aku menyesap manisnya bibir istriku!" gerutu Shaka sembari menyugar rambutnya menggunakan jemari tangan.
Zahira terkekeh pelan. "Sabar, Sayang. Budhe 'kan, enggak tahu kalau kita sedang bermesraan." Jemari lembut mengusap pundak suaminya. "Udah ah, jangan marah-marah, nanti cepat tua loh."
"Kamu tunggu di sini, aku bukakan pintunya dulu." Lantas, Zahira mendekati daun pintu. Ketika pintu itu terbuka, dia berkata, "Ada apa, Budhe?"
"Maaf mengganggu. Budhe cuma ingin ngasih tahu, kalau di luar ada Mbak Ziva. Katanya ingin bertemu dengan Mbak Zahira dan Den Shaka."
Zahira mengerutkan alis petanda bingung. "Mau apa dia ke sini?"
Budhe Erna menggelengkan kepala. "Kurang tahu. Dia hanya bilang ingin bertemu Mbak Zahira dan Den Shaka."
Terdengar helaan napas kasar bersumber dari Zahira. "Minta dia menunggu sebentar. Aku dan Shaka segera menemuinya. Oh ya, tolong buatkan minuman dan sodorkan cake yang dibawakan Mama semalam."
...***...
__ADS_1