
Hingga beberapa hari berlalu Yang Zi tetap berkeinginan untuk bisa bertemu dengan ibu tirinya, bahkan Yang Zi rela menginap di mansion utama berharap agar ibu tirinya bisa berubah pikiran dan mau menemuinya. Namun, Ny. Amara tetap mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak mau menemui anak dari wanita lain suaminya itu.
“Ko, apa mommy Amara sangat membenciku? Bahkan untuk sekedar menemui aku saja tidak mau,” keluh Yang Zi dengan wajah sedihnya. Ia bersandar pada tubuh suaminya yang duduk di sofa ruang keluarga.
“Ehm, Ny. Amara tidak membenci kamu, Sayang. Hanya saja saat ini beliau dalam keadaan yang kurang baik, lain kali saja kita menemui Ny. Amara ya,” bujuk Barra.
“Aku hanya ingin melihat mommy Amara sebentar saja, setelah itu jika mommy tidak mau bertemu denganku lagi juga tidak apa-apa,” lirih Yang Zi.
Zain yang melihat kesedihan di wajah adiknya ikut membuka suara untuk menenangkan Yang Zi. “Mommy tidak pernah membenci kamu Zi, bahkan dulu mommy yang membujuk dan memaksa koko untuk menerima keberadaan kamu.”
Semua orang di ruangan itu seketika menatap ke arah Zain dan menunggu penjelasan darinya.
“Sebenarnya dulu aku tidak menerima kehadiran Yang Zi, tapi berkat kesabaran mommy aku mulai menerima Yang Zi.” Zain menjeda kalimatnya dan menatap orang-orang di sekitarnya yang serius mendengarkan ceritanya.
“Mommy juga menyuruh aku untuk berjanji agar selalu menyayangi dan melindungi Yang Zi. Mommy juga pernah mengatakan agar jangan membenci bayi kecil itu karena orang tuanya, sebab bayi kecil itu tidak bersalah dan tidak tahu-menahu kesalahan orang tuanya,” lanjut Zain dan mengingat momen dimana waktu ia kecil dibujuk oleh ibunya.
“Jadi, selama ini mommy Amara tidak membenciku sama sekali? Tapi kenapa mommy Amara tidak mau berdekatan denganku?” tanya Yang Zi dengan mata berkaca-kaca, ada perasaan lega di dalam hatinya namun ia juga merasa bersalah dan malu kepada ibu tirinya itu yang harus menderita karena kesalahan ibu dan ayahnya.
“Mungkinkah mommy menghindari Yang Zi karena merasa takut jika tidak bisa mengendalikan emosinya?” cetus Zahra teringat akan kejadian malam itu saat ia melihat kondisi ibu mertuanya yang mengamuk dan kehilangan kendalinya.
__ADS_1
“Maksud kakak ipar?” tanya Yang Zi penasaran.
“Emh, itu ... malam itu aku menyaksikan sendiri bagaimana mommy kehilangan kendali dan melukai Zain.”
Zahra kemudian menceritakan bagaimana ibu mertuanya histeris dan menganggap Zain adalah ayah mertuanya, tuan Malik Ibrahim atau Zhang Han yang biasa dipanggil Han-han oleh Ny. Amara.
Setelah mendengar cerita dari kakak iparnya, Yang Zi semakin merasa bersalah karena selam ini ia salah menilai ibu tirinya yang terlihat begitu menakutkan dimatanya namun ternyata beliau memiliki hati seorang malaikat.
Pagi harinya, Yang Zi memberanikan diri untuk mengetuk kamar ibu tirinya. Ia berdiri di depan kamar Ny. Amara sudah hampir 1 jam lamanya, namun Ny. Amara tetap mengabaikan Yang Zi.
“Mommy, keluar ya! Sudah satu minggu mommy Amara tidak keluar dari kamar, aku janji setelah mommy keluar aku akan pergi dari rumah ini dan tidak akan mengganggu mommy lagi. Tapi tolong sekali saja mommy mau menemui aku,” ucap Yang Zi untuk ke sekian kalinya membujuk ibu tirinya.
“Sayang, sudah ya! Kamu sudah berdiri terlalu lama, tidak baik untuk kesehatan kamu dan bayi dalam perut kamu ini.” Barra berulang kali membujuk sang istri agar mau menyerah, sejak tadi Yang Zi belum mau makan dan Zain juga Zahra tetap setia menunggu Yang Zi untuk bisa makan bersama.
“Kalian sarapan saja dulu, tidak perlu menunggu aku.”
“Zi, kamu boleh menahan lapar. Tapi tidak dengan bayi kamu, apa kamu tidak kasihan dengan dia?” Zahra juga ikut membujuk dengan pelan agar tidak menyinggung perasaan Yang Zi yang saat ini sangat mudah sensitif.
“Tapi, Kak-.”
__ADS_1
“Jangan egois a Mui! Pikirkan bayi dalam perut kamu itu! Apa salah dia hingga kamu tega menyiksanya, apa kamu ingin terjadi sesuatu dengan bayi itu?” Zain mulai kehilangan kesabarannya dan menegur adiknya dengan suara keras membuat semua orang terkejut dan menghentikan aktivitas mereka.
“Cepat kemari dan makan!” tegas Zain yang sudah duduk di kursinya diikuti Zahra dan Barra yang menuntun sang istri menuju meja makan.
Suasana mendadak berubah menjadi hening dan canggung, mereka memulai sarapan pagi ini dengan saling diam tanpa ada yang berani membuka suara.
Namun di tengah acara makan, karena suasana yang begitu hening, terdengar suara pintu terbuka dengan cukup nyaring.
Ceklek.
Semua orang seketika mengalihkan fokusnya ke arah sumber suara, betapa terkejutnya mereka ketika melihat Ny. Amara berdiri di ambang pintu kamarnya dengan pakaian rapi lalu berjalan menuju meja makan tanpa berkata apa pun.
“Apa yang kalian lihat? Cepat kembali makan!” perintah Ny. Amara setelah duduk di kursi miliknya.
Mendapat perintah dari ibunya, Zain dan Zahra segera melanjutkan sarapan mereka diikuti oleh Barra. Namun Yang Zi malah sibuk menatap wajah ibu tirinya yang berada di seberang meja dan mengabaikan makanan di depannya.
“Cepat selesaikan sarapanmu! Aku tidak memiliki banyak waktu hanya untuk menemani kamu makan,” tegur Ny. Amara tanpa menatap ke arah Yang Zi.
Dengan cepat Yang Zi kembali mengambil sendoknya yang sempat ia abaikan dan memakan makanan di depannya dengan lahap. Yang Zi merasa bahagia hanya karena ibu tirinya itu mau menemuinya bahkan menemaninya makan satu meja bersama.
__ADS_1
Ny. Amara melirik sekilas ke arah anak tirinya itu yang terlihat senyum-senyum sendiri sambil menikmati makanannya. Ada sesikit rasa sakit di hatinya, bukan sakit karena kebencian, namun perasan lain yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
‘Jika putriku masih hidup, dia akan tumbuh besar, cantik seperti kalian berdua dan kalian bertiga mungkin bisa menjadi teman yang baik,’ batin Ny. Amara menatap ke arah Yang Zi dan Zahra secara bergantian, Ny. Amara membayangkan wajah putrinya. seandainya Ziya masih hidup, usianya hanya berbeda sekitar satu tahun dari Yang Zi dan Zahra.