
Zahra keluar dari kamar mandi dengan wajah yang berbinar, hari ini tepat 3 hari dirinya menghabiskan waktunya di dalam kamar mewah tersebut. Selama 3 hari pula suaminya tidak berhenti menerornya dan tidak membiarkannya untuk beristirahat dengan nyaman.
Setiap saat Zain selalu bertanya tentang keadaannya, apa kamu baik-baik saja, honey? Apa kamu tidak merindukanku? Apa kamu tidak merasa bosan?
Zahra sering kali mengabaikan panggilan dari suaminya, namun hal tersebut justru membuat Zain semakin gencar mengganggunya dengan berbicara lewat CCTV di kamar Zahra.
‘Honey! Sudah selesai mandinya belum?’ Suara Zain yang terdengar dari CCTV yang menempel di dinding.
‘Honey!’ seru Zain karena tidak mendapati keberadaan Zahra dari pantauan CCTV.
Zahra mengabaikan panggilan suaminya, ia melangkahkan kakinya menuju ruang rias untuk mengeringkan tambatnya yang basah.
‘Honey! Jangan menguji kesabaranku!’
‘Zahra, jika kamu masih bersembunyi dariku, tunggu saja hukuman dariku!’
Zahra yang belum selesai mengeringkan rambutnya terpaksa keluar dari ruang rias untuk menenangkan singa yang tengah kelaparan tersebut.
“Ada apa? Aku belum selesai mengeringkan rambutku!” seru Zahra yang berdiri menghadap kamera CCTV sambil menyodorkan hair dryer yang ia bawa serta di tangan kanannya.
‘Terima panggilanku, Honey!’
Zahra berjalan ke arah nakas di samping tempat tidur dengan malas karena kegiatannya terganggu oleh rengekan suaminya, ia meraih ponselnya dan menerima panggilan video dari Zain.
__ADS_1
“Kamu belum bersiap, Sayang?” tanya Zahra sesaat wajah suaminya muncul di layar ponselnya.
‘Aku menunggumu.’
Zahra memutar bila matanya malas, selalu saja pria kutub yang telah berhasil ia cairkan itu lalai untuk mengurus tubuhnya sendiri.
“Cepat mandi dan bersiap, jika tidak aku tidak mau untuk menemui kamu! Hari ini kita selesai karantina Sayang, kamu lupa?”
‘Mana mungkin aku melupakannya, aku sudah menunggu hari ini tiba. Akan kubuat perhitungan kepada mereka berdua! Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahmu, memelukmu, menciummu dan memak-’
Tut!
Zahra mengakhiri panggilan tersebut sebelum suaminya itu menyelesaikan ucapannya. Selama karantina, Zain menghabiskan waktunya untuk menggoda Zahra. Bahkan untuk sekedar makan dan mandi saja Zahra harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengomelinya.
‘Honey, kenapa kamu memutuskan panggilannya? Aku kan belum selesai bicara,’ terdengar suara Zain dengan sedikit tawa dari seberang sana dari CCTV.
‘Siap laksanakan yang mulia Ratu Zahra Ibrahim.’
“Zain!”
Zahra benar-benar dibuat kesal oleh suaminya itu, bukannya ia tidak suka mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Namun ia takut jika suatu saat nanti hubungan mereka akan seperti hujan, yang datang hanya untuk pergi.
‘Jangan terlalu memberikan harapan yang tinggi kepadaku Zain, semakin hari perasaan ini semakin dalam aku rasakan, ditambah dengan segala pupuk yang kau taburkan di atasnya. Bersamaan dengan itu, rasa takut ini semakin sering menghampiriku, Aku takut disaat aku benar-benar terjatuh ke dalam cinta ini dan rasa nyaman yang kamu berikan ... kamu pergi meninggalkanku yang tak sempurna ini,’ batin Zahra lalu berjalan kembali menuju ruang rias untuk bersiap.
__ADS_1
Satu jam berlalu, Zahra mendengar bel kamarnya berbunyi, ia segera berlari dan membuka pintu kamarnya.
“Selamat pagi, Kakak Ipar ...,” sapa Yitian dengan senyum merekah di wajahnya.
“Pagi, kenapa kalian semua berdiri di depan kamarku?” tanya Zahra bingung melihat Yitian, Barra dan Hani sudah berdiri rapi di depan kamarnya.
“Kita ingin menjemput Kakak Ipar, nanti akan ada orang yang membereskan barang-barang milik Anda, mari silakan Kakak Ipar kita akan sarapan terlebih dahulu di restoran Hotel.” Yitian menarik lengan Zahra dan merangkulnya sembari berjalan menuju kamar Zain.
“Kakak Ipar, ini kunci kamar piuko. Nanti Kakak Ipar bukakan pintunya setelah kami pergi dari sini ya,” ucap Yitian sambil menyerahkan cardlock ke tangan Zahra.
“Eh, tapi-”
“Sampai jumpa di restoran, Kakak Ipar,” seru Yitian yang sudah berlari menjauh sambil memarik tangan Barra dan Hani menuju lift.
“Kenapa mereka semua meninggalkan aku sendirian? Aku tidak tahu cara membuka pintu ini,” lirih Zahra kepada dirinya sendiri.
Zahra menatap bingung kartu di tagannya, ia benar-benar tidak paham cara menggunakan kartu tersebut. Zahra mengedarkan pandangannya dan menghampiri penjaga yang berdiri paling dekat dengan kamar Zain.
“Maaf, permisi Tuan. Bidakah Anda membantu saya?” tanya Zahra sopan.
“Apa yang bisa saya bantu, Nona?” penjaga tersebut bertanya dengan sopan, ia tahu bahwa wanita di depannya merupakan salah satu keluarga dari pemilik tempatnya bekerja.
“Bisakah Anda bukakan pintu kamar suami saya, saya tidak tahu cara menggunakan kartu ini.” Zahra menunjukkan cardlock pemberian Yitian.
__ADS_1