
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selam 3 jam dari Jakarta ke Bogor, kini tuan Harun dan Tasya sudah duduk di depan meja dengan papan nama bertuliskan dr. Damayanti, Sp.KK yang tertata rapi di atas meja.
Tuan Harun duduk dengan tenang sembari menunggu kedatangan dokter tersebut. Sedangkan Tasya terlihat duduk resah di sebelah suaminya, banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Namun ia tidak berani bersuara mengingat suaminya yang tengah mendiamkannya.
“Pa, kenapa kita jauh-jauh datang ke klinik ini sih? Bukannya menantu papa yang kaya itu memiliki rumah sakit mewah di Jakarta?” Pertanyaan Tasya lolos juga dari mulutnya.
“Apa tidak boleh jika aku ingin berusaha untuk kesembuhan putri kandungku?” sarkas tuan Harun dengan menekankan kata ‘putri kandungku’.
“Emh, boleh kok. Tapi kenapa harus di klinik ini? Bahkan ada banyak dokter kulit yang jauh lebih hebat di Jakarta sana, dan kita tidak perlu pergi jauh ke Bogor,” ucap Tasya malas.
Bukan masalah jarak yang jauh yang Tasya permasalahkan, namun ada sesuatu yang membuatnya merasa waswas sejak pertama kali menginjakkan kakinya di tempat tersebut, apalagi suaminya menyebut Zahra dengan embel-embel putri kandung membuatnya semakin cemas.
‘Kenapa papa mengatakan putri kandung? Tidak seperti biasanya, apa dia tahu sesuatu tentangku?’ batin Tasya.
“Diamlah!” perintah tuan Harun bertepatan dengan suara pintu yang terbuka.
Keluarlah seorang dokter perempuan dari dalam pintu yang ada di pojok ruangan, pintu yang di dalamnya terdapat ruangan pribadi dr. Damayanti di dalam ruang praktiknya, dr. Damayanti berjalan menghampiri meja kerjanya dan duduk di kursi miliknya.
“Selamat siang, Tuan, Nyonya. Maaf membuat kalian menunggu lama, ada sedikit pekerjaan dengan klien saya,” ucap dr. Damayanti lalu menjabat tangan tuan Harun dan Tasya bergantian.
Tuan Harun pun berkonsultasi dan menceritakan keadaan putrinya kepada dr. Damayanti, terlebih tentang kondisi psikis putrinya yang belum sembuh total. Alasan mengapa mereka mencari dokter perempuan untuk anaknya dan perawatan akan dilakukan di ZM Hospital milik Zain.
“Baiklah Tuan, saya mengerti dengan kondisi putri Anda. Kita atur jadwalnya dan saya akan berangkat ke Jakarta,” ucap dr. Damayanti.
“Emh, sepertinya semua sudah selesai. Kalau begitu kami pamit pulang ya, Dokter.” Tasya buru-buru berpamitan, ia terlihat semakin tidak nyaman berada di tempat itu.
“Tunggu sebentar, Ma. Kita harus menunggu seseorang lagi,” cegah tuan Harun semakin membuat Tasya gelisah dan hal tersebut tertangkap jelas di mata tuan Harun.
“Siapa, Pa? Tuan Zain tidak mungkin datang ke sini kan?” bingung Tasya.
“Apa kamu lupa dengan dokter keluarga yang dulu sering mengobati putrimu saat sakit? Dia pemilik klinik besar ini loh, hebat kan!” ucap tuan Harun sengaja memancing reaksi istrinya.
“Ehm, si-siapa ya, Pa?” Tasya semakin gusar, keringat dingin mulai membasahi keningnya.
Ceklek!
Di saat bersamaan pintu utama terbuka dari luar, seorang pria dengan pakaian formalnya melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Selamat siang Tuan Harun, Ny. Amara, dan dr. Damayanti” sapa orang tersebut.
Semua orang menatap ke arah sumber suara, terlihat Barra yang berdiri di depan pintu.
“Huft!” Tasya bernapas lega melihat bahwa asisten menantunya yang masuk ke dalam ruangan itu.
“Selamat siang, Tuan Barra,” jawab tuan Harun dan dr. Damayanti hampir bersamaan.
__ADS_1
Barra melirik ke arah Tasya yang hanya diam membisu tidak membalas sapaannya.
“Se-selamat siang, Tuan.” Tasya merasa menciut nyalinya mendapat lirikan tajam dari Barra, baru dari Barra belum juga dari tuannya, pasti dibuat meleleh tubuh Tasya.
“Silakan masuk, Dokter!” seru Barra setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tubuh Tasya mematung setelah melihat seorang pria masuk dengan setelan jas putih kebesarannya. Memang ia sering kali bertemu dengan pria itu, bahkan hubungan mereka cukup dekat, pria tersebut tidak lain adalah dr. Wira. Namun kali ini suasananya berbeda, ada suaminya dan asisten menantunya di ruangan itu.
dr. Damayanti bangkit dari duduknya dan memberikan kursinya kepada dr. Wira, beliau pindah ke kursi yang tak jauh dari meja kerjanya.
Tasya sempat memergoki dr. Wira menatap ke arahnya dan memberikan kode lewat kedipan matanya.
“Kenapa kamu yang datang ke sini? Di mana tuan mudamu?” tanya Tasya mengalihkan kegugupannya.
“Tuan muda tidak bisa datang ke sini, Nyonya. Beliau tidak bisa meninggalkan nona Zahra terlalu lama,” jawab Barra sopan.
“Cih! Manja sekali anak itu!” cerca Tasya lirih, namun masih terdengar oleh Barra yang berdiri di dekatnya.
Barra menatap tajam ke arah Tasya, ia semakin tidak suka dengan wanita yang telah menghancurkan masa muda nonanya itu.
“Karena semua sudah berkumpul di sini, kita langsung saja ke inti pembahasan masalah ini!” tegas Barra.
“Baiklah Tuan, tolong sampaikan terima kasih kami terutama saya pribadi kepada tuan Zain karena sudah mempercayakan perawatan istrinya kepada klinik kami,” ucap dr. Wira berbasa-basi.
“Akan saya sampaikan.”
“Apa ini, Tuan?” tanya dr. Wira dengan wajah bingungnya.
“Buka saja, Anda bisa membaca bukan?” ejek Barra.
Perlahan dr. Wira meraih map tersebut dan mengeluarkan isinya. Ia membaca dengan teliti sesekali mengerutkan kedua alisnya mencoba memahami deretan huruf yang berjejer rapi di atas kertas tersebut.
“Apa maksudnya ini, Tuan?” tanya dr. Wira dengan menahan emosi.
“Seperti yang Anda lihat, semua sudah tertulis dengan jelas dalam dokumen tersebut,” jawab Barra santai.
“Jangan sembarangan kamu ya! Klinik ini saya bangun dengan jerih payah saya sendiri, seenaknya saja ingin menarik klinik saya!” teriak dr. Wira yang sudah terpancing emosi.
“Semua sudah diproses sesuai hukum, Dokter. Dan mulai besok klinik ini harus segera dikosongkan.”
Brak!
dr. Wira menggebrak meja di depannya, rahangnya mengeras tidak terima dengan ucapan Barra.
Semua orang di dalam ruangan tersebut terkejut, namun dengan alasan yang berbeda-beda. Tuan Harun terkejut akan gebrakan meja di depannya, Tasya dan dr. Damayanti terkejut dengan penarikan klinik tersebut yang terjadi secara tiba-tiba. Sedangkan Barra terlihat biasa-biasa saja.
__ADS_1
Barra kembali mengeluarkan map lain dan mengeluarkan semua isinya ke atas meja. Seketika membuat wajah dr. Wira dan Tasya panik dan memucat.
“Semua bukti ada di sini, Anda tidak bisa mengelak lagi!” ucap Barra.
Di atas meja terlihat beberapa berkas yang berserakan, ada juga beberapa foto antara dr. Wira dan Tasya yang sedang berduaan di berbagai tempat yang berbeda.
Berkas pertama memperlihatkan beberapa laporan hasil transaksi sejumlah uang yang masuk ke dalam rekening dr. Wira dengan nama pengirim yang berbeda-beda.
Berkas berikutnya laporan data kesalahan dan tindakan ilegal yang terjadi di klinik tersebut, salah satu kasusnya adalah aborsi janin.
Berkas berikutnya memperlihatkan kepemilikan saham klinik tersebut yang tertulis bahwa Tasya memiliki 30% saham klinik A, 30% lainnya atas nama Anindya Harun. Dan sisanya 40% menjadi milik dr. Anindya Novyan Wirata.
“Jelaskan apa semua ini, Tasya!” bentak tuan Harun, meskipun ia sudah mengetahui hal tersebut kemarin, namun tetap saja amarahnya menguar begitu saja.
“Pa, i-itu mama bisa menjelaskannya.” Tasya meraih tangan suaminya namun dengan cepat tuan Harun menepisnya.
“Apa kamu ada main api di belakangku?” tanya tuan Harun mencoba mencari kejujuran dari istrinya.
“Ti-tidak, Pa! Mana mungkin aku berani bermain di belakang kamu, aku hanya mencintai kamu, Pa!” elak Tasya.
“Ck! Dasar wanita tidak tahu diri!” gerutu Barra yang menyaksikan drama di depan matanya.
Barra terlihat menikmati tontonan gratis itu, kapan lagi ia bisa melihat ketegangan di antara para tokohnya, akhir-akhir ini Barra hanya dipertontonkan dengan sikap posesif tuan mudanya serta kebucinannya kepada sang istri.
“Sampai kapan kamu akan menutupi kebusukanmu, Tasya!” bentak tuan Harun merasa mulai muak dengan sikap istrinya.
“Kenapa kamu bicara seperti itu, Pa?” tanya Tasya tak terima karena merasa direndahkan oleh suaminya.
“Apa ini alasanmu dulu bersikukuh memberi nama Anindya pada putrimu itu? Apa karena putrimu itu adalah anak kandung dokter sialan itu!” tuan Harun menudingkan jari telunjuknya ke arah dr. Wira yang terdiam di tempat duduknya.
“Pa! Jangan asal bicara, Nindya anak kita, Pa! Anak kandung aku dan kamu!” Tasya berusaha meyakinkan suaminya.
“Kasihan sekali nasib Anda, dr. Wira! Tidak diakui sebagai ayah biologis putrinya sendiri,” ucap tuan Harun berhasil menyulut kembali emosi dr. Wira.
dr. Wira bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah tuan Harun. Ia mencengkeram kerah baju tuan Harun. “Jaga bicara Anda! Jangan menuduh sembarangan tanpa adanya bukti!”
Plak!
Tidak ada yang menyadari kedatangan seorang wanita yang keluar dari ruangan pribadi dr. Damayanti. Wanita tersebut melemparkan map putih tepat mengenai wajah dr. Wira.
Plak!
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi dr. Wira.
*****
__ADS_1
Terima kasih sudah setia menemani Author sejauh ini 🥰😻
jangan lupa untuk beri like, comment dan vote ya ... 🤗☺️