Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 40. Kebiasaan Baru Zain


__ADS_3

Zain berjalan dengan langkah lebar menuju pintu utama rumah mertuanya, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu ia menerobos masuk ke dalam rumah besar itu.


“Apa yang kalian lakukan dasar j*lang!” teriak Zain dengan rahang mengeras dan wajah memerah yang masih berdiri di ambang pintu.


Semua orang yang berada di dalam ruangan serempak menoleh ke arah Zain, mereka semua terlihat terkejut dengan kedatangannya yang tak diduga.


Dengan langkah lebar Zain berjalan ke arah ibunya dan menghempaskan tangan mulus Anindya yang masih bertengger di kepala ibunya.


“Apa kamu sudah tidak menginginkan tangan kotormu itu?” tanya Zain dingin dan memberikan tatapan membunuh ke arah Anindya.


“Za-Zain, kamu salah paham. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti Ny. Amara,” elak Anindya dengan wajah pucatnya.


“Ayo kita pulang, Mom. Aku tidak sudi berada di ruangan yang sama dengan dua wanita murahan ini!”


Zain merangkul tubuh ibunya dan membawanya keluar rumah meninggalkan Anindya yang tidak terima dengan sikap Zain yang acuh kepadanya.


“Zain, dengarkan aku dulu! Ibu kamu yang memulai duluan, bukan aku.”


Zain menghentikan langkahnya dan kembali menghadap ke arah Anindya. “Jadi? Kamu menyalahkan mommyku?”


Glek.


Anindya menelan ludahnya kasar, nyalinya menciut setelah mendapat sinyal bahaya yang dipancarkan oleh sorot mata pria di depannya. “Bu-bukan itu maksudku.”


“Jangan pernah sekali pun memperlihatkan wajah kalian di hadapan keluargaku jika kalian masih ingin hidup di bumi ini!” ancam Zain sebelum benar-benar menghilang di balik pintu utama.


“Zain!” teriak Anindya yang hendak mengejar Zain namun tertahan oleh tangan Barra yang mencengkeram lengannya.


“Lepaskan brengs*k! Dasar asisten sialan!” umpat Anindya.


“Urusan Anda dengan saya belum selesai, Nona Anindya Harun yang terhormat,” ejek Barra tanpa melepaskan cengkeramannya di lengan Anindya.


“Apa maumu hah?” Anindya semakin terbakar emosi.


 “Maaf, sepertinya keinginan Anda untuk menendang saya dari sisi tuan muda tidak akan pernah terjadi, Nona.”


“Jangan berlagak kamu dasar asisten bodoh!”


“Jangan bermimpi terlalu tinggi, Nona. Jika terjatuh pasti akan terasa sangat sakit. Saya seharusnya berterima kasih kepada Anda karena telah meninggalkan acara pernikahan kalian malam itu, sehingga menghadirkan nona Zahra yang mampu membuat tuan muda luluh dan merasakan cinta.”


“Tutup mulutmu!” bentak Anindya yang terus memberontak agar terlepas dari cengkeraman Barra, namun sia-sia karena tenaganya tak sebanding dengan Barra.


Barra memberi kode kepada anak buahnya untuk mendekat dan menahan Anindya dan Tasya agar tidak keluar rumah sebelum tuan muda mereka pergi dari rumah itu.


Barra meninggalkan Anindya yang terus memberontak dan terus mengeluarkan makian untuk Barra. Sedangkan Tasya terlihat tak berdaya terduduk di lantai dengan wajah yang terlihat syok.

__ADS_1


“Maaf Tuan, ini ponsel Ny. Amara.” Hani memberikan benda pipih tersebut kepada Barra sebelum ia masuk ke dalam mobil tuan mudanya.


“Hmm.” Barra menautkan alisnya bingung, namun tangannya tetap menerima ponsel itu.


“Kalian pulanglah! Ny. Amara ikut bersama tuan muda dan akan langsung ke rumah sakit.”


“Baik Tuan, kalau begitu kami permisi,” pamit Bi Nur dan putrinya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Barra menyodorkan ponsel kepada Ny. Amara yang duduk di kursi belakang.


“Nyonya, ini ponsel Anda.” Barra masih merasa bingung kenapa ponsel Ny. Amara ada di tangan Hani, namun ia memilih acuh tidak ingin tahu lebih dalam.


“Kenapa ponsel mommy ada sama kamu, Barra?” tanya Zain sama bingunggnya.


“Tadi saya diberi oleh Hani, Tuan.”


Zain menatap ke arah ibunya yang sedang tersenyum sendiri sambil menatap layar ponselnya, membuat kedua pemuda yang duduk di depan saling melempar pandang dan mengangkat bahu masing-masing.


‘Mommy kenapa senyum-senyum sendiri? Aneh, tumben dia tidak marah-marah setelah ada orang yang mengusiknya,’ ucap Zain dalam hati lalu memilih sibuk dengan ponselnya. Mengamati sosok yang akhir-akhir ini berhasil membuatnya hampir menjadi gila. Siapa lagi kalau bukan istrinya, hal yang tak pernah ia lewatkan jika berjauhan dengan Zahra, yaitu mengamatinya lewat CCTV yang terpasang di dalam kamar rawatnya.


‘Ny. Amara kenapa ya? Tumben kalem tidak seperti biasanya. Syukurlah, jika tidak perkerjaanku akan bertambah lagi,’ keluh Barra dalam hati lalu melajukan mobil yang tumpangi menjauh dari penjara masa kecil Zahra.


“Mom, apa yang mommy rencanakan lagi?” tanya Zain yang terusik dengan tingkah ibunya, apalagi melihat penampilan ibunya yang sedikit berantakan dengan rambut yang sedikit acak-acakan.


“Lihat saja nanti, kalian pasti akan berterima kasih kepada mommy karena sudah membantu meringankan pekerjaan kalian,” ucap Ny. Amara penuh percaya diri, lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas mewah miliknya.


Begitu mobil berhenti tepat di depan lobi, Ny. Amara bergegas keluar tanpa menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.


Lagi-lagi Zain dan Barra dibuat melongo dengan tingkah Ny. Amara.


“Hai Zahra, apakah kamu kangen sama aku?,” tanya Zain bersamaan dengan terbukanya pintu kamar Zahra.


“Anda mencari siapa?” tanya Zahra yang melihat suaminya celingukan mencari sesuatu.


“Mommy mana?” tanya Zain dan duduk di sebelah istrinya.


Zahra menautkan alisnya. “Mommy belum datang sejak semalam kan, Anda lupa?”


Cup.


Zain kembali mendaratkan ciumannya di bibir istrinya dan sukses membuat  Zahra membeku di tempat.


Tuk.


Zain menjitak kepala Zahra pelan. “Bernapas Zahra!” Tegur Zain menyadari sang istri menahan napas karena ulahnya.

__ADS_1


“Tu-Tuan kenapa suka sekali menciumku?” tanya Zahra polos.


Zain kembali mendekatkan wajahnya ke arah wajah istrinya hendak kembali mencium benda yang menjadi candu baginya, namun dengan cepat Zahra menutupinya dengan kedua tangannya.


“Itu hukuman untukmu!” jawab Zain datar kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


“Hukuman? Memangnya aku salah apa?” tanya Zahra entah ditujukan kepada siapa.


“Salah Zahwa di mana, Pa?” tanya Zahra kepada ayahnya yang sedari tadi tak dihiraukan keberadaannya oleh sang menantu.


Tuan Harun mengangkat bahunya tanda tidak paham. “Entah. Apa kamu salah memanggil suamimu?”


Zahra mencoba mengingat kesalahannya di mana, sedangkan tuan Harun hanya tersenyum memandang putrinya.


“Oh aku ingat! Tapi aku kan refleks memanggil tuan kepadanya,” sungut Zahra merasa kesal.


“Tapi yang pertama aku tidak memanggil tuan,” oceh Zahra tanpa menyadari Zain sudah berada di sebelahnya.


“Aku tidak suka kamu menyebut tuan atau Anda kepadaku!” ucap Zain tepat di telinga Zahra membuat wanita itu berjengit kaget.


“Maaf,” cicit Zahra.


“Aku hanya menerima panggilan sayang dari kamu, tidak ada lainnya. Mulai sekarang gunakan kata aku kamu, mengerti?”


“Iya.”


Zain duduk menghadap istrinya dan menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.


“Apa?” tanya Zahra bingung.


“Syarat agar aku memaafkanmu.”


“Syarat?” Zahra belum juga mengerti apa yang dimaksud suaminya.


Cup.


Zain yang tidak sabar menunggu reaksi istrinya kembali mendaratkan ciuman di bibir Zahra.


Plak!


“Akh!” pekik Zain merasakan sakit di kepala bagian belakangnya.


“Siapa yang berani memukulku?”


*****

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, comment dan vote ya ... 🤗☺️


__ADS_2