
Hari yang dinantikan oleh Barra dan yang Zi telah tiba, hari ini adalah hari dimana pesta pernikahan mereka akan dilangsungkan di taman sebuah Hotel milik keluarga Ibrahim.
Terlihat suasana taman hotel yang telah dihias begitu indah dan elegan sudah dipenuhi oleh tamu undangan yang kebanyakan berasal dari kalangan atas dan orang-orang penting yang merupakan kenalan mempelai pria dan rekan bisnis Zain dari dalam negeri.
Karena waktu pernikahannya dengan Zahra dulu Zain tidak sempat untuk mengundang rekan bisnis dan keluarganya yang berada di luar negeri, maka pada kesempatan kali ini, mengingat karena keadaan sudah normal kembali, malam harinya akan diadakan pesta untuk tamu yang datang dari luar negeri.
Sehari sebelum acara diselenggarakan, dengan didampingi oleh keluarganya serta keluarga dari calon suaminya, Yang Zi mengucapkan dua kalimat syahadat di Masjid Agung Kota tersebut dibimbing oleh imam besar masjid yang membimbingnya sekaligus menjadi penghulu atas pernikahan Barra dan Yang Zi saat itu juga.
Di lain tempat, di dalam sebuah persidential suite room, Zain dengan setelan tuxedo suit putih-silver lengkap dengan dasi kupu-kupu hitam melingkar di lehernya berdiri gagah memandang seseorang yang tengah berdiri di dekat jendela. Kali ini raut wajahnya jauh berbeda ketika beberapa bulan lalu ia berdiri di tempat yang sama di saat hari pernikahannya dengan Zahra, dulu ia menampilkan wajah dingin penuh kemarahan, namun kali ini Zain terlihat sangat cerah penuh kebahagiaan.
“Kamu sangat cantik, Honey ...,” puji Zain mengagumi paras istrinya yang terlihat sangat sempurna dengan dibalut gaun putih pilihannya, rambut yang dibiarkan terurai dengan make up tipis serta anting berlian panjang yang menjuntai hingga ke bahu semakin mempercantik penampilan sang istri.
“Memangnya dulu aku tidak cantik?” tanya Zahra lalu ia memasang wajah cemberutnya berpura-pura kesal kepada sang suami.
“Sejak dulu kamu selalu cantik, hanya saja aku yang bodoh karena tidak menyadarinya,” ucap Zain
“Memang kamu bodoh Zain, apa kamu baru menyadarinya?” ejek Zahra dengan tertawa kecil membuat Zain merasa gemas terhadap istrinya, ia lalu berjalan mendekat ke arah sang istri berdiri dan memeluknya dari belakang.
“Tapi, saat ini kamu jauh lebih cantik, Honey ...,” bisik Zain tepat di telinga Zahra membuat sesuatu yang hangat mengalir dari dalam tubuh Zahra membuatnya seperti tersengat sesuatu yang tak kasat mata.
“Kamu sudah bisa merayuku ya?” Zahra tersenyum tipis mendengar pujian dari suaminya.
“Aku berubah pikiran untuk tidak membiarkanmu pergi ke pesta itu, aku tidak rela membiarkan mata-mata jahat di luaran sana menatap lapar ke arah tubuh sexymu ini! Aku takut jika mereka akan menerkammu hidup-hidup saat aku lengah mengawasimu,” rengek Zain dan menempelkan dagunya ke leher jenjang Zahra yang terekspos tanpa tertutup sehelai benang apa pun.
“Zain, jangan macam-macam ya! Aku tidak mau melewatkan momen penting ini, aku akan marah kepadamu jika kamu mengacaukan- Akh!” Zahra terpekik karena merasakan sesuatu yang tajam menancap kulit lehernya, ia belum menyelesaikan ancamannya ketika suaminya itu menggigit lehernya dengan tiba-tiba
“Apa yang kamu lakukan Zain?” kesal Zahra mendapati lehernya terdapat tanda kemerahan karena ulah suaminya.
“Itu tanda kepemilikan dariku, Honey. Aku hanya memberitahukan kepada mereka bahwa kamu sudah ada yang punya dan akulah pemilikmu.”
“Zain, kamu keterlaluan! Bagaimana aku bisa pergi dengan adanya benda ini di sini?” Zahra merasa frustrasi memikirkan pandangan orang-orang terhadapnya jika melihat lehernya yang cacat karena ulah iseng suaminya.
“Kalau begitu, sebaiknya kita tidak perlu pergi dan kita bisa menghabiskan sisa hari ini di dalam kamar ini saja. Nanti aku akan mengatakan kepada mereka bahwa kamu merasa tidak enak badan dan harus beristirahat.”
“Tidak! Aku akan memakai syal untuk menutulinya,” jawab Zahra cepat setelah sesaat terpikirkan olehnya tentang syal yang ia bawa di dalam tasnya.
__ADS_1
“Jangan menutupinya atau kamu tetap tinggal di kamar ini!” ancam Zain dan merebut syal dari tangan istrinya.
“Ck! Menyebalkan!” sungut Zahra dan berlalu meninggalkan suaminya begitu saja dengan mengentak-entakkan kakinya ke lantai dengan cukup keras.
Brak!
Zahra menutup pintu kamar tersebut dengan kasar, sedangkan Zain hanya mengulaskan senyum bahagianya karena telah berhasil mengganggu istrinya. Zain teringat mata-mata lapar yang terarah kepada istrinya sewaktu pernikahannya dulu membuatnya semakin kesal dan marah.
...*****...
Di taman hotel tempat acara diselenggarakan dengan penjagaan ketat oleh beberapa pengawal yang telah tersebar di berbagai sudut, terlihat Barra berdiri dengan gagah di atas panggung pernikahan yang berhias bunga-bunga indah di sekelilingnya.
Dari ujung jalan yang terbentang karpet merah dengan hiasan bunga di kiri kanannya, sang mempelai wanita terlihat begitu cantik dengan gaun putih pernikahannya. Yang Zi berjalan dengan anggunnya sembari merangkul lengan sang kakak yang menjadi walinya dan akan mengantarkannya menuju calon suaminya yang telah menunggu dan menyambutnya kedatangannya. Tangan satunya ia menggenggam seikat bunga mawar putih yang dipilihkan Zahra khusus untuknya.
“Aku serahkan tanggung jawabku terhadap adikku sepenuhnya kepadamu, cintai dan sayangi dia dengan seluruh hatimu! Jangan pernah menyakiti hatinya dan jaga dia dengan nyawamu!” ucap Zain yang terdengar seperti perintah dengan penuh ancaman yang tersirat dari suaranya ketika menyerahkan tangan adiknya kepada sekretaris sekaligus sahabatnya yang sudah resmi menambah statusnya menjadi adik iparnya.
“Baik, akan saya laksanakan semua perintah Anda, Tuan Muda,” balas Barra dengan suara lantang.
Zain dan Barra menatap ke sekelilingnya lalu mereka berdua saling melempar pandan dan secara bersamaan tertawa membuat semua orang semakin bingung karenanya.
“Maaf, maaf, jangan tegang begitu, santai saja dan nikmati perjamuan ini!” perintah Zain kepada semua tamu undangan di sana.
...*****...
Setelah acara inti selesi dan berjalan dengan lancar, Zain mengajak istrinya berkeliling dan memperkenalkannya kepada para kolega bisnisnya. Hal yang tidak dilakukan olehnya ketika hari pernikahan mereka dulu.
Begitu pun dengan Barra yang selalu berada di samping istrinya, dan menemui tamu undangan serta memperkenalkan Yang Zi kepada teman dan rekan kerjanya.
Zahra pamit kepada suaminya untuk pergi ke toilet, namun di tengah perjalanan ia melihat ayahnya beserta keluarga besar dari ibunya tengah berkumpul dan mengobrol membuatnya mengurungkan niatnya untuk bergegas ke toilet.
“Pa, Kak, Abi, Umi, semuanya ... apa kabar?” sapa Zahra yang sudah bergabung dengan keluarganya.
“Alhamdulillah sehat walafiat, Sayang. Bagaimana dengan kabar kamau dan suami kamu?” tanya Abi dan umi hampir bersamaan.
__ADS_1
“Kami semau juga sehat, Abi ... Umi,” jawab Zahra dengan senyum lebarnya.
Setelah saling menyapa dan bertukar kabar, Zahra seakan lupa dengan waktu dan asyik bercanda dengan mereka.
“Maaf, Zahra izin ke kamar mandi dulu ya,” ucap Zahra karena teringat bahwa ia harus menuntaskan hajatnya. Sedangkan sudah cukup lama ia meninggalkan suaminya, ia takut jika Zain akan mencarinya.
Zahra bergegas menuju toilet di dalam gedung, namun tanpa disadarinya ada sepasang mata yang sedari tadi menatap tajam ke arahnya.
“Bi, Hani dimana? Sedari tadi aku tidak melihat kehadirannya?” tanya Zahra yang berpapasan dengan bi Nur di jalan.
“Maaf Nona, tadi Hani bilang jika dia merasa todak enak badan dan setelah acara inti selesai dia pamit pulang ke mansion utama,” jawab bi Nur sopan.
“Oh, apa dia baik-baik saja, Bi?” tanya Zahra khawatir.
“Setelah istirahat dia pasti akan segera sembuh, Nona. Jadi Nona tidak perlu menghawatirkannya.” Bi Nur segera pamit untuk melanjutkan pekerjaannya setelah menjawab pertanyaan nona mudanya tersebut.
“Eh, tapi Bi-” Zahra memotong ucapannya ketika menyadari bi Nur sudah jauh meninggalkannya.
“Bukannya Semua orang sudah memiliki kamar di hotel ini? Nanti malam juga masih ada acara, tapi kenapa Hani pulang ke mansion?” tanya Zahra kepada dirinya sendiri, ia lalu bergegas melanjutkan langkahnya, namun hari ini Dewi kebaikan tidak memihak kepadanya.
Bruk!
“Akh! Maaf, saya tidak sengaja menabrak Anda, sekali lagi saya minta maaf karena saya terburu-buru dan tidak memerhatikan jalan,” ucap Zahra tulus meminta maaf kepada orang yang ditabraknya.
“Sungguh benar-benar cantik, menyesal malam itu gue melepaskanmu begitu saja!” ucap pria tersebut dengan seringaian di wajahnya.
“Ka-kamu!” Zahra berjalan mundur beberapa langkah ke belakang ketika menyadari sosok yang berdiri tepat di depannya, seketika sekelebat bayangan masa lalu berputar dikepalanya seperti sebuah rekaman film dan berhasil membuat tubuhnya bergetar hanya dengan mengingatnya.
“Masih ingat denganku, Baby? Lo terlihat semakin cantik dengan berpenampilan seperti saat ini, pasti kamu mendapatkan banyak uang karena melayani sugar daddy lo, bukan?” Pria tersebut semakin mendekat ke arah Zahra, tangannya terangkat hampir menyentuh pipi mulus Zahra namun dengan cepat ditepis kasar oleh Zahra yang sudah pucat dan berkeringat dingin.
“A-apa yang ingin kamu lakukan?” teriak Zahra dengan suara bergetar.
“Jangan teriak Baby, tidak akan ada yang bisa mendengar teriakan lo. Mereka semua tengah sibuk dengan pesta di luar sana!” Pria itu sudah berdiri mengikis jarak di antara mereka, Zahra terpojok didinding mengakibatkan dirinya tak biasa untuk mengelak lagi.
“Bersenang-senanglah denganku, Baby!”
“Zain!” teriak Zahra dengan mata yang terpejam rapat dengan air mata yang sudah terjatuh bebas membasahi pipinya, jantungnya berdetak kencang seakan hendak ke luar menembus dadanya.
__ADS_1