
3 hari lamanya Yang Zi dikurung tanpa makan dan minum karena hanya dirinya yang menolak bekerja untuk Lady Rose. Pada hari ke 4 ia diseret dan dipaksa untuk melayani para tamu yang datang ke tempat tersebut, dan karena wajahnya yang cantik berhasil membuat seorang tamu VIP langsung terpesona akan kecantikannya.
Malam itu, malam dimana neraka bagi Yang Zi dimulai. Beberapa kali Yang Zi harus melayani tamu VIP tersebut, sekuat tenaga ia berusaha kabur namun gagal dan berakhir dengan dirinya yang terbaring di ranjang dengan tangan dan kaki yang terikat tali.
“Jangan berani kabur dariku, Baby! Mulai malam ini dan selamanya kamu hanya akan menjadi milikku dan hanya akan melayaniku seorang!” ucap tamu VIP tersebut sambil menatap ke arah Yang Zi yang sudah tak berdaya.
Seminggu kemudian Yang Zi berhasil kabur dari tempat tersebut, namun para penjaga dapat menemukan keberadaannya dan Lady Rose menghukum berat dirinya akan hal tersebut.
“Jangan berharap kamu bisa keluar dari tempat ini, dasar j*lang!” gertak Lady Rose sambil mencengkeram rahang Yang Zi yang sudah memerah karena ulahnya.
“Aku sudah membayar mahal tubuhmu ini dan Mr. M sudah memberiku uang banyak untuk memberikan tubuhmu ini hanya kepadanya seorang!”
Bruk!
Lady Rose mendorong tubuh Yang Zi hingga tersungkur ke belakang lalu meninggalkan kamar tersebut, mengabaikan Yang Zi yang merintih kesakitan karena beberapa luka di tubuhnya.
“Kurung dia dan jangan beri makanan apa pun!” perintah Lady Rose kepada kedua penjaga yang berdiri di depan pintu.
“Baik, Lady!” jawab keduanya sambil menatap kepergian bos mereka.
Dua bulan berlalu, tamu VIP yang dikenal dengan panggilan Mr. M hanya beberapa kali berkunjung, mungkin ia sibuk dengan pekerjaannya atau mungkin sibuk dengan wanita-wanitanya yang lain. Yang Zi tidak pernah memikirkan hal itu, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar dirinya bisa kabur dari tempat terkutuk itu.
Yang Zi hanya ditugaskan untuk melayani tamu dari meja ke meja, mengantar dan menuangkan minuman kepada pengunjung sesekali harus menemani mereka mengobrol. Lady Rose tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya, entah berapa banyak uang yang Lady Rose dapatkan dari Mr. M. Yang Zi masih terus mencari celah untuk bisa kabur dari sana namun penjagaan di tempat itu sangatlah ketat dengan adanya banyak penjaga di setiap sudut.
“Angel masuklah ke kamarmu, Mr. M sudah menunggu!” ucap salah seorang wanita yang menghampiri meja tempat dimana Yang Zi sedang menemani tamu.
“Hmm,” jawab Yang Zi malas, di tempat itu ia biasa dikenal dengan panggilan Angel, nama yang diberikan Mr. M kepadanya.
Ceklek!
Yang Zi membuka pintu kamarnya dengan malas, hampir satu bulan ini ia merasa sedikit leluasa karena Mr. M tidak pernah datang ke tempat itu.
“Hai Baby, lama tidak melihat kecantikanmu membuatku begitu tersiksa karena merindukanmu,” ucap Mr. M menyambut kehadiran Yang Zi dengan wajah bahagianya.
“Ck! Tapi aku sedikit pun tidak merindukanmu! Justru aku merasa bahagia jika tidak melihat kehadiranmu!” sarkas Yang Zi membuat Mr. M terkekeh menanggapinya.
“Ayolah, Baby! Jangan menyiksaku, jika bukan karena wanita penyakitan itu aku pasti tidak akan mengabaikanmu satu bulan ini.” Mr. M melingkarkan tangannya ke pinggang Yang Zi membuat Yang Zi semakin merasa jijik dengan pria itu.
“Aku berjanji padamu, nanti setelah wanita itu mati aku akan mengeluarkanmu dari tempa ini dan kita akan hidup bersama.”
__ADS_1
“Cuih! Jangan berharap aku mau hidup bersama pria sepertimu!” teriak Yang Zi sengaja memancing amarah pria tersebut, ia terpaksa masuk ke dalam kamar untuk melayani Mr. M karena diseret oleh anak buah Lady Rose dan mereka berjaga di depan pintu berjaga agar Yang Zi tidak kabur.
“Angel, apa kamu tidak ingin hidup bersamaku? Aku bisa memenuhi apa pun yang kamu inginkan, Baby!” seru Mr. M yang terlihat sudah terbawa emosi.
“Pria sepertimu tidak pantas mendapatkan wanita sepertiku! Kamu seharusnya mati saja!”
Plak!
“Dasar j*lang! Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku karena sudah mengeluarkan banyak uang untuk melindungimu! Jika bukan karenaku, kamu pasti sudah habis menjadi makanan pria-pria hidung belang di luar sana!” Mr. M meninggikan suaranya dan mendorong tubuh Yang Zi yang berada di pelukannya.
“Aku tidak butuh bantuanmu! Kamu mengatakan pria di luar sana adalah hidung belang, lantas apa bedanya kamu dengan mereka? Bahkan kamu sangat pantas disebut dengan b*jingan!” balas Yang Zi dengan sorot mata tajamnya yang menatap nyalang ke arah Mr. M.
“Kamu!” Mr. M menggertakkan rahangnya sembari menunjuk ke arah Yang Zi dengan ibu jarinya.
“Apa?” tantang Yang Zi.
Plak!
Bruk!
Mr. M yang tidak bisa mengendalikan emosinya kembali melayangkan pukulan ke wajah Yang Zi dengan keras hingga membuat tubuh ringkih Yang Zi terjatuh dan membentur meja di ruangan itu.
“Angel! Bangun jangan berpura-pura untuk menghindariku! Aku sudah membayarmu untuk melayaniku malam ini!” ucap Mr. M sedikit panik karena Yang Zi tidak meresponsnya meskipun ia sudah beberapa kali menepuk pipi Yang Zi.
“Angel, sadarlah! Kamu tidak boleh mati! Aku belum sepenuhnya memilikimu!” ucap Mr. M semakin panik karena tidak merasakan detak jantung Yang Zi.
Tanpa berpikir panjang, Mr. M mengangkat tubuh Yang Zi dan membawanya keluar mengabaikan para penjaga yang mengejarnya sambil berteriak memanggilnya.
Mr. M membaringkan tubuh Yang Zi di kursi belakang dan bergegas melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Mr. M meracau tidak jelas karena jalanan padat dan sedikit macet.
Hal tersebut tak disiakan oleh Yang Zi yang sudah sadar beberapa waktu lalu, ia menyelinap keluar dan berlari sekencang mungkin menuju kantor polisi yang kebetulan berada di dekat lokasi. Karena sudah berada di dalam kantor polisi, Mr. M tidak mengejarnya dan membiarkannya lolos.
“Zizi a!” teriak Barra membuat Yang Zi tersadar dari lamunannya.
“Ssttt ... sudah jangan diingat-ingat kembali, yang terpenting sekarang kamu sudah aman bersama kami,” ucap Barra sambil mengusap kepala Yang Zi yang bersandar di bahunya sambil menangis.
Plak!
“Akh! Kenapa kamu memukulku?” keluh Barra.
__ADS_1
“Tadi disuruh cerita, sekarang bilang untuk tidak mengingatnya kembali! Bagaimana sih kamu, Ko!” kesal Yang Zi.
“Lah, kenapa marah-marah?” tanya Barra bingung karena Yang Zi begitu cepat merubah moodnya, baru saja menangis eh langsung marah-marah kepadanya.
“Siapa yang marah?”
“Kamu,” jawab Barra cepat membuat Yang Zi semakin cemberut.
Barra kembali menarik tubuh Yang Zi agar bersandar di bahunya, ia semakin merasa ingin melindungi Yang Zi, gadis yang selama ini juga bersemayam dihatinya.
“Sudahlah, mereka semua sudah diamankan oleh pihak berwajib, tempat biadab itu juga sudah ditutup. Dan berkat keberanianmu banyak wanita yang terselamatkan. Kamu pahlawan bagi mereka,” ucap Barra mencoba untuk menghibur Yang Zi.
“Ck! Pahlawan kesiangan tepatnya,” elak Yang Zi. ‘Mereka semua sudah tertangkap, tapi b*jingan itu masih bebas di luaran sana!’ batin Yang Zi lalu ia memejamkan matanya berharap dapat mengurangi perih dihatinya.
“Mereka tidak menyiksa kamu, kan?” tanya Barra di jawab galengan dari Yang Zi.
“Syukurlah.”
“Jika waktu itu seseorang tidak memberiku obat agar aku tidak sadarkan diri dan menghentikan detak jantungku untuk beberapa waktu, mungkin saat ini aku tidak bisa duduk disini,” ucap Yang Zi pelan dengan suara bergetar.
Beberapa saat hanya ada keheningan di antara keduanya, hingga Barra kembali bertanya tentang keputusan Yang Zi atas lamarannya.
“Yang Zi a, kamu maukan menikah denganku?” tanya Barra namun tidak ada jawaban dari Yang Zi.
“Diam aku anggap kamu bersedia menikah denganku,” ucap Barra cepat.
“Ta-pi, Ko-”
“Sudahlah, ayo cepat masuk! Semua orang sudah menunggu kita.”
Yang Zi berjalan pelan mengikuti arahan Barra, meskipun masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun ia tidak berani menolak pernikahan ini karena semua orang terlihat antusias dengan pernikahan mereka.
‘Sudah tepatkah keputusan ini? Meskipun aku mencintaimu Ko, tapi kondisiku kini sudah berbeda tidak seperti dulu. Dengan keadaanku ini, apakah hatimu akan sepenuhnya terisi oleh namaku?’ batin Yang Zi.
Sesampainya di ruang keluarga, Barra menyampaikan jawaban Yang Zi dan memberikan kode kepada tuan mudanya untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Zain berjalan meninggalkan ruangan tersebut diikuti Barra di belakangnya menuju halaman belakang. Barra menceritakan semuanya kepada mereka tentang teman-teman Yang Zi di Beijing yang menjebaknya dan menjualnya.
“Honey, bersiaplah! Kita pergi ke China sekarang juga!” ucap Zain setelah kembali ke ruang tersebut dan berhasil membuat semua orang tercengang.
__ADS_1