
Semenjak kedatangan ayah mertuanya, Ny. Amara merasakan kegundahan dalam hatinya. Entah itu perasaan takut, benci atau bersalah, Ny. Amara tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.
Ny. Amara duduk di tepi ranjangnya, ia mengambil sesuatu dari dalam laci nakas yang paling bawah, laci yang selama ini selalu terkunci rapat dan tak pernah dibukanya. Namun, malam ini entah kenapa ingin rasanya ia membuka laci tersebut, laci yang menyembunyikan kehancuran serta lukanya dimasa lalunya.
Terlihat sebuah kotak kayu kuno dengan ukiran unik yang masih terlihat sangat indah, di atasnya terdapat ukiran berbentuk hati dengan inisial huruf A.H di tengahnya.
Dengan tangan bergetar Ny. Amara membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah foto dari dalamnya. Dipandanginya sosok yang ada di dalamnya, namun segera ia meletakkan kembali foto tersebut.
Setetes air mata jatuh membasahi pipinya tanpa sempat ia menahannya, ternyata Ny. Amara masih belum mampu menahan rasa yang begitu menyesakkan rongga dadanya itu. Kilasan-kilasan kisah masa lalunya seakan berputar acak di dalam kepalanya bagaikan sebuah kaset rusak hingga membuat kepalanya berdenyut nyeri, Ny. Amara menggelengkan kepalanya berulang kali berharap dapat menepis semua bayangan tersebut. Namun usahanya sia-sia, bayang-bayang itu semakin berputar hebat di dalam kepalanya.
Brak!
Ny. Amara berlari menuju kamar mandi dan menjatuhkan kotak tersebut hingga semua isi di dalamnya jatuh berhamburan di lantai.
Zain yang kebetulan lewat dan mendengar benda jatuh dari dalam kamar ibunya merasa khawatir dan mengetuk pintu kamar ibunya.
Tok! Tok! Tok!
“Mom, Mommy baik-baik saja?” tanya Zain namun tak ada jawaban dari dalam.
“Mom!” kali ini Zain semakin meninggikan suaranya.
Tok! Tok! Tok!
“Mommy!” panggil Zain mulai merasa panik.
Karena tidak mendapatkan jawaban, Zain mencoba membuka pintu tersebut dan ternyata ibunya tidak mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Ceklek!
“Mom,” panggil Zain dan menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, namun ia tak mendapati keberadaan ibunya.
“Mom, Mommy dimana?” Zain terus melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam kamar ibunya.
Srak.
__ADS_1
Zain menghentikan langkahnya karena menginjak sesuatu di lantai, ia berjongkok dan memungut benda tersebut.
“Apa ini?” tanya Zain dengan wajah berkerut melihat lantai yang bertebaran beberapa lembar foto dan kotak cincin berwarna merah.
“Daddy?” Zain mengenali sosok di dalam foto tersebut, mana mungkin ia melupakan sosok yang begitu mirip dengannya walaupun ada kebencian untuk sosok itu.
Zain menatap lekat gambar sang ayah yang sudah lama tak pernah ia lihat, jujur saja Zain sudah tidak terlalu mengingat wajah ayahnya. Jika bukan karena wajahnya yang mirip dengan ayahnya, mungkin saja ia sudah lama melupaka wajah sang ayah. Di dalam ingatannya hanya ada bayangan samar-samar tentang sang ayah, itu pun kilasan masa lalu waktu dirinya masih berusia 9-10 tahunan sekitar 18 tahun lalu.
Jatuh cinta denganmu tak pernah terencanakan olehku
Betapa dulu aku begitu mengagumimu
Sosokmu yang dulu begitu sempurna dimataku, dan bodohnya aku selalu mempercayai setiap kata yang kau ucapkan padaku
Kamu yang begitu aku kagumi ...
Kamu yang dulu mengajarkan tentang apa itu cinta,
Dulu ... kamu tanamkan benih-benih cinta dalam hatiku
Kamu pula yang telah merawat dan menjaganya hingga tumbuh bersemi bermekaran
Namun, kenapa kini kamu tega menyiramnya dengan herbisida disaat benih itu telah tumbuh bersemi dan bermekaran begitu indahnya? Kenapa?
Zain mengepalkan tangannya ketika membaca tulisan tangan ibunya di balik lembar foto tersebut. Betapa hancurnya hati ibunya di saat itu, dulu ia masih terlalu kecil untuk bisa memahami semuanya. Bahkan dulu, ia sempat kabur dan mendiamkan ibunya hanya karena sang ibu melarangnya untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga sang ayah.
Zain kembali memungut foto lainnya, dan masih sama dengan foto sebelumnya yang menampilkan sosok sang ayah. Zain kembali menemukan goresan tangan ibunya dibalik lembar foto tersebut.
Jatuh cinta padamu tak pernah aku rencanakan
Kehilanganmu pun tak pernah aku rencanakan
__ADS_1
Ada banyak hal lain yang tidak pernah aku rencanakan
Salah satunya adalah bertemu denganmu juga berpisah denganmu
Kehilangan dirimu adalah hal yang aku harapkan akan menjadi penutup kisah kelamku yang mampu membuatku rapuh dan terjatuh
Biarkanlah kamu menjadi satu-satunya orang yang berhasil membuatku jatuh untuk kedua kalinya
Membuatku terjatuh ke dalam cintamu
Membuatku terjatuh sejatuh-jatuhnya, hingga jiwa dan raga ini mati rasa akan indahnya dunia karena pengkhianatanmu
Biarkan kepergianmu akan membawa serta hati dan perasaan ini untuk selamanya
Menguburnya bersama dengan terkuburnya jasadmu yang tak pernah bisa aku temukan di luasnya lautan samudra
Aku Amara Ibrahim begitu sangat membencimu dan tak akan pernah memaafkanmu Han-Han!
Aku tak pernah mengizinkanmu untuk pergi meninggalkanku, kenapa kamu pergi dariku??? Siapa yang memberikanmu izin untuk meninggalkanku??
“Mommy,” lirih Zain ia merasakan sesak di dadanya, tanpa terasa setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
Zain teringat ketika dulu pertama kali bertemu dengan adiknya, Yang Zi. Dulu disaat ia mengetahui penyebab kepergian ayahnya dan mengetahui bahwa dia memiliki seorang adik berbeda ibu dengannya, Zain kecil menolak kehadiran gadis kecil itu bahkan membencinya.
Namun Ny. Amara justru memarahi Zain kecil dan menyuruhnya untuk menjaga dan menyayangi adiknya itu, biar bagaimanapun dia adalah adiknya dan gadis itu tidak bersalah. Hanya saja Ny. Amara tidak mau melihat wajah putri dari suaminya itu hingga semua orang mengira bahwa Ny. Amara sangat membenci dan tidak menginginkan kehadiran gadis malang tersebut.
Brak!
Suara benda jatuh dari dalam kamar mandi menyadarkan Zain dari lamunannya, ia segera berlari menuju sumber suara, takut jika ibunya berada di dalam kamar mandi dan terjadi sesuatu kepadanya.
“Mom!” panggil Zain setibanya di depan pintu kamar mandi, namun ia tak mendengar jawaban dari dalamnya.
“Mom-” Zain menggantungkan suaranya ketika samar-samar terdengar seseorang berbicara di dalam kamar mandi, ia yakin itu pasti mommynya.
Zain mengintip ke dalamnya karena pintu itu sedikit terbuka, ia lalu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalamnya ketika melihat ibunya tengah menangis dan berpikir untuk pergi meninggalkan sang ibu, mungkin ibunya tidak ingin seorang pun mengetahui kelemahannya yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
__ADS_1