Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 122. Klub Malam


__ADS_3

Setelah berhasil membujuk istrinya, Zain kembali mengajak Zahra masuk ke dalam klub malam yang dulu sering ia datangi.


Zahra menekuk wajahnya sepanjang kakinya melangkah di dalam tempat yang sama sekali tak ia suka itu. Bagaimana tidak?


Setiap melewati wanita pekerja di sana, Zahra selalu memergoki mata-mata genit itu menatap penuh damba ke arah suaminya. Apalagi dengan gaya pakaian yang mereka kenakan semakin membuat hati Zahra panas karenanya, ia tidak rela jika suaminya menatap apalagi sampai menikmati pemandangan yang membuat setiap lelaki pasti akan tergoda akan hal tersebut.


“Honey, kenapa kamu menekuk wajah kamu seperti itu?” tanya Zain yang memeluk erat pinggang istrinya yang berjalan di sampingnya.


“Cepat selesaikan urusan kamu!” cetus Zahra masih merasa kesal dengan Zain.


“Apa kamu masih marah? Aku janji hanya sebentar saja, setelah itu terserah kamu ingin pergi kemana, aku akan mengabulkannya.”


Zain mencoba membujuk istrinya namun Zahra sama sekali tidak tergoda akan penawaran tang suaminya itu berikan.


Zain menghentikan langkahnya membuat Zahra juga ikut berhenti, tanpa aba-aba Zain menarik tubuh Zahra dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir merah mungil itu.


Semua mata menatap iri ke arah mereka berdua, seketika mereka saling berbisik menerka siapa gerangan wanita yang sangat beruntung itu.


Sejak dulu siapa pun menginginkan untuk bisa melayani pengusaha muda tersebut, namun satu pun di antara mereka belum ada yang berhasil melakukannya.


Meskipun ada yang nekat mendekati Zain tanpa izinnya, dapat dipastikan orang itu akan kehilangan pekerjaan serta kehidupannya.


“Zain!” pekik Zahra lalu ia mendorong dada bidang suaminya.


“Apa?” Zain pura-pura bodoh dan ingin kembali mencium istrinya namun dengan cepat Zahra memalingkan wajahnya sehingga Zain hanya dapat mendaratkan ciumannya di pipi Zahra saja.


Zahra menarik lengan suaminya lalu ia menghapus bekas bibir suaminya menggunakan kemeja yang dipakai Zain membuat Zain seketika melebarkan bola matanya tak percaya.


“Honey-”


“Cepat selesaikan urusan kamu, Zain! Atau aku akan pulang sendiri!” ancam Zahra memotong perkataan suaminya yang ingin protes akan penolakannya.


Zahra tidak suka suaminya menciumnya di tempat seperti itu, apalagi banyak mata liar yang melihatnya dengan berbagai ekspresi, jijik, kesal, iri dan tidak suka. Seolah-olah Zahra merupakan bagian dari mereka dan saingan mereka.


“Ok, maaf.”


“Aku tidak suka mereka menatapku seperti itu!” protes Zahra.

__ADS_1


Zain menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan, ia baru sadar jika semua orang melihat ke arahnya. Sejak masuk tadi, Zain tidak sedikit pun melirik sekelilingnya, ia hanya fokus dengan istrinya saja.


“Apa yang kalian lihat? Kalian mau kehilangan mata kalian itu?” teriak Zain lantang mengalahkan suara musik di sana.


“Kenapa kalian membuat istriku merasa tidak nyaman? Apa kalian semua sudah bosan hidup?”


Semua orang seketika tersadar ketika mendengar bahwa wanita yang bersama Zain adalah istrinya. Merak dengan takut kembali melakukan aktivitas masing-masing tanpa berani berkata maupun berbisik-bisik lagi.


Zain kembali melanjutkan langkahnya masih dengan memeluk istrinya. Sedangkan Zahra menatap wajah suaminya tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.


“Aku tahu wajahku tampan, Honey.”


“Ck! Sombong sekali kamu, ternyata kamu cukup menakutkan ya. Pantas saja semua orang takut melihat kamu,” ejek Zahra membuat Zain melirik tajam ke arahnya, Zahra pun membalasnya dengan memberikan tatapan mengejek kepada suaminya itu.


Keduanya saling bertatapan cukup lama hingga suara seseorang menghentikan aksi yang mereka lakukan.


“Selamat datang, Tuan Zain. Maaf saya tadi tidak menyambut kedatangan Anda, sudah lama Anda tidak berkunjung ke tempat kami,” ucap seorang pria berumur 30 tahunan itu dengan pakaian rapinya.


Zain mengalihkan fokusnya dan menatap tajam ke arah pria yang sudah berdiri di depannya itu.


“Dimana David?” tanya Zain dengan suara beratnya.


Zain menghunuskan tatapan membunuhnya menciutkan nyali pria di depannya itu. “Aku akan menghabisi kamu jika berbohong!”


“Maaf, Tuan. Tapi bos Dav-”


“Aku tunggu jika dalam lima menit dia tidak menemuiku, maka jangan salahkan aku jika besok pagi kalian akan melihat tempat ini rata dengan tanah!” gertak Zain tanpa memberi kesempatan manajer itu untuk membalas ucapannya.


“Ingat! Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku!” seru Zain kepada manajer tersebut yang baru melangkah menjauhinya.


Sepeninggal pria itu Zain kembali melangkah menuju tempat VIP yang biasa dia gunakan dulu ketika berkunjung ke tempat itu.


Sesampainya di ruangan VIP, Zahra mengedarkan pandangannya mengamati tempat tersebut. Sangat jauh berbeda dengan suasana di luar sana yang sangat berisik baginya.


“Kenapa tempat ini sangat berbeda dengan yang di luar sana?” tanya Zahra yang duduk di samping suaminya.


Ruangan itu terlihat sangat nyaman dan mewah dengan nuansa bak kamar hotel lengkap dengan sofa panjang, TV, serta lemari pendingin mini yang tergeletak di sudut ruangan.

__ADS_1


“Lebih mirip seperti kamar hotel bukannya klub malam,” ucap Zahra menilai ruangan itu.


“Apa kamu menyukainya?”


“Tidak!” jawab Zahra cepat, meskipun tempat itu terlihat bagus, tetap saja ia tidak menyukainya.


Zain terkekeh melihat reaksi istrinya, ia sangat suka melihat wajah Zahra yang kemerahan karena kesal.


“Apa kamu tahu alasan kenapa aku membawa kamu bersamaku pergi ke tempat ini?” tanya Zain dan hanya dijawab dengan Zahra yang menggelengkan kepalanya.


“Karen aku ingin kamu mengetahui semua yang aku lakukan, tidak akan ada lagi yang aku sembunyikan darimu, Honey.” Zain menggenggam erat tangan Zahra.


“Mulai saat ini dan seterusnya, kita akan membagi semuanya bersama baik suka maupun duka. Aku ingin kita melewati semua itu bersama,” ucap Zain tulus.


“Berjanjilah, Honey. Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku!” ucap Zain namun dengan nada memaksa.


“Kamu juga harus berjanji tidak akan meninggalkan aku!” balas Zahra.


“Ya, apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, Honey. Ingat janjiku kepadamu untuk selamanya.”


Zahra tersenyum melupakan kemarahannya, hatinya terasa hangat hanya dengan mendengar kata-kata dari bibir suaminya yang terdengar manis di telinganya.


Di tempat lain, tepatnya di ruangan pemilik klub malam tersebut, terlihat seorang pria muda tegah duduk di kursinya membelakangi seseorang yang berdiri di belakangnya.


“Maaf, Bos. Tuan Zain menunggu Anda di tempat biasa,” ucap manajer tersebut.


“Bodoh! Apa saja kerja kamu? Mengurus satu orang saja tidak becus!” maki pria itu.


“Maaf Bos, saya tidak pandai berbohong di depan tuan Zain.”


“Bodoh! Percuma aku membayar kamu mahal!” bentak David kesal.


“Kali ini apa yang dia katakan?”


“Tuan Zain akan meratakan tempat ini dengan tanah jika dalam lima menit Anda tidak segera menemui tuan Zain.”


“Sial!” umpat Davis kesal lalu segera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Aku akan segera menemuinya!”


David berjalan keluar dari ruangannya meninggalkan manajernya begitu saja.


__ADS_2