Pengganti Istri Kedua Tuan Zain

Pengganti Istri Kedua Tuan Zain
Bab 46. Kepulangan Ny. Zain Malik


__ADS_3

“Kenapa aku tidak boleh memanggil kakak? Kak Barra kan usianya 7 tahun di atasku?” tanya Zahra polos masih belum menyadari suasana di sekitarnya sudah berubah menjadi menegangkan.


‘Stop jangan memanggil saya kakak lagi, nona. Suami Anda pasti akan membunuhku!’ keluh Barra yang mampu ia ucapkan di dalam hatinya.


“Dia bukan kakak kamu, panggil saja namanya!” tegas Zain lalu merengkuh tubuh istrinya dan memeluknya erat dari samping, seolah menegaskan bahwa wanita itu hanyalah miliknya.


“Tapi kan, tidak sopan jika-”


“Apa kamu ingin membantah ucapanku?” tanya Zain memotong perkataan istrinya membuat Zahra seketika membungkam mulutnya dan memilih untuk diam.


Sedangkan Ny. Amara merasa jengah melihat tingkah putranya yang dianggapnya terlalu lebai. Namun ia memilih diam karena Ny. Amara pernah berada di posisi tersebut.


‘Bukan hanya wajah saja yang kamu tinggalkan untukku, namun sifat posesif dan berkuasamu juga kamu wariskan untuknya. Apa kamu berniat untuk menyiksaku, Ko?’ batin Ny. Amara, beliau memalingkan wajahnya memilih untuk menatap pemandangan dari balik kaca mobil.


(*Ko/Koko : Artinya kakak laki-laki, sebutan ini sebagai tanda akrab atau menghormati dalam menyapa seorang laki-laki yang dianggap lebih tua umurnya. Bahasa Tionghoa dalam dialek Mandarin kakak laki-laki biasa di panggil 'keke'. Namun dalam dialek Kanton di panggil 'koko').


Barra melirik dari kaca spion di depannya, ia juga memilih untuk diam tidak ingin menambah masalah lagi.


“Jika ingin bertanya sesuatu, tanyakan saja padaku!” ucap Zain setelah beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka.


“Boleh?” tanya Zahra lalu menatap ke arah suaminya untuk memastikan reaksi sang suami.


“Hmm.”


“Aku hanya ingin tahu di mana ibunya kak-” Zahra menghentikan ucapannya karena mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.


“Ibunya Barra,” lanjut Zahra mengoreksi kesalahannya.

__ADS_1


“Di Beijing,” jawab Zain singkat.


“Beijing? China? Kenapa ibunya kak- emh ... Barra berada jauh di sana?” tanya Zahra beruntun.


“Kerja.”


“Kerja apa? Aku juga ingin ke sana.”


“Untuk apa ke sana?” tanya balik Zain.


“Ingin mengunjungi Great Wall, bangunan terpanjang yang pernah ada di muka bumi. Salah satu dari 7 keajaiban dunia,” ucap Zahra dengan mata berbinar.


“Ck! Memangnya kamu punya uang?” tanya Zain mengejek, berniat untuk menggoda istrinya.


“Tidak,” jawab Zahra dengan wajah tertunduk.


“Aku tidak punya uang, tapi kamu kan miliarder. Tidak masalah bagiku, untuk apa punya suami kaya kalau tidak dimanfaatkan,” ceplos Zahra membuat semua orang melongo mendengarnya.


“Zahra! Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu?” tanya Zain merasa terkejut.


Siapa yang tidak terkejut jika melihat wanita itu banyak berubah setelah sekian lama berada di rumah sakit. Bahkan black card yang ia berikan belum sekalipun digunakan oleh istrinya. Zahra hanya beberapa kali terlihat membeli barang dengan uang tunai yang ia berikan, dan itu pun hanya beberapa buku dan perlengkapan pribadinya.


“Ehm, i-itu ... Mommy yang suruh aku untuk menghabiskan uang kamu,” jawab Zahra sedikit takut, mengira bahwa suaminya marah kepadanya.


“Ck! Ngapain membahas hal tidak penting. Toh uang kamu tidak akan habis hanya untuk hal sekecil ini!” jawab Ny. Amara cepat mencoba menghindar dari tatapan tajam putranya itu.


“Bukan begitu, Mom. Jangan meracuni istriku dan meng-”

__ADS_1


“Kamu belum menjawab pertanyaan istrimu Zain! Jangan mengalihkan pembicaraan. Mommy tidak masalah jika kamu membahas atau pun mengajak istrimu pergi ke China,” ucap Ny. Amara sebelum Zain menyelesaikan perkataannya.


“Jelaskan Barra!” perintah Zain, ia merasa tidak nyaman membicarakan tentang negara tersebut karena ada banyak kenangan antara ayah dan ibunya di sana.


“Mama saya ada penelitian di Beijing pada tahun 2019 lalu, Nona. Dan hingga saat ini beliau belum pulang ke Indonesia sudah lebih dari 3 tahun lamanya karena terhalang oleh pandemi yang mengharuskan eh menunda kepulangannya karena akses keluar masuk negara tersebut masih belum dibuka.”


30 menit kemudian mereka telah tiba di mansion utama. Kedatangan mereka disambut gembira oleh seluruh pelayan di sana. Apalagi sudah tidak ada Clarisa yang tinggal di rumah tersebut.


“Selamat datang Nona Zahra,” ucap para pelayan yang berbaris di balik pintu utama secara bersamaan.


Zahra yang merasa bahagia ingin menyalurkannya dengan memeluk para pelayan tersebut. Namun, baru 2 orang yang berhasil ia peluk langkahnya harus terhenti karena seseorang menahan pergerakannya dari belakang.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Zain dingin, ia mengarahkan tatapan membunuh kepada ketiga pelayan di depannya yang tidak bersalah.


Bukan hanya kedua pelayan tersebut yang merasa ketakutan, tapi seluruh pelayan yang berbaris di sana menundukkan kepala mereka dengan debar jantung yang tak beraturan.


Zain melanjutkan langkahnya sembari menarik tangan istrinya, mengabaikan para pelayan yang meminta maaf ketakutan.


Zain menuntun istrinya menuju ke lift khusus menuju yang langsung menuju ke lantai 3, lantai khusus untuknya.


Sedangkan Ny. Amara berjalan menuju ruang keluarga diikuti oleh tuan Harun dan Barra di belakangnya.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Ny. Amara penasaran.


Tuan Harun menyerahkan map biru berlogo ZM Hospital kepada Ny. Amara, lalu dengan cepat Ny. Amara mengeluarkan isi di dalamnya.


Wajah Ny. Amara terlihat terkejut setelah membaca hasil tes DNA tersebut.

__ADS_1


“Positif,” lirihnya.


__ADS_2