
“Zahra, suami kamu menakutkan ya,” bisik Zahran yang duduk bersebelahan dengan Zahra.
Saat ini mereka sedang menikmati pemandangan malam di alun-alun kota tersebut. Zahran mengajak adiknya beserta sang suami, tentunya ada Yang Zi yang masih menempel kepada kakaknya tersebut, Barra juga harus berada di mana pun tuan mudanya itu berada.
“Menakutkan bagaimana?” tanya Zahra bingung.
“Tuh, lihat saja wajahnya, menyeramkan! Sedari tadi matanya melotot ke arahku seakan ingin menerkamku hidup-hidup!” ucap Zahran sambil menunjuk ke arah adik iparnya yang duduk di seberang jalan dengan ekor matanya.
“Abaikan saja dia Kak, sudah biasa wajahnya dingin seperti itu,” jawab Zahra diiringi tawa kecil dari mulutnya.
“Apa dia baik kepadamu?” tanya Zahran merasa khawatir.
“Kakak tenang saja, memang dari luar Zain terlihat dingin dan kejam. Tapi percayalah, dia memiliki sisi lembut yang hanya ia tunjukkan kepada orang-orang yang dia sayangi saja,” ucap Zahwa merasa bahagia karena mendapat perhatian dari kakak yang selama ini tidak pernah ia ketahui keberadaannya.
“Hmm, berapa lama kalian menikah?” Zahran mulai mengorek informasi tentang kehidupan adiknya.
“Lebih dari 6 bulan, memang awalnya aku terpaksa menikah dengannya ... namun seiring berjalannya waktu, aku mulai menyukainya dan jatuh cinta kepadanya,” ucap Zahra lalu menatap ke arah sang suami yang tengah sibuk menuruti kemauan adiknya mencicipi berbagai makanan yang dijajakan oleh pedagang kaki lima yang berjajar rapi di tepian jalan alun-alun kota.
“Apa kamu bahagia?”
“Hmm, aku bahagia sekali apalagi bisa bertemu dengan kakak. Andai aku bisa menemukan kakak sejak dulu, mungkin aku akan menjadi orang terbahagia di dunia ini.”
“Maaf, kakak tidak mengetahui keberadaan kamu dan papa,” ucap Zahran dengan suara yang sedikit bergetar lalu ia mendongakkan wajahnya menatap ke arah langit demi menghalau sesuatu yang hendak keluar dari matanya.
“Kakak tidak salah, tidak perlu meminta maaf. Yang terpenting sekarang kita sudah bersama kembali,” ucap Zahra lalu memeluk tubuh kakaknya dari samping.
“Zahra, emh- kamu jangan memelukku tiba-tiba,” Zahran mencoba melepaskan tangan adiknya yang melingkar ditubuhnya.
“Kenapa? Kita kan bersaudara, tidak ada yang akan melarangnya,” elak Zahra semakin mengencangkan pelukannya.
“Ta-tapi ini terlalu mendadak, aku belum terbiasa,” jelas Zahran lalu tanpa sengaja matanya menangkap sosok orang yang telah berubah menjadi monster siap untuk menerkamnya hidup-hidup.
“Lepaskan Zahra, kamu tidak lihat itu wajah suami kamu sudah seperti kepiting rebus! Bahkan bola matanya hendak melompat keluar.”
Bukannya merasa takut Zahran justru menganggap wajah adik iparnya itu terlihat lucu karena ekspresi yang ditunjukkan oleh Zain.
“Apa sikap suami kamu selalu seperti itu?” tanya Zahran penasaran.
__ADS_1
“Hmm, itu belum seberapa, kak. Biar aku tunjukkan sesuatu kepada Kakak, tapi Kakak harus janji untuk membantuku!” Zahra membisikkan sesuatu ke telinga kakaknya.
“Tidak mau, aku belum pernah melakukan hal itu kepada wanita mana pun kecuali umi,” elak Zahran setelah mendengar rencana adiknya itu.
“Lakukan saja!” tanpa aba-aba Zahra kembali memeluk tubuh kakaknya, kali ini ia juga menempelkan kepalanya ke dada Zahran.
“Cepat lakukan apa yang aku katakan tadi, Kak!” desak Zahra karena kakaknya hanya diam saja.
Dengan ragu Zahran mengangkat tangannya dan mengerakkannya perlahan untuk membalas pelukan dari sang adik.
“Lanjutkan, Kak!”
Bagai dihipnotis, Zahran yang awalnya menolak rencana adiknya itu, menuruti semua petunjuk dari sang adik. Ia juga merasa penasaran hal apa yang akan terjadi setelahnya.
“Aku belum pernah-”
“Kakak!” panggil Zahra memotong perkataan kakaknya yang belum selesai.
Zahran mulai membelai punggung dan kepala sang adik lalu ia mengecup kening Zahra cepat.
Brak!
“Lepaskan! Jangan sentuh istriku!” ucap Zain dengan penuh emosi dan menarik tubuh Zahra agar berdiri di sampingnya.
“Sayang, dia kakakku, dia hanya memelukku saja tidak lebih,” ucap Zahra yang sudah berpindah dalam pelukan suaminya.
“Aku tidak peduli dia siapa, mau kakak kamu, adik kamu, aku tidak suka ada pria lain menyentuh milikku!” tegas Zain dan menghunuskan tatapan tajam ke arah kakak iparnya.
Zahran berdiri dan menepuk pelan pundak Zain. “Ya ... ya, maaf karena sudah mengganggu sesuatu milik Anda, Tuan Muda. Hamba siap menerima hukuman apa pun.”
Karena tidak mendapatkan respons apa pun dari Zain, Zahran memutuskan untuk meninggalkan adik iparnya yang masih berdiri kaku karena terbalar cemburu.
‘Semoga kalian bahagia dan segera diberikan anak yang saleh salihah, aamiin ...,’ doa Zahran dalam hati dan berjalan dengan senyum di wajahnya.
Keesokan harinya tuan Harun dan keluarganya berpamitan untuk kembali ke kota, Zahran juga ikut dengan rombongan ayahnya tersebit karena kebetulan ia ada pekerjaan di kota.
Zain juga sudah menyampaikan undangan pernikahan Yang Zi dan Barra yang akan dilangsungkan minggu depan. Dengan senang hati ustaz Hamdan menerima undangan tersebut dan berjanji akan datang ke acara pernikahan itu.
__ADS_1
“Nanti akan ada orang saya yang akan menjemput dan menemani perjalanan Anda dan keluarga, jadi Anda tidak perlu khawatir ustaz Hamdan,” ucap Zain.
“Terima kasih, Nak Zain. Abi titipkan Zahra kepadamu, jaga dia dengan sebaik mungkin.”
“Sudah pasti saya akan menjaganya dengan sepenuh hati.”
...*****...
“Bagaimana hasilnya, Tuan?” tanya seorang pramuniaga wanita tersebut.
“Perfect! Aku menyukainya, siapkan gaun ini untukku!” perintah Zain setelah melihat gaun putih yang ia pilih begitu pas dipakai oleh istrinya.
“Sayang, bukan kita yang akan menikah! Kenapa aku harus fitting gaun juga?” Tanya Zahra yang merasa kesal karena suaminya memaksanya untuk mencoba beberapa gaun mewah di butik tersebut. Belum puas suaminya itu menyiksanya sewaktu di China tempo hari, sepertinya Zain memiliki hobi baru untuk membuatnya merasa kesal.
“Tidak perlu alasan apa pun untuk membelikanmu gaun-gaun ini, Honey. Setiap hari kamu memakainya aku akan dengan senang hati menikmati keindahan dan kecantikanmu,” jawab Zain semakin membuat Zahra semakin kesal kepadanya.
Zahra mengentakkan kakinya lalu kembali masuk ke ruang ganti, ia mendapati Yang Zi yang sudah selesai dengan gaun-gaunnya.
“Kakak ipar kenapa? Wajah kakak terlihat tidak baik-baik saja, kakak sakit?” tanya Yang Zi kawatir.
“Bukan aku yang sakit, tapi kakak kamu itu otaknya mungkin sedang tidak sehat!”
Yang Zi mengedikkan bahunya tidak menanggapi perkataan kakak iparnya yang dianggapnya hanya sedang meracau.
Di luar, Zain terlihat sedang membicarakan hal serius kepada asistennya tersebut. Sesekali wajahnya terlihat mengeras sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Barra.
“Aku tidak tahu siapa yang mencoba untuk meneror Zahra, tapi aku yakin pasti dia orangnya! Awas saja jika aku berhasil menangkapnya, jangan harap aku bisa memaafkannya!” kesal Zain.
“Tuan tenang saja, saya akan mencari tahu siapa yang mencoba untuk mengancam nona.”
“Tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu hari bahagia kalian. Fokuslah untuk pernikahanmu, biarkan Ali yang mengambil alih semua pekerjaanmu selama kamu mengambil cuti,” cegah Zain.
“Tapi Tuan-”
“Ini perintah, Barra!”
“Baik, Tuan.”
__ADS_1
“Beruntung aku sudah menghubungkan ponsel Zahra dengan milikku, jadi aku bisa mengontrolnya dan bisa menghapus pesan-pesan ancaman itu sebelum Zahra membacanya.” Zain kembali memperlihatkan seringai memerikannya seterlah akhir-akhir ini telah hilang dari wajahnya.